Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Nostalgia


__ADS_3

"Baru-baru ini, seorang aktor baru yang namanya sedang naik daun kedapatan menikmati makan siang dengn seorang wanita hamil yang diduga adalah istrinya."


"Meski dalam rekaman dan foto yang beredar tidak terlihat jelas. Namun dari berbagai sumber terpercaya sudah ada data jika istri Zeinn Agyan adalah Adzana Freya Maheswarry. Seorang mantan model yang wajahnya kerap kali menjadi sampul majalah terkenal."


Agyan menyipitkan matanya saat beberapa foto Freya ketika masih menjadi model ditampilkan di sana. Ia memutar bola matanya, dan mematikan tv. Menggapai ponselnya dan langsung menghubungi Rachel.


"Ada apa, aku sedang sibuk dan tidak ingin diganggu!" orang di ujung sana langsung menyambar dengan kesal.


"Bagaimana wajah Freya bisa muncul dalam berita. Aku sudah katakan—"


"Andai kamu tidak mbuat kehebohan dengan acara makan siangmu yang sembarangan itu hal ini tidak akan tetjadi, Agyan!"


"Jangan menyalahkanku. Kamu sendiri yang menciptakan pemberitaan itu dan menghebohkan media."


"Tapi seharusnya kamu—"


"Apa? Memangnya ada apa?" Rachel menyela dengan cepat. "Kamu takut banyak pria yang jatuh hati pada istrimu. Hmm?"


"Ayolah, Gyan. Jangan kekanak-kanakan! Freya sedang mengandung anak kamu. Orang-orang akan berfikir ribuan kali untuk merebutnya darimu."


Agyan berdecak tidak suka dengan gaya bicara Rachel. Ia duduk di sofa dan menyilangkan kakinya.


"Hey, aku cuma tidak suka wajah cantik istriku menjadi konsumsi publik!" sahut Agyan dengan kesal.


"Gyan. Freya saja tidak keberatan wajah tampanmu itu menjadi konsumsi publik dan bahan halu semua wanita di negri ini."


"Jangan berlebihan!"


"Kamu tidak akan mengerti!"


"Oke, baiklah aku mengalah!" Rachel pasrah.


"Dengar, ada yang lebih penting dari ini. Aryo sudah menghubungi kamu?"


"Sudah."


"Apa katanya?"


"Dia bilang akan sampai di rumahku sekitar setengah jam lagi."


"Bukan itu!"


"Tapi Aryo hanya mengatakan hal itu."


Rachel memijit pelipisnya. Tidak salah jika Agyan memang sering membuatnya naik darah.


"Dengar. Siang ini, salah satu pimpinan perusahaan yang mensponsori film yang akan kamu bintangi ingin bertemu dengan kamu."


"Untuk apa?"


"Aku tidak tau, dia hanya menghubungiku dan Aryo dan dia ingin bertemu dengan kamu." Rachel mengatakannya dengan penuh penekanan.


"Merepotkan!"


"Jangan lupa untuk menemuinya dan—"


Agyan memutus sambungan telpon, melempar ponselnya pada sofa bersamaan dengan kedatangan Freya yang langsung duduk di sampingnya.


"Ada apa, sih?"


"Marah-marah mulu perasaan."


Agyan mengernyitkan dahi. Ia mendekatkan wajahnya pada sang istri. "Kapan aku marah-marah?"


"Tadi, pas ditelpon."


Agyan mengangguk, menjauhkan tubuhnya dari Freya dan melipat tangannya di dada. Freya tak memperdulikannya, ia asik bermain ponsel sampai kehadiran Bi Ningrum membuatnya beranjak dari duduk.


"Bi," tegurnya yang membuat langkah Bi Ningrum terhenti.


"Eh, iya. Ada apa, Bu?"


Freya mendekat, tangannya segera terulur untuk mengambil sebuah kaos dan kemeja dari tangan Bi Ningrum. "Ini pakaiannya, Pak Agyan, Bu."


Freya mengangguk, sementara Agyan di tempatnya hanya memperhatikan entah apa yang sedang Freya lakukan.

__ADS_1


"Iya. Saya lupa kasih tau, Bibi. Pakaian Agyan, saya yang urus. Bibi enggak perlu sentuh pakaian Agyan, yah." Freya tersenyum lembut setelahnya. Bi Ningrum mengangguk mengerti, lantas ia berpamit untuk pergi. Sementara Freya kembali duduk di samping Agyan sambil membawa pakaian suaminya itu.


"Kenapa?"


Freya menoleh pada Agyan. "Apanya?"


"Aku, tuh, nggak suka kalau ada perempuan lain yang pegang-pegang baju kamu." ia menjawab pertanyaannya sendiri.


"Alesannya?"


"Enggak suka, ya, nggak suka."


