
Freya duduk di atas tempat tidur, menatap Agyan yang tengah berdiri di jendela kaca besar. Menatap potret malam kota Jakarta.
Mereka berada di salah satu kamar hotel berjenis Presidental suite. Freya maupun Agyan tidak memiliki tempat lain selain tempat yang sekarang mereka tempati.
Freya beranjak setelah cukup lama memerhatikan sang pacar kemudian memeluk Agyan dari samping. Pria yang sedang melamun itu menoleh dan balas memeluknya, mencium puncak kepala Freya dan kembali menatap lalu lalang kendaraan.
"Sampai kapan, yah, Gyan?"
Agyan melepas rangkulannya, menghadap pada Freya sambil melipat tangannya di dada. Menatap pada gadisnya. "Apanya yang sampai kapan?" tanyanya setelah cukup lama memandang wajah cantik itu.
"Kita."
Agyan meraih pinggang Freya, mempersempit jarak diantara mereka, mata keduanya saling menatap dengan nafas yang beradu dan hidung yang saling bersentuhan. Tak terkendali, tapi lembut, tangan Agyan sudah menyusup kemana-mana.
"Gyan," tegur Freya setelah cukup lama.
"Semuanya bakalan baik-baik aja."
Agyan meyakinkan, Freya hanya dapat mengangguk. Memejamkan mata seraya menikmati segala sentuhan yang diberikan Agyan. Sebuah sensasi baru yang ia dapat dari pria tampannya.
Freya tau ini kesalahan, Agyan pun menyadarinya. Tapi pikiran mereka tidak sampai ke sana sekarang. Karena yang keduanya tau hanya satu hal, jika saat ini mereka sama-sama saling membutuhkan.
Detik jarum jam terus berjalan. Malam kian larut dengan sunyi yang menenggelamkan setiap insan dalam tidurnya. Tapi tidak dengan dua insan dalam salah satu kamar hotel.
Meleburkan gairah penuh cinta, mengungkapkan suara hati melalui desahan yang memabukan.
*
*
Ketika bangun, mungkin Freya akan merasa menyesal atas apa yang semalam terjadi antara dirinya dengan Agyan. Mungkin dia akan marah pada Agyan, dan masih banyak kemungkinan-kemungkinan yang mengancam hubungan keduanya.
Tapi perjuangan Agyan maupun Freya sudah sejauh ini. Agyan tidak mungkin menyerah begitu saja, terlebih, ia sangat mencintai Freya.
Satu kecupan mendarat di punggung tangan Freya yang Agyan genggam. Pagi sudah datang, dan Agyan sudah bangun lebih dulu. Freya tampak bereaksi, perlahan membuka matanya.
"Hay," sapa Agyan dengan senyum di bibirnya.
Freya kambali memejamkan mata, menarik tangannya yang Agyan genggam. Ia masih mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya. Atau memang sengaja menghindari Agyan, menghilangkan kecanggungan atas apa yang sudah terjadi diantara mereka semalam. Agyan hanya terus menatapnya sampai gadis itu benar-benar membuka matanya.
"Masih ngantuk?"
Freya mengangguk.
"Laper?"
Freya menggeleng.
"Pengen sesuatu?"
Freya mengangguk.
"Apa?"
"Kamu!"
Agyan tertawa, merapatkan tubuhnya pada Freya, menjadikan tangannya sebagai bantalan untuk gadis itu. Lama keduanya hanya saling terdiam, bergelut dengan pikiran masing-masing.
"Harusnya kita nggak ngelakuin hal ini. Gyan,"
"Ini salah!" sahut Freya setelah beberapa saat.
"Aku tau," Agyan menyahut pelan.
"Apa yang kita lakuin justru mempersulit keadaan kita, Gyan."
"Apa yang harus aku bilang ke Papi karena semalem nggak pulang?"
__ADS_1
"Aku bakalan anterin kamu pulang." Agyan meyakinkan, beberapa kali menciumi puncak kepala Freya.
"Tapi apa yang udah kita lakuin salah besar Agyan, kita berdosa, aku takut!"
ungkapnya, Agyan hanya diam. Tapi nasi sudah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali hanya pasrah pada keadaan. Berharap yang terbaik untuk ke depan.
*
*
Agyan sudah rapih, ia menelpon skretarisnya untuk mengantarkan pakaian untuknya dan juga untuk Freya. Sementara Freya masih berbaring di tempat tidur dengan posisi menyamping.
