
Jadi guys, dari awal, 'kan yang bucin tingkat khayangan ke Zoya itu Ethan. Pas awal nikah juga yang punya perasaan paling deep, tuh, Ethan. Zoya mah biasa aja.
Nah, sekali pun sikap Zoya nggak sewajarnya ke Ethan, Ethan akan tetap maklum dan nggak akan ngebenci Zoya.
Bukan Zoya seenaknya, tapi alur cerita ngebawa dia emang jadi seperti itu.
Ada yang marah ke authornya gara - gara tingkah Zoya ini. Ya mau gimana lagi, aku sebagai author kan nulis ini sesuai sama alur yang aku bawa dan mereka ngikut.
Mau nyalahin aku? Silakan, aku nggak masalah. Kasus kaya gini udah sering terjadi di novel - novelku yang sebelumnya. Tapi aku udah selalu punya patokan buat nyambungin cerita sampe ending.
Aku gak nerima saran kalian? Kritik? Masukan? Enggak! Aku selalu bisa nerima dan pertimbangin karena aku tau masukan dan kritik kalian itu penting.
Tapi ..., tapi nih, yah ..., selalu ada kejutan di balik alur yang ngebuat kalian keselll. Wkwk.
Naina cocok kok thor sama Ethan, karakternya nggak buruk. Mending Zoya yang dihempas.
Yang jadi pertanyaannya. Mau nggak Ethan nya ke Naina?😂
Sedangkan hati Ethan udah milik Zoya sepenuhnya. Zoya tuh one and only -nya Zeinn Ethan.
Yaudah deh, yah. Happy reading aja, laah🙃
**
Hari sudah malam saat Ethan pergi ke dapur untuk mengambil minum, istrinya sudah tertidur sejak satu jam yang lalu. Sedangkan Ethan merasa haus dan harus pergi ke dapur begitu mendapati gelasnya yang kosong kerontong di atas meja di samping tempat tidur.
Begitu tiba di sana, ia justru mendapati Naina yang tengah mencuci piring bekas makan malam mereka dua jam yang lalu.
"Pak Ethan, Bapak belum tidur?" tanya Naina pada sang majikan, awalnya ia sempat terkejut mendengar derap langkah seseorang. Tapi ia merasa lega saat ternyata pemilik derap langkah itu adalah Ethan.
Ethan yang sudah berdiri di depan dispenser menggelengkan kepala. "Kamu juga belum tidur?" tanyanya begitu bibir gelas menjauh dari bibirnya, satu gelas air putih sudah berhasil ia tandaskan.
"Tadi habis nerima telpon dari si Bibi. Kalau Bibi sudah sembuh ...," Naina menoleh pada pria itu.
"Bibi yang kerja di sini, saya yang pulang kampung." sambungnya dengan suara pelan.
Ethan yang masih mampu mendengarnya mengangguk - anggukan kepala. Ia memerhatikan Naina yang menuci piring, sampai matanya sekilas melihat tanda kebiru - biruan pada pergelangan tangan gadis itu.
"Tangan kamu ...," Ethan terdiam, mengingat sesuatu lantas menarik Naina begitu ia ingat apa yang terjadi pada mereka tadi siang. Terutama mengingat saat ia mendapati Zoya berada dalam gandengan Edrin, kemudian ia menyakiti Naina dan membuat bekas luka lebam di sana.
Kenapa ia bisa sangat bodoh dan menyakiti Naina?
"Pak Ethan," gadis itu merasa terkejut.
"Kamu tunggu di sini, saya ambilkan sesuatu." perintahnya kemudian beranjak.
"Pak, pekerjaan saya belum selesai," tolak Naina saat Ethan kembali dan membawa beberapa butir es di dalam mangkuk. "Jangan dipikirkan. Saya yang membuat tangan kamu seperti ini," sahut Ethan, tatapan mata pria itu akhrirnya tak bisa membuat Naina menolak. Ia hanya pasrah saat Ethan mengompres tangannya setelah sebelumnya mengatakan maaf saat menyentuh tangannya.
Tanpa sadar, Naina terlalu memerhatikan pria itu, sampai saat ia merasa es tersebut menyentuh kulit ia sedikit terkejut.
"Dingin dikit aja rewel." ujar Ethan dengan mata yang mengarah padanya, satu sudut bibir pria itu tertarik ke atas dan membuat gadis itu membeku. Terpana.
"Kapan sekiranya Bibi kamu itu sembuh?" tanya Ethan yang kembali fokus mengompres tangan Naina dengan es.
"Mmm, kurang tahu Pak. Tapi beliau bilang. sakitnya sudah mendingan, batuknya juga sudah jarang."
