
Waktu menunjukam pukul dua dini hari waktu setempat saat Ethan bangun dari tidurnya. Ia menoleh ke samping dan mendapati Naina yang tengah tertidur pulas, memijat pelipis dan kemudian bangkit dari tempat tidur segera Ethan lakukan.
Kakinya melangkah ke dekat jendela raksasa setelah meraih ponsel yang sebelumnya berada di meja samping tempat tidur. Ethan menyingkap gorden, melihat pemandangan luar yang tampak senyap, sepertinya hujan beberapa jam lalu berhasil membuat semua orang bertahan di tempat tidur.
Ethan menutup gorden, memainkan ponselnya dan membuka jendela obrolannya dengan Zoya. Tidak ada pesan masuk apapun dari istrinya tersebut. Membuat perasaan Ethan kesal hingga pria itu berdecih, berpikir jika sepertinya Zoya sangat senang ditinggalkan olehnya.
Tapi sejujurnya Ethan rindu dengan wanita itu. Ia ingin sekedar mendengar suara wanita itu, sehingga dengan mantap jari tangan Ethan bergerak menuju ikon telpon hingga ia menyadari waktu yang menunjukan pukul dua dini hari.
Artinya di Jakarta sana pukul dua belas malam mengingat perbedaan waktu antara Indonesia dengan Maladewa adalah dua jam. Ethan mendesah dan memilih mengurungkan niatnya untuk menghubungi Zoya.
Takut menganggu wanita itu, karena Zoya pasti sedang lelap-lelapnya tertidur, sama seperti Naina saat ini. Pandangan Ethan mengarah pada istri keduanya, bayangan beberapa jam yang lalu mengenai apa yang terjadi di antara keduanya membuat Ethan menggelengkan kepala, menepis hal tersebut agar tidak mengganggunya.
Sekali lagi, Ethan hanya menatap kontak sang istri. Mengusap layar ponsel dengan hati yang merindukan Zoya.
"Zoya, saya ingin segera pulang dan bertemu dengan kamu."
***
Cuaca begitu panas siang itu ketika Zoya dengan timnya baru saja menyelesaikam iklan produk kecantikan. Begitu wanita itu duduk pada kursi yang berada di basecamp, Selin segera menghampirinya dan menyerahkan kipas portable pada wanita itu.
"Syuting hari ini selesai?" tanya Zoya. Ia merasa lelah dan berharap jika jadwal syutingnya hari ini sudah usai, agar ia bisa segera pulang dan beristirahat di rumah dengan tenang.
Sebelum menjawab pertanyaan dari aktrisnya, Selin lebih dulu melihat situasi di sekitar mereka, membuat Zoya mengerutkan kening di tempatnya.
"Agendaku hari ini udah beres, 'kan Mbak?" Zoya bertanya sekali lagi, Selin mengangguk. Seketika berhasil membuat Zoya bernapas lega.
"Kalau gitu abis ini Mbak Selin langsung anterin aku pulang."
"Manajer Edrin ngehubungin Mbak, dia pengen ngajak kita makan siang." beritahu Selin.
"Edrin ada di sana?"
"Of Course."
Sesaat Zoya hanya diam mematung di tempatnya. Selin yang memahami wanita itu segera angkat bicara.
"Kalau nggak mau kamu bisa nolak. Kayanya cuma makan siang, paling sekalian ngerayain bergabungnya Edrin di film kalian." papar Selin mengingat jika kemungkinan besar hal itulah yang pastinya akan terjadi. Mengingat jika film ini menjadi incaran para aktor terkenal. Siapapun yang pada akhirnya terpilih wajib bangga atas pencapainya.
"Gimana?" tanyanya saat Zoya hanya diam, Zoya mengalihkan tatapannya pada Selin kemudian mengangguk.
"Mau atau nggak?"
"Gimana, yah." Zoya tampak bingung, sekalipun Ethan sedang tidak ada di sampingnya dan tidak mungkin tahu dengan pertemuan ini, tetap saja ia merasa khawatir.
"Nggak akan jadi masalah?" Zoya bertanya, tidak yakin.
"Manajernya Edrin pasti booking tempat aman. Lagian kamu juga perlu komunikasi sama Edrin biar nggak ada salah paham di antara kalian." Selin menjeda kalimatnya, tampak ragu.
__ADS_1
"Kamu harus bilang ke Edrin kalau sebenernya Pak Ethan nggak setuju andai lawan main kamu itu Edrin." sambungnya dengan pasrah.
