
Zoya menggelengkan kepalanya guna mengusir bayang-bayang Ethan dan Naina yang saat ini tengah dalam perjalanan untuk berbulan madu atas agenda yang sudah Zoya buat sendiri.
Ia menghela napas, kemudian tersenyum semanis mungkin dan mengembuskan napasnya dengan tenang setelah melihat riwayat panggilannya dengan Ethan beberapa waktu yang lalu.
**
"Gimana bisa?" adalah pertanyaan pertama yang keluar dari mulut Zoya saat ia bertemu dengan Selin begitu pulang dari bandara setelah mengantarkan suami dan juga madunya yang akan pergi berbulan madu untuk beberapa hari ke depan.
"Kamu tau sendiri Zoy, gimana bakat akting yang dimiliki Edrin." sahut Selin dengan tenang. Ia sempat menatap Zoya dalam-dalam sebelum kemudian kembali melanjutkan kalimatnya.
"Lagian, saat Mbak baca skripnya, karakter tokoh sentralnya emang cocok diperanin sama Edrin."
"Apalagi pihak sutradar juga suka sama Edrin."
"Mereka bilang, kalian akan jadi pasangan yang cocok. Sembilan puluh sembilan persen filmnya akan booming diakhir tahun nanti." panjang lebar Selin. Zoya hanya terdiam, ia setuju dengan apa yang Selin katakan jika bakat akting yang dimiliki Edrin memang luar biasa.
Namun, apa yang harus Zoya lakukan? Bagaimana caranya dia mengatakan pada Ethan jika lawan mainnya adalah pria yang seharusnya Zoya hindari dalam industri ini.
Pun Zoya ragu untuk mengatakannya pada Ethan dalam waktu dekat, ia tidak ingin mengganggu acara bulan madu Ethan dengan Naina. Zoya takut, jika ia mengatakannya Ethan akan tiba-tiba pulang guna mencegahnya, kemudian menghancurkan acara bulan madu yang sudah susah payah Zoya rancang dengan Randy.
"Jadi bagaimana?" Selin bertanya setelah cukup lama ada jeda di antara keduanya. Zoya hanya mendongak, belum menangkap maksud dari apa yang Selin pertanyakan.
"Kamu tetap mau lanjut ambil filmnya?" Selin bertanya lebih spesifik. Ia mengerti, jika hal ini tentu saja membuat Zoya terkejut. Mengetahui fakta jika film yang diperjuangkannya untuk mendapat restu dari Ethan justru kembali mendapat kendala setelah cast utama yang keluar adalah Edrin.
"Apa kontraknya bisa dibatalin aja?" Zoya justru balik bertanya. Kabar buruknya, Selin menggelengkan kepala.
"Waktunya terlalu mepet buat mereka cari aktris baru kalau kamu mengundurkan diri. Lagipun, kita harus bayar biaya yang besar buat kompensasi." jelas Selin yang lagi-lagi membuat Zoya hanya mampu terdiam.
Sepertinya takdir Zoya dalam dunia akting memang benar-benar dibersatukan sengan Edrin.
"Kamu mikirin suami kamu?" tanya Selin, Zoya mendongak dan dengan cepat mengangguk. Sejenak Selin terdiam, seharusnya ia tak mempertanyakannya, karena hanya hal itu yang membuat Zoya khawatir.
"Gimana caranya aku bilang ke Ethan kalau lawan main aku Edrin? Ethan pasti bakalan marah." Zoya merasa cemas. Sekalipun ia belum mengatakannya pada pria itu, namun bayang bayang wajah Ethan yang murka seolah jelas terekam di kepala Zoya.
Selin hanya diam, tak mampu memberikan solusi untuk karibnya, yang ia lakukan hanya menepuk lembut punggung Zoya agar wanita itu merasa sedikit tenang.
Sedangkan di tempat lain, tepat pada saat waktu menunjukan pukul delapan malam waktu setempat, Ethan dengan Naina baru saja tiba di sebuah kamar hotel yang sudah Zoya sewa untuk keduanya selama beberapa hari ke depan.
