Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BAB 14


__ADS_3

"Cari tau tentangnya, aku menginginkan lebih lanjut tentang identitas wanita itu. Dimana dia tinggal, dan apakah dia sudah memiliki suami atau belum. Cari tau semuanya, dan kirimkan hari ini juga!" perintah Dion kepada salah satu anak buahnya.


"Siap tuan! Hari ini saya akan berikan sesuai dengan keinginan anda." Pria itu pun lantas langsung keluar dan segera menjalankan tugas yang di berikan oleh Bossnya.


"Siapa kau sebenarnya? Aku sangat menyukaimu, dan melihat wajahmu seperti sangat tidak asing. Seperti aku pernah melihatnya." gumam Dion, mencoba untuk berpikir keras, serta membayangkan wajah cantik Shinta di dalan benaknya.


...----------------...


Di sebuah ruangan rawat, ada seorang wanita yang saat ini terlihat begitu lemas dan juga wajah nya yang sangat pucat.


Tengah duduk di atas ranjang pasien, sambil termenung. Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan saat ini, membuat sebuah tanda tanya bagi Andika suaminya.


"Makanlah!" Sudah keenam kalinya pria itu menyodorkan sesendok nasi ke arah mulut istrinya, berharap agar wanita itu mau membuka mulutnya, dan makan walaupun hanya sedikit.


Namun lagi-lagi Shinta terus memalingkan wajahnya ke samping, pertanda wanita itu menolak dan tidak mau.


Tak! Suara sendok yang di letakan oleh Andika ke atas piring, hingga menimbulkan bunyi nyaring. Kesabarannya sudah habis saat ini, dan pria itu akhirnya memutuskan untuk berdiri dan memandang tajam ke arah Shinta.


"Baik, jangan pernah makan! Sia-sia waktuku untuk menemanimu disini, bahkan aku sampai rela tidak bekerja hanya karena mu, tapi kau bahkan sama sekali tidak menghargainya. Istri macam apa kau?" bentak Andika, sehingga membuat Shinta langsung tersenyum getir ketika mendengarnya.


"Kau yang bilang tidak pernah menganggap ku sebagai istri, dan hanya menjadikan ku sebagai pelayan pribadi. Lalu pertanyaan macam apa itu? Bahkan di saat aku yang sangat berharap kala itu, namun dengan teganya kau berkhianat dan mengatakan ingin menikah dengan Rosi." balas Shinta mencoba untuk menahan tangisnya.


"Itu semua terjadi karena kesalahan mu sendiri," Tunjuk Andika tepat pada wajah Shinta.


"Memangnya apa kesalahanku? Kau yang berkhianat, tapi masih sempat menyalahkan orang lain." jawab Shinta kini mulai berbicara dengan nada tinggi.


"Kau berselingkuh dengan pria sialan itu, dan dengan bodohnya aku malah memberimu kesempatan. Aku benar-benar menyesal setelah kejadian itu!" ucap Andika.


Shinta langsung menggelengkan kepalanya, "Kau tidak mempercayaiku?" lirih wanita itu, dengan air mata yang menetes deras di pipinya.

__ADS_1


"Harusnya kau tanya kepada dirimu sendiri, kenapa aku tidak mempercayaimu. Itu karena kau merupakan wanita yang sama sekali tidak bisa di percaya. Sudah cukup jelas semuanya, maka kesempatan yang pernah aku berikan tidak akan pernah kembali lagi. Keputusan sudah final Shinta, kau menolak tetap tidak akan ada gunanya."


Setelah mengatakan kalimat itu, Andika pun langsung pergi dari ruangan rawat dengan meninggalkan Shinta yang saat ini sedang menangis. Wanita itu menutupi seluruh wajahnya dengan menggunakan kedua tangan.


Cukup lama ia menghabiskan waktu hanya untuk hal yang begitu tidak bermanfaat. Yaitu menangis! Shinta pun langsung mengusap air mata nya, dan memilih untuk turun dari ranjang. Namun sebelum itu ia melepaskan terlebih dahulu infus yang masih menempel di tangannya.


"Aw!" ringis Shinta, bahkan bekas dari infus itu mengeluarkan sedikit darah. Karena wanita itu yang melepaskannya secara paksa dan juga kasar.


