
Kehidupan membawa semua orang pada kenyataan di dalam waktu yang sedang dijalani saat ini. Waktu itu seperti air yang mengalir, dia akan terus berjalan tanpa bisa kembali lagi.
Begitu juga dengan sebuah rumah tangga yang akan terus berjalan mengikuti arus waktu. Mengukir sebanyak-banyaknya cerita disetiap harinya. Entah itu senang, sedih, atau berbagai perasaan yang tidak dapat dijelaskan akan selalu ada menghampiri sebuah kehidupan.
Bahagia akan selalu ada, kesetiaan adalah yang paling utama dalam sebuah ikatan penting pernikahan.
Belasan kali ditolak tidak membuat Rayn menyerah terhadap gadis yang dicintainya. Hatinya terlalu sulit untuk melepas Vina yang tak pernah menerima keberadaannya.
Dan usaha Rayn yang begitu keras terus mengejarnya membuat hati Vina luluh. Sampai mereka mengikat janji dihadapan Tuhan. Dikaruniai Rival sebagai bentuk hadiah dari pernikahan.
Sampai pada hari ini, sepertinya akan tetap sama. Rayn akan selalu mencintai Vina, dan Vina—Entahlah dia akan berpaling atau tidak. Yang pasti, dia sangat mencintai suaminya.
"Lagi ngapain?" tanya Vina. Ia duduk di samping Rayn yang sedang membuka album foto. Tangannya meraih album foto di tangan Rayn. Ia menatap sang suami dengan dahi berkerut.
"Kamu gak pernah bosen ngeliatin foto pernikahan kita?"
"Mmm," Rayn menaruh telunjuknya di bibir. Matanya menatap plafon di atas mereka. Vina terus menatapnya.
"Satu bulan sekali aku wajib liatin album foto ini."
Vina mengangguk-anggukan kepalanya. Tangan Rayn merengkuh bahu Vina dan menggandengnya.
Rival Afgara Zeinn. Putra pertama mereka sudah berusia delapan tahun, dia akan menjadi seorang kakak karena saat ini Vina tengah mengandung anak keduanya dengan Rayn. Usia kandungannya baru memasuki minggu ke 21.
"Rival di mana?"
"Lagi di luar, main di taman."
Rayn mengangguk. "Kamu tau gak, sih, dia seneng banget mau punya adik. Tapi dia bilang, kalo adiknya cowok dia gak mau."
Dahi Rayn berkerut. Biasanya, setiap anak laki-laki jika ia akan memiliki seorang adik, maka ia menginginkan adik laki-laki untuk diajaknya bermain bola. Tapi kenapa Rival berbeda?
"Kenapa?" akhirnya Rayn bertanya.
"Katanya, pas nanti dia udah gede. Dia mau pamer kalau punya adik cewek, dan cantik."
Kali ini Rayn tertawa, bersamaan dengan Rival yang muncul dan menghampiri mereka. Keduanya spontan diam saat putra mereka tiba.
"Ada apa?"
"Kenapa aku dateng kalian malah diem?" ia tampak sedikit kesal. Karena biasanya, jika Rayn dan Vina diam saat ia datang, maka sudah dipastikan jika kedua orangtuanya sedang membicarakannya.
"Sini duduk!" Vina mengulurkan tangannya, menarik Rival untuk duduk diantara dirinya dengan Rayn, membuat Rayn terpaksa melepas rangkulannya.
"Mama sama Papa ngomongin aku?"
Ryan dan Vina saling tatap, lantas kompak menggeleng dan tersenyum pada Rival.
"Mama sama Papa lagi ngomongin adik kamu."
"Kenapa?"
"Mm, enggak papa. Mau pegang?" tanya Vina. Rival mengangguk, mengelus permukaan perut sang Mama, sementara Rayn mengusap rambut Rival.
"Ini cewek apa cowok, Ma?"