"Memang tidak papa jika langsung bekerja? Apa tidak akan berpengaruh buruk pada kesehatannya?" tanya Ethan panjang lebar, sesaat Naina terdiam, kemudian. "Kurang tau, Pak. Nanti biar saya bicarakan lagi sama Bibi."
Ethan mengangguk - anggukan kepala. Setelahnya keduanya hanya saling terdiam. Begitu selesai mengoleskan oparin gel pada pergelangan tangan Naina, Ethan menyuruh gadis itu untuk beristirahat. Naina menolak karena pekerjaannya belum selesai, Namun Ethan memaksa dan membuatnya terpaksa mengiyakan sekali pun merasa tidak enak.
Alhasil, Ethanlah yang menyelesaika pekerjaan gadis itu. Ia kembali ke kamar setelah benar - benar merasa mengantuk. Berbaring di samping Zoya setelah mengganti pakaiannya dengan piama.
"Kamu habis dari mana?" pertanyaan dari sang istri membuat Ethan menolehkan kepala, lantas memiringkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Zoya yang kini matanya sudah terbuka.
__ADS_1
"Habis nyuci piring."
"Rajin banget."
"Iya."
"Naina?"
"Saya sudah membuat tangannya terluka tadi siang, jadi saya membiarkannya untuk beristirahat setelah mengobatinya." jujur pria itu yang membuat Zoya tersenyum puas karena kejujuran pria itu. Zoya tahu, dan ia akan sangat marah jika Ethan tak mengatakan yang sesungguhnya.
Ia terbangun saat mendapati Ethan tidak ada di sampingnya, kemudian menyusulnya ke dapur dan ia mendapati sang suami tengah mengobati tangan Naina.
Tanpa Zoya tahu juga, jika Ethan sadar dengan keberadaan wanita itu saat tadi ia bersama dengan Naina. Namun, demi menghormati harga diri istrinya, Ethan memilih berpura - pura tidak tahu. Sama halnya dengan apa yang Zoya lakukan saat ini.
"Ethan,"
"Hmm?"
"Maafin, aku, yah."
"Maaf untuk?"
"Maaf selalu ngebuat kamu repot."
Ethan tersenyum, mendekat pada wajah istrinya hingga kini mereka bisa merasakan hembusan napas masing - masing.
"Kapan kamu ngebuat saya repot?" tanya Ethan dengan tatapan seriua.
"Nggak pernah, Zoya." pria itu mengukir senyum lembut setelah menjawab pertanyaannya sendiri.
Zoya tersenyum. Hatinya selalu merasa beruntung karena dirinya memiliki Ethan di dunia ini.
"Cuma satu hal yang saya minta dari kamu."
"Jangan buat saya cemburu!"
**
Zoya memindah - mindahkan chanel tv saat semua pemberitaan tengah membahas ulang tahun Edrin, begitu juga menyebar isu jika pria itu memiliki hubungan spesial dengannya. Berita yang sangat membosankan sehingga Zoya memilih untuk mematikan layar televisi. Ethan yang melihat hal itu hanya tersenyum, ia sudah dengan pakaian kantornya dan siap berangkat ke perusahaan. Zoya yang sadar akan kehadiran sang suami lantas bangkit dari posisi rebahannya di atas sofa.
"Mau berangkat?" tanya Zoya, waktu masih sangat pagi saat itu. Wanita itu mendesah, beberapa hari ini Ethan memang begitu sibuk, entah apa yang tengah dikerjakannya.
"Iya." pria itu menyahut setelah membenarkan letak arlojinya, kemudian menarik bahu Zoya mendekat.
"Baik - baik di rumah, yah, Sayang." pesannya mengusap rambut wanita itu.
"Pulang jam berapa?"
"Hmmm, sedikit malam. Kamu tidur saja duluan kalau saya belum pulang, yah."
Zoya mengangguk, memejamkan mata begitu Ethan mendaratkan kecupan di kening dan bibirnya. "Hati - hati." ia melambai saat pria itu berlalu dan melarangnya mengantar sampai ke teras.
Zoya hanya menatap punggung suaminya sampai punggung lebar itu menghilang di balik pintu yang kembali tertutup rapat. Ia melihat Naina yang tengah membuat sesuatu di dapur.
"Lagi bikin apa Na?" tanyanya, duduk pada salah satu kursi meja makan.
"Ini Mbak, tadi liat - liat di internet. Mau bikin lumpia udang mayones."
"Wah, enak kayaknya." Naina mengangguk. Sedangkan Zoya memerhatikan. Naina begitu cekatan mengerjakan segala hal, keahliannya dalam memasak pun tak dapat diragukan. Faktanya, Ethan begitu betah dengan masakan gadis itu.