Sesaat Zoya diam, beberapa detik setelahnya ia mengangguk setuju atas apa yang Selin sampaikan. Perlu ada komunikasi mendalam untuk dirinya dengan Edrin agar syuting filmnya nanti berjalan lancar, harus ada kesepakatan juga di antara mereka agar tidak ada kendala nantinya.
Selang beberapa menit setelahnya, Zoya dengan Selin melunchr menuju sebuah restoran di alamat yang manajer Edrin kirimkan. Seperti yang sudah Zoya duga, jika manajer Edrin menyewa sebuah privat room untuk mereka menikmati makan siang dan pertemuan ini.
"Hallo Zoya." wanita berusia sekitar tiga puluhan awal itu menyapa Zoya begitu keduanya tiba. Zoya mengukir senyum dan mengangguk hormat, begitu juga tersenyum pada Edrin yang tengah menatapnya saat ia memasuki ruangan.
"Silakan duduk." sahutnya pada Zoya, Zoya segera mengangguk dan duduk di kursi tepat di samping pria itu. Sementara Selin duduk di samping manajer Edrin.
"Maaf, sudah lama menunggu yah." ungkap Selin begitu ia sudah duduk.
"Nggak masalah, kita juga baru sampai beberapa menit yang lalu." manajer Edrin menyahut dengan tenang.
Tak lama setelah itu, seorang waitress masuk dan menyerahkan buku menu. Selin memberi aba-aba pada Zoya, bertanya dengan isyarat menu makan siang apa yang diinginkannya, tetapi Zoya hanya mengangguk samar. Membiarkan Selin memesan apa saja, toh wanita itu tahu apa makanan kesukaan Zoya.
Sementara menunggu hidangan tersaji, Selin asik mengobrol sengan manajer Edrin mengenai kesibukan mereka sebagai manajer artis, sedangkan Zoya dengan Edrin sendiri hanya diam di tempat masing-masing.
Zoya sibuk sendiri dengan ponselnya meski tak benar-benar perlu, ia ingin menjalankan apa yang Selin usulkan untuk mencapai kesepakatan dengan Edrin namun belum tahu harus memulainya dari mana. Ia justru hanya berselancar di beranda media sosialnya dan melihat update-an terbaru dari rekan sesaman aktrisnya.
Tidak begitu penting karena Zoya tak pernah ingin tahu kehidupan oramg lain. Namun hal itu ia lakukan guna mengalihkan perhatiannya sendiri. Sejujurnya ia ingin mengetahui kabar Ethan hari ini, namun Zoya sebisa mengkin menahan diri untuk tidak menghubungi pria itu.
Sementara di sampingnya, sejak beberapa waktu lalu Edrin hanya memerhatikan Zoya. Seharusnya mereka mengobrol, atau membahas apa saja. Tidak masalah jika membicarakan pekerjaan, namun wanita itu asik sendiri dengan ponselnya.
Edrin menatap ponsel miliknya yang tersimpan rapi di atas meja. Ia adalah orang yang paling pantang bermain ponsel saat sedang berkumpul dengan orang lain. Sebuah attitude yang patut mendapat apresiasi.
Ia ingin menegur Zoya dan mengajak wanita itu berbicara namun Zoya tampak asik sendiri dengan dunianya usai mereka saling menyapa begitu tadi wanita itu tiba.
"Hmm, baik Mbak."
"Makin cantik aja, yah." pujinya dengan senyum yang membuat Zoya juga tersenyum tipis.
"Saya nggak nyangka kita bisa bekerja sama lagi dalam sebuah film. Tapi dari awal saya memang yakin Edrin bisa dapet posisi pemeran utama."
"Dia cocok bersanding sama kamu. Saya senang," ungkapnya dengan jujur. Selin hanya mengukir senyum, sama halnya dengan apa yang Zoya lakukan. Ia tak tahu harus merespond seperti apa.
Selin yang mengerti reaksi Zoya juga tak mampu berkata-kata. Beruntung topik canggung itu segera berakhir begitu beberapa waitress memasiki ruangan dan menata makanan, mematikan topik dan membuat Zoya dapat bernapas dengan tenang.
"Silakan makan, Zoya. Mbak Selin." manajer Edrin menawarkan dengan ramah. Selin dengan Zoya mengangguk, sementara Edrin sudah memulai ritual makan siangnya tanpa menghiraukan keadaan sekitar.
***
Usai makan siang, ketika yang lain tengah menikmati hidangan penutup, Zoya pamit undur diri menuju toilet. Wanita itu mencuci tangannya di wastafel dan menatap pantulan wajahnya di cermin. Mengecek ponsel dan melihat jendela obrolannya dengan Ethan. Tak ada satupun pesan masuk dari suaminya. Tetapi tak ada hal buruk apapun yang bersarang di kepala Zoya sehingga yang wanita itu lakukan hanya mengukir senyum dan mengembuskan napas dengan tenang.
