
"Jaketnya, Nona. Mohon dilepas"
"Oh," Freya melepas blazernya dibantu oleh Anna, kemudian menyerahkannya pada petugas hotel yang berada di pintu masuk.
Warry menggandeng Anna, sementara Freya berjalan lebih dulu sendirian. Ia tidak berkomunikasi dengan siapapun sehingga tidak tau di mana yang lain berkumpul. Ia ingin bertemu dengan Agyan.
"Brandon belom nyampe?" tanya Morgan setelah menyadari jika tidak ada tukang suntik di antara mereka.
"Katanya jemput ceweknya." Braga yang menyahut.
"Buseet, punya pacar sekarang."
"Mungkin proses!"
"Siapa tau langsung ke pelaminan."
"Nah, orangnya dateng, tuh." tunjuk Vanesh. Tatapan Morgan dengan yang lainnya mengarah pada arah tunjuk Vanesh. Kecuali Agyan yang asik bermain-main dengan Rival.
Brandon berjalan bersisian dengan Gisna. Keduanya mengenakan pakaian dengan warna senada dan terlihat serasi bersanding. Sementara mereka heran dengan gadis yang dibawa Brandon karena mereka mengenalinya.
"Kak Gisna?" lirih Vanesh yang pertama kali buka suara, Agyan yang tanpa sengaja mendengarnya lantas menoleh, dan ia melihat Gisna, berjalan dengan Brandon ke arah mereka.
"Gila si Brandon, lepas Desty dapetnya yang bening modelan begini." celetuk Morgan yang langsung mendapat tatapan nyalang dari sang pacar.
"Gue telat, yah?" tanya Brandon saat sudah bergabung dengan yang lain.
"Loe, 'kan pemilik pesta juga, harusnya nggak boleh telat." sahut Vina pada Brandon yang tampak hanya tersenyum saja.
"Gandengan loe gak tanggung-tanggung Brand." Morgan akhirnya mengemukakan rasa penasarannya sejak tadi.
"Oh, iya, kenalin. Ini Dokter Gisna." candanya yang membuat Gisna menyender lengan Brandon, ia merasa malu. Sementara Agyan tampak tidak perduli, matanya sibuk mencari di mana keberadaan Freya.
"Sayang, Mas ke sana dulu." Rayn berbisik pada Vina. "Yaudah, aku di sini aja sama yang lain, yah. Nanti aku nyusul" Rayn mengangguk, kemudian berlalu setelah mengusap puncak kepala Rival yang tampak senang bersama dengan omnya.
"Agyan, apa kabar?" Gisna bertanya pada Agyan. Agyan hanya tersenyum, kemudian menyahut singkat. "Baik,"
Gadis itu tersenyum, menoleh pada Brandon yang tampak mengangguk samar. Mencoba menghargai masa lalu antara Gisna dengan Agyan dulu.
Meski mungkin dirinya pun terlalu lancang dekat dengan mantan pacar sahabatnya tanpa memberi tahu.
"Frey, jangan jauh-jauh dari Papi dan Mami." pesan Warry yang hanya mampu dituruti oleh Freya. Ia hanya berdiri di samping Mami dan Papinya dengan raut bosan, sementara matanya menyapu setiap sudut untuk dapat menemukan Agyan.
"Frey, Mami ke Tante Sindy dulu, yah." pamit Anna. "Kamu mau ikut?" dengan cepat Freya menggeleng. "Freya di sini aja sama Papi."
"Yaudah, jangan ke mana-mana, yah." Anna menyentuh satu sisi wajah Freya, kemudian berlalu. Freya sibuk mengedarkan pandangannya, sementara Warry sedang mengobrol dengan rekan-rekannya.
Sampai salah seorang petugas hotel tak sengaja menabrak Freya dan menumpahkan minumannya pada dress Freya. Warry menoleh. "Sayang, nggak papa?" tanyanya khawatir.
Freya menggeleng. "Maaf, nona saya tidak liat." petugas hotel itu tampak meminta maaf dengan penuh sesal.
__ADS_1
"Nggak papa, nggak papa."
"Lain kali berhati-hati, kamu mau dipecat?" Warry tampak kesal. "Papi, Freya nggak papa." sahut Freya. tidak mau mengundang keributan, terlebih ini masalah kecil dan ia juga bersalah karena tidak berhati-hati tadi.
Freya menyuruh petugas hotel tadi pergi, Warry menyerahkan tisue pada Freya yang diberikan salah satu rekannya. "Pi, kayaknya Freya harus ke toilet sebentar."
"Perlu Papi antar?"
"Nggak perlu, nanti Freya ke sini lagi."
"Yaudah, hati-hati, yah."
Freya mengangguk, kemudian berlalu ke arah toilet sambil sesekali mengusap bagian dressnya yang basah.
Agyan berdiri di pintu keluar dengan tangan terlipat di dada, tak lama seorang seorang petugas hotel datang menghampirinya.
"Saya sudah mengerjakan apa yang Tuan mau, dan saya hampir dipecat karena hal itu." sahutnya dengan raut tak terbaca. Mau menolak apa yang tadi diperintahkan Agyan tapi ia tidak berdaya menolak karena wajah tampan pria tersebut.
"Oke. Terimakasih, yah."
"Sekarang tinggal foto bareng, yah." petugas hotel berambut sebahu tersebut mengeluarkan ponselnya. Mau tidak mau Agyan menurut, tersenyum di depan kamera. Demi bertemu dengan Freya bahkan ia sampai rela wajahnya bersanding dengan wanita lain dalam satu frame.