"Kamu cemburu sama Bi Ningrum?"


"Bukan itu, Agyan. Udah, ah, kamu gak bakal ngerti."


Agyan tersenyum, sedangkan hatinya berbunga-bunga dengan apa yang dilakukan Freya. Istrinya itu memanglah manis. "Frey,"


"Hmm?"


"Aku sayang kamu." Freya mengernyitkan dahi. "Kamu, tuh,—" satu kecupan singkat mendarat di bibir Freya. "Gyan, kamu—" kemudian kecupan kedua kembali mendarat di bibirnya.


"Zeinn Agyan!" Agyan mendekatkan wajahnya pada Freya, Freya memicingkan matanya. "Sengaja banget pengen dicium?" sindir Agyan. "Gak!"


"Oke," Agyan menjauhkan wajahnya. Freya beranjak meninggalkan pria itu.


"Yang,"


"By,"


"Baby."


Agyan beranjak mengejar Freya ke arah kamar dan menggandeng istrinya. Menggandeng wanita yang setiap hari membuatnya semakin jatuh cinta.


*


*


Setelah pertemuannya dengan Warry. Agyan merasa hatinya menjadi lega dan tenang. Perasaannya menghangat. Agyan tau betul tidak mudah bagi Warry untuk benar-benar merestui ia dengan Freya. Tapi Warry dengan besar hati, sudah melakukannya dengan baik. Membuang ego dan memilih untuk berdamai dengan masa lalu.


"Mas Agyan, kita sudah sampai." Aryo membuyarkannya dari lamunan. Agyan mengangguk. Ia sudah sampai di tempat tujuannya.


"Mbak Freya juga sudah ada di dalam."


"Iya."


Aryo turun dan membukakan pintu mobil untuk Agyan. Keduanya berjalan memasuki kedai pepo yang hari ini sengaja Agyan booking. Mengingat kejadian saat di restoran, ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.


"Nah, itu artisnya dateng." Morgan bersorak heboh saat Agyan memasuki kedai. Agyan melambaikan tangan dan menghampiri mereka. Ia berdiri di belakang kursi yang diduduki Frrya.


"Udah pada lama?" tanyanya, dengan kedua tangan berada di pundak istrinya.


"Mayanlah. Tapi gak masalah, asal nanti foto bareng artis aja. Promoin gue," sambar Brandon dengan alis naik turun.


"Lu jomblo?"


"Kagak!"


"Berarti sama yang itu, udah jadi dong." goda Gavin. Brandon menoleh pada Gisna di sampingnya. Ia menggenggam tangan gadis itu. "Do'ain aja, lah." uangkapan Brandon mendapat kehebohan dari kawan-kawannya.


Gisna hanya tersenyum saja.


"Kavin, Bang Rayn nggak kesini?" tanya Agyan saat melihat Vina hanya berdua dengan Rival.


"Mas Rayn sibuk di kantor, dia bakal ke sini kalo sempet."


"Sombong," decak Agyan, Freya menyentuh tangan suaminya yang ada dibahunya itu agar tidak sembarangan berbicara.


"Loe, tuh. yang sombong. Mentang-mentang udah jadi artis, gak pernah maen ke rumah lagi." Vina tidak mau kalah.


"Gue, 'kan sibuk." Freya menoleh, menatap Agyan tidak suka. Agyan hanya mengedipkan mata yang membuat mereka tertawa. Aryo mengambilkan kursi untuk Agyan agar duduk di samping Freya, membuat Vanesh yang duduk di samping Freya mau tak mau menggeser kursinya.


"Oh, yah, gue belum kenalin kalian ke Aryo." sahut Agyan, mengingat ini adalah pertemuan pertama ia berkumpul secara lengkap dengan kawan-kawannya setelah hampir satu bulan mereka disibukan oleh kegiatan masing-masing.


Mata Braga dengan yang lain mengarah pada Aryo yang tersenyum ramah. "Ini Aryo, menejer gue."

__ADS_1


"Hay, Aryo." beberapa gadis menyapa Aryo, sedangkan para pria hanya tersenyum saja. Vanesh terdiam menatap pria yang baru saja dikenalkan oleh Agyan.


"Kayaknya aku nggak asing sama muka Kak Aryo. Kaya pernah liat, tapi lupa di mana." sahutnya yang membuat mereka terdiam.


Braga memperhatikan sang pacar yang tampak menilik penampilan Aryo. Pria berusia hampir dua puluh empat tahun itu memang tampan, dan rapih, senyumnya juga menawan dan membuat Braga tidak suka Vanesh menatapnya berlama-lama.