"Na,"
"Hmm?" spontan Naina yang sedang menggoreng lumpia udangnya dalam double pan itu menoleh.
__ADS_1
"Kenapa Mbak?"
"Kamu punya pacar?"
"Hmm?" Naina terdiam sesaat. Pacar? Ia tak memiliki waktu untuk hal itu.
"Atau orang yang sedang mengincar kamu?" tanya Zoya lagi. Naina masih terdiam, membuatnya mengingat nama Kevin. Orang yang lebih dari satu bulan ini selalu menerornya melalui panggilan telpon, sms dan juga pesan whatsApp.
Bahkan sering kali pria itu muncul di lokasi syuting iklan atau pun lokasi pemotretan Zoya. Membuat Naina benar - benar merasa di teror.
"Na?" tegur Zoya saat gadis yang ditanyainya justru malah melamun.
"Iya Mbak."
"Masakan kamu gosong." Naina tersentak, segera mengangkat masakannya. Zoya tertawa melihat masakan gadis itu yang gosong. Naina tampak mengerucutkan bibir.
"Yah, kasihan." decak Zoya.
"Mbak Zoya, sih." gerutunya, Zoya menghampiri gadis itu dan mengusap puncak kepalanya. Sejenak membuat perasaan gadis itu menghangat.
"Biar saya bantu, yah." ujar Zoya, mengambil alih spatula dari tangan Naina dan kembali menyalakan kompor. Naina hanya menatap wanita itu, beruntung ia memiliki majikan sebaik Zoya. Yang menyayangi dan memperlakukannya dengan sangat baik.
**
Beberapa hari ini, Naina memerhatikan jika Ethan jauh lebih sibuk dari pada biasanya, seringkali pria itu pulang larut malam dengan wajah kelelahan. Sehingga atas isin Zoya, ia membuatkan pria itu minuman herbal.
"Saya perhatikan akhir - akhir ini Pak Ethan selalu kelelahan, jadi saya buatkan ini untuk penawar. Biar badan Pak Ethan kembali prima," sahut gadis itu begitu Ethan mendudukan dirinya di sofa sepulang kerja.
Ethan mengernyit, menatap gelas yang Naina taruh di atas meja, seketika aroma rempah - rempah menguar menabrak indera penciumannya.
Tak lama, Ethan meraih gelas tersebut. "Apa saja?"
"Hmm?" Naina tidak mengerti maksud pertanyaan pria itu.
"Apa saja isi di dalam ramuan herbal ini?"
"Mm, jahe merah, kunyit, kayu manis, lada hitam, kapulaga, serai, secang sama ketumbar."
"Lada hitam? Ketumbar?" oh Ethan tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya. Naina mengangguk kaku.
"Sudah ditambahkan madu, Pak. Rasanya tidak terlalu buruk, Mbak Zoya juga sudah mencicipi."
Ethan tersenyum mendengarnya. "Bagaimana reaksinya?"
"Mmm." Naina menahan kalimatnya dengan tersenyum. Ethan yang mengerti mengangguk - anggukan kepala. Mulut dan perut Zoya sangat sulit menerima minuman herbal. Begitu juga dengan ramuan tradisional yang sudah sering wanita itu minum dari Naina. Ethan cukup yakin, jika bukan demi dirinya wanita itu pasti tidak akan mau meminumnya.
Perlahan tapi pasti, Ethan meminum minuman herbal itu dan menghabiskannya dalam satu kali tegukan, ekspresi wajahnya meringis dan membuat Naina tersenyum memerhatikannya.
"Bagaimana?" tanya Naina, meminta pendapat pria itu.
"Tidak terlalu buruk."
"Terimakasih, yah, Naina." ucapnya, kemudian bangkit dari sofa dan berlalu menuju kamar. Meninggalkan jasnya yang tersampir begitu saja pada bahu sofa.
Naina melangkah hendak mengambilnya, numun gerakan tangan gadis itu berhenti di udara. Apa yang berbulan lalu Zoya katakan berputar di kepalanya sehingga membuatnya mengambil langkah mundur.
Bagaimanapun, ia harus mengikuti aturan. Dirinya tidak boleh lancang dan terkesan tidak sopan.
Naina menghela napas, ia lebih memilih mengambil gelas bekas Ethan dan berlalu ke arah dapur tanpa memerdulikan jas Ethan.
Ia sangat menghargai Nyonya rumahnya. Terlebih Zoya sudah begitu baik padanya. Naina tak ingin membuat Zoya kecewa padanya nanti karena lancang menyentuh pakaian Ethan.
TBC
__ADS_1