"Mmm, kamu maunya apa?" tanya Vina, sekilas ia menatap Rayn dan tersenyum.
"Cewek."
"Kenapa cewek? Cewek gak bisa diajakin main bola atau basket loh."
"Enggak papa, cuma buat dipamerin aja!"
Rayn mengalihkan tatapannya ke arah lain dengan bibir yang mati-matian menahan senyum. Rival memanglah selalu jujur, sama dengan Ethan yang tidak pernah berbohong dan selalu berterus terang.
__ADS_1
"Mm, cuma buat pamer?"
"Nanti kalau ada yang mau sama adik kamu, gimana?"
Rival mengatupkan bibirnya. Ia sedang berfikir. "Mm, tergantung."
"Tergantung maksudnya?" kali ini Rayn yang bertanya.
"Nanti bakal aku pikirin kalau udah dewasa."
Vina tersenyum dan memeluk Rival, Rayn menatap dua orang yang disayanginya itu kemudian ikut berpelukan.
Begitulan kehidupan, selalu ada cerita disetiap harinya. Tapi tidak selamanya selalu berbahagia dan saling memahami. Kadang, ada celah untuk sedikit berdebat. Seperti saat Vina sedang cemburu misalnya.
"Kalau asisten baru kamu itu nggak ada niat macem-macem, nggak mungkin dia telpon kamu malam-malam kaya gini." Vina menggerutu. Ia baru saja akan tidur, tapi ponsel Rayn berkali-kali berdering. Dan yang membuatnya kesal adalah saat ia mengetahui jika penelpon adalah wanita. Meski dia adalah asisten Rayn di kantor.
"Sayang, dia cuma ngasih tau laptop Mas
ketinggalan di kantor. Itu doang."
"Dia bisa kirim sms, atau nanti besok pagi. Kalau sekali udah gak diangkat, harusnya gak usah nelponin terus!"
"Gak tau diri banget!"
Baiklah, kemarahan Vina sudah berada dipuncak kepalanya. Sementara Rayn berusaha sabar menghadapinya. Ia tau hormon ibu hamil memang seringkali tidak stabil, dan Rayn memahaminya.
"Aku tau kok, dia cantik, masih muda, body-nya oke. Sedangkan aku? Aku cuma ibu rumah tangga biasa lulusan SMA. Yang sibuk ngurus anak sama suami, mana sempet ngurus diri sendiri."
"Harusnya dulu aku kuliah, gak usah nikah sama kamu!" kesalnya dengan linangan air mata. Perasaannya sedang sangat sensitif sekali.
Ia menyeka air matanya. Sementara Rayn bingung harus bagaimana. "Kamu tau, gak, sih. Selalu aku yang cemburu, sedangkan kamu gak pernah. Karena aku cuma diem di rumah dan gak ketemu sama siapapun!"
"Aku juga sering cemburu!" Rayn menyahut dengan suara kecil.
Vina menatap Rayn dengan perlahan. "Aku cemburu kalau kamu lebih deket sama Rival daripada aku."
Rayn tersenyum, ia mendekat pada Vina dan memeluknya. Awalnya Vina sempat berontak, tapi kemudian ia hanya diam dalam pelukan Rayn.
"Kamu gak perlu cemburu. Aku gak pernah ada niat buat berpaling dari kamu, yah." bujuknya. Vina tak merespon, tapi ia sudah jauh lebih tenang.
*
*
Sementara itu, di tempat lain. Di dalam sebuah rumah bernuansa blue tosca, Vanesh baru saja duduk setelah menidurkan putrinya. Bersamaan dengan itu, Braga keluar dari kamar.
"Lagi ngapain?"
"Kakak udah liat majalah keluaran terbaru?" tanya Vanesh sambil menentang sebuah majalah dan menunjukan sampul depannya pada Braga. Braga melangkah menghampiri istrinya dan mengambil majalah tersebut dari tangan Vanesh.
"Agyan?"
"Hmm."