Naina hanya mengekor di belakang Ethan dengan hati berdebar dan kepala yang pusing. Ia mengalami jetlag begitu tiba di Bandara beberapa waktu lalu. Tapi begitu pintu kamar terbuka, ia membulatkan matanya melihat keadaan kamar yang tampak rapi dan menenangkan.
Interior yang tampak cantik terlihat kian sempurna dengan semua furniture mewah yang ada di dalamnya. Naina mengabaikan Ethan yang membuka jasnya dan melemparnya pada sebuah sofa, ia memilih melangkahkan kaki menuju sebuah jendela raksasa yang langsung menampilkan pemandangan laut. Sangat indah dan menyejukan mata bagi siapa saja yang melihatnya.
Zoya benar-benar memilihkan hotel yang tepat agar Ethan dengan Naina dapat menikmatinya dengan tenang.
__ADS_1
"Kita makan malam sekarang atau nanti?" pertanyaan Ethan membuat Naina yang semula memindai pemandangan dari jendela raksasa mengalihkan perhatiannya. Ethan tengah menatapnya.
"Terserah Pak Ethan saja." sahutnya yang membuat Ethan terdiam sesaat, kemudian setelah beberapa saat pria itu menganggukan kepalanya.
"Kalau begitu kamu istrihat saja dulu, nanti mandi dan setelah rapi kita makan malam." putus Ethan, Naina hanya mengangguk-anggukan kepala. Menuruti usulan pria itu dan hanya menatap kepergian Ethan menuju sebuah pintu dengan warna chat berbeda, Naina yakin jika itu pintu kamar mandi.
Membiarkan Ethan lebih dulu membersihkan diri, Naina memilih kembali melanjutkan aktivitasnya menikmati pemandangan laut malam.
Sementara Ethan, pria itu menatap pantulan wajahnya pada cermin begitu mencuci wajah. Ia merasa jauh lebih segar.
Setelahnya, Ethan merogoh ponsel dari saku celananya. Menyandarkan tubuhnya pada wastafel dengan jari tangan yang lincah menuju sebuah kontak kesayangannya, menekan ikon telepon dan menempelkan benda pipih itu di telinga.
Lama Ethan menunggu namun tetap tak ada jawaban, bahkan pada dering terakhir panggilan tidak segera terhubung. Merasa tak kunjung ada respond, akhirnya Ethan membuka salah satu aplikasi chat dan melihat jendela obolannya dengan Zoya yang berada dalam deretan paling atas. Pesan yang ia kirimkan pada wanita itu untuk menyampaikan jika ia sudah smpai di tempat tujuan masih ceklis dua abu. Artinya Zoya belum mengecek ponselnya.
Ethan memilih untuk mengirimkan pesan pada sang istri, begitu menekan ikon send ia menyimpan kembali ponselnya dan hanya terdiam. Matanya mengarah pada pintu kamar mandi di mana di luar sana ada Naina yang tengah menunggunya.
Setelah beberapa saat, terdengar jika ia menghela napas panjang.
***
Saat itu Zoya baru saja selesai membersihkan diri ketika sebuah pesan masuk membuat ponselnya berdenting. Wanita yang masih mengenakan handuk berwarna putih itu berjalan menuju nakas di mana ponsel yang ia simpan berada di sana.
Pak Boss
14.30
Maladewa indah, tapi sayang, tidak ada kamu dengan saya.
20.00
Zoya hanya mampu tersenyum membaca pesan yang suaminya kirimkan.
Hmm, jadi kamu pengen aku juga ikut bulan madu sama kalian berdua?
Jari tangan Zoya yang sudah bersiap dengan lincah untuk mengetikan balasan pesan untuk suaminya menjeda gerakan tangannya. Ia mematung sesaat, kemudian memilih untuk menghapus pesan yang semula sudah ia ketik.
Jari tangannya kembali bergerak lincah mengetikan lagi balasan berbeda dan menekan ikon send.
Usai merapikan diri dengan kepala yang dipenuhi bayang-bayang Ethan dan Naina yang saat ini tengah berbulan madu, Zoya berjalan menapaki satu persatu anak tangga, menyalakan televisi dan duduk pada sofa guna mengusir isi kepalanya.
