
"Dari mana kamu?" tanya Warry saat Freya melewatinya di ruang utama rumah. Freya menoleh. "Habis dari luar,"
"Kabur?"
"Freya nggak kabur, Pi. Freya nggak dipenjara, 'kan?" Freya menolak kenyataan jika ia memang kabur dari rumah atas bantuan Bi Rusti.
"Lain kali kalau mau keluar kamu bilang, biar dikawal."
"Sebentar lagi Papi harus pecat mereka!" Freya berlalu dengan cepat menaiki anak tangga ke arah kamarnya tanpa menunggu respond Warry. Sementara Warry hanya menoleh dan menatap kepergiannya.
*
*
Suasana ruang utama rumah Warry mendadak menjadi tegang setelah kedatangan keluarga Andreas. Freya adalah yang paling jelas terlihat tegang di sana karena takut Warry kembali menolak Agyan dan mengusirnya.
Sementara kalimat yang Agyan lontarkan membuat Anna mengeluarkan ekspresi yang tidak jauh berbeda dengan Grrycia. Bahkan ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Agyan.
"Jadi kamu—" Anna menggeleng tak percaya. Perlahan Agyan bangkit, bersiap dengan apapun yang akan Anna lakukan padanya. Tamparan mungkin akan melayang pada pipinya dan bisa saja kembali membuat bibirnya terluka.
"Selama ini, saya nggak pernah menentang hubungan kamu dengan Freya dan mempercayakan putri saya terhadap kamu. Tapi apa yang kamu lakukan, Agyan?"
"Kamu sudah menghancurkan masa depan putri saya. Kamu sudah membuat saya kecewa."
"Maka dari itu saya akan bertanggung jawab Tante."
Plak.
Sebuah tamparan dengan kerasnya mendarat di pipi Agyan sebanyak dua kali. Grrycia hanya menutup mulutnya dengan terkejut, ada perasaan tidak terima melihat putranya di perlakukan kasar oleh oranglain, bahkan ia tidak pernah melakukannya. Tapi, bagaimana pun, Agyan memang pantas mendapatkannya.
Sementara Freya hanya meremas pinggiran dress yang dikenakannya. Jika tadi siang ia melihat bekas luka di bibir Agyan karena tamparan dari Andreas. Maka kali ini, bahkan Freya menyaksikannya sendiri bagaimana kesakitan yang dirasakan oleh Agyan mendapatkan tamparan tersebut, pasti Agyan merasakan perih yang luar biasa jika sobekan di bibirnya kembali terluka.
Andreas sendiri hanya bersikap sebagai penonton. Andreas merasa, sebagai seorang laki-laki sejati, Agyan memang perlu mempertanggungjawabakan perbuatannya.
"Kamu pikirkan bagaimana perasaan saya sebagai ibu yang melahirkan Freya, saya merasa gagal karena sudah membiarkan Freya bersama dengan kamu!" Anna mengungkapkan kekecewaannya dengan deraian air mata. Sebagai seorang ibu, jelas Anna merasa terluka mendapati anaknya yang hamil di luar nikah. Begitu juga Warry yang merasa tertampar harga dirinya karena putrinya mengandung benih dari keluarga yang sangat tidak diinginkannya di luar pernikahan.
Setelah lama hanya memperhatikan dan mempertimbangkan semuanya. Warry bangkit dari duduk.
"Jadi kamu memang sengaja melakukannya agar mendapat restu dari saya?" tanya Warry. Agyan menggeleng samar.
Sungguh, niatnya tidak seperti itu, ia tidak ingin menjadikan Freya alat dan menghadirkan buah cinta mereka di luar ikatan yang sah. Yang Agyan pikirkan saat itu hanya satu. Ia mencintai Freya dan menginginkan gadis itu.
"Agyan nggak sepenuhnya salah, Pi." bela Freya yang kasihan dengan kekasihnya. Terlebih, Agyan memang tidak sepenuhnya bersalah di sini.
"Diam Freya, kamu tidak perlu membela pria seperti ini."
"Pi, bagaimana pun Agyan calon ayah dari anak Freya. Papi nggak mau, 'kan cucu Papi lahir tanpa seorang ayah." iba Freya dengan tatapan sangat memohon.
"Kamu benar, dia memang harus memiliki seorang ayah."
Freya mengangguk dengan perasaan lega. Seandainya Warry akan merestui mereka meski sementara, setidaknya Freya akan meyakinkan Warry jika Agyan layak menjadi menantunya.
Senyum tipis juga terbit di bibir Agyan mendengar pernyataan Warry yang artinya akan memberi mereka restu.
"Papi akan merestui aku sama Agyan?"
"Bukan Agyan!"
