
Freya melangkah dengan hati-hati sambil menggandeng lengan Agyan. Aryo berjalan di depan mereka menunjuk sebuah meja di salah satu restoran yang menjadi tempat Agyan mengajak Freya untuk makan siang ini.
Dengan sesekali membenarkan masker yang dikenakannya, Freya menoleh pada Agyan. Tatapan para pengunjung resto sudah mengarah pada mereka, pada Agyan lebih tepatnya. Sedangkan Agyan tampak bersikap tenang seolah tidak risih dan keberatan.
"Gyan, yang artis, 'kan kamu, bukan aku!" ucap pelan Freya. Karena sejak di rumah, Freya yang justru Agyan atur untuk memakai topi dan masker.
Itu Agyan, kan?
Iya. Yang iklan parfum merek terkenal. Cameo ganteng di film hitz yang kemaren tamat.
Itu istrinya?
Lagi hamil? Pasti keluarga bahagia.
Sumpah, aslinya ganteng bnget daripada di tv.
Sayang banget istrinya nggak keliatan. Pasti cantik.
Dari dulu Agyan emang ganteng.
Kenal?
Dulu satu SMA. Kakeknya yang punya yayasan. Orangtuanya pemilik perusahaan Zeinn Group, sama Wijaya Grup.
Wah berarti emang udah tajir dari sononya. Kenapa nggak milih lanjutin bisnis orangtua aja?
Enggak ngerti. Katanya, sih, keluar dari rumah.
Hah. Kenapa?
Enggak tau juga.
Agyan mengedarkan pandangannya. Sebagian para pengunjung resto sudah menentang ponsel untuk memotret dirinya. Sementara sebagian lagi masih terpukau dan diam melihat kehadirannya.
Setelah namanya melambung tinggi dan dikenal masyarakat banyak, Agyan memang tidak bebas untuk pergi ke manapun, terutama ke tempat umum. Tapi demi mengajak Freya makan siang, Agyan mengabaikan dirinya sendiri.
Toh sekarang dia sudah merasa terbiasa wajah tampannya terekspos dalam berbagai media. Baik media cetak maupun elektronik.
"Gini, yah, mau makan sama bidadari. Diliatin banyak orang." isengnya ketika sudah duduk dengn Freya. Dibalik maskernya, Freya mencebikan bibir.
"Mas Agyan, bisa minta foto?"
Tiga orang wanita menghampiri Agyan sambil menyodorkan ponselnya. Agyan melirik Freya, gadis itu tampak tidak bereaksi.
"Iya, Mas Agyan. Foto, yah," sebagian dari mereka membujuk. Menganggukan kepala karena ada yang mewakili untuk berbicara.
Agyan tersenyum tidak enak. Bukan ingin menolak, hanya saja dia tau, jika ia memberi izin. Maka semua pengunjung resto pasti akan mengajaknya berfoto dan otomatis acara makan siangnya dengan Freya akan terganggu.
Saat ini, Agyan sedang menjalani kehidupan pribadinya. Meski tidak mungkin, tetap saja, ia ingin semuanya berjalan dengan normal seperti biasanya.
"Maaf, yah, saat ini, Mas Agyan akan makan dengan istrinya. Kapan-kapan saja." sahut Aryo dengan lembut. Mereka jelas kecewa, tapi juga memaklumi keputusan Agyan.
Tentang Agyan yang sudah berkeluarga. Agyan memang mengatakannya secara jujur, ia sudah memiliki seorang istri yang sedang mengandung anaknya. Agyan mengatakan hal itu dalam setiap acara televisi yang mengundangnya sebagai bintang tamu dan bertanya mengenai kehidupan pribadinya.
__ADS_1
Jawaban Agyan memang membuat para fansnya patah hati. Namun begitu, Agyan tidak ingin mengawali kariernya dengan kebohongan.
Ia ingin dunia tau, jika dirinya sudah berkeluarga dan memiliki bidadari dalam hidupnya. Beruntung, ia tidak mendapat tanggapan negatif dari masyarakat meski mereka cukup kecewa.
Setidaknya, Agyan berkeluarga di awal kariernya. Tidak dengan tiba-tiba menikah setelah ia menjadi artis. Para fans, sangat mendukung dan mendoakan kebahagiaannya.
"Kasian mereka," sahut Freya saat beberapa orang tadi kembali ke mejanya dan hanya mampu memotret Agyan.
Agyan tersenyum. "Enggak papa. Aku mau sama kamu. Jangan ada yang ganggu."
"Ada saatnya, kapan aku harus punya waktu sama mereka."
Freya mengangguk-anggukan kepala. Ia beruntung memiliki suami yang seperti Agyan. Sangat beruntung.
Selang beberapa menit setelahnya. Para pengunjung resto membludak. Mereka datang dari berbagai arah setelah mendapat informasi dari beberapa postingan warga net jika Agyan berada di restoran Prancis dekat dengan toko kue.
Beruntung, mereka tidak menerobos mendatangi Agyan. Hanya buru-buru mencari tempat duduk yang kosong agar bisa melihat Agyan berlama-lama. Sebagian tidak masuk karena pintu masuk di penuhi orang-orang yang menjelma menjadi wartawan, berdiri menentang ponsel. Kilatan blitz dari kamera ponsel mereka beberapa kali menerpa wajah Agyan dan Freya.
Aryo berdecak, ia yang harus memikirkan cara agar bisa keluar dari kerumunan setelah dua orang yang asik makan dan mesra-mesraan dibelakangnya ini selesai makan.
