
"Jadi kita gimana?" tanya Naina melihat Ethan yang juga tampak kebingungan mencari cara untuk keluar dari kamar Naina.
Ethan menggelengkan kepala, ia hanya berdiri dengan raut tak terbaca. Pria itu mengedarkan pandangannya dan berakhir dengan menundukan kepala karena tak memiliki cara untuk keluar dari sana. Pasalnya, kamar Naina tak memiliki jendela sehingga tidak ada jalan keluar baginya kecuali hanya pintu.
Naina terdiam di tempatnya, ia menyentuh perut dan menutup mukutnya yang tiba-tiba saja terasa mual. Ethan mengernyit melkhat hal itu dan menghampiri sang istri.
"Ada apa?" Ethan menyentuh bahu Naina, gadis itu menggelengkan kepala.
"Kamu sakit?"
"Perutku tiba-tiba, sakit, Mas."
"Eneg."
Ethan sesaat mematung, melihat lagi melalui celah pintu sang bunda yang tampak sedang menyiapkan bahan makanan. Ethan menunggu cukup lama berharap Freya keluar sebentar dari rumahnya.
"Mas, aku nggak tahan." Naina beranjak dari tempat tidur sembari menutup mulutnya dan membuka pintu kamar, tapi gadis itu juga segera menutup pintu.
Naina sudah tidak bisa lagi menahan mual yang dirasakannya. Perutnya seolah ingin memuntahkan segala yang ada di sana. Ia bergegas menuju kamar mandi dapur dan memuntahkan isi perutnya, hanya cairan karena ia belum memasukan apapun ke mulutnya.
Freya yang tengah merapikan bahan masakan untuk ia pilah sebagai menu sarapan menoleh begitu Naina melewatinya dan berjalan ke arah kamar mandi.
Terdengar gadis yang baru saja memasuki kamar mandi itu muntah-muntah sehingga Freya ikut masuk kesana terlebih Naina tidak menutup pintu.
"Kamu kenapa Naina?" Freya memijati tengkuk gadis yang kepayahan di wasftafel itu. Kesempatan tersebut tentu saja Ethan gunakan untuk keluar dari kamar Naina.
***
Zoya dengan cepat menurunkan dressnya dan segera berbalik saat pintu kamarnya tiba-tiba saja terbuka. Ia lantas menghela napas saat melihat jika yang ternyata masuk adalah suaminya.
Ia lantas kembali berbalik dan melanjutkan kegiatannya namun Ethan lebih dulu membantunya menaikan ressleting dressnya.
"Gimana kamu bisa keluar dari kamar Naina?" tanya Zoya saat pria itu justru menaruh dagu dipundaknya, Zoya hanya menatap pria yang memejamkan mata itu melalui pantulan cermin di hadapan mereka.
"Naina mual-mual, dia ke kamar mandi dan Bunda ngikutin, saya gunakan kesempatan itu buat keluar dari sana." Ethan menyahut diakhiri ******* napas lega.
Mendengar penuturan suaminya, Zoya segera berbalik menghadap pria itu. "Naina mual-mual?" tanyanya. Ethan mengangguk polos dengan raut wajah heran setelahnya.
"Kamu mandi, aku turun ke lantai bawah, yah." sahutnya yang kemudian dengan begitu saja bergegas meninggalkan Ethan di dalam kamar. Pria itu hanya mematung di tempatnya, mengingat kembali apa yang beberapa saat lalu terjadi pada istri keduanya.
***
Naina sudah duduk pada salah satu kursi di meja makan ketika Zoya tiba di sana. Gadis itu tampak lesu seraya memegangi perutnya. Zoya dengan langkah cepat menghampirinya.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Zoya seraya menyentuh bahu gadis itu.
Naina menganggukan kepalanya. "Dia mual-mual, Zoy. Bunda nggak tahu harus kasih obat apa." sahut Freya yang tampak kebingungan mencari cadangan obat di lemari pendingin.
"Udah, nggak apa-apa, Bunda. Naina cuma kecapean aja, kemarin dia juga kaya gini dan nggak kenapa-napa kok." sahut Zoya yang membuat Freya menutup lemari pendingin dan menghampiri dua orang itu.
"Iya Bu, Mbak Zoya benar. Saya nggak kenapa-napa, cuma nggak enak badan aja." Naina juga menimpali guna meyakinkan wanita itu.
"Kamu benar nggak apa-apa?" Freya memastikan sekali lagi.
"Enggak apa-apa, saya baik-baik aja." Naina mengukir senyum, perlahan bangkit dari duduknya. "Biar saya mandi dan bantu Ibu masak, yah." sambungnya.
"Enggak usah, kamu istirahat saja." tolak Freya dengan halus.
"Biar saya siapkan air hangat, Zoya punya minyak angin, 'kan Sayang?" sahut Freya, kemudian beralih menatap menantunya. Zoya mengangguk. "Iya, Bunda. Ada."