"Sayang,"
Agyan menghampirinya, duduk di tepi tempat tidur dan menyentuh lengan Freya.
"Yang, bangun. Aku anterin pulang,"
"Lima menit lagi." gadis itu bergumam.
"Kamu udah empat kali ngomong gitu!" Agyan beranjak, kembali dan meletakan baju mandi di samping Freya.
"Bangun, yah. Aku keluar sebentar."
"Kemana?" refleks Freya menahan tangan Agyan. "Cuma ke luar sebentar."
Freya mengangguk, melepaskan tangan Agyan dengan perlahan. Membiarkan pria itu berlalu keluar dari kamar hotel. Setelahnya. Freya hanya mendesah, menutup wajahnya dengan bantal. Ia merasa frustrasi, bagaimana kehidupannya setelah ini akan berjalan?
*
*
Warry dengan Anna duduk di kursi teras mereka, menunggu barangkali Freya akan pulang. Karena keberadaan Agyan dengan putrinya itu tidak dapat ditemukan. Anna sudah cemas sejak semalam.
Warry bangkit begitu sebuah mobil masuki pekarangan rumah, ia tau jika itu adalah mobil Agyan. Tangan Warry terkepal sempurna, ia menatap Agyan dengan tatapan menyala.
Tapi bagi Freya, kali ini lebih mengkhawatirkan seandainya Warry tau jika Freya dengan Agyan menginap di sebuah hotel dan melakukan sebuah perbuatan terlarang.
"Nggak papa." Agyan mengusap punggung tangan Freya, menenangkannya dan keduanya segera turun dari mobil.
Melangkah menuju teras, menghampiri Warry yang berdiri di undakan tangga. Baik Agyan maupun Freya hanya diam, Warry terlihat emosi, seperti ingin menelan Agyan hidup-hidup.
"Kamu masuk ke dalam!" sahut Warry yang pastinya ditujukan untuk Freya. Freya hanya diam, sampai tangan Agyan melepas genggaman tangan mereka. Freya hanya menoleh dengan raut khawatir di wajahnya. Sementara Agyan hanya memberi tatapan seolah semua akan baik-baik saja.
"Ayo, Sayang." Anna menghampiri Freya. Menggandengnya untuk masuk, dengan langkah perlahan dan sesekali menoleh pada Agyan, Freya berlalu. Langkahnya berat, terutama saat Warry memanggil para bodyguard. Freya tau apa yang akan Papinya lakukan sehingga ia kembali pada Warry.
"Papi!"
Agyan menggeleng, tapi Freya tidak perduli, ia tidak ingin Agyan disakiti. Karena pada kenyataannya, Freya lah yang meminta Agyan untuk mengajaknya pergi.
"Freya,"
"Freya mohon, jangan sakitin Agyan!" pintanya dengan tatapan memohon. Warry hanya menatapnya. Menyeka lelehan air dari mata Freya. Kemudian menggeleng, dan mengisyaratkan Freya agar kembali masuk ke dalam rumah.
"Jangan sakitin Agyan."
Warry mengangguk, Anna kembali menggandeng Freya untuk masuk.
Freya menurut, berlalu masuk ke dalam tanpa menatap Agyan. Pria itu hanya tersenyum dan mengalihkan tatapannya ke arah lain.
"Apa yang kamu lakukan benar-benar sudah kelewatan Agyan!" ungkap Warry setelah Freya pergi dan para bodyguardnya kembali ke posisi masing-masing.
"Maafkan saya, Om."
"Apa yang kamu lakukan dengan putri saya?" tanya Warry dengan geram. Ia tidak bodoh untuk menanyakan hal itu, hanya saja ia ingin mendengar dari Agyan secara langsung.
Tapi Agyan tidak menyahut. Ia hanya diam bahkan saat Warry bertanya untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Agyan!"
"Om tentu mengerti, dan saya akan bertanggungjawab!" Agyan menyahut.
Warry terkekeh, menertawakan Agyan dengan tatapan meremehkan. "Kamu salah Agyan. Justru apa yang kamu lakukan membuat saya yakin untuk tidak menyerahkan putri saya pada kamu, pada keluarga kamu."
"Pikirkan baik-baik bagaimana perasaan Freya nanti, Om."
"Saya permisi. Sekali lagi maaf," Agyan menundukan kepalanya tanda hormat. Kemudian berlalu dari sana dengan sopan.
