Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
EXTRA PART (9) END


__ADS_3

Ditengah kebingungan dan keputusasaannya mencari Arasy, Andreas mendapat telpon dari salah satu anak buah rekan kerjanya jika Arasy berada di Rumah Sakit. Membuat Freya dan Agyan gerak cepat untuk segera menemui putri mereka.


Sementara Warry dan Andreas mengurus kasus tiga penjahat itu dengan polisi dan akan menyusul nanti dengan istrinya.


Freya mempercepat langkahnya. Matanya nampak sembab karena seharian ini hanya dipakainya untuk menangis. Agyan baru saja mengabari pihak perusahaan jika Arasy menghilang, sehingga mereka menunda beberapa jadwal pemotretan yang seharusnya hari ini dilakukan.


Freya berhenti di depan pintu masuk. Ia menatap Agyan sebentar dan membuka pintu. Freya menatap putrinya, senyum bahagia tercetak jelas di wajahnya dengan setetes air mata kebahagiaan pula.


"Sayang." Freya buru-buru menghampiri brankar Arasy dan memeluk putrinya yang sedang memejamkan mata.


"Sayang, syukurlah kamu ketemu."


Agyan berdiri di samping Freya. Perasaannya melega mendapati putrinya sekarang berada dengan mereka.


Perlahan Arasy membuka matanya. Freya mengusap wajah sang putri. "Kamu nggak papa, 'kan, Sayang?"


"Mana yang sakit?"


"Bunda, Arasy kangen Bunda. Arasy takut," ia menangis memeluk Freya. Freya balas memeluknya, ada perasaan bersalah di hatinya karena tidak dapat menjaga buah hatinya dengan baik.


"Arasy takut,"


"Sekarang ada Bunda, Sayang. Kamu nggak akan kenapa-napa."


Agyan mengangguk mengiyakan kalimat Freya. Ia mengusap puncak kepala Arasy dan memeluk dua wanita itu.


Kemarin dan hari ini, adalah sebuah hidup dan mati bagi Freya. Di mana ia hampir kehilangan putrinya. Beruntung, nasib baik masih berpihak padanya saat sekarang Arasy tepat berada dalam dekapannya.


Ethan baru saja masuk ke ruang rawat Arasy setelah kawan-kawan Freya dan Agyan, juga beberapa orang dari perusahaan menjenguk Arasy.


Ada keraguan dalam langkah kaki Ethan. Ia merasa bersalah pada sang adik.

__ADS_1


Duduk pada kursi di samping brankar Arasy, Ethan menatap gadis kecil itu. Ia melihat dari kepala sampai ujung kaki untuk memastikan tidak ada cacat pada tubuh Arasy.


"Ada apa?" gadis itu tiba-tiba saja bangun dan mendapati Ethan yang sedang mengamatinya.


Mata Ethan berpusat pada punggung tangan sebelah kiri Arasy. "Sakit?" tanya Ethan. Arasy menggeleng.


"Kemarin adalah petualangana luar biasa andai saja kamu ikut bersamaku ke Rumah Hantu."


Wajah Ethan tampan murung, ia meraih tangan Arasy. "Aku minta maaf, seharusnya aku ikut denganmu dan menjagamu."


"Kamu tidak bersalah, jangan meminta maaf. Tapi di masa depan—jangan tolak permintaanku." pintanya dengan wajah imut seperti biasanya. Ethan dengan cepat mengangguk, bahkan ia memang sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk memenuhi semua keinginan Arasy jika kembali bertemu dengan gadis itu.


Freya, Agyan, Andreas, Grrycia, Anna, dengan Warry yang melihat dua anak itu di pintu masuk hanya tersenyum, sepertinya mulai hari ini. Kehidupan Ethan akan berubah 180 derajat, karena ia akan memenuhi semua keinginan Arasy.


Tiga hari menjalani perawatan dan beristirahat. Arasy diperbolehkan pulang dari Rumah Sakit. Agyan dengan Freya mengajak dua anaknya untuk berlibur ke luar kota dan membatalkan beberapa jadwal syuting Arasy dan Ethan.