Beberapa waktu berikutnya, Freya menyiapkan air hangat untuk Naina minum agar gadis itu tidak terus menerus mual. Ia juga menyiapkan air hangat dalam sebuah wadah kecil dan menuangkan minyak angin di sana untuk Naina hirup agar mual diperutnya segera reda.
"Kamu istirahat aja, yah." Freya mengusap puncak kepala Naina sebelum meninggalkan kamar. Naina hanya mematung menatap wanita itu, begitu Freya berlalu dari sana, senyumnya terukir.
Ini kali pertama ia mendapat sebuah perhatian istimewa dari mama mertuanya sekalipun Freya tidak tahu jika ia adalah istri Ethan.
"Ternyata gini rasanya." lirih gadis itu dengan senyuman.
__ADS_1
***
"Gimana Bunda?" tanya Zoya begitu Freya keluar dari kamar Naina.
"Naina lagi istirahat,"
"Yaudah, biar Zoya aja yang bantu Bunda masak." sahut wanita itu bersemangat, Freya tersenyum dengan kepala yang mengangguk.
"Bunda sengaja datang kesini buat masakin Zoya sama Ethan sarapan?"
"Iya. Akhir-akhir ini kamu sibuk syuting, kita udah lama nggak ketemu, Bunda kangen–" wanita itu menoleh pada menantunya yang tengah tersenyum.
"Katanya kamu libur syuting hari ini, jadi Bunda sengaja kesini deh habis dari pasar."
"Hah? Bunda ke pasar?" tanya Zoya sedikit terkejut wanita itu harus memasuki pasar. Freya mengangguk.
"Aaa, Bundaa." Zoya merentangkan tangan dan memeluk Freya. Freya mengusap puncak kepala wanita itu lembut dan mendaratkan kecupan singkat. Ethan yang baru saja tiba di dapur dan melihat pemandangan itu hanya tersenyum menatap dua wanita yang dicintainya itu tengah berpelukan.
Usai sarapan, Freya pamit pulang dan meninggalkan rumah. Menciptakan kelegaan tersendiri bagi Zoya dan Ethan. Awalnya Ethan menawari sang Bunda untuk diantar pulang olehnya sekalian ia akan pergi ke agensi, tetapi Freya menolak karena wanita itu juga membawa mobil.
"Yaudah, saya berangkat, yah." pamit Ethan saat Zoya dan Naina mengantarkannya sampai teras, sekalian mengantarkan Freya juga yang sudah lebih dulu berlalu.
"Iya, hati-hati." Zoya tersenyum usai pria itu mendaratkan kecupan singkat di dahinya. Ethan mengangguk, menatap Naina. Gadis itu mendapat usapan lembut di puncak kepalanya dari sang suami.
Begitu Ethan memasuki mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah, Zoya dan Naina kembai masuk ke dalam. Zoya bergegas ke lantai atas menuju kamarnya begitu juga Naina yang kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Kepalanya yang pusing membuatnya tak ingin melakukan banyak aktivitas seperti biasa.
"Naina, Naina." gadis yang baru saja akan terlelap dalam istirahat paginya itu sontak terbangun saat Zoya memasuki kamarnya tanpa mengetuk pintu.
"Ada apa, Mbak?" ia bertanya seraya beranjak dari posisi nyamannya.
Zoya tak menyahut. Ia hanya tersenyum sambil menunjukan benda kecil di tangannya, gadis itu hanya mengerutkan keningnya.
****
Naina tidak mengerti apa yang Zoya lakukan. Ia hanya menuruti apa yang wanita itu perintahkan saat menyuruhnya buang air kecil pada sebuah wadah yang sudah Zoya sediakan.
"NAINA–"
Zoya berseru dari dalam kamar mandi dan membuat Naina segera menyusulnya. "Ada apa Mbak?" tanyanya panik.
"POSITIF!" Zoya berseru girang, raut wajahnya tampak berseri-seri, sementara Naina mematung. Meraih testpack dari tangan Zoya dan melihat dua garis di sana yang menandakan hasil positif. Ia positif hamil.
Gadis itu bahkan masih tetap mematung saat Zoya memeluknya dengan erat bahkan sempat mendaratkan kecupan singkat di pipinya.
***
"Udah makan siang?" tanya Ethan di ujung sana saat pria itu menelponnya di jam makan siang kantor.
"Udah, kamu udah?"
"Iya. Sudah."
"Naina gimana? Mualnya sudah reda?" tanya pria itu lagi. Zoya tak kunjung menyahut, ia hanya tersenyum menatap testpack di tangannya, lantas merebahkan diri pada sofa panjang di ruang utama rumah.
"Kamu pulang jam berapa?" ia justru balik bertanya.
"Ada apa? Kamu sudah merindukan saya?"
"Hmm rindu sekali." wanita itu menyahut formal.
"Nanti saya pulang secepatnya." sahut pria itu, Zoya menganggukan kepala. Setelahnya panggilannya dengan Ethan terputus. Zoya menatap lagi testpack di tangannya. Hatinya membuncah bahagia, sebentar lagi ia dengan Ethan akan memiliki pelengkap di keluarga mereka.
