
Ruang rahasia dengan lampu padam faktanya tetap membuat dua orang yang sedang duduk pada sofa loveseat itu terlihat nyaman. Cahaya temaram dari ruang perpustakaan sedikit memberi penerangan pada ruang rahasia yang Ethan dan Zoya tempati saat ini.
Ethan menggenggam tangan wanita itu, mengecup punggung tangan Zoya begitu lama. Zoya hanya menoleh, dengan senyum tipis yang terbit di bibirnya ia lantas menyandarkan kepala pada bahu pria itu. Tetapi Ethan menyingkirkan tangannya dan justru menggandeng tubuh wanita itu dan hanya membuat Zoya tersenyum.
Zoya sudah tertidur, tetapi ia terbangun saat menyadari jika Ethan belum ada di kamar, padahal malam ini masih jatah Zoya untuk tidur dengan pria itu, hingga ia memastikan sendiri bahwa suaminya memang tidak ada dengan mata terbuka. Zoya tutun dari tempat tidur, ia berjalan menuju kaca balkon, menyingkap gordennya dan melihat pelataran rumahnya dari lantai atas, mobil Rival sudah tidak ada, artinya pria itu sudah pulang.
Setelahnya, Zoya menutup gorden dan berjalan menuju pintu keluar kamar, berniat menyusul Ethan barangkali pria itu masih bersantai di luar, padahal waktu sudah larut malam.
Pintu rumah tampak setengah terbuka saat Zoya tiba di lantai dasar, ia keluar dan mengira jika Ethan berada di sana, namun dugaannya salah besar karena tak di pria itu di luar. Zoya hanya melihat satu cangkir kopi di atas meja dan pecahan cangkir yang tampak berserakan di lantai, Zoya juga melihat ada setetes darah segar di sana.
Hal itu tentu saja membuat Zoya merasa khawatir, ia buru-buru kembali masuk dan mengunci pintu lantas berjalan ke kamar Naina, feelingnya mengatakan jika Ethan juga berada di sana.
Dan dugaannya tidak salah saat ia memang melihat Ethan di kamar Naina, pria itu tampak sedang menemani Naina sebelum gadis itu benar-benar tidur. Zoya tidak berniat masuk, ia hanya diam di tempatnya melihat dua orang itu hingga pada bagian akhir, Zoya melihat dengan mata kepalanya sendiri saat Ethan mengelus rambut Naina, merapikan selimbutnya dan mendaratkan kecupan singkat di kening gadis itu.
Bibir Zoya tertarik ke atas membentuk sebuah senyuman, tetapi matanya berair, ia menghalau air matanya agar tidak jatuh dan menganak sungai di pipinya.
Dada Zoya tiba-tiba saja terasa sesak. Tampaknya, sampai kapanpun ia tidak akan siap melihat Ethan mencintai wanita lain.
Sendu di wajah wanita itu berganti dengan senyum manis yang merekah saat melihat sang suami keluar dari kamar Naina.
"Hay, Naina udah tidur?"
***
"Luka Naina nggak parah?" tanya Zoya setelah Ethan mengatakan padanya jika gadis itu memecahkan cangkir kopi dan melukai tangannya sendiri.
Ethan menggelengkan kepala. "Tidak parah, hanya luka kecil saja. Saya sudah mengobatinya." pria itu menyahut seraya terus mengelus punggung tangan Zoya dalam genggamannya.
Setelahnya, hening kembali terjadi di ruangan tersebut, menyelimuti keduanya. Zoya bertepuk tangan dan membuat lampu otomatis di ruangan menyala, seketika membuat Ethan menyipolitkan mata karena silau cahaya lampu yang langsung menembus matanya.
"Tiga hari lagi aku berangkat ke luar kota." beritahu Zoya dengan senyuman. Ia menatap pria itu sebentar, kemudian kembali merebahkan kepalanya di dada sang suami.