"Sayang, mungkin kamu salah lihat." Braga mengatakannya dengan kaku. Ia hanya sengaja melakukannya untuk menunjukan pada Aryo jika gadis yang sedang berbicara dengannya adalah pacar Braga. Tapi tingkah pria cuek itu justru mengundang heran mereka semua yang berada di sana. Vanesh juga tak kalah herannya.


"Kamu nggak salah, Kak?" tanyanya dengan suara pelan pada Braga.


"Pacar loe kerasukan love devil, Van?" tanya Cherry dengan jahilnya. Vanesh mengangguk samar.


Sedangkan Brandon, Agyan, Gavin dan Morgan mati-matian menahan tawa. Ayolah, Braga bukan tipe laki-laki yang mampu mengumbar perasaannya, apalagi dengan terang-terangan menyebut sang pacar dengan panggilan sayang di muka umum.


Meski hal itu cukup membuktikan jika Braga tidak bermain-main dengan Vanesh.


Aryo yang tidak mengerti situasi hanya tersenyum kecil. "Mungkin aku cuma salah lihat. Oh, iya. Vanesh." Vanesh mengulurkan tangannya pada Aryo, membuat api cemburu di hati Braga semakin membara.


"Aryo," Aryo juga mengulurkan tangannya yang langsung diterima dengan baik oleh Braga seolah mewakili Vanesh. Menciptakan tatapan heran dari Agyan dengan yang lain.


Morgan menggeleng kecil. "Posesifnya cowok super cuek memanglah epic."


"Jadi, kita langsung makan aja?" tanya Agyan mencairkan suasana. Mereka mengangguk.


Saat bersama dengan Warry tadi, Agyan tidak benar-benar makan. Sehingga saat ini dia merasa lapar.


Acara siang ini di kedai pepo, adalah acara yang sengaja Agyan susun. Mengingat lamanya waktu mereka tidak bersua dan menghabiskan waktu bersama setelah Agyan menikah dan sibuk bekerja.


"Jadinya Freya mau ikut sama loe ke luar kota?" tanya Gavin saat mereka membahas film perdana Agyan yang akan melaksanakan syuting di luar kota.


Agyan menoleh pada Freya sebentar. Kemudian mengangguk. Ia dan Freya memang sudah membicarakannya sejak Rachel memberitahukan pada Agyan lokasi syuting perdana mereka yang harus pindah.


"Ikut."


"Emang nggak papa, Freya lagi hamil, loh, Gyan. Dua, lagi." Cherry angkat bicara.


"Aman, lah. Lagian di sana nanti gue satu minggu. Gue gak mau jauh sama Freya."


"Kaya pengantin baru aja." cibir Morgan.


"Udah lulus?" tanya Agyan pada Gladis. Gadis itu mengernyit heran saat tiba-tiba saja Agyan bertanya padanya. Jujur, sejak tadi ia merasa sangat bersyukur dapat bertemu dan makan bersama dengan artis idola teman-temannya, termasuk dirinya sendiri ini.


"Agyan tanya, kamu udah lulus?" Freya memperjelas pertanyaan suaminya.


"Oh, iya. Udah, Kak." Gladis menyahut singkat.


"Kapan mau loe nikahin pacar loe. Katanya kalo udah lulus mau langsung loe nikahin."


"Emang aku bilang kalo mau nerima lamaran Kak Morgan?" pertanyaan polos dari gadis itu membuat Morgan dijadikan bahan tawa kawan-kawannya.


"Sialan, loe, Gyan!"


Agyan hanya makan dengan cuek tanpa perduli makian Morgan.


"Kak, Gyan. Abis ini aku mau foto bareng, yah." sahut Vanesh tiba-tiba.


"Nih, yah. Temen-temen kampus aku harus tau kalo aku sama kamu bener-bener deket."


"Masa mereka gak percaya kalo aku adek angkat Kak Gyan."


Agyan hanya mengangguk setelah melirik istrinya sebentar.


"Jangnkan temen-temen loe. Gue aja gak percaya. Sejak kapan Agyan nganggep loe adek angkatnya?"


"Yang ada, loe, tuh, anak angkat di rumah."


Vanesh mendelik pada sang kakak. "Loe, tuh. yang anak angkat!"


"Udah, jangan ribut. Mending baku hantam sono!" Morgan memanas-manasi.


Vanesh dan Vina memilih tak perduli dan memilih melanjutkan makan. Yang lain juga kembali melanjutkan makan.


Di tempat yang penuh kenangan itu, Agyan dan Freya dengan kawan-kawannya menghabiskan waktu bersama. Tertawa dan membicarakan banyak hal mengenai segala hal.


Mengenang kembali masa sekolah. Mengingat masa sulit dan bahagia selama masa remaja. Kemudian mensyukuri semua yang sudah dijalaninya sampai dititik sekarang.

__ADS_1


TBC


Tinggalkan like dan komentar❤


__ADS_2