Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
EXTRA PART (1)


__ADS_3

"Bunda,"


"Bunda,"


"Bunda!"


Suara teriakan dari seorang gadis kecil menggema di dalam sebuah ruang kamar mewah bernuansa putih. Gadis kecil itu adalah Arasy, ia yang baru saja bangun dari tidur buru-buru memanggil sang Bunda. Entah apa maksudnya.


"Jangan berteriak, Arasy!" Ethan mendelik ke arahnya. Kemudian menutup wajahnya dengan bantal. Ayolah, semalam ia tidur sangat larut karena pesta, dan ini masih sangat pagi untuknya segera bangun.


"Bunda!"


Ethan menghela nafas. Ia lantas bangun dan duduk, bersamaan dengan pintu kamar yang terbuka. Freya masuk bersama Agyan dengan terburu-buru.


"Ada apa Sayang?" Freya tampak khawatir, takut terjadi apa-apa dengan putrinya


"Arasy semalam bermimpi." sahutnya yang membuat dahi Freya dan Agyan berkerut.


"Mimpi?"


"Arasy ketemu Mami Grryc sama Papi Andreas. Mereka bahkan menghadiri pesta ulang tahun Arasy dan Ethan." ungkapnya dengan sangat serius. Agyan dengan Freya hanya bertukar pandang, kemudian tersenyum lembut pada putrinya.


"Itu bukan mimpi, Sayang. Papi Andreas sama Mami Grryc memang datang menemui kamu. Sekarang, mereka juga ada di sini." Freya berkata dengan lembut.


Kini, giliran dahi Arasy yang berkerut. Ia menoleh pada Ethan seolah meminta jawaban. Pria tampan itu hanya mengangguk samar.


*


*


Malam sudah sangat larut, pesta ulangtahun Ethan dan Arasy sudah berakhir, bahkan dua pemilik acara itu sudah tidur dengan sangat nyaman di kamarnya.


Warry dengan Anna pamit pulang. Sementara Grrycia dan Andreas akan menginap di rumah anak menantunya.


Andreas duduk pada sofa panjang dengan Grrycia. Agyan dan Freya duduk pada sofa lain. Sepertinya, Andreas akan segera bercerita bagaimana dan apa alasan ia meninggalkan Jakarta, pergi begitu saja tanpa meninggalkan jejak apapun.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Andreas berbasa-basi. Agyan menoleh sebentar pada Freya, kemudian menyahut. "Baik, Pi. Papi dan Mami sendiri bagaimana?"


"Seperti yang kamu lihat."


Sesaat keadaan menjadi hening. Empat orang di ruangan itu hanya saling terdiam. Bingung dengan apa yang ingin dikatakan.


"Agyan, Freya."


Dua orang yang disebutkan namanya itu menatap Andreas penuh tanya. "Maafkan Papi. Tidak seharusnya Papi dan Mami pergi begitu saja."


"Papi terlalu malu untuk bertemu dengan kamu."


Andreas tersenyum tipis. Tidak mudah baginya untuk menunjukan sisi lemahnya pada orang lain. Apalagi putranya yang selalu melihat jika ia adalah pria yang tegas, kuat dan penuh pendirian.


Andai Agyan tau dengan apa yang sudah Andreas dan Grrycia lalui. Berpisah selama dua tahun karena keegoisan Andreas sendiri. Bahkan ia dan Grrycia nyaris bercerai setelah mereka meninggalkan Agyan.


"Yang paling penting, Mami dan Papi sudah ada di sini. Yang sudah berlalu, biarkan saja." Agyan tidak ingin berbalik pada masa lalu yang menyedihkan.


"Papi menyesali semuanya, Gyan. Harusnya, sejak awal, Papi tidak perlu menentang hubungan kalian."


"Semuanya tidak berarti apa-apa—"


"Pi," Agyan menyela dengan cepat.


"Agyan ataupun Freya, kami sudah melupakannya dan sudah memaafkan Papi sejak kelahiran si kembar di Rumah Sakit." tutur Agyan. Ia tidak ingin jika Andreas terus me0nerus merasa bersalah.

__ADS_1


"Agyan benar, Pi. Malah, kami terus menunggu kepulangan kalian. Kami ingin berkumpul sebagai keluarga."


"Seperti sekarang."


Grrycia menyentuh lengan Andreas. Suaminya itu tersenyum. Andai saja Andreas melalukannya sejak lama. Meminta maaf dan berdamai dengan Agyan. Grrycia pasti tidak akan melewati moment di mana Ethan dan Ararsy masih bayi.


Tapi apa mau di kata, takdir sudah berjalan sedemikian indahnya. Dan Grrycia bersyukur, hari iponi ia dengan Andreas sudah berkumpul dengan anak, menantu dan cucu mereka.


*


*


Setelah mandi dan berganti pakaian, Ethan dan Arasy turun ke meja makan untuk melaksanakan sarapan. Apa yang dialaminya semalam memang bukanlah mimpi saat ia benar-benar melihat Andreas dan Grrycia di meja makan. Sedang mengobrol dengan asiknya bersama Agyan dan Freya.


"Selamat pagi semuanya." ia menyapa semua orang yang berada di sana. Duduk di samping kursi kakaknya.


"Selamat pagi, Sayang."


Freya mulai menyendokan makanan ke piring kedua anaknya. Sejak tadi, Arasy tak kunjung melenyapkan senyum manis di wajahnya.