"Pak Arfat sudah dapat pengganti Yara Yara itu?" tanya Ethan, pria itu tampak menerka nama Yara karena ia tak mengetahuinya.
Zoya menggelengkan kepala. Wanita itu hanya memain-mainkan jari-jemarinya di dada suaminya. Ethan juga tak bertanya apapun, misalnya seperti berapa lama Zoya akan ada di luar kota, kapan wanita itu akan kembali atau Zoya akan membutuhkannya atau tidak.
"Aku bakal lama di luar kota." sahut Zoya akhirnya karena Ethan benar-benar tak bertanya bahkan setelah cukup lama Zoya menantikan pertanyaannya.
"Hmm, saya tahu."
Pertama, sejak Ethan memutuskan untuk memberi istrinya izin mengambil film tersebut, ia tahu setting tempat yang akan ada dalam film bukan hanya di Jakarta, bahkan untuk syuting bagian akhir film, luar negri menjadi pilihan. Ia tahu istrinya akan jarang berada di rumah karena sibuk syuting.
Sehingga saat sekarang Zoya memberitahunya, Ethan tak merasa terkejut. Ia sudah menyiapkan diri untuk mendengar pemberitahuan ini secara langsung dari Zoya.
"Semoga saya bisa selalu menyelesaikan pekerjaan saya dengan baik, biar saya bisa nemenin kamu di lokasi syuting." sahut pria itu.
"Nggak perlu." Zoya menyahut cepat.
"Hmm?"
"Aku sama Mbak Selin, lagian kamu juga sibuk di agensi. Minggu depan udah mulai perekrutan aktris baru, 'kan?" Ethan mengangguk, Zoya menengadah, menatap pria itu.
"Aku bakalan baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir, nanti kamu juga jaga diri baik-baik. Jaga kesehatan, jangan telat makan–" Zoya sempat menjeda kalimatnya sebelum kemudian meneruskannya.
__ADS_1
"–Jangan seenaknya di perusahaan."
Ethan tersenyum, mendaratkan kecupan singkat di bibir wanita itu. "Kamu cuma satu bulan. Seolah-olah akan sangat lama meninggalkan saya." sahut pria itu seraya mengusap rambut Zoya.
"Karena kamu nggak bisa apa-apa tanpa aku." Zoya menyahut, membuat Ethan diam beberapa saat. Ia tersenyum mengingat jika sejak menikah dengan Zoya, wanita itulah yang merawat dan mengurus setiap keperluannya.
Wanita itu yang selalu menyiapkan pakaian kerjanya, menyimpan barang-barang atau berkas penting milik Ethan yang terkadang pria itu taruh sembarangan. Wanita itu yang meski tidak bisa memasak selalu berusaha menyiapkannya makan.
Wanita itu yang selalu membuat Ethan tidur nyenyak dan bangun pada pagi hari dalam keadaan bahagia saat wanita itu adalah yang pertama kali dilihat oleh matanya.
Ethan menatap wanita itu lekat-lekat, yang ditatap hanya tersenyum. Sampai kemudian Ethan bertepuk tangan dan membuat lampu otomatis di ruangannya tersebut padam. Ethan merengkuh tubuh wanita itu, mengusap punggung Zoya lembut sampai tangannya menemukan tali sleepwear wanita itu dan melepaskannya.
Apa yang Zoya lihat beberapa saat tadi di kamar Naina adalah nyata. Ethan juga meminta maaf untuk hal itu. Zoya tak mempermasalahkannya, hatinya memang terluka, tapi ia tahu jika Naina lebih terluka.
Posisi gadis itu adalah yang paling sakit di antara mereka.
***
"What?"
"Are you kidding me?"
Alexa mendesah, ia menghempaskan tubuhnya ke atas sofa di ruangan Rachel. Wanita itu memutar bola matanya jengah melihat kontrak kerja sama yang sudah bertandatangan atas namanya.