Warry menatap kepergiannya dengan tatapan kecewa, marah, bimbang, semuanya melebur menjadi satu.
Warry tau Freya hanya mencintai Agyan. Tapi Warry tidak ingin memiliki kekerabatan dengan Andreas, dan Agyan adalah putra satu-satunya Andreas. Orang kedua yang harus ia jauhkan dari keluarganya.
*
*
"Aku nggak papa, kamu tenang aja."
"Papi bener-bener nggak ngapa-ngapain kamu, 'kan Gyan." gadis itu memastikan.
"Enggak Sayang."
"Aku takut kamu di apa-apain."
"Kamu nggak perlu takut, aku baik-baik aja."
Agyan memutus sambungan telpon setelah Freya mengiyakan. Saat ini, Agyan tengah duduk di salah satu kursi taman. Ia tidak pulang ke rumah atau langsung ke perusahaan. Mobilnya justru berhenti di sebuah taman dan ia memilih untuk menenangkan diri di sana beberapa waktu ke depan.
Agyan menunduk kala sebuah bola berhenti tepat di hadapannya. Ia mendongak saat seorang bocah laki-laki menghampirinya.
"Ini punya Attala, Om." sahutnya. Agyan tersenyum dan mengambil bola tersebut.
"Nama kamu Attala?" tanyanya. Bocah berusia empat tahun itu mengangguk, tersenyum dan menampilkan lesung di kedua pipinya.
"Kamu main sendiri di sini?"
"Sama Mama Papa." sahutnya dengan kalem. Bersamaan dengan seorang pria yang datang menghampiri Agyan dan bocah tersebut.
"Attala, mainnya jangan jauh-jauh," sahutnya. Agyan memperhatikan. "Arjun," lirihnya yang mampu di dengar oleh pria tersebut yang tak lain adalah Arjun.
"Attala ke Mama, yah. Papa di sini dulu!" Arjun mengusap puncak kepala putranya. Bocah kecil itu mengangguk. Agyan tersenyum dan menyerahkan bola yang dipegangnya pada Attala, Attala berterimakasih dan berlalu ke arah sang Mama yang berada di kursi lain tak jauh dari mereka.
Sementara Arjun berdiri di sana. Agyan mempersilahkannya untuk duduk. "Lama tidak bertemu," Arjun mengawali pembicaraan. Agyan hanya mengangguk samar.
"Ada apa, kamu terlihat menyedihkan." ledeknya, tentu ia hanya bercanda. Agyan terkekeh. Mungkin jika ia bercerita, maka Arjun akan menertawakannya, tapi Agyan merasa butuh teman sekarang.
"Jadi kamu masih dengan Freya?" tanya Arjun setelah Agyan mengakhiri cerita menyedihkannya.
"Iya. Tapi belum sampai di jenjang serius!"
"Atau lebih tepatnya, banyak hambatan untuk sampai di jenjang serius."
Arjun mengangguk-anggukan kepala. "Perjalanan cinta setiap orang berbeda-beda, Gyan. Mmm, mungkin itu karma."
Agyan mengernyitkan dahi pada Arjun. "Karena kamu sudah merebut Freya dariku."
Agyan tertawa. Yah, yah, yah. Mungkin Arjun benar, ini karma untuk Agyan yang tanpa sengaja dengan perasaan penasarannya membuat Freya nyaman padanya saat gadis itu masih berhubungan dengan Arjun.
"Salahmu karena sudah mengabaikan Freya." balas Agyan yang membuat Arjun justru tertawa. Selang beberapa waktu, keduanya hanya terdiam. "Pada dasarnya, restu itu menyusul Gyan. Meskipun orangtua kalian tidak setuju, jika kalian tetap bertahan, hati mereka akan luluh seiring berjalannya waktu." ucap Arjun, kali ini dia serius.
Agyan terdiam. Kemudian mengangguk perlahan. Keyakinannya dengan Arjun memang sama. Seiring berjalannya waktu, orangtua mereka pasti akan memberi restu.
Agyan perlu berterimakasih pada Arjun. Hari ini, ia kembali mendapatkan kepercayaan dirinya. Dari mantan pacar calon istrinya.
TBC
__ADS_1
Mungkin beberapa dari kalian ada yang kecewa dengan part ini. Terutama pada scene di mana Agyan dan Freya melakukan sebuah kesalahan fatal. Tapi seperti biasa, semuanya sudah terencana dengan baik dan aku gak bisa ngerubahnya:") Aku harap kalian ngerti, yah.