Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
I LOVE YOU...


__ADS_3

"Apa maksudmu ?" Mas Devid pun bertanya.Aku pun bangun dan duduk bersandar.


"Aku bukan wanita seperti itu. Meskipun mas benar tidak bisa memberikan anak padaku tapi sedikitpun aku tidak pernah berniat untuk mengkhianatimu." Ujarku. Kulihat mas Devid cukup kaget karena dia tak mngira kalau aku mengetahui rahasianya.


"Siapa yang memberi tahu mu, apa Bunda ?" Ucapnya.


"Dari mana aku tau itu tak penting. Yang jelas aku tak mau rumah tangga kita menjadi seperti ini hanya karna gosip itu." Jawabku.


" Itu bukan sekedar gosip Airin. Aku memang terbukti mandul. Dan sampai kapanpun aku tidak bisa memberikan kuturunan untukmu." Mata mas Devid berkaca kaca, suaranya pun terbata bata mengucapkannya. Seakan dia menahan rasa yang teramat sakit. Kemudian mas Devid turun dari ranjang dan melangkah ke balkon.


Sesaat aku terdiam, mencoba mencerna kata kata mas Devid. Mungkinkah mas Devid sudah melakukan pemeriksaan. Jadi benar, kalau kenyataannya mas Devid mandul. Dan kami tak akan pernah bisa memiliki keturunan. Jujur aku memang merasa sedih dan sedikit kecewa. Karena aku ingin memiliki anak dari pria yang ku cintai. Meskipun aku sudah memiliki Syfa.


Tapi, bagaimana dengan mas Devid. Perasaannya pasti lebih sangat terluka sekali. Pasti dia merasa menjadi laki laki yang tak sempurna. Sudah seharusnya sebagai istrinya aku menyemangatinya. Mas Devid lah yang paling terluka dalam hal ini. Ku hapus airmata ku yang tak sadar mengalir. Ku tarik nafas dalam dalam dan beristighfar. Kemudian ku susul mas Devid ke balkon, sebelumnya ku pakai kimono untuk menutupi tubuhku yang hanya pakai lingerie.


Kulihat mas Devid berdiri memandang langit. Ku peluk dia dari belakang. Ku dekap erat suami yang sangat ku cintai itu. Aku pun tak ingin kehilangannya, karena aku telah mencintainya sangat dalam.


"Aku mencintaimu mas, aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Bagaimanapun keadaanmu. Kalau pun kita tak bisa punya anak. Bukankah kita sudah punya Syfa. Tidakkah kamu menyayanginya seperti dia menyayangimu sebagai Ayahnya." Ucapku sambil tetap memeluknya.


" Tolong jangan terus seperti ini. Aku lebih baik tak punya anak daripada mas mendiamkan ku begini. Aku sudah sangat bersyukur memiliki mas sebagai suamiku. Aku sangat mencintaimu Dokter Devid..." Ujarku lagi dan memanggil namanya Dengan panggilan Dokter.


Mas Devid pun melepaskan pelukanku, dan menatapku dalam. Ku lihat matanya basah, dia menangis. Ya Allah, aku tau bagaimana perasaannya saat ini.


"Mas bukan suami yang sempurna Ai..." Ucapnya dengan suara bergetar.

__ADS_1


"Siapa bilang ?, Buat Ai mas adalah suami yang sangat sangat sempurna. Mas sudah mencintai Ai, sudah menerima Ai dan Syfa. Dan mas juga ayah yang sempurna untuk Syfa." Jawabku tegas sambil tersenyum dan memeluknya lagi.


"Apa mas tidak serius mencintai Ai.. ? Ucapku bertanya sambil menyandarkan kepalaku didadanya.


"Mas sangat mencintaimu Ai... sangat mencintaimu.." Jawab mas Devid membalas pelukanku erat.


"Kalau mas benar mencintai Ai, jangan bersikap seperti ini lagi. Jangan diamkan Airin. Tau ngk, kalau Ai ngk bisa tidur kalau mas ngk peluk..." Ujarku dengan nada manja.


"Seperti ini..." Ujar mas Devid sambil mengeratkan pelukannya. Aku pun menatap wajahnya dan tersenyum. Ku kecup bibirnya sesaat.


"I love you.." Ucap mas devid.


