Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Twin (2)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, baik Agyan maupun Aryo tampak cemas. Bagaimana pun, bagi Agyan, RCH Pictures adalah sebuah perusahaan yang membawanya sampai pada titik sekarang. Titik suksesnya.


Ketika RCH Pictures benar-benar mengalami krisis, Agyan berinvestasi untuk mengakuisisi perusahaan. Dia menjadi CEO RCH Pictures.


"Jangan khawatir, aku sudah membeli saham dari RCH Pictures."


Rachel terlihat menghela nafas, ia lega dan juga senang mendengar pernyataan Agyan.


"Terimakasih, Agyan. Aku tidak tau harus berbuat apa sementara aku tidak bisa meminta bantuan orangtuaku."


Agyan hanya tersenyum menanggapinya. Setidaknya, masalah besar sudah berakhir baginya, dan sebagian dari RCH Pictures sekarang, adalah miliknya.


*


*


"Kamu yakin?" tanya Grrycia, menatap Andreas dengan sendu. Andreas tersenyum dan mengangguk.


"Yaudah,"


Grrycia menggandeng Andreas untuk keluar dari ruang rawatnya. Mereka akan menuju ruang rawat Freya dan melihat kedua cucunya. Andreas lah yang sejak tadi bersikeras ingin melihat kedua cucunya.


Bukan Grrycia tidak ingin, justru dia adalah yang tidak sabar. Namun awalnya, ia tidak mengutarakannya pada Andreas karena takut sang suami belum siapa untuk bertemu dengan Agyan.


Keadaan Andreas tidaklah buruk, bahkan besok, ia sudah diizunkan untuk pulang. Ia merasa ini adalah waktu yang tepat untuk bertemu dengan kedua cucunya sebelum ia meninggalkan Rumah Sakit.


Langkah Andreas berhenti tepat di depan ruang rawat Freya yang setengah terbuka, ia menoleh pada Grrycia di sampingnya. Hanya diam karena ia sedang mendengarkan suara dari dalam ruangan.


"Cucu Opa ganteng banget, yah."


Itu adalah suara Warry, jelas Andreas mengenalinya. Sedangkan dari celah kaca yang berada di pintu ruang rawat Freya, Andreas dapat melihat Warry yang sedang menggendong bayi dengan raut bahagia.


Rasanya, hati Andreas teriris melihat pemandangan di depannya. Seharusnya, ia yang pertamakali menggendong cucunya. Atau setidaknya, ia ada di samping bayi itu sebelum orang lain datang melihatnya.


Tapi pada kenyataannya, karena keegoisan yang ia miliki, bahkan ia hanya sekali mengungkap do'a untuk cucunya tepat di depan Freya sebelum menantunya itu menjalankan operasi.


"Tadi pagi bibirnya mirip mamanya, sekarang mirip Agyan, yah."


Dan itu adalah suara Anna. Senyum tipis terbit dibibir Grrycia kala mendengar tangis bayi dari sana.


"Loh, nangis. Mungkin pengen di gendong Bunda, yah."


"Sini sama Bunda, Sayang. Ayah keluar sebentar, kita tunggu, yah." Dan itu adalah suara Freya.


Andreas mundur satu langkah. "Mas," Grrycia menyentuh lengan suaminya.


"Kita kembali saja ke ruangan. Sepertinya waktunya belum tepat."


Grrycia menghela nafas, ia tidak sabar untuk bertemu dengan kedua cucunya, tapi akan tidak adil jika ia tidak dapat memahami keputusan Andreas saat ini.


Pada kenyataannya, kebahagiaan Agyan dan Freya dengan dua buah hati mereka sudah sempurna tanpa kehadirannya.

__ADS_1


"Yaudah, kita balik ke ruangan kamu." Grrycia memapah Andreas, membalikan tubuhnya untuk kembali ke ruang rawat Andreas. Bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka.


"Papi, Mami."


*


*


"Loh, nangis. Mungkin pengen di gendong Bunda, yah."


"Sini sama Bunda, Sayang. Ayah keluar sebentar, kita tunggu, yah."


Warry memberikan bayi tersebut pada Freya. Sedangkan kembarannya yang perempuan tetap tenang di dalam boks bayi dengan mata terpejam.


"Loh, dia langsung berenti nangis." heran Warry pada bayi dalam gendongan Freya.


Anna dan Warry tertawa melihat tingkah cucu laki-laki mereka.


"Yang cantiknya kalem." Anna mengelus pipi mulus bayi perempuan yang sedang tertidur pulas itu.


"Nanti gedenya juga kalem."


"Kebalikannya loh Frey, kadang yang bayinya kalem nanti pas gede jadi rewel." komentar Anna yang membuat Freya heran.


"Beneran, Mi?"


"Iya."


Tatapan Freya teralihkan pada celah kaca di pintu ruangannya. Ia melihat seseorang di luar ruangannya.


"Mi, Pi, itu kayaknya Mami Grrycia sama Papi Andreas." ungkap Freya, membuat Anna dan Warry mengalihkan tatapannya pada pintu masuk.


Setelah menyerahkan bayinya pada Anna, Freya turun dari brankar dan menuju pintu masuk. Ia melihat Andreas dan Grrycia yang akan beranjak.


"Papi, Mami." tegurnya yang membuat Andreas dan Grrycia menghentikan langkah dan berbalik badan.