Rachel hanya diam di kursi kebesarannya menatap sang putri yang tengah protes sembari memutar-mutar bolpoin di tangannya.
"Mom!" Alexa menaikan nada bicaranya., hampir berteriak saat sang momy terus menampilkan wajah tanpa dosanya.
"Lakukan saja Alexa."
"ALEXA!"
Sekali lagi Alexa mendesah. Meraih kertas berisi kontrak kerjasama yang sudah sang momy tandatangani dan bangkit dari duduknya. "Bagaimanapun Momy harus mencarikan aku manajer, aku ingin mengatur diriku sendiri. Aku tidak mau Momy yang menangani semua urusanku!" oceh wanita itu, mengembuskan napasnya kasar dan keluar dari ruangan sang momy.
Rachel hanya mengangkat bahu acuh begitu melihat putrinya keluar dari ruangannya bahkan tanpa menutup pintu. Rachel menganggukan kepala saat skretarisnya muncul dan hendak menutup pintu. Setelahnya ia mendesah lelah, putrinya benar-benar keras kepala dan sangat sulit diatur.
Sementara Alexa melangkahkan kaki menuju pintu keluar gedung sembari terus menggerutu. Bagaimana mungkin sang momy mendandatangani kontrak kerja sama tanpa persetujuan darinya? Tanpa mengkonfirmasikan padanya bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.
Alexa benar-benar harus mencari manajer agar ia tidak sembarangan menandangani kontrak kerjasama.
Mungkin Alexa tidak akan kesal jika kontrak kerjasama tersebut hanya sekedar syuting biasa, apapun itu. Tetapi masalahnya ini adalah proyek besar dan masalah besarnya, ia harus kembali terlibat kerjasama dengan Edrin Nicolas. Pria yang ia benci dan sangat ingin ia hindari.
"Hay Alexa,"
Langkah Alexa memelan saat seorang pria paruh baya yang ditemuinya sekitar dua hari yang lalu tampak menunggunya di luar gedung.
"Hay Pak Arfat." Alexa tersenyum saat sudah berdiri di hadapan pria paruh baya itu.
"Ibu Rachel sudah memberitahu kamu?" tanyanya. Alexa sempat terdiam beberapa saat, hingga ia mengingat apa yang terjadi beberapa saat yang lalu di ruangan sang momy, lantas pandangan wanita itu beralih pada kontrak kerjasama untuk bergabung dengan film My Beloved Wife di tangannya.
Ia menatap Arfat dan tersenyum, kemudian menganggukan kepala. "Ayo. kita ke lokasi syuting."
"Saya langsung syuting Pak?"
__ADS_1
Alih-alih menjawab, Arfat justru tersenyum. "Tidak sekarang, tapi kamu harus kenalan dan gabung sama yang lain, biar kalian msnjadi akrab." sahut Arfat, Alexa mengangguk, kemudian mengikuti langkah Arfat menuju mobil.
Saat bertemu dengan Alexa kemarin, Arfat merasa sedikit kecewa karena wanita itu kembali terlalu lambat dari Amerika. Padahal ia ingin melibatkan wanita itu dalam filmnya.
Arfat bukan merasa bersyukur Yara Narasatya terlibat kasus prostitusi dan membuatnya harus keluar dari film, tapi dengan hengkangnya wanita itu itu, memberikan Arfat peluang untuk menarik Alexa agar ikut bergabung dengan leluarga besar My Beloved Wie.
Bahkan Arfat menolak lamaran banyak aktris yang datang padanya secara langsung untuk mengambil alih peran Yara dalam film tersebut karena ia sjdah menentukan pilihannya. Arfat sama sekali tidak mempetimbangkan lamaran para manajer aktris yang ingin aktrisnya mengambil peran karena ia sudah memilih penggangti.
Karena ia sudah memiliki Alexa untuk dijadikan kandidat hingga berakhir sebagai pilhan.