Grrycia yang kebetulan berhadapan dengan gadis kecil itu tersenyum memperhatikan Arasy.


"Ada apa, Arasy?" tanyanya. Arasy mengunyah makanannya. Grrycia dengan yang lain masih memperhatikan. Kecuali Ethan yang tetap asik makan.


"Arasy senang. Ternyata yang semalam bukan mimpi."


Andreas tersenyum mendengar penuturan cucunya.


"Arasy senang, ternyata Papi Andreas sama Mami Grryc bener-bener ada."


"Arasy senang. Sekarang, Ayah tidak perlu bersedih lagi kalau rindu sama Mami Papi."


Penuturan polos gadis kecil itu hanya membuat orang-orang dewasa di sana tersenyum. Sarapan pagi ini, dengan susunan keluarga yang lengkap, sudah menjadi keinginan Agyan sejak lama.


"Mami dan Papi tidak ada acara?"


Andreas dan Grrycia menggeleng


Agyan beralih pada sang istri. "Sayang?" Freya menggeleng, Agyan tersenyum.


"Mm, bagaimana kalau kita adakan pemotretan keluarga?"


"Setuju!" Arasy adalah orang pertama yang bersorak dengan heboh. Mengundang tawa bagi yang lain. Ethan juga mengangguk setuju.


Agyan beralih pada orangtua dan istrinya. Meminta persetujuan mereka. Senyumnya terbit saat tiga orang itu mengangguk dengan senyuman.


"By, aku telpon Aryo dulu. Kamu telpon Papi Warry sama Mamy Anna." suruhnya. Freya mengangguk dan segera beranjak.


Arasy hanya mengangkat kedua bahunya acuh saat tiba-tiba saja para orang dewasa beranjak dari meja makan. Entahlah apa yang akan mereka lakukan. Barangkali mereka akan bersiap-siap untuk pemotretan.


"Kamu tidak berdandan?" tanya Ethan dengan meremehkan.


"Aku sudah cantik!"


*


*


Agyan hanya tersenyum setelah meletakan majalah populer yang baru saja terbit. Ia tersenyum bukan tanpa alasan. Melainkan, ia sangat senang karena sampul majalah tersebut adalah foto keluarganya. Keluarga besar Agyan.


Bahkan saat melangsungkan acara pemotretan lima hari yang lalu. Agyan dengan keluarganya memang mengundang banyak perhatian. Dan ia sangat berbahagia menunjukan keluarga besarnya pada media.

__ADS_1


"Yang, handphone kamu bunyi terus, nih." Freya menyerahkan ponsel Agyan, lantas ia duduk di samping suaminya.


Agyan menggeser ikon hijau, menempelkan benda pipih itu ke telinganya, sementara tangannya yang lain merangkul bahu Freya.


"Ada apa, Aryo?"


"Bagaimana Pak, hari ini saya sudah boleh pulang dan kembali bekerja?"


Agyan tau, barangkali Aryo bosan karena Agyan meliburkannya selama satu minggu. Agyan hanya ingin mantan manejer yang sekarang menjadi asisten pribadinya itu beristirahat.


"Hmm,"


"Saya bosan, Pak. Pak Agyan terlalu berlebihan sampai mengirim saya ke luar negri."


"Itu agar kepalamu rilex, kamu butuh sesuatu yang baru. Bagaimana?"


"Kamu harus pintar memanfaatkan keadaan, mmm, sambil cari pacar misalnya."


"Ayolah, Pak Agyan. Jangan bercanda, kerjaan saya tidak akan beres jika saya memikirkan perempuan."


"Seharusnya Pak Agyan yang berlibur, jangan sibuk bekerja terus."


"Memangnya tidak ada niatan untuk memberikan si kembar adik?"


Agyan tertawa mendengar kalimat enteng yang keluar dari orang yang sudah menjadi orang kepercayaannya selama hampir tujuh tahun ini.


"Kamu nikmati saja liburannya. Kamu masih memiliki waktu empat hari!"


Agyan memutus sambungan telpon. Ia menyerahkan ponsel pada Freya, wanita itu hanya mengerutkan keningnya. "Kamu gak ke perusahaan hari ini?"


Agyan menggeleng. Ia tampak menghela nafas dengan tenang ketika mengingat kalimat Aryo tadi. "Kamu mau bulan madu nggak?"


"Apa, sih, jangan ngaco ah." Freya beranjak meninggalkan Agyan.


"Kamu pengen punya anak berapa?"


"By,"


"Aku mau kasih Ethan sama Arasy adik."


"Mereka masih kecil, Gyan."


"Tapi bulan madunya tetep jadi, 'kan?"


"Aku gak bilang setuju tadi."


"Nanti aku yang nyari tempat. Maldives gimana, By?"


"Atau Urk? Siapa tau kita ketemu Tim Alfa di sana."


"Sejak kapan kamu nonton Drama Korea? Lagian, mereka udah selesai tugas sejak lama."


"Aku gak mau ninggalin anak-anak."


"Kalau gitu bulan madunya di rumah aja, yah. By."


"Hmmm, terserah!"


**


Awalnya aku gak mau bikin extra part. Tapi karena ada beberapa request, yaudahlah bikin dua atau tiga part nanti.

__ADS_1


Extra part cuma pelengkap aja. Cuma cerita keseharian Agyan, Freya sama si kembar. Nggak a**kan ada konflik berat**.


__ADS_2