
Sedangkan di samping kamar yang dua orang itu tempati untuk bersenang-senang. Naina tampak masih terjaga, ia tidak bisa tidur. Beberapa kali meminjamkan mata namun nyatanya kantuk tak juga menyerangnya. Kepalanya mengingat apa yang dikatakan sang Bibi beberapa waktu lalu di teras depan.
Apa dia terlalu memerhatikan Ethan? Bahkan Naina sendiri saja tidak menyadarinya.
**
Zoya bangun pada keesokan paginya dan tidak mendapati Ethan berada sampingnya, lantas mata wanita itu terbuka lebar. Ia mulai mengedarkan pandangan ke seluruh kamar kemudian memdapati Ethan benar-benar tidak ada di sana. Zoya hendak meraih pakaian yang semalam berserakan, namun ia tidak mendapatinya sehelai pun. Tak ingin berpikiran panjang, Zoya lantas mengambil pakaian lain dan segera pergi keluar. Ia sudah melihat di teras depan, maupun halaman samping namun sama sekali tidak menemukan sang suami.
Apa pria itu benar-benar mengasingkannya? Membuatnya berada di sana, sedangkan dirinya pergi kembali ke Jakarta dan meninggalkannya? Pikiran random itu segera ia tepis begitu ia mendengar suara katrol timba dari belakang rumah, ia ingat jika dirinya belum melihat ke sana sehingga Zoya segera melangkah dan mendapati Naina juga bibinya yang tengah berkelut di dapur, barangkali mereka sudah bangun sejak subuh tadi.
"Nyari apa neng?" tanya si Bibi melihat raut bingung Zoya. "Suami saya." Zoya menyahut singkat yang pada akhirnya mengutuki dirinya sendiri. Kenapa kesana ia seperti seorang istri yang begitu posesif? Mencari keberadaan suami seolah suaminya akan menghilang ditelan Bumi
"Di belakang, sedang ngambil air." Bbi menyahut diiringi dengan senyuman penuh pemakluman yang membuat Zoya akhirnya mengangguk dan membuka pintu dapur, ia mendapati suaminya yang sedang menimba air dari sumur.
Kemudian Zoya hanya tersenyum melihatnya diiringi rasa lega di hatinya melihat sang suami. Pria itu tampak sudah segar sekali dengan rambut basahnya yang sudah tampak mulai mengering. Jadi kira-kira jam berapa pria itu bangun? Zoya jadi bertanya-tanya.
"Hay," sapa Ethan begitu mendapati istrinya berada di sana. " Sudah bangun?" tanyanya. Zoya mengangguk. Giliran dia lagi yang bertanya. "Kamu bangun jam berapa?"
"Jam lima."
Sekalipun tidur laut malam, Ethan terbangun pada keesokan harinya dengan keadaan di luar yang masih sangat gelap, kemudian ia keluar dari kamar dan mendapati Naina yang sudah berada di dapur.
"Pak Ethan ingin air?" tanya gadis itu, ia tahu pasti apa yang dibutuhkan sang majikan ketika bangun dari tidur. Ethan mengangguk, lantas Naina membawakannya segelas air putih. "Terima kasih." ucapnya sebelum kemudian menandaskan segelas air tersebut yang terasa begitu dingin mengaliri kerongkongannya.
"Mbak Zoya belum bangun?" tanya Naina kemudian, Ethan menggelengkan kepala, ia melihat Zoya yang tertidur begitu pulas tadi bahkan dirinya bangun dengan pelan-pelan agar sang istri tidak terganggu.
"Saya mau nimba air dulu, setelah ini akan mencuci biar saya cucikan pakaian Pak Ethan dan Mbak Zoya." tawar Naina.
"Tidak perlu, biar saya mencuci pakaian saya dan Zoya sendiri."
"Tidak usah Pak Ethan, itu tugas saya."
"Tidak apa-apa, biar saya saja."
"Saya juga bisa. Sepertinya." Etan menambahi, meragukan dirinya sendiri, di dalam hatinya bergumam. Memang kapan dia mencuci? Pakaiannya sendiripun tidak pernah.
Setelahnya Naina hanya terdiam, tidak mampu memaksa Ethan agar pria itu mau menyerahkan pakaian kotornya dengan istrinya.
Awalnya Naina tidak percaya jika Ethan akan melakukannya, namun begitu melihat pria itu kembali dengan membawa beberapa pakaian kotornya bekas kemarin, Naina benar-benar takjub melihat tekad Ethan yang begitu kuat.
"Biar saya yang mengambil air." sahut Ethan saat Naina hendak meraih tali timba.
"Biar saya saja Pak."
"Biar saya saja, saya laki-laki. Tidak mungkin kamu mengambilkan air untuk saya." sahutnya yang membuat Naina kembali kalah telak. Lantas ia mundur dan membiarkan pria itu menimba air sebanyak-banyaknya untuk mencuci pakaian.