Saat tadi menyerahkan Rival pada Vina yang menyusul Rayn. Agyan melihat Freya dengan Warry. Awalnya Agyan hanya berharap dapat melihat Freya dalam acara ini, tapi ternyata dirinya serakah dan menginginkan lebih.
Minuman yang tumpah membasahi dress Freya adalah rencana Agyan agar Freya pergi ke toilet dan ia dapat bertemu dengan gadis itu. Tentunya petugas hotel yang dimintai tolong oleh Agyan dengan dijanjikan untuk berfoto dengannya itu memiliki jasa besar atas pertemuan Agyan denngan Freya malam ini.
"Gyan,"
"Ada apa?"
"Loe marah sama gue?"
Kali ini Agyan menyipitkan matanya. Menatap Brandon yang tampak merasa bersalah padanya dan Agyan tidak tau apa maaksudnya.
"Marah kenapa?"
"Loe kaya cewek labil aja."
"Gisna." Brandon menyahut spontan. Agyan terdiam, kali ini ia mengerti arah pembicaraan Brandon ke mana.
"Mungkin harusnya gue bilang dulu ke loe kalau gue deket sama Gisna. Jujur Gyan, gue nyaman sama dia."
"Dan—Gue harap loe nggak marah."
Agyan melipat tangannya di dada, dahinya semakin berkerut menatap Brandon yang sekarang tampak salah tingkah di hadapannya.
"Maksud loe bilang ini ke gue, apaan?" tanyanya setelah beberapa saat.
"Gue—" Brandon menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Benar juga, untuk apa ia mengatakan hal tidak penting ini pada Agyan. Sementara Agyan hanya mencintai Freya dan sudah putus dengan Gisna sejak sangat lama.
__ADS_1
"Ya, demi pertemanan aja. Gue takut loe mikirnya gue main belakang."
"Belakang apaan?" pancing Agyan dengan iseng. Brandon menggeleng kesal.
"Sans lah, Brand. Loe sama Gisna udah dewasa. Wajar kalo kalian punya ketertarikan, dan gue gak ada hak buat larang apalagi marah sama kalian."
"Jadi maksud loe—"
"Gue sama Gisna, 'kan cuma mantan. Lagian, udah lama, juga!"
"Loe tau sendiri perasaan gue cuma buat Freya.
"Pokoknya gue dukung loe sama dia,"
"Pacaran satu profesi, kapan-kapan lagi coba." goda Agyan yang memang berlapang dada. Ia tidak memiliki alasan untuk tidak mendukung Brandon dengan Gisna.
Gisna sudah menjadi masa lalunya dan Agyan tidak perduli. Ia hanya memikirkan jalan restunya dengan Freya.
Brandon menepuk bahu Agyan. "Thanks, yah, Gyan." sahutnya dengan raut senang yang tidak dapat disembunyikan, persis orang yang baru pertama kali jatuh cinta.
Agyan hanya mengangguk, menatap kepergian Brandon yang pamit untuk kembali ke tempat berlangsungnya pesta. Bersamaan dengan pintu di belakangnya yang terbuka. Agyan segera berbalik.
"Hay," sapanya secara spontan. Freya mematung, menatap Agyan tidak percaya, dengan perasaan bercampur aduk di hatinya.
Jujur, setelah apa yang terjadi antara mereka di hotel dua minggu yang lalu. Freya merasa canggung pada Agyan, dan ada sedikit perasaan malu di hatinya melihat mata pria itu.
"Freya," Agyan menegur sambil menyentuh bahu mulus Freya, mengalirkan gelenyar aneh di tubuh gadis itu.
Mata Freya mengarah pada Agyan dengan perlahan. Pria itu tersenyum, kemudian membawa Freya ke pelukannya. Freya hanya diam tanpa membalas pelukan Agyan.
Untuk beberapa saat, Agyan hanya ingin seperti ini, menikmati semuanya dengan Freya tanpa merasa terbebani oleh apapun. Meski untuk waktu yang lama, rasanya sangat tidak mungkin.
Agyan melepas pelukannya, menatap Freya dengan tangan yang berada di kedua sisi wajah gadis itu.
Freya hanya menikmati semuanya, membiarkan Agyan melakukan aktivitasnya sampai kemudian Agyan memilih berhenti. "Kenapa?" tanya Agyan. Masih berada di depan bibir gadis itu.
"Aku—Aku malu,"
Agyan terkekeh geli mendengar pernyataan gadis itu. Malu, sejak kapan Freya malu untuk membalas ciumannya?
Agyan menarik pinggang Freya dengan lembut, semakin merapatkan tubuh gadis itu padanya.
"Apa yang ngebuat kamu malu?"
"Bahkan kita udah ngelakuin hal yang lebih dari ini. Apa karena kamu nggak mau?"
Spontan Freya menggeleng, Agyan tersenyum. Kembali mendaratkan bibirnya di atas permukaan bibir Freya dan untuk kali ini, gadis itu membalasnya.
Diam-diam Agyan tersenyum. Untuk sekarang, Agyan menginginkan sesuatu yang pernah Freya katakan padanya. Menghentikan waktu. Agyan menginginkan itu sekarang, agar ia bisa berlama-lama dengan Freya tanpa ada yang bisa mengganggu.
__ADS_1
TBC