Semua orang tampak terkejut, terutama Freya dan Agyan yang saling melempar pandangan dengan perasaan yang sekarang bercampur menjadi satu. Freya sudah lelah dengan semuanya dan tidak siap dengan keputusan Warry.
Memang, jika bukan Agyan, siapa yang akan bertanggungjawab sementara benih di dalam janinnya adalah milik Agyan. Hanya milik Agyan.
"Braga yang akan menjadi ayah dari anak yang kamu kandung!"
Agyan menggeleng kuat, berjalan mendekat pada Warry, Grrycia tidak bisa mencegah langkahnya. "Om tidak adil,"
__ADS_1
"Di mana letak ketidak adilan saya?"
"Saya hanya memberikan yang terbaik untuk putri saya. Braga adalah laki-laki yang baik, saya percaya dia akan menjadi suami yang baik dan mencintai Freya lebih dari kamu."
"Tidak bisa, Om. Anak yang sedang Freya kandung adalah anak saya, milik saya, bukan Braga."
Andreas bangkit, berdiri di samping Agyan yang mengiba pada Warry untuk membatalkan niatnya menikahkan Freya dengan Braga. "Sudahlah, Agyan. Kamu sudah bertanggungjawab dengan niat ingin menikahi Freya. Tapi jalannya tidak sesuai dengan apa yang kamu rencanakan."
"Pi, enggak kaya gini. Agyan dan Freya saling mencintai, dan anak kami butuh kami bersama."
"Ayo pulang," Andreas menarik tangan putranya. Grrycia juga bangkit.
"Om saya mohon, Om. Saya akan melakukan apapun agar dapat bersama Freya, saya mencintai Freya, Om. Saya mohon," Agyan mengatup-ngatupkan tangannya dengan mata yang memerah menahan tangis dan amarah.
"Saya mohon, Om. Restui kamu untuk bersama, saya mohon."
Warry bagai kehilangan fungsi pendengarannya dan menganggap permohonan Agyan hanya angin lalu semata. Anna tampak tidak perduli, meski ia tau jika Agyan bersungguh-sungguh untuk mempertanggungjawabkan semuanya.
"Saya mohon, Om." lirih Agyan bersamaan dengan langkahnya yang ditarik menjauh oleh Andreas menuju pintu keluar.
"Saya mohon pikirkan baik-baik ini semua Tuan Maheswarry, bukan hanya Agyan yang mencintai Freya, tapi Freya juga mencintai Agyan."
"Mereka saling mencintai."
"Kami permisi," sahut Grrycia yang kemudian berlalu melewati Warry yang menatap kepegian Andreas dengan Agyan yang sudah lebih dulu keluar dari rumahnya.
Setelah keluarga Andreas berlalu, Warry menoleh pada Freya yang hanya diam di tempat duduknya.
"Freya nggak tau harus ngomong apa sama Papi. Freya nggak ngerti," sahutnya yang kemudian beranjak dengan perlahan meninggalakan kedua orangtuanya.
Sehari setelah itu, keluarga Braga datang untuk melamar Freya. Bagaimana pun, Warry berteman baik dengan Arvand dan sering membantunya, akan segan jika Arvand menolak untuk menikahkan putranya dengan putri tunggal keluarga Maheswarry. Terlebih, Braga tidak keberatan dengan hal itu.
"Harusnya kamu nggak terlibat masalah aku sama Gyan," sahut Freya saat sekarang ia sedang berada dengan Braga di dalam mobil untuk fitting baju pengantin..
"Ga," panggil Freya, Braga menoleh sekilas, kemudian kembali fokus pada gagang stir.
"Kamu mau sia-sian hidup kamu buat nikah sama cewek yang udah hamil sama orang lain?"
"Sama cewek yang sama sekali nggak kamu cinta?" tanya Freya yang membuat Braga hanya terdiam sambil mengetukan jarinya pada gagang stir. Lampu lalu lintas berwarna merah dan mobil Braga sudah berhenti.
"Ga," tegur Freya sekali lagi. Saat Braga hanya terdiam bahkan ketika mobil sudah kembali melaju.
"Aku boleh jujur sama kamu?" tanya Braga.
"Jujur apa?"
Braga kembali diam untuk sesaat. "Aku mau nikahin kamu karena Agyan. Aku rasa Agyan bisa percaya aku daripada kamu harus nikah sama orang lain."
"Apa Agyan bakalan ngerti itu?"
"Aku gak tau,"
"Tapi seenggaknya, aku ngelakuin ini buat kalian."
Freya sudah cukup dengan rasa yang mengganjal di hatinya. Tapi seharusnya. Braga tidak perlu mau menikahinya. Mengorbankan hidupnya untuk wanita yang tidak dia cintai.
Tapi bagi Braga, menikahi Freya artinya menyempurnakan hidupnya, tidak perduli dengan bayi yang gadis itu kandung adalah anak Agyan, Braga akan menganggap ia menjadi anaknya sendiri.