"Jadi kamu yang nyuci pakaian kita kemarin?" tanya Zoya sedikit terkejut dengan pengakuan suaminya. "Iya Sayang." pria itu menyahut dengan senyuman, terlihat sangat ingin Zoya memujinya.
Sementara Zoya benar-benar kehilangan kata-kata ,ia menatap suaminya tak mengert. Bukan tak mengerti, lebih tepatnya tak percaya. Mendadak Zoya merasa bahagia. Di dalam hidupnya, ketika ia dipertemukan dengan Ethan dan melihat bagaimana cara pria itu mencintainya. Zoya benar-benar merasa bahagia dan berpikir. "Ternyata seperti ini rasanya di pertemukan dengan orang yang tepat."
__ADS_1
**
Usai mandi, membersihkan diri dan menikmati sarapan, ketika Zoya merapikan tempat tidur ia mendengar suara keramaian di luar. Ia menoleh kepada Ethan yang baru saja berganti kaos dengan warna hitam. "Siapa?" tanyanya kepada sang suami, Ethan menggelengkan kepala.
Lantas keduanya berjalan ke arah luar di mana Naina dengan si Bibi menyambut kedatangan beberapa warga yang tak tau ada apa maksud dan tujuannya.
Mereka tampak saling berbisik-bisik dan Terkesima begitu melihat Zoya dengan Ethan keluar.
"Ada apa Bi?" Zoya menepuk punggung si Bibi.
"Ini loh, Neng, katanya mau ngajak si Neng panen buah naga. Mau atau tidak?" Naina mengangguk saat Zoya memusatkan perhatian ke arahnya.
"Semalam saya memang ketemu Bi Sri. Terus bilang kalau artis yang dari Jakarta itu mau ikutan panen buah naga."
"Dijemput deh sekarang." sahut Naina. Bi Sri adalah istri Mang Agus pemilik perkebunan.
"Boleh, boleh. Mau," Zoya menjawab penuh antusia. Tentu saja tidak akan melewatkan kesempatan ini Bukankah mereka sudah berencana jika hari ini akan ikut memanen buah naga?
"Ayo." Zoya begitu bersemangat, segera menarik tangan Ethan dan berbaur dengan ibu-ibu. :Ayo ibu-ibu." ajaknya dengan penuh keramahan yang dibalas senyum tak kalah ramah pula dari ibu-ibu penduduk kampung.
"Cantik yah."
"Iya. Suaminya juga tampan."
"Pada cocok, yah."
**
Sedangkan di kesempatan lain, Ethan memaku menatapnya hingga kemudian pria itu merogoh ponsel dari saku celananya dan mengarahkan kamera kepada Zoya.
Mengamati senyum sang istri dari dalam layar ponsel, hingga kemudian ia mengernyit begitu melihat sang istri mengerucutkan bibir. Lantas menggeser ponselnya ke samping, ia melihat dengan langsung bagaimana keadaan Zoya.
"Bi Sri bilang boleh-boleh aja nyicipin buah naganya, tapi katanya mau foto bareng dulu sama kamu." wanita itu mengadu kepada Ethan. Ethan mengernyitkan dahi sebelumnya, kemudian mengangguk.
"Boleh." katanya.
"Kamu mau?"
Yang membuat Zoya merasa kecewa atas keinginan Bi Sri, istri pemilik perkebunan buah mangga sekalipun dia hanya bercanda, Zoya tahu suaminya–yang sangat anti terhadap orang yang ingin berfoto dengannya. Lebih tepatnya lagi dia tidak suka dipotret.
"Beneran boleh?"
Zoya bertanya sekali lagi.
"Iya Sayang. Kalau memang kamu benar-benar ingin buah naga yang langsung dipetik dan dimakan maka, boleh? Memangnya apa yang tidak untuk kamu Zoya?" sahutnya dengan suara pelan di akhir kalimatnya.
Sementara di sisi lain, Naina yang juga ikut memanen buah diam-diam mencuri pandang ke arah keduanya. Ia tersenyum mengingat kejadian pagi tadi di mana saat Ethan mencuci pakaian dan mengambilkan air untuknya. Ethan adalah definisi sempurna dari seorang suami idaman. Zoya sangat beruntung memilikinya. Dia tampan dan kaya, selebihnya adalah yang paling penting dia sangat mencintai istrinya. Setia dan selalu memberikan yang terbaik dalam segala hal agar istrinya bahagia.
"Nanti habis metik buah kita langsung ke pantai?" Naina spontan mengerjap saat Zoya mengarahkan tatapan padanya. Ia lantas mengangguk. "Bisa Mbak, jalan cuma sekitar setengah jam. Mbak Zoya kuat?" Zoya segera mengangguk tanpa berpikir panjang. Mungkin saking semangat untuk menikmati pantai di perkampungan, ia yakin akan sangat menyenangkan.