***
Tepat pukul delapan saat deru suara mesin mobil memasuki pelataran rumah, Zoya bergegas menuruni anak tangga dengan berlari bersamaan dengan pintu rumah yang terbuka usai Naina membukakan pintu.
Ethan yang belum siap tampak tersentak saat Zoya berlari ke arahnya dan memeluknya begitu saja. Pria itu hanya tersenyum membalas pelukan istrinya.
__ADS_1
"Aku punya kabar bahagia." sahut Zoya bahkan sebelum mengurai pelukan.
"Apa?" Ethan bertanya dengan suara pelan dan menatap Zoya penuh perhatian saat wanita itu mengurai pelukan.
Zoya dengan senyum lima jarinya menunjukan testpack dengan hasil positif pada suaminya. Dengan raut heran dan kebingungan, Ethan meraih benda kecil tersebut dari tangan istrinya. Ia merasa deja'vu, mengingat Zoya pernah menyerahkan benda tersebut padanya berbulan-bulan yang lalu.
"Sayang–" senyum Ethan mengembang dengan tatapan yang sulit dideskripsikan. Bukankah sebuah keajaiban melihat benda kecil itu menunjukan dua garis yang menandakan hasil positif.
"Zoya–"
Ethan baru akan meraih tubuh Zoya saat istrinya tersebut buka suara. "Kamu harus ucapin selamat sama Naina."
Sesaat Ethan mematung, senyumnya perlahan sirna berganti dengan raut bingung di wajahnya.
"Aku udah yakin soal ini, ngeliat dari gejala Naina yang pernah aku alamin, aku yakin dia hamil." sambungnya saat bahkan Ethan belum tersadar dari kebingungannya.
Ketika mata pria itu bersitatap dengan Zoya, Zoya mengangguk-anggukan kepala dengan dagu mengarah pada Naina yang hanya tertunduk.
"Kamu ucapin selamat sama Naina. Jangan lupa bilang terimakasih juga."
Ethan mengangguk dengan senyum dipaksakan pada istrinya. Ragu, tetapi Ethan tetap melangkah menghampiri Naina dan memeluk tubuh mungil gadis itu. "Selamat Naina, dan terimakasih." ucapnya kaku. Hal yang sangat terlihat janggal tetapi biasa di mata Zoya melihat tingkah kaku suaminya terutama pada wanita lain.
"Makasih, Mas Ethan." balas gadis itu dengan suara pelan.
***
Ethan hanya menatap pantulan wajah istrinya melalui cermin di hadapannya saat ia tengah melepas satu persatu kancing kemeja kerjanya.
"Sayang," pria itu tiba-tiba saja berbalik dan kembali mengancingkan kemejanya.
"Hmm?" Zoya hanya menaikan alisnya.
"Saya kebawah sebentar." pamitnya buru-buru seraya menggulung lengan kemejanya dan berjalan keluar. Zoya hanya mengangguk dan membiarkan pria itu pergi, ia sendiri asik menjelajah pasa sebuah aplikasi online shop untuk memberi beberapa keperluan yang nantinya akan Naina butuhkan.
***
Naina tersentak saat tiba-tiba saja pintu kamarnya terbuka dengan keras begitu mengantam dinding. Ia melihat Ethan berdiri di ambang pintu dengan raut wajah tak terbaca.
Tatapan mata pria itu mengarah tajam padanya dengan napas memburu, lantas melangkah mendekat pada Naina yang duduk di tepi tempat tidur.
"Naina."
Naina bahkan tak berani menengadahkan pandangannya pada Ethan, membuat pria itu berakhir dengan berlutut di hadapan Naina.
"Katakan pada saya. Siapa ayah dari anak yang sedang kamu kandung?" suara Ethan begitu pelan.
"Katakan Naina!"
"Katakan pada saya siapa ayah dari anak ini?"
Naina tak menyahut, ia justru hanya menangis dengan tangan yang meremas sprei tempat tidurnya. Sementara mata Ethan juga sudah memerah menahan sedih dan amarah.
Ethan mengingat dengan baik selama beberapa bulan menikah dengan Naina, ia sama sekali belum pernah menyentuh gadis itu. Di beberapa waktu Ethan memang hampir melakukannya, namun wajah cantik Zoya yang tersenyum padanaya atau bahkan menangis dan bersandar di dadanya terus menghantui penglihatan Ethan saat ia sedang bersama Naina.
Sehingga tidak ada celah baginya untuk bersama dengan Naina saat bahkan bayangan Zoya pun terus mendominasi hari-harinya.
"Katakan Naina, kita tahu dengan baik jika saya dengan kamu tidak pernah melakukannya."
"Dihari ketika saya meninggalkan kamu di hotel, apa kamu tidak memenuhi perintah saya untuk segera pulang?"
"Katakan Naina!" kali ini nada bicara Ethan meninggi. Namun nihil, gadis di hadapannya masih hanya diam membisu.
TBC
Lah thor kok jadi gini?
Iya Honey, ini yang aku bilang puncak konflik.
__ADS_1
Selamat menikmati❤