Sekalipun tayangan yang dilihatnya adalah acara random yang sama sekali bukan seleranya, ia tetap fokus menonton. Sedangkan isi kepalanya saat ini mendadak kosong. Sesekali ia memejamkan mata saat bayangan Ethan yang tengah bersenang-senang menari nari di kepala Zoya.
"Ethan sama Naina suami istri, apapun yang mereka lakuin di sana wajar!"
__ADS_1
"Itu hak dan kewajiban mereka!" Zoya kesal sendiri dan memaki dirnya. Keadaan mendadak hening setelah itu, waktu menunjukan pukul sembilan malam, wanita itu seketika tersentak saat bel rumahnya berbunyi.
Dahinya berkerut. Siapa memang yang datang bertamu malam-malam begini? Tak kunjung membuka pintu, Zoya justru lebih memilih mengedarkan pandangan ke sekitar, dalam keadaan dirinya hanya sendirian di rumah, Zoya merasa parno sendiri jika harus membuka pintu.
Tangannya meraih ponsel, kontak Ethan sudah terpampang nyata di layar ponsel. Tapi Zoya mengurungkan niat untuk menelpon pria itu dan memilih bangkit dari sofa. Berjalan ke arah pintu dan menyalakan intercom.
"Mas Rival?" dahi Zoya seketika membentuk beberapa lipatan hingga kemudian ia membuka pintu dan benar-benar mendapati Rival di luar pintu rumahnya.
Pria yang sudah lama menghilang tanpa jejak itu kini pulang dan datang ke rumahnya. Tapi tunggu, untuk apa memangnya?
"Hay, Zoya. Apa kabar?" ia segera menyapa dengan senyum cerah, ekspresi yang tampak asing bagi Zoya karena pria itu mendadak ramah. Tapi raut wajahnya tampak sedikit terkejut saat mengetahui jika Zoya yang membukakan pintu.
"Hay Mas Rival. Aku baik, Mas Rival juga apa kabar? Kapan pulang?" Zoya balas menyapa dan mengajukan beberapa pertanyaan. Rival hanya tersenyum, jujur ia berharap jika Naina yang akan membukakannya pintu dan pertama kali berjumpa dengannya, namun justru nyonya rumah yang datang menyambutnya secara langsung.
"Hmm, seperti yang kamu lihat. Saya sehat, saya tiba di Bandara pagi tadi." pria itu menyahut dengan diakhiri senyum tipis. Zoya hanya mengangguk-anggukan kepala sebelum mempersilakan pria itu masuk.
Sedangkan Rival tampak diam-diam mencuri pandang ke belakang Zoya guna melihat keadaan rumah yang tampak sepi.
"Sepi sekali, memangnya Ethan belum pulang?"
"Kamu cuma sendirian saja di rumah?"
"Naina ke mana?"
"Dia juga tidak ada?"
"Hah?" Zoya mengerutkan kening dan sedikit tercengang saat Rival memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
Apa yang harus dikatakannya pada pria itu mengenai Ethan dengan Naina yang sebenarnya sedang menikmati bulan madu berdua?
Rival mengerutkan kening saat mendapati Zoya yang justru melamun di tempatnya. "Zoya, hello?" Rival melambaikan tangan di depan wajah Zoya, membuat wanita itu terkesiap dan menatapnya.
"Di mana mereka?" Rival bertanya sekali lagi, sedangkan Zoya masih hanya mematung di tempatnya. Ia belum menemukan alasan apapun atas ketiadaan Ethan dan Naina di rumah.
TBC
Hay-hay, gimana gimana, masih nunggu kelanjutan Ethan dengan Zoya?
Setelah lama rehat, akhirnya di Tahun baru 2022 ini aku akan melanjutkan kisah mereka yang terjeda cukup lama.
Hmm, ini season terakhir Bukan Cinta Biasa antara Ethan dengan Zoya and Naina. Setelah ini, apapun akhirnya nanti. Maka seperti itulah yang terjadi.
Semoga suka dan selalu mengikuti kisah mereka. Salam Sayang🤗❤❤
__ADS_1