Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Perihal Anak


__ADS_3

"Yang tadi asisten rumah tangga yang kemaren Paak Ethan omongin?" tanya Selin saat keduanya sudah dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan. Zoya yang sedang berbalas pesan dengan suaminya menoleh, kemudian menganggukan kepala.


"Iya."


"Masih muda, cantik juga. Apa gak bahaya?" Zoya mengernyit mendengarnya. Kemudian ia sadar dengan apa yang Selin maksud dan tertawa.


"Mbak ragu sama perasaan Ethan ke aku?"


"Mbak gak ragu sama suami kamu. Mbak takut asisten rumah tangga kalian kepincut sama Pak Ethan." Selin mengingtkan. Zoya hanya mengangkat bahunya dengan acuh, membuat Selin berdecak karena anak itu tidak mau mendengarkan.


**


"Tugas tambahan?" tanya Randy saat Ethan menyuruhnya mengirim sopir perusahaan ke rumah pria itu. Ethan mengangguk.


"Kamu tinggal suruh sopir datang ke rumah. Kenapa jadi ribet?" kesal Ethan tanpa mau menatap pria itu. Randy mencebikan bibir, kemudian mengangguk dan permisi keluar dari ruangan Ethan untuk memenuhi perintah sang atasan.


Ethan menatap pintu yang sudah tertutup rapat. Ia menggapai ponsel dan mendial nomor seseorang, terdengar nada sambung namun tak kunjung ada respon. Membuat Ethan menggigit bibir bawah sampai kemudian panggilannya terhubung.


"Hallo."


"Hallo Pak Ethan."


Ethan terdiam. "Zoya belum selesai?" tanyanya saat ternyata orang yang mengangkat telponnya adalah Selin. Bukan Zoya orang yang ia harapkan dapat ia dengar suaranya.


"Belum Pak."


Mendadak ia mengingat apa yang sering kali Arasy katakan padanya. "Dikit - dikit Zoya. Dikit - dikit Zoya. Lama - lama Zoya bosen sama kamu. Dasar budak cinta!"


Ethan tersenyum mengingatnya, sampai teguran dari Selin di ujung sana membuatnya tersadar. "Ada yang akan Pak Ethan sampaikan?"


"Tidak ada, saya hanya ingin tau. Apa tadi pagi Zoya sarapan sebelum mulai bekerja?"


"Oh, iya Pak. Pak Ethan tenang saja, Zoya sarapan. Saya selalu mengutamakan hal itu." Selin menenangkan dan membuat Ethan bernapas lega.


"Baiklah kalau begitu." pria itu memutus sambungan telpon, menatap layar ponselnya dan tersenyum. Hatinya sudah merindukan Zoya meski baru terhitung tiga jam keduanya berpisah.


**


"Mbak Naina?"


"I ... iya Pak." Naina menyahut gugup dan heran saat seseorang tiba - tiba saja datang bertamu dan menanyakan dirinya, padahal ia tidak mengenal siapa pun di sini. Tapi kemudian ia sadar jika orang yang datang padanya pasti adalah orang yang Ethan maksud untuk mengantarkannya belanja, membuat ia merasa tenang melihatnya.


"Pak Randy menyuruh saya menjemput dan mengantar Mbak Naina untuk belanja."


"Pak Randy?" lagi - lagi Naina dibuat heran karena tidak mengenal orang yang baru saja disebutkan.


"Iya. Betul Mbak, Pak Randy itu skretaris Pak Ethan." terangnya yang membuat Naina menganggukan kepala, sekarang ia mengerti.


Setelah obrolan singkat yang terjadi, Naina dan sopir yang menjemputnya segera berangkat untuk belanja kebutuhan bulanan di rumah majikannya. Naina menghapal jalan dan berusaha mengingatnya agar nanti dia pergi sendiri dan tidak perlu merepotkan orang lain.


Ia tau Jakarta, tapi hanya sekedar melihatnya di televisi. Itu pun hanya sekilas saat dirinya sedang membeli beras atau bahan makanan pokok lainnya di warung Mbok Juri, di kampung halamannya.


"Pak, ini pertama kali saya datang kemari. Bapak bisa bantu saya, 'kan?"


"Saya kurang mengerti, biasanya cuma belanja di pasar tradisional aja." sahutnya dengan tidak enak begitu tiba di tempat tujuan. Tapi Naina orang yang mudah belajar, dalam satu kali kesempatan ia bisa mengingat banyak hal. Ia yakin saat belanja lagi nanti ia sudah bisa melakukannya sendiri.


