Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Waktu yang Bergulir


__ADS_3

Hallo, apa kabar? Semoga selalu sehat, dilimpahkan rezeky-nya dan dilancarkan segala urusannya.


Marhaban ya Ramadhan. Gimana puasanya? Masih lancar? Alhamdulillah.


Author datang sesuai janji untuk melanjutkan kisah Ethan dengan Zoya๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


Jangan lupa untuk mendukung dan menyukai kisah sederhana mereka๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–๐Ÿ’–


**


"Namanya juga lika - liku kehidupan, ya emang nggak akan mudah."


"Pastinya. Mereka udah ngejalanin alur terjal, berapa kali kena masalah. Yang terakhir bahkan saya kira Pak Ethan gak akan mau maafin Zoya."


Randy menoleh. "Karena keguguran itu?" tanyanya yang membuat Selin juga menoleh, tatapan keduanya bertemu, kemudian wanita itu menganggukan kepalanya.


"Kayaknya Pak Ethan emang pengen banget cepet punya anak." sambungnya setelah beberapa saat. Kali ini giliran Randy yang mengangguk, geli juga membayangkan seorang Zeinn Ethan Maheswari memiliki seorang anak. Tidak terbayang betapa akan kaku dan acuh tak acuhnya dia memperlakukan anaknya dengan Zoya nanti.


Tapi, siapa yang tau kedepannya? Barangkali Ethan akan berubah menjadi pria hangat dan berbeda. Seperti saat di hadapankan dengan Zoya misalnya.


Randy menggelengkan kepala, menepis pikiran tidak baik yang bersarang di kepalanya. Lantas, tatapan Randy dengan Selin mengarah pada dua orang yang saling tertawa dan bekejaran di tepi pantai. Sesekali saling menyipratkan air selayaknya hal lumrah yang terjadi jika seorang pasangan bermain di pantai atau bermain air.


"Saya tidak mau basah Zoya," Ethan mengangkat tangannya ke udara saat wanita itu bersiap menyipratkan air padanya.


"Siapa yang mulai duluan." wanita itu bersikeras dan pada akhirnya menyipratkan air pada Ethan, membuat Ethan menyilangkah kedua tangan di depan wajahnya. Saat Zoya sama sekali tidak mendengarkan apa yang ia katakan, Ethan lantas melangkah dengan cepat menghampiri sang istri. Membuat gerakan Zoya perlahan terhenti. Mendadak ia gugup.


Hampir satu tahun menikah dengan Ethan. sensasinya masihlah sama. Detak jantungnya juga masih tidak dapat ia kendalikan dengan normal, terutama saat pria itu merengkuh pinggangnya dan mengikis jarak di antara mereka. Persis, jantung Zoya seperti akan segera meledak.


Zoya tau ini pantai pribadi milik opa Warry. Tapi mereka tidak sendiri di sana, ada Randy dan juga Selin yang barangkali saat ini ..., sedang menonton.


Zoya akui, bahkan mereka sangat sering memergoki ia dengan Ethan melakukan hal - hal romantis di tempat yang tidak seharusnya. Kecuali hubungan suami istri tentunya. Tapi tetap saja, Zoya tidak sebebel Ethan yang selalu bodo amat dengan kehadiran orang lain di sekitar mereka.


"Saya bilang stop, kamu tidak ingin mendengarkan saya?" suara khas Ethan menariknya pada reality. Ia mengerjap pelan.


"Kamu ..., yang mulai duluan." sahutnya gugup. Ekspresi wanita itu berhasil memancing tawa Ethan. Melihat Ethan tertawa puas membuatnya memberenggut kesal, merasa dipermainkan. Sedangkan Ethan menarik tubuh wanita itu dalam pelukan.


Zoya sempat berontak, namun Ethan berhasil membuatnya nyaman hingga akhirnya ia membalas pelukan pria itu dengan bibir yang mengembangkan senyum penuh kebahagiaan.


Setelah insiden keguguran yang Zoya alami. Sudah terlalu banyak hal yang mereka lewati. Cobaan datang silih berganti, ujian nyaris datang setiap hari, tanpa permisi.


Mengingat kecerobohannya yang tidak bisa menjaga buah hatinya dengan Ethan seringkali membuat Zoya merasa sedih dan menyalahkan dirinya sendiri. Hingga Ethan membiarkan ia melakukan segala hal untuk mengalihkan rasa sedihnya. Ethan memang selalu menjadi orang terbaik yang mengertikannya.


Empat bulan kemarin, Zoya disibukan oleh syuting film yang mengharuskannya mengunjungi beberapa kota untuk pengambilan scene, bahkan juga ke dua negara tetangga dan membuatnya jauh dengan Ethan dalam waktu yang cukup lama.


Beruntung, pria itu sangat mengerti dan tidak protes sama sekali, terlebih Ethan juga disibukan oleh pekerjaannya saat AE RCH melakukam prekrutan bintang baru.