Shinta membuka pintu ruangannya, dan melihat ke arah sekeliling. Karena kebetulan tidak ada orang, ia pun langsung memutuskan untuk pergi begitu saja.


Dia berjalan keluar dari rumah sakit dengan style yang sudah berbeda. Karena tidak ingin di curigai sebagai pasien yang ingin melarikan diri. Shinta pun nekat meminjam baju dari kamar pasien sebelah. Dan tak lupa wanita itu juga tengah menggunakan masker pada saat ini, berjaga-jaga takut jika nanti wajahnya akan di kenali.


...----------------...


Perusahaan Zero O, clock..


"Bagaimana? Apa kau telah mendapatkannya?" tanya Dion kepada anak buahnya.


"Apa?" Spontan Dion di buat langsung berdiri dan menggebrak meja kerjanya secara bersamaan. Ketika mendengar pernyataan yang begitu sangat mengejutkan.


"Lalu? Kenapa aku bisa tidak tau tentang hal ini? Andika sudah menikah?" tanya Dion masih tak percaya, bahkan yang lebih parahnya musuhnya tersebut malah menikah dengan seorang pembunuh bayaran.


"Oh, jadi ternyata ini alasannya kenapa wanita itu menolak saat ku beri perintah. Rupanya Andika adalah suamimu! Suatu kebetulan yang sangat tidak bisa ku terima." Geram Dion sembari meremas kuat sebuah kertas di tangannya.


"Sial," umpatnya langsung melempar kertas yang kini sudah menjadi bola itu, tepat ke arah anak buahnya.


"Shinta bisa-bisanya kau membuatku gila sekarang!" Dion langsung mengacak-acak rambutnya akibat merasa prustasi.


"Mereka baru saja menikah sebenarnya, dan pernikahan mereka di adakan secara tertutup. Hingga tidak ada yang mengetahuinya, selain mereka yang di undang untuk datang ke pernikahan itu." jelas anak buah Dion.

__ADS_1


"Oh jadi begitu?"


...----------------...


"Kau!" Plak!


Suara tamparan yang begitu nyaring terdengar jelas di ruangan itu. Ruangan gelap yang minim akan pencahayaan.


"Berani-beraninya kau, selama ini aku diam bukan berarti aku tidak marah atas sikap mu yang seenaknya. Dasar kurang ajar!" Shinta pun langsung melayangkan sebuah tinju ke arah wajah Adipati, sehingga membuat pria itu langsung tumbang.


"Shinta!" ucapnya merasa tidak berdaya.


"Apa itu benar-benar kau?" tanya pria itu lagi dengan suara yang serak.


"Iya ini memang aku, apa kau tidak percaya?" Shinta pun langsung menendang perut pria itu, dan berjongkok setelahnya.


Lihat wajahku!" ucap Shinta memberi perintah agar Adipati mau melihat ke arahnya.


Seketika terlihatlah wajah polisi malang itu yang kini sudah babak belur, dan penuh dengan luka akibat di hajar habis-habisan oleh Shinta.


"Sekali lagi dirimu berani muncul di hadapanku, maka habislah kau! Lebih baik kau pergi sejauh mungkin, dan jangan pernah membuat masalah lagi." ucap Shinta memberi peringatan keras terhadap pria itu.


"Aku tidak mengerti dengan maksud mu Shinta!" balas Adipati.


"Intinya kau harus pergi dan jangan mengganggu kehidupan ku lagi. Apa kau mengerti?" tanya Shinta dan pria itu pun spontan langsung mengangguk.


"Baik, a-aku mengerti! Tapi ku mohon lepaskan aku dari sini," pintanya akibat merasa sangat ketakutan.


"Aku akan melepaskanmu!" jawab Shinta yang langsung membuka tali pengikat di tangan maupun kaki pria itu.

__ADS_1


Adipati memutuskan untuk segera pergi dari tempat gelap itu dengan langkah kaki yang tertatih-tatih. Sementara dari belakang Shinta terus memperhatikannya dengan tatapan yang sangat menusuk.


Setelah puas menyiksa nya hingga akhirnya membiarkan pria itu untuk pergi. Ia pun kini memutuskan untuk pergi juga dari rumah kosong tersebut.


__ADS_2