Sepertinya, takdir memang sudah membawa wanita itu untuk menemukan tokohnya dalam film tersebut.
***
Sementara di lokasi syuting, Zoya yang sudah menyelesaikan scenenya dengan Edrin duduk santai di basecamp. Cuaca panas membuat Zoya tak melepaskan kipas portable dari tangannya. Sama halnya dengan Edrin, bedanya kipas portable pria itu dipegangi oleh asistennya, dua sekaligus.
"Katanya Pak Arfat udah memuin penggangi Yara, sebentar lagi mereka ke sini." Zoya mendengar salah satu kru dari Departemen Kostum dan Rias berbicara.
"Oh, yah. Siapa?"
"Pak Arfat yang pilih langsung, bukan Pak Irpan. Artinya dia punya incaran yang nggak main-main." sambutnya seraya merapikan kostum untuk set selanjutnya. Mau tak mau, Zoya yang memamg berada di sana mendengarkan.
"Belum tahu, kita liat nanti. Semoga aja nggak ngecewain."
"Denger-denger sih, aktris yang baru balik dari Amerika. Anak pemilik agensi besar, aktris juga, yapi masih simpang-siur." yang satu lagi menyahut, setelahnya, dua orang itu berlalu dari basecamp. Zoya hanya mengerutkan kening mendengarnya.
Amerika?
Anak pemilik agensi?
Kenapa rasanya perasaan Zoya tidak enak. Wanita itu hanya menatap Edrin yang tampak memejamkan mata menikmati waktu istirahatnya. Sepertinya pria itu tidak mendengar apa yang dikatakan dua orang tadi.
Ketika Zoya masih asik menikmati waktu break syuting sembari membaca script, salah seorang kru mendatanginya dan Edrin untuk bertemu dengan pemain baru pengganti Yara Narasatya.
Membuat Zoya dan Edrin segera mendatangi Arfat yang sudah berkumpul dengan yang lain di luar basecamp.
"Siapa aktrisnya?" tanya Edrin yang tiba tiba saja sudah berjalan di samping Zoya. Zoya menggelengkan kepala.
"Kita liat aja." wanita itu menyahut seraya melangkah cepat, Edrin mengikuti setengah malas di belakangnya. Pria itu masih merasa pusing karena tidurnya tiba-tiba terganggu.
Dalam kerumunan, Arfat tampak tengah mengenalkan aktris pilihannya pada timnya. Langkah Edrin perlahan memelan saat pria itu melihat wanita yang berdiri di samping Arfat.
"Enggak mungkin, enggak mungkin." Edrin menolak objek yang dilihatnya. Ia mengucek mata dan berharap jika dirinya sedang berhalusinasi.
Ia mengucek matanya dengan harapan wajah Alexa akan hilang dari pandangannya karena wanita itu hanyalah fatamorgana. Tapi wanita itu tetap berdiri di tempatnya bahkan setelah Edrin merasa sedikit perih di matanya.
Pria itu menggelengkan kepala, ia berdiri di samping Zoya yang entah mengapa menatap Alexa dengan tatapan tidak suka.
"Semuanya, kenalkan ini Alexa, dia akan bergabung dengan kita menggantikan Yara Narasatya yang keluar."
"Sekarang, dia resmi sudah menjadi anggota tim kita." sahut Arfat mengenalkan wanita itu pada timnya.
"Hallo semua, saya Alexa, saya akan bergabung di sini. Mohon bimbingannya, semoga kita semua dapat bekerja sama." sahut wanita itu dengan manis.
__ADS_1
"Kita?" Edrin berdecih pelan mendengar kalimat wanita itu. Alexa mendapat sambutan hangat dan teluk tangan meriah dari para staf dan kru juga para pemain. Bersamaan dengan itu, mata wanita itu mengarah dengan tajam padanya, membuat Edrin membuang jauh-jauh pandangannya dari wanita itu. Ia enggan bersitatap dengan Alexa.
TBC