Keduanya disibukan oleh pekerjaan masing - masing, hingga begitu pekerjaan mereka selesai. Ethan dengan mendadak mengajaknya berlibur, sekalian berbulan madu.


Pantai pribadi milik Warry menjadi pilihan Ethan untuk keduanya menenangkan pikiran tanpa ada gangguan dari orang - orang. Hari ini, adalah hari terakhir Zoya dengan Ethan menikmati liburan, besok mereka akan kembali ke Jakarta dan bergelut dengan rutinitas seperti biasa.


"Gimana, sudah siap?" tanya Ethan begitu ia usai mandi, Randy yang baru saja turun dari atap vila mengangguk sambil mengangkat kedua jempolnya. Alisnya naik turun dengan senyum penuh arti.


"Ethan,"


Ethan menoleh ke arah kamar di mana suara Zoya terdengar memanggilnya. Lantas mengangguk pada Randy untuk permisi, segera berlalu ke arah kamar.


"Ada apa?" tanyanya begitu pintu kamar terbuka, ia melangkah menghampiri wanita itu yang berdiri dengan baju mandinya, bahkan tetesan air dari rambutnya sesekali menetes dan membasahi keningnya. Membuat Ethan ..., ah tidak.

__ADS_1


"Ini apa?" Zoya balik bertanya dengan heran, tangannya menunjuk beberapa paper bag di atas tempat tidur. Ethan mengukir senyum, kemudian berjalan mendekat dan menggandeng istrinya.


"Kejutan," bisiknya dengan nada sensual tepat di telinga Zoya, membuat wanita itu memegang telinganya setelah cukup merinding atas apa yang baru saja Ethan lakukan.


"Buat apa?"


"Kamu buka."


Zoya menoleh dan menatap sang suami, Ethan mengangguk meyakinkan, membuat Zoya akhirnya mengambil salah satu paper bag berisi sebuah kotak putih mewah dengan hiasan mutiara di atasnya. Dengan perasaan curiga, Zoya membukanya setelah menatap Ethan sebentar. Perasaannya mendadak berdebar.


Mata wanita itu membulat sempurna begitu isi kontak tersebut terpampang di depan matanya, bahkan mulutnya setengah terbuka dengan pandangan yang kemudian mengarah pada sang suami.


"Something special, for a special person." sahut Ethan dengan suara serak. Membuat Zoya berhambur memeluk pria itu. "Makasih," kemudian memberi kecupan singkat di bibir pria itu, setelahnya mengurai pelukan mereka dengan tidak sabaran saat baru saja Ethan akan mendekapnya. Membuat tangan pria tampan itu menggantung di udara.


"Kamu kenapa repot - repot beliin aku barang barang mahal ini?" tanyanya, menatap satu set perhiasan merk rolex di dalam kotak putih yang baru saja ia buka.


Ethan yang ditanya diam sebentar. "Mm, saya gak begitu mengerti selera wanita. Saya hanya tau jika mereka suka kemewahan." sahutnya logis dan lugas. Membuat mata Zoya menyipit padanya, Ethan mengangkat bahu acuh. Tapi beberapa detik kemudian ia mendekap tubuh wanita itu.


Menghujani puncak kepala Zoya dengan kecupan. "Terimakasih,"


"Aku yang makasih sama kamu."


Ethan tersenyum, perasaannya belum mau melepaskan Zoya dalam rengkuhannya. Sampai ponsel dalam saku celananya berdering, membuat ia terpaksa mengurai pelukan untuk mengangkat telpon.


"Siapa?" Zoya penasaran.


Ethan menunjukan ponselnya pada Zoya di mana Id Bunda menghiasai layar ponsel. Wanita itu hanya mengangguk dan mempersilakan Ethan mengangkat telpon, sedangkan ia sendiri melihat beberapa paper bag lagi yang berisi sebuah dress dan high heels.


"Kamu pake sekarang!" suruh Ethan menepuk bahunya dan berlalu keluar dari kamar. Zoya hanya mampu mengangguk. Tapi beberapa detik kemudian ia menautkan alis saat sadar apa yang tadi Ethan perintahkan.


"Bunda udah cariin Asisten Rumah Tangga buat di rumah kamu sama Zoya." suara lembut Freya terdengar di ujung sana.


"Bunda kenapa harus repot - repot?"


"Ethan juga belum ngobrol sama Zoya." Ethan tampak keberatan. Terlebih, ia tidak ingin ada orang lain di rumahnya.


"Ethan, Bunda cuma gak mau Zoya harus kecapean ngurus rumah sama ngurus kamu. Kamu tahu sendiri, 'kan Zoya juga sibuk."


"Kalau kegiatan Zoya terlalu di forsir, susah buat kaliaan punya anak." oceh Freya yang membuat hati kecil Ethan membenarkan hal tersebut.


"Nanti, biar Zoya fokus ngurus kamu aja. Dia pasti setuju, nanti biar Bunda juga bilang ke Zoya."


Ethan menghela napas, lantas memijat pelipisnya dan hanya mengangguk - anggukan kepala.