Braga tidak jahat, kecuali ia merebut Freya dari Agyan. Tapi ini tidak, keadaanlah yang membuat mereka harus bersama. Atau ini memang takdir terbaik untuknya bersama dengan gadis yang sudah lima tahun dicintainya.
"Kita berhenti di warung nasi padang, yah. Aku pengen rendang,"
Braga melihat sisi kanannya di mana terdapat warung makan nasi padang dengan para pelanggan yang tampak ramai, ia menoleh pada Freya dan tersenyum.
"Ngidam?" tanyanya dengan sedikit tawa. Freya juga ikut tertawa. "Mungkin mamanya aja yang pengen."
__ADS_1
Braga menepikan mobilnya, Freya segera turun. Matanya berbinar menatap warung makan di depannya. Freya bisa mengira jika rumah makan tersebut adalah rumah makan terbaik, terbukti dengan banyaknya orang yang mengantri di sana.
"Aku aja yang ngantri, kamu di sini aja." sahut Braga sambil membenarkan rambutnya. "Ikut aja, aku yang mau pesen." sahutnya bersemangat, Braga mengangguk, keduanya berjalan beriringan memasuki Rumah Makan. Persis sepasang kekasih yang menikmati waktu berdua.
Bersamaan dengan Freya dan Braga yang keluar dari Rumah Makan, Agyan menghampiri Freya. Mencekal pergelangan tangan gadis itu.
"Ikut aku."
"Kemana?" tanya Freya. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan Agyan yang tiba-tiba.
"Pulang!"
"Gyan!"
"Apa?" Agyan naik darah. Menatap Freya dengan Braga bergantian. Perasaannya hancur mendapati mereka bersama, bersenang-senang dan melupakan dirinya yang terbebani harus menahan hatinya dan merelakan Freya pada kawannya sendiri.
"Gyan, loe jangan kasar, lah." Braga mencoba mengontrol Agyan.
Agyan menatap Braga dengan tatapan menyala. Ia melepas tangan Freya yang tadi dicekalnya, kesabarannya terbatas dan sekarang ia perlu melampiaskannya.
Agyan menarik kerah kemeja Braga, tanpa permisi mendaratkan bogem mentah beberapa kali di wajah tampan pria itu. Menyita perhatian orang-orang di sana yang mulai berkasak-kusuk dan bergosip ria.
"Agyan, udah!"
Lerai Freya, berusaha menghentikan aksi Agyan yang memukuli Braga habis-habisan sementara Braga sama sekali tidak melakukan perlawanan.
"Harusnya loe gak terima tawaran bokap Freya buat nikahin dia—" geram Agyan, tak perduli jika sekarang ia sudah menjadi bahan tontonan.
"Loe gak mikirin perasaan gue, huh?"
"Gyan, dengerin gue!"
Agyan terkekeh geli, melepas cengkramannya dari kerah kemeja Braga dengan kasar sambil mendorong Braga menjauh. "Ternyata orang yang diem-diem kaya loe itu bahaya!"
"Gyan," Freya menyentuh lengan Agyan. Tapi Agyan menepisnya, berlalu ke arah mobilnya yang terparkir tak jauh dari mobil Braga. Freya mengejar. "Gyan,"
"Apa?" nada bicara Agyan tidak bersahabat.
"Mau ke mana?"
"Apa hak kamu ngelarang?"
"Aku tanya!" Freya menegaskan dengan kesal pada Agyan yang mendadak berubah menjadi kekanak-kanakan.
"Apa hak kamu nanya-nanya?"
"Gyan," Freya menahan tangan Agyan. "Kamu cemburu?"
"Kamu nanya?"
"Freya, kamu itu punya aku. Dan janin yang ada di dalam rahim kamu, dia milik aku." kali ini Agyan berkata lembut, pancaran matanya tidak dapat Freya baca sepenuhnya. Sementara yang paling kentara, mata laki-laki itu memancarkan kesungguhan.
"Iya, aku tau."
"Dan kamu harus nikah sama orang lain?" Agyan berkata dengan kecewa. "Enggak ada yang bisa aku lakuin Agyan."
Agyan diam, menatap Freya, kemudian menatap Braga di sana yang memegangi sudut bibirnya. Ia mengangguk samar dan perlahan melepas tangan Freya.
"Aku pergi," ungkapnya, membuka pintu mobil dan berlalu dari sana tanpa menoleh pada Freya. Sedangkan Freya hanya menoleh pada Braga dan menatap kepergian Agyan dengan iba.
Dengan perasaan yang hancur melihat orang yang begitu dicintainya tampak putus asa.
TBC
Jangan hujat aku, nanti semuanya akan terjawab yah:")
__ADS_1