Setelahnya, ia keluar dari toilet. Wanita itu begitu terkejut saat mendapati Edrin yang tengah bersandar pada dinding di samping pintu toilet dengan tangan yang tersilang di dada. Zoya mengedarkan pandangannya ke sekitar, memastikan jika di sana tidak ada orang kecuali hanya mereka berdua.
"Kamu ngapain?" tanyanya pada pria itu. Edrin menurunkan tangannya dan berdiri dengan tegak berhadapan dengan Zoya.
__ADS_1
"Enggak ngapa-ngapain." jawabnya dengan raut tanpa dosa, Zoya mengerutkan kening, tidak yakin atas jawaban pria itu.
"Aku ngerasa kalau di dalem kita nggak ada kesempatam buat ngobrol, mm." Edrin menjeda kalimatnya.
"Kamu nggak kasih aku kesempatan buat ngobrol." ralatnya.
"Kamu ngehindar?" tanya Edrin kemudian dengan mata menyipit saat menatap Zoya. Zoya hanya diam. Apa yang Edrin katakan memang benar, Zoya memang menghindari pria itu guna menjaga perasaan Ethan sekaligus mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.
"Kalau kamu ngehindarin aku karena suami kamu, itu artinya kamu sama dengan membenarkan kalau di antara kita ada sesuatu."
"Huh?" Kening Zoya berkerut.
"Kenapa kita nggak profesional aja? Toh kita nggak ada hubungan apapun dan kamu nggak perlu khawatir." ucap pria itu dengan mudahnya. Zoya mendesah.
"Mereka lebih percaya sama apa yang mereka lihat, Edrin." tegas Zoya, kali ini giliran Edrin yang mengerutkan keningnya.
"Kalau mereka liat foto kita berdua dan media nulis hal-hal yang nggak sesuai sama faktanya, mereka akan percaya kalau kita punya hubungan."
"Tapi ngehindarin aku juga bukan cara terbaik. Aku tersinggung." wajah pria itu dibuat memelas dan berhasil membuat Zoya tertawa. Sebenarnya, ini bukan kali kedua Edrin dengan Zoya terlibat dalam project yang sama.
Namun sebelumnya, hanya syuting iklan yang tidak memakan proses waktu yang lama dan juga tidak terlalu menarik atensi publik.
Semua bermula dari film pertama mereka yang membuat publik geger selama penayangan berlangsung. Juga dimulai sejak Ethan dibutakan oleh rasa cemburunya sehingga Zoya harus benar-benar membuat jarak dengan Edrin.
"Harusnya suami kamu profesional. Dia hapal gimana industri ini berjalan."
Apa yang Edrin katakan membuat Zoya mengangguk setuju. Tapi nihil, berulang kali Zoya mengatakan hal itu pada Ethan, sedikitpun pria itu tidak mau mengerti.
"Apa aku harus punya pacar? Biar suami kamu tenang kalau tau aku udah punya pasangan?" usul pria itu dengan ekspresi enggan yang tampak menolak usulannya sendiri.
Zoya mengangguk samar dengan senyuman, menyetuju usulan pria itu.
"Tapi aku males pacaran!"
Spontan senyum di bibir Zoya sirna, matanya menyipit menatap Edrin yang justru tengah tersenyum padanya.
"Ayolah, Zoya. Semua aktris yang coba deketin aku, mereka cuma numpang pamor doang. Mereka pengen lebih dikenal dan terkenal."
"Mereka nggak bener-bener tulus. Aku males!"
"Kalau gitu kamu harus nyari orang yang nggak terlibat sama industri kita." Zoya mengangkat bahu acuh. Edrin hanya diam Zoya menatap pria itu, setelah ia buka suara.
"Enggak semua aktris sesuai dengan apa yang kamu pikkrin. Cuma kebetulan aja kamu sering ketemunya sama yang kaya gitu." oceh Zoya, Edrin berdecih.
"Kita lagi nggak bahas aku, okey!" Edrin menolak topik yang Zoya bawakan.
Kali ini, Edrin kembali serius, ia menatap Zoya dalam-dalam, kemudian berbicara. "Aku punya harapan besar buat film kita. Jadi aku harap, kita bisa bekerja sama dan suami kamu bisa ngerti!"
__ADS_1
TBC
Hmm, gimana ya kelanjutannya?