Braga tersenyum menatap majalah di tangannya. Ia ikut berbahagia dengan kebahagiaan Agyan dan Freya saat ini.
Ia tau bagaimana dulu perjuangan dua orang itu untuk mendapat restu. Menikah dan menjalani kehidupan tak biasa. Sampai pada waktu, di mana Agyan dapat kembali bertemu dengan Mami dan Papinya.
Bukan hanya cinta Freya dan Agyan saja yang bukan cinta biasa, bahkan kehidupan mereka juga tak biasa sampai mencapai masa suksesnya.
"Aku seneng liat Kak Agyan sama Kak Freya."
"Sama, aku juga." Braga mengusap puncak kepala Vanesh.
"Luna di mana?"
__ADS_1
"Baru aja tidur."
"Oh, iya, Kak. Aku mau tanya sesuatu sama kamu."
"Udah lama, sih, tapi aku sering lupa buat nanya.
"Apa?"
"Kamu pernah suka sama Kak Freya?"
"Hah?"
"Pernah?" kali ini tatapan Vanesh menyelidik. Braga mendehem, kemudian menggeleng kecil.
"Gak pernah."
"Bohong banget. Aku tau kok, aku pernah liat foto Kak Freya di hape kamu."
"Sebelum nikah, sih," sambungnya yang membuat Braga tampak tidak enak.
"Maaf, yah." ia mengusap puncak kepala Vanesh. Vanesh hanya mengangguk, kemudian memeluk Braga, menyandarkan kepalanya pada dada sang suami.
Ia akui, jika dulu, memanglah tidak mudah membuat Braga jatuh cinta kepadanya. Tetapi, setelah Braga benar-benar menaruh rasa, Vanesh percaya laki-laki itu akan setia.
*
*
"Semuanya udah?" tanya Morgan pada sang istri yang tengah hamil besar. Hari ini, Gladis mengaturnya untuk mempersiapkan barang-barang yang akan dibawa ke Rumah Sakit untuk besok. Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh pagi, yang artinya sudah tiga jam Morgan ke sana kemari menuruti keinginan sang istri.
"Selimutnya udah masuk belum, Kak? Aku lupa ceklis soalnya."
"Sayang, Rumah Sakitnya deket, nanti kalo ada yang lupa aku bakal balik lagi. Kamu tenang aja."
"Aku udah bikin list, gak enak kalo gak dipake."
"Jadi, aku harus gimana?" Morgan bertanya dengan nada putus asa.
"Bongkar kopernya!"
"Lagi?"
"Hmm."
"Sayang, ini udah yang keempat kali!" untuk yang kali ini Morgan menyerah, ia merebahkan tubuhnya dengan kasar di atas tempat tidur. Kaos yang dikenakannya sudah basah karena keringat
Gladis menarik tangan pria itu untuk kembali duduk dan melanjutkan tugasnya. "Ini demi anak kamu, Kak."
"Aku istirahat bentar, yah. Cape soalnya." Morgan masih berusaha untuk tetap sabar menghadapi sang istri.
"Yaudah, tapi lima menit aja."
"Hmm."
Sementara Morgan memanfaatkan waktu lima menitnya untuk sekalian mengatur nafas yang berantakan. Gladis memeriksa list dalam sebuah kertas yang sudah lama ditulisnya.
"Kak, sepatu bayi udah masuk, 'kan? Kayaknya kelewat deh, ini belum di ceklist."
"Kamu bongkar koper yang satunya lagi!"
"YA-TUHAN!?"
Cerita rumah tangga semua orang memang berbeda-beda.
Sedangkan Cherry, Gavin, Brandon dan Gisna. Mereka ada dan juga selalu membuat cerita di jauh sana. Apapun isi cerita mereka, yang pasti sama seperti rumah tangga Freya Agyan dengan yang lain. Mereka pun berbahagia dengan kehidupan rumah tangganya.
__ADS_1
Masih mau nambah? 😂