"Yasudah, terserah Bunda. Tapi Ethan sama Zoya baru akan pulang besok."


"Okey, selamat bersenang - senang, yah."


Ethan hanya bergumam sampai terdengar nada sambungan terputus. Setelahnya ia hanya diam di teras vila. Menatap potret malam dengan semilir angin yang sesekali menusuk tulang.


โ€Zoya sudah siap, tinggal Pak Ethan." suara Selin menginterupsi, Ethan menoleh dan mengangguk. Lantas beranjak kembali ke kamarnya untuk merapikan diri. Sedangkan Zoya sudah tidak ada di sana, mengingat jika ia sudah menyiapkan makan malam romantis untuk wanita itu, anehnya membuat perasaan Ethan berdebar tidak karuan. Seolah ini adalah kencan pertama untuk mereka.


Ia menggelengkan kepala, lantas beranjak ke ruang ganti untuk segera merapikan diri dan bertemu dengan Zoya nanti.


Sementara itu ...,


Zoya melangkah menapaki anak tangga menuju atap vila. Ia tidak tau sejak kapan Selin maupun Randy menyiapkan semuanya. Sekecil apa pun detail tidak mereka lewatkan, bahkan menabur mawar merah dan putih di sepanjang anak tangga menuju atap.

__ADS_1


Membuat Zoya kian penasaran dengan apa yang ada di atas sana. Sampai ketika ia tiba di atap begitu membuka pintu besi, ia disuguhkan pemandangan menakjubkan di sana.


Sebuah meja dengan hidangan yang sudah tersaji di atasnya. Lilin aromateraphy dan juga setangkai mawar, terdapat dua kursi yang saling berhadapan. Sebuah tikar tergelar tak jauh dari meja lengkap dengan beberapa bantal dan selimut.


Zoya menutup mulutnya tak percaya, terkagum menatap semua itu dengan tatapan berbinar. Sampai sebuah tangan lembut yang menyentuh pinggang, kemudian berpindah ke perut membuatnya dengan cepat membalikan tubuh, sadar akan siapa sang pemilik tangan hanya dengan mencium aromanya. Atau dia memang sudah hapal akan sentuhan suaminya.


"Kamu yang siapin?"


Ethan mengangguk.


"Selamat ulang tahun pernikahan kita yang ke satu tahun." ucap Ethan, membuat mata wanita itu berkaca - kaca, siap menangis.


"Terimakasih sudah menjadi istri yang baik."


"Terimakasih sudah mencintai saya."


Tak lama, wanita itu berhambur memeluk Ethan. Membuat pria itu terkesiap begitu kepala Zoya membentur dadanya cukup keras. Ia hanya bisa tertawa.


"Sama - sama." Zoya menyahut dengan gumaman. Ia bahkan tidak ingat jika hari ini adalah ulang tahun pernikahan mereka.


Setelah drama pelukan yang dramatis itu. Ethan mengurai pelukan, menatap Zoya yang tampak cantik dengan make up flawlessnya.


"Sangat cantik." pujinya, menatap wanita itu tanpa berkedip. Membuat Zoya salah tingkah akan tatapan pria itu.


"Tunggu." mata Ethan menyipit, menilik wanita itu yang menautkan alisnya.


"Kamu tidak melupakan hal ini bukan?"


"Lupa apa?" Zoya mulai tertangkap basah dan merasa cemas. Ethan mengalihkan perhatiannya ke arah lain.


"Kamu melupakan hari ini bukan?"


"Aku gak lupa." Zoya mencoba tersenyum meyakinkan, sedangkan Ethan menatap wanita itu penuh selidik.


"Bener?"


Zoya mengangguk meyakinkan. Sedangkan Ethan terkekeh. Diam - diam ia sudah tau jika Zoya sebenarnya lupa hari pernikahan mereka Tapi Ethan tidak bisa marah. Ia juga tidak ingin mengacaukan acara yang sudah dirancangnya.


Sementara wanita itu mengalihkan perhatiannya ke arah lain, Ethan mendekatkan wajahnya. Membuat Zoya yang merasakan napas hangat pria itu menoleh tepat ketika hanya ada jarak beberapa centi di antara mereka.


Matanya terpejam perlahan bersamaan dengan sesuatu yang lembut mendarat di permukaan bibirnya. Tak lama, karena beberapa detik selanjutnya, ia merasa Ethan menjatuhkan kepala di bahunya.


"Terimakasih sudah menikah dengan saya Zoya."


Zoya hanya mampu mengangguk.


"Maaf Ethan,"


"Maaf?"


"Seharusnya aku nggak kehilangan calon anak kita."


Kepala Ethan menggeleng pelan dengan tangan yang mendekap tubuh kecil Zoya, erat. Mungkin semuanya akan sangat sempurna jika ada bayi mungil di antara mereka. Namun, mereka hanya manusia biasa, selalu Tuhan yang menentukan semuanya.


Termasuk menunda kehadiran malaikat kecil di dalam keluarga kecilnya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2