"Papi sama Mami mau ke mana?"


"Kalian mau jengukin si kembar, 'kan?"


"Kenapa malah mau pergi?" tanya Freya beruntun. Mata Andreas tampak memerah, ia dapat melihat Anna san Warry yang tengah menatap ke arahnya.


"Tidak apa-apa, Freya. Papi akan kembali lagi nanti." ungkapnya dengan tenang. Sedangkan jauh dilubuk hatinya yang terdalam, ia merasakan sakit saat harus menjeda pertemuannya dengan cucunya sendiri.


"Bayi Agyan sama Freya pasti seneng kalau ngeliat semua Oma sama Opanya."


Grrycia dan Andreas mematung. Terlebih Andreas, ia merasa malu pada Warry dan dirinya sendiri.


Tapi, begitu melihat anggukan kepala dari Warry yang seolah mengajaknya untuk masuk ke ruangan, Andreas menatap Freya yang menatapnya dengan amat memohon.


Rasanya, perasaan Andreas mencelos. Hatinya seolah dipukul dengan sebuah godam tepat di depan dadanya. Bahagia yang dirasakannya, dengan penyesalan yang menghantuinya saat ini sedang sangat meresahkan kala ia melihat dua bayi yang asik tertidur di dalam sebuah boks bayi.

__ADS_1


Ketika dua bayi itu masih berada di dalam kandungan ibunya. Sekali pun, Andreas tidak pernah menanyakan bagaimana kabarnya.


Meski Andreas selalu memantau keduanya dari kejauhan. Baik Agyan maupun Freya, Andreas selalu mengamati mereka demi memastikan keselamatannya.


"Semoga kalian menjadi anak yang berbakti pada orangtua. Semoga selalu sehat dan bahagia."


Freya dan Anna tersenyum mendengar untaian kata yang Andreas ungkapkan di depan si kembar.


"Boleh saya gendong?" tanya Andreas. Ia meminta persetujuan, baik pada Freya ataupun Anna dan Warry. Mereka mengangguk, membiarkan Andreas menggendong sang bayi laki-laki dan Grrycia menggendong bayi perempuan.


Dari wajah keduaanya, Freya bisa melihat pancaran kebahagiaan yang luar biasa. Freya dapat melihat ketulusan dari tatapan Grrycia dan Andreas pada kedua cucunya.


Sayangnya, Agyan tidak ada di sana untuk menyaksikan bagaimana kebahgiaan keluarga besar mereka.


"Freya," Freya menoleh pada Grrycia yang memanggilnya. "Terimakasih, kamu sudah memenuhi keinginan Mami untuk memberikan cucu yang cantik." ungkap Grrycia yang membuat Freya terlempar pada ingatan beberapa tahun lalu. Tepat di rumah sakit, dan Grrycia mengutarakan jika ia ingin Freya memberinya cucu yang cantik.


"Bukan hanya cantik, tapi kamu juga memberikan kami cucu yang tampan. Terimakasih." Freya hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi mertuanya yang jelita itu.


"Pak Warry, saya sangat meminta maaf untuk apa yang terjadi beberapa tahun ini—" Andreas mengawali pembicaraannya setelah beberapa saat berlalu mereka habiskan untuk menyakisan si kembar.


"Saya juga meminta maaf pada kamu, Anna. Tidak seharusnya saya bersikap egois dan kekanakan saat tidak ada apa-apa lagi di dalam kehidupan kita."


"Tidak apa-apa. Aku memakluminya, kehidupan sudah berjalan dengam begitu baiknya."


Grrycia dan Andreas tersenyum.


"Sudah banyak waktu yang terbuang sia-sia. Seharusnya, semua baik-baik saja untuk sekarang." Warry ikut bersuara, sepertinya ia sangat setuju untuk berdamai.


"Kehadiran si kembar memang sebuah keajaiban." Grrycia juga buka suara.


"Setelah dipikir-pikkr lagi, saya tidak mengerti kenapa dulu saya begitu egois dan menentang hubungan putra-putri kita." Andreas kembali berbicara.


"Pikiran kita sama. Selama ini, saya selalu merasa bersalah karena sudah mengucilkan Agyan dan menentang hubungannya dengan Freya."


"Seharusnya, anak-anak tidak perlu menjadi korban untuk keegoisan dari masa lalu orangtuanya."


"Semuanya sudah menjadi ketentuan." Freya buka suara.


"Dengan begitu, Agyan maupun Freya dapat kuat untuk menjalankan kehidupan yang sesungguhnya."


"Kami bekerja keras dan dapat membuktikan pada orang-orang. Jika harta yang kami punya, adalah hasil dari kerja keras kami sendiri. Bukan dari orangtua kami yang kaya."


"Dan cinta di antara kami tulus, bukan rekayasa. Atau goyah hanya karena ujian cinta."


Para orangtua di sana mengangguk setuju. Penyesalan hanya akan menjadi penyesalan jika tidak memperbaiki kesalahan.


Fteya tersenyum, hangat rasanya memiliki keluarga yang utuh dan damai. Jika seperti ini, kenapa tidak dari dulu saja? Rasanya melegakan.


TBC


Jangan lupa cek MAYBE MINE. Dijamin nggak kalah seru dari novel-novelku yang lain:")

__ADS_1


__ADS_2