"Oh, bisa Mbak. Tidak masalah,"

__ADS_1


"Terimakasih sebelumnya. Maaf ya Pak, jadi merepotkan."


"Sama - sama Mbak. Hanya membantu, tidak merepotkan kok." beruntung orang yang mengantarnya baik dan ramah. Naina merasa bersyukur. Setelahnya, ia dan sang sopir yang dikirim Ethan memasuki supermarket dan membeli bahan - bahan yang dibutuhkan.


**


Zoya semakin mendekatkan kipas angin portable pada wajahnya. Cuaca yang panas membuatnya sangat gerah, tapi senyum wanita itu terus merekah mengingat ini adalah pemotretan spesial baginya karena dilakukan dengan seorang idolanya.


"Padahal kenapa mesti buru - buru, sih." gerutunya mengingat sang idola yang langsung pulang begitu pemotretan usai.


"Ya gimana, dia juga, 'kan punya kesibukan. Dia cuma dua hari di sini, besok juga udah come back ke LN." Selin menyahut. Zoya mendesah, kemudian memejamkan mata, Selin menatapnya. Kemudian menatap beberapa tumpuk berkas di tangannya yang sudah lama ia baca.


"Zoy."


"Hmm."


"Kamu udah siap syuting lagi gak?"


Wanita itu membuka matanya, menatap Selin penuh tanya. "Ada film bagus, kemungkinan aktris yang dipilih produsernya nanti kamu. Mbak udah baca sebagian naskah dan isinya bagus, kamu juga pasti suka." panjang lebar Syla dengan raut penuh keyakinan.


"Lawan mainnya?"


"Belum diketahui."


Zoya diam sebentar, seperti mempertimbangkan. Jujur ia rindu syuting meski baru kemarin. Namun begitu, apa Ethan akan setuju? Sedangkan pria itu ingin segera memiliki anak darinya. Tentunya kesibukan yang akan dihadapi Zoya kemungkinan menghambat keinginan suaminya untuk sementara.


"Mbak gak maksa, kalau kamu gak mau atau gak sanggup ya gak papa." sahut Selin yang mengerti Zoya bagaimanapun keadaannya.


"Ini naskahnya. Lagian syutingnya masih lama," sambungnya seraya menyerahkan beberapa kertas tadi pada Zoya. Zoya hanya mengangguk, membacanya sekilas dan ia merasa tertarik.


"Nanti aku coba izin dulu ke Ethan."


Beberapa kali pintu ruangan Ethan diketuk dari luar. Namun begitu, sang pemilik ruangan tampak sibuk karena sedang membaca sebuah artikel yang sesekali membuat kedua sudut bibirnya tertarik ke atas. Sampai kemudian, begitu pintu terbuka ia tampak terkejut saat melihat seorang wanita melangkah masuk ke ruangannya setelah menutup pintu.


"Aku ketuk pintu dulu sebelum masuk biar terkesan sopan. Kamu malah sibuk banget kayaknya." gerutunya, berdiri menatap Ethan dengan tangan terlipat di dada.


Ethan balik menatap wanita itu dengan tersenyum, kemudian bangkit dan menghampiri Zoya yang menekuk wajahnya.


"Kamu ada apa ke sini?"


"Gak suka aku dateng?" sewotnya yang lagi - lagi Ethan tanggapi dengan senyuman, namun beberapa detik kemudian, pria itu justru memeluk Zoya dengan erat.


Membuat Zoya mengernyit heran sekaligus kesal. Sekarang rasa kesalnya kian bertambah.


"Than." protesnya saat pria itu mendekap tubuhnya dengan begitu erat. Zoya tau Ethan sering melakukannya yang pria itu bilang guna menghilangkan rasa lelah. Namun pelukan kali ini membuatnya risih. Begitu sepuluh detik berselang, barulah Ethan melepaskannya.


"Kamu tau, pelukan dapat meningkatkan tahapan hormon cinta." sahutnya memberi pengertian.


"Hmm." Zoya tampak tak perduli.


"Pelukan selama sepuluh detik sehari dapat meningkatkan sistem imun dan juga mengurangi keletihan." sambungnya. Zoya hanya mengangguk - anggukan kepala dengan tampak enggan. Sepertinya ia tau alasan kenapa beberapa waktu lalu suaminya begitu sibuk.


"Kamu baru baca artikelnya?"