Mereka ingin Arasy rileks dan kembali menyesuaikan diri. Freya sangat khawatir dengan keadaan Arasy setelah insiden penculikan itu. Ia tidak suka pada tempat gelap dan akan menangis jika Ethan lupa dan malah mematikan lampu di kamar mereka.


Beruntung, keadaannya tidak memburuk. Ethan selalu mengalah dan menjaga Arasy dengan baik.


"Berapa lama kita di sini?" tanya Arasy saat ia sedang berjalan-jalan dengan Agyan, Freya dan juga Ethan menuju sungai.


"Mmm, kamu ingin berapa lama?"


Arasy tampak berbinar mendapati pertanyaan seperti itu dari Agyan dan Freya. "Satu minggu!" ia berseru dengan semangat.


"Oke," Agyan dan Freya menyahut tanpa berfikir setelah bertukar pandang. Arasy berseru yes, dan menyusul langkah cepat Ethan di depannya.


"Arasy, jangan lari, nanti jatuh, Sayang!" Freya berteriak. Arasy menghentikan langkahnya dan berbaalik. Ia tersenyum dan melambaikan tangan. Melanjutkan langkahnya dan menggandeng Ethan, pria itu tampak tidak bisa menghindar.


Agyan menggandeng Freya, ia mencium kening wanita itu dan tersenyum melihat putra-putri mereka.

__ADS_1


"Kita mau satu minggu di sini?" tanya Freya, mengingat mungkin Agyan meninggalkan setumpuk pekerjaannya di perusahaan.


"Iya."


"Tidak ada yang lebih penting dari kebahagiaan kamu, dan mereka berdua."


Freya tersenyum, tatapan matanya dengan Agyan melekat. Kemudian keduanya kembali memusatkan tatapaan mereka pada Ethan dan Arasy. Harta berharga dalam hidup mereka. Sebuah wujud cinta yang nyata, yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya.


"Ethan, seandainya kita tinggal di sini, kamu akan senang?" tanya Arasy. Ia duduk pada senuah batu besar dengan kaki yang terjulur pada air. Sementara Ethan duduk bersila di atas batu besar. Ia hanya menemani Arasy bermain air. Sementara Ayah dan Bunda mereka berada di atas jembatan memperhatikannya.


"Menyenangkan. Tapi di sini tidak ada akses internet. Aku tidak akan betah." Ethan menyahut logis. Arasy hanya berdecak, tapi setelah ia pikir-pikir, sepertinya apa yang Ethan katakan memanglah benar.


Arasy hanya duduk anteng setelahnya. Menikmati terpaan angin dan panorama indah di hadapannya. Perasaannya sangat tenang sekarang, Ayah dan Bundanya membawa ia ke tempat yang tepat.


Arasy meeogoh sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah lencana emas tepat berada di telapak tangannya. Ia tersenyum dan memejamkan matanya. Samar-samar ia mengingat saat pria yang menolongnya membuka sebuah lencana dari jas yang dikenakannya setelah Arasy meminta sebuah kenang-kenangan.


Kemudian mengepalkannya pada tangan Arasy saat mata Arasy perlahan tertutup.


Kembali Arasy tersenyum, ia mencium lencana di tangannya dan menatap langit biru di atas mereka.


Aku tidak tau kapan kami akan kembali bertemu. Yang aku tau, kami berada di bawah langit yang sama.


^^^Zeinn Arasy.^^^


~THE END~


Kalian yang membaca Maybe Mine. Mungkin sedikit heran dengan scene di mana Arasy dan pria tampan itu dipertemukan, dan terselip nama Vinsen di sana.


Ini adalah sebuah spin off di masa depan. Kelak, aku akan membuat cerita tentang Arasy dengan pria tampan itu. Tidak sekarang, tapi nanti:")


Terimakasih sudah mengikuti cerita ini🤗

__ADS_1


Sehat-sehat selalu dan teruslah menghibur diri dengan membaca❤


Sampai jumpa di Maybe Mine, dan novelku selanjutnyađź’“


__ADS_2