"I love you too.." Jawab mas Devid. Kemudian mengecup bibirku. Tak hanya sesaat, cukup lama kami bermain lidah. Sampai nafasku sesak baru mas Devid melepaskan ciumannya.


"Bukankah wanita hanya boleh memakai ini didepan suaminya saja." Jawabku dengan gaya menggoda. Tali lingerie sudah terlepas dan hampir saja memperlihatkan bagian dadaku.


"Apa mas mau disini melakukannya..." Tanyaku sembari menahan agar lingerie yang kupakai tidak semakin jatuh melorot kebawah.


"Tidak boleh ada yang melihat semua ini selain mas, karena ini adalah hak milik pribadi." Ujar mas Devid dan langsung menggendongku menuju ranjang.


Sampai diranjang, mas Devid langsung menyerangku. Benar benar seperti kehausan mas Devid tak memberikan ku jeda sedikitpun. Ku sambut setiap sentuhannya. Hawa kamar yang dingin karna AC ditambah lagi hembusan angin malam dari arah balkon yang tak sempat kami tutup kembali, langsung berubah hangat.


Nafasku yang ter engah engah karena perlakuannya tidak membuat mas Devid berhenti. Tapi justru semakin membuatnya bersemangat menghujamku. Tak kuat menahan rasa yang tercipta, jemariku kuat menarik rambut mas Devid. Untung saja kuku jariku tak panjang. Kalau tidak mungkin punggung mas Devid sudah terluka karena remasan tanganku.

__ADS_1


Akhirnya kenikmatan syurga dunia kembali kami rasakan. setelah hampir tiga bulan kami tak melakukannya. Mas Devid rebah disampingku, dengan nafas yang masih belum teratur. Mas Devid mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos kami. Kemudian dia memelukku erat.


"I love you honey..." Ucapnya sambil mengecup rambutku. lanjut keningku mataku pipiku dan berlabuh di bibir. Kembali kami saling bermain lidah disana.


"Apakah mas sudah periksa ?" Tanyaku pelan.


"Ya..." Jawab mas Devid.


"Kenapa.." Tanya nya.


"Aku masih belum percaya mas, karna saat kita melakukannya mas sedikitpun tak tampak punya kelainan. Gairah mas benar benar membuat Ai tak kuat menahannya. Dan juga adik kecil mas kayaknya big size..." Ucapku malu malu. Karena itulah yang kurasakan. Saat kami melakukannya mas Devid benar benar sempurna.


"Mana mungkin hasil test nya salah sayang.." Ujar mas Devid. Dia hanya tersenyum tipis, sambil memelukku erat.


"Mungkin saja kan mas, kan yang melakukan test itu juga manusia. Bisa saja kan waktu melakukan testnya. contoh ****** mas tertukar dengan kepunyaan orang lain, bisa jadi kan..." Ujarku masih mencoba menyangkal. Mas Devid tertawa kecil mendengar perkataanku.


"Nggak mungkin sayang, karena kami melakukan testnya secara diam diam. Pribadi, jadi ngk mungkin tertukar dengan punya orang lain." Ujar mas Devid yakin.


Tapi aku masih tidak percaya, karena tadi siang aku sempat search di internet, bagaimana ciri ciri pria yang dinyatakan mandul. Semua tanda tanda itu tak kutemukan dari mas Devid. Kecuali memang kalau hasil test ****** bisa membuktikannya juga. Tapi hasilnya kata mas Devid abnormal.


"Kenapa, kamu masih berharap ya.." Mas Devid menyetuh daguku dan kembali mengecup bibirku. Aku pun membalasnya, dan kembali hasrat itu membara. Sesaat kembali aku meragukan hasil tes medis mas Devid. Bagaiman mungkin pria yangkuat diranjang ini bisa dinyatakan mandul. Sentuhan dan hisapan mas Devid diseluruh tubuhku membuatku gila. Mas devid sengaja membuatku begini, dia tersenyum saat ku sudah tak sangup lagi menahan gejolak ini. Dan kembali penyatuan terjadi.


Sampai hampir menjelang subuh kami baru tertidur. Ini lah posisi tidur yang sangat kurindukan. Tidur dalam pelukan suamiku, mencium aroma tubuhnya dan mendengarkan irama detang jantungnya dan ******* nafasnya.

__ADS_1


__ADS_2