"Kamu sudah tau lama?"


"Hmm."

__ADS_1


"Kenapa tidak bilang?"


"Penting?" tanya acuh Zoya seraya berlalu dari hadapan suaminya dan duduk pada kursi putar pria itu. Ethan mengikuti dan duduk pada meja kerjanya.


"Atau selama ini cuma saya yang cinta sama kamu. Sedangkan perasaan kamu pada saya biasa saja?"


Zoya mengernyit mendengarnya. "Jangan ngarang deh!"


"Zoya."


"Sayang."


Ethan terdiam, tapi kemudian. "Ada perlu apa kamu datang kemari?" tanyanya dingin, melipat tangan di dada. Lebih kepada kesal pada wanita itu.


"Kalau gak suka aku ada di sini yaudah." Zoya bangkit dengan pasrah dan berjalan menuju pintu keluar. Namun begitu Ethan cekatan untuk menarik pergelangan tangan wanita itu, dengan cepat meraih bibir Zoya dan membuat tubuh wanita itu membeku.


Zoya memundurkan langkahnya setelah beberapa saat, ia mendehem dan mendadak salah tingkah. Tapi kemudian menatap Ethan begitu pria itu meraih tangannya. "Sudah makan siang?" tanyanya dengan senyum lembut. Yang benar saja ia akan melepaskan Zoya pergi begitu saja sedangkan sejak beberapa jam yang lalu yang ia pikirkan hanya wanita itu.


"Kita makan siang." ajaknya tanpa menunggu persetujuan Zoya, menggenggam tangan wanita itu dan berjalan menuju pintu keluar menuju kafetaria perusahaan.


"Kita sudah lama menikah. Apa hal seperti itu masih saja membuat kamu gugup?" tanya Ethan saat keduanya tengah menikmati makan siang. Zoya yang sudah tak lagi salah tingkah berdecih mendengar pertanyaan pria itu. Untuk apa Ethan harus membahasnya?


"Aku gugup karna kamu ngelakuinnya tiba - tiba. Hmm, bukan gugup, cuma kaget." kilahnya dengan raut tak berdosa yang membuat Ethan terkekeh mendengaranya. Setelahnya, keduanya makan dengan tenang. Sampai Zoya mengingat alasan kenapa ia datang menemui suaminya ke gedung agensi. Selain karena memang ingin bertemu, ada sesuatu hal juga yang harus ia sampaikan pada sang suami.


"Oh, yah. Aku mau ngomong sesuatu." sahut Zoya mencoba memberanikan diri, Ethan tampak menatapnya dan mengunyah makanan di mulutnya dengan gerakan sangat pelan.


"Apa?"


"Mmm, kalau aku syuting film, gimana menurut kamu?" tanyanya dengan raut tidak enak, lantas melanjutkan makan tanpa mau melihat raut wajah Ethan yang ia yakini sudah berubah, entah itu kesal atau bahkan marah.


"Siapa lawan mainnya?"


"Masih belum tau."


"Kamu lupa keinginan saya?" tanya Ethan yang berhasil membuat Zoya mendehem gugup. Percayalah, hal ini jauh lebih membuatnya tegang daripada saat apa yang Ethan lakukan beberapa waktu lalu.


"A–aku ngerti ...,"


"Aku paham kamu pengen kita cepet punya anak. Aku cuma minta pendapat kamu, kalau kamu gak kasih izin ya filmnya gak akan aku ambil."


"Aku cuma baca naskahnya sekilas aja dan aku pikir itu bagus. Syutingnya juga nggak lama, kalau gak salah tadi Mbak Selin bilang jumlah episidenya cuma dua puluh dan tayangnya seminggu dua kali. Syutingnya kurang lebih enam bulanan."


"Enam bulan?" heran Ethan dengan dahi berkerut. Zoya mengangguk samar.


"Zoya."


"Hmm."


"Apa kamu belum siap kalau seandainya kita punya anak?"


"Bukan gitu."


"Apa keinginan saya terlalu menuntut dan memberatkan kamu?"


"Bukan gitu, Than." pasrah Zoya yang terlanjur membuat suaminya salah paham.


"Saya merasa kamu seperti keberatan."

__ADS_1


Zoya mendesah, ia mendengar sendiri jika nada bicara Ethan terdengar santai, cenderung lembut dan tidak menuntut. Namun anehnya hal itu justru membuatnya kian merasa tidak enak dan risih tak karuan.


TBC


__ADS_2