"Bener-bener harus gue yang mikirin!"
"Kamu nggak nyaman, yah?" tanya Agyan disela-sela makannya dengan Freya. "Enggak papa, aku udah biasa diliatin." Freya menyahut santai. Sementara topi yang dikenakannya sesekali Agyan benarkan agar wajah Freya tidak terlihat jelas dalam kamera siapapun.
Keduanya melanjutkan makan hingga selesai. Aryo hanya berdiri mengamati keadaan setelah menghubungi perusahaan. Kebetulan ia sudah makan sehingga cukup berenergi untuk menjaga Agyan dan Freya.
Agyan dan Freya menembus kerumunan dengan beberapa bodyguard yang berada di samping keduanya, menjadi pembatas antara Agyan dengan para fansnya.
Aryo sudah berada di balik kemudi, menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya. Sementara sedan hitam dengan empat bodyguard mengikuti mereka dari belakang.
"Fans kamu banyak, serem."
Agyan menoleh dan menggandeng Freya. "Tadinya, aku mau semua normal kaya awal, tapi kayaknya nggak bisa. Maaf, yah."
Freya mengangguk dan menyentuh lengan Agyan. "Enggak papa, justru aku seneng banyak yang suka sama kamu. Mereka pasti dukung kamu,"
"Kamu pasti cape."
"Enggak papa, ngeliat kamu senyum, aku selalu ngerasa baik-baik aja."
Aryo yang diam-diam memperhatikan keduanya dari spion dalam mobil tersenyum. Tidak salah jika Agyan mengajukan permintaan nyeleneh pada Rachel sebelum menandatangani kontrak. Agyan begitu mencintai istrinya.
Aryo yakin, jika Agyan sedang berada dalam acara penting dan Freya membutuhkannya. maka Agyan pasti akan memilih meninggalkan acara demi membantu dan menemui Freya.
*
*
"Aku tidak membuat masalah. Aku hanya makan dan mereka datang!" kilah Agyan saat Rachel memarahinya karena kejadian di restoran. Bagaimana mungkin seorang artis datang ke tempat umum begitu saja tanpa penjagaan?
"Artinya kamu membuat masalah, Agyan!"
"Sekarang, kamu seorang artis. Di mana pun, kamu akan selalu menjadi pusat perhatian. Kamu fikir, di sini yang artis hanya kamu?"
__ADS_1
"Yang butuh perlindungan hanya kamu? Bukan!"
"Setidaknya mereka patuh aturan, bukan?"
"Ya, dan kamu merepotkan!"
Agyan hanya mengangkat bahu acuh. Tak memperdulikan omelan Rachel yang selalu memarahinya.
"Lalu, kenapa kamu menolak menjadi bintang tamu dalam acara fasion show?"
"Pihak sponsornya dari perusahaan Zeinn Group!"
"Bukannya bagus?" Rachel tersenyum sinis.
"Kamu harus membuktikan pada papi kamu kalau sekarang kamu adalah orang besar!"
"Tidak perlu, dia sudah tau dan tidak memperdulikannya."
"Gyan—"
"Jangan mencampuri urusan pribadiku. Aku tidak ingin membahasnya."
Rachel menatap Agyan, ia menghela nafas dan mengangguk. "Baiklah, kamu adalah artisku yang susah sekali diatur." pasrahnya. Ia kemudian menyodorkan sebuah map ke hadapan Aryo, tapi Agyan yang buru-buru mengambilnya.
"Ini pemotretan untuk syuting iklan dua hari lagi. Pengganti acara yang kamu batalkan." Rachel memberitahu.
"Kali ini aku tidak dengar penolakan, aku sudah cukup baik, Agyan."
"Tadi Pak Arfat kemari, untuk syuting perdana minggu depan dilakukan di luar kota."
Seketika Agyan mengernyit, dan menggeleng. Ini adalah kabar dadakan yang diterimanya tanpa sedikitpun persiapan. Ia tidak ingin meninggalkan Freya di rumah.
"Kenapa mendadak. Aku menolak! Aku tidak ingin bepergian jauh!"
"Jangan mengarang, setelah filmya selesai kamu juga akan pergi ke beberapa kota untuk promosi. Ada apa memangnya?"
"Kesepakatan awal tidak seperti itu."
"Iya, Bu. Lagi pula, Mas Agyan memiliki seorang istri di rumah." Aryo angkat bicara membela artisnya.
"Lokasi yang sudah dipersiapkan mendadak kacau karena bencana alam. Kamu tau sendiri, cuaca sedang tidak menentu saat ini. Satu-satunya lokasi yang cocok berada di luar kota dan sudah dipersiapkan."
Rachel menghela nafas. Ia memaklumi perasaan Agyan. Tapi Agyan harus profesional demi kariernya dan perusahaan.
"Mengenai istri kamu, kamu bisa mengajaknya jika tidak ingin meninggalkannya di rumah." sahut Rachel diakhiri senyum tulus. Agyan mengangguk.
"Baiklah, akan aku pertimbangkan." ia bangkit berdiri, berpamitan dan keluar dari ruangan.
"Ingatlah untuk tidak terlambat menghadiri acara sore nanti." ucap Rachel saat Aryo hendak menyusul Agyan. Aryo mengangguk seraya mengangkat jempolnya.
Setelah keluar dari ruangan Rachel Agyan mendesah sambil mengguyur rambutnya ke belakang. "Jadi artis ternyata nggak mudah!"
TBC
__ADS_1