__ADS_1
Jika memang ia tidak kuat berjalan, bukankah ia memiliki seorang suami? Zoya tersenyum mengingat hal itu. "Kalau nanti tidak kuat biar saya yang gendong." pria itu kemudian berbicara, membuat Zoya berdecak takjub. "Perfect."
"Gimana Neng, jadi nyicip buah naganya?" Bi Sri bertanya dengan cengiran yang memamerkan deretan gigi putihnya.
"Jadi Bu. Boleh, katanya suami saya mau foto." Zoya menyahut dengan nada jahil, mengerling ke arah sang suami yang mendadak mendesah saat Bi Sri mendekat dengan raut wajah penuh antusias.
**
Zoya tidak benar-benar bercanda ketika ia menyanggupi untuk berjalan menuju pantai sekitar setengah jam, Ethan menawari untuk naik mobil tetapi Zoya menolak, dia bilang ingin berjalan saja agar lebih romantis. Terlebih Ethan harus berjalan lebih dulu untuk mengambil mobil di rumah Bibi dan akan memakan waktu. Zoya tidak bisa.
Sekitar setelah lima menit berjalan Zoya sudah merasa pegal, terutama panas masih menyengat ketika waktu sudah menunjukkan pukul dua siang.
"Mau digendong sekarang?" tawar Ethan. Zoya hanya mengelap peluh di keningnya dengan punggung tangan, kemudian menggelengkan kepalanya. "Enggak perlu, aku masih kuat soalnya." tolaknya dengan napas berantakan.
Naina yang berjalan di depan mereka tampak menyipitkan mata. "Mbak Zoya masih kuat kalau jalan?" Naina bertanya, tidak yakin pada sang majikan. Seandainya ini adalah di Jakarta kemudian Zoya sedang melakukan syuting, para kru dan sutradara pasti akan berteriak heboh melihat wanita itu berjalan cukup jauh di bawah teriknya matahari yang membakar kulit. Mereka tidak akan membiarkan aktris tercantiknya melakukan hal tersebut.
"Kuat."
Sebenarnya Zoya kuat-kuat saja berjalan andai mereka tidak melalui beberapa bukit yang cukup tinggi, bukit tersebutlah yang membuat perjalanan menjadi jauh. Karena jika rutenya tetap lurus, maka rasanya akan cepat sampai di tempat tujuan dan dapat segera akan menikmati pantai.
Naina berjalan lebih dulu di depan, menuruni bukit dengan langkah yang hati-hati karena ia sendiri. Sementara dibantu oleh Ethan pun ia sudah terbiasa jika ingin ke pantai atau ada acara dengan para tetangganya sekedar menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan maka ia akan berjalan seperti apa yang dilakukannya saat ini.
Namun tiba-tiba saja gadis itu menginjak sebuah batu yang kemudian batu tersebut tergelincir membuat keseimbangan hilang hingga gadis itu terjatuh.
"Naina." Zoya sontak berteriak membuat Ethan menoleh lantas keduanya bergegas untuk menolong Naina.
Naina meringis merasakan perih di kakinya. Luka di kakinha tidak terlalu parah, namun tampaknya kaki mungil tersebut terkilir.
"Biar saya bantu." sahut Etan lantas ia dengan Zoya membantu Naina untuk berdiri. Namun sepertinya kaki gadis itu benar-benar terkilir dan tidak bisa menopang tubuhnya sendiri.
"Bagaimana apa kita kembali saja ke rumah?" Tanya Ethan, namun begitu ia tidak tega melihat raut wajah istrinya. Ia sudah dengan antusias ingin bermain ke pantai, namun tampaknya akan dibatalkan dengan tiba-tiba.
Sama halnya dengan Naina Ia pun merasa tidak tega jika harus membiarkan Zoya kembali ke rumah sebelum menginjakan kaki di pantai, sedangkan mereka sudah berada di perjalanan dan sebentar lagi akan sampai.
"Sepertinya nggak papa, Pak. Dipakai jalan sedikit saja nanti sudah sembuh." sahut Naina, ia tidak ingin mengecewakan Zoya.
"Jangan dipaksain. Kita pulang aja, ke pantainya bisa besok pagi sebelum pulang ke Jakarta."
"Enggak papa Mbak Zoya."
"Kamu yakin tidak apa-apa?" Zoya merasa khawatir andai Naina harus memaksakan dirinya.
"Gimana kalau kamu digendong sama Etan." usul Zoya, meski ragu ia tetap mengatakannya. Naina menggeleng pelan, jelas saja ia merasa bimbang, sampai kemudian sebuah suara membuat ketiganya menoleh.
"Biar saya yang gendong."
TBC
Hayooo, siapa yaah?
__ADS_1