Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Final Episode


__ADS_3

"Jadi Papi Andreas belum kasih restu sama Ayah Bunda?"


"Kamu lupa, Papi Andreas udah kasih do'a ke kita pas Bunda mau operasi?"


"Tapi kalau Papi Andreas udah kasih restu, kenapa Papi Andreas malah pergi?"


Freya tersenyum ke arah dua anaknya. Selama mendengarkan cerita, Arasy memang banyak bertanya, sedangkan Ethan akan selalu menyelanya.


Agyan menggeleng pelan, enggan menanggapi jika anak mereka sudah berdebat.


"Arasy gak suka Papi Andreas. Dia jahat, selama ini sudah buat Ayah kangen." gadis kecil berusia hampir enam tahun itu mencebikan bibirnya.


"Arasy gak boleh gitu, Sayang."


"Papi Andreas baik, dia udah ijinin Ayah sama Bunda nikah." Freya memberikan pengertian sebaik-baiknya pada Arasy, sedangkan Ethan tidak banyak berkomentar.


Sepulang liburan dari puncak, tiba-tiba saja Agyan mengingat Andreas. Untuk mengobati rasa rindunya, ia mengajak Ethan dan Arasy ke makam Tomy. Dua anaknya itu selalu penasran dengan orangtua sang Ayah yang tidak pernah ia temui, hanya dapat mereka lihat melalui foto dalam album pernikahan Ayah-Bundanya.


Keduanya sering pergi ke makam Tomy, tapi sekalipun Agyan tidak pernah menceritakan bagaimana orangtuanya. Membuat Ethan dan Arasy penasaran.


Sampai pada akhirnya, Agyan memutuskan untuk menceritakannya pada kedua anaknya. Bagaimana kebahagiaan yang tercipta dalam keluarganya, dan bagaimana ia bertemu dengan Freya dan jatuh cinta sampai mereka menikah.


Sepanjang menceritakan kisah yang panjang itu. Agyan dengan Freya sebisa mungkin memilih kata demi kata yang tepat agar anaknya tidak salah tanggap dengan apa yang mereka ceritakan.


Usia Ethan dengan Arasy ditahun sekarang adalah enam tahun. minggu depan, mereka akan merayakan ulangtahunnya yang ke-enam tersebut. Dan Agyan akan membuatkan pesta yang meriah untuk mereka. Lebih meriah dari tahun-tahun sebelumnya.


Dan malam ini, waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Artinya, Freya dan Agyan sudah bercerita kurang lebih tiga jam. Menceritakan semua bagian yang membuat kedua anak mereka selalu penasaran.


Tentang bagaimana Agyan dan Freya menghabiskan masa remajanya dengan belajar dan pacaran. Tentang bagaimana mereka menjalin hubungan jarak jauh sembari berjuang untuk mendapatkan restu.


Dan tentang bagaimana mereka menjalani sebuah pernikahan hingga tiba kehadiran Arasy dan Ethan.


"Sekarang, waktunya tidur, yah." bujuk Freya. Jadwal tidur kedua anaknya adalah pukul sembilan. Tapi tadi, Arasy memaksa agar Freya melanjutkan cerita, supaya ia tidak pensaran dan dapat tidur nyenyak katanya.


"Arasy masih mau dengerin Bunda cerita."


"Ceritanya udah selesai, Sayang."


"Arasy, tidurlah!" Ethan buka suara setengah kesal. Adiknya memang sangat cerewet dan menjengkelkan. Itulah alasan kenapa Ethan lebih suka berangkat sekolah naik motor dengan Mang Diman, tukang kebun di rumahnya, daripada harus satu mobil dengan Arasy.


"Ethan, dengar ini. Besok berangkat denganku, jangan naik motor atau aku akan mengadu pada Ayah dan Bunda."


"Kamu pacaran sama anak kepala sekolah."


Ethan menggelengkan kepalanya dengan kesal. Sementara Agyan dan Freya mengerutkan kening. Bagaimana mungkin anak sekecil itu memiliki pacar?


"Kamu sudah mengadukannya di depan Ayah dan Bunda!"


"Upss!" tangan mungil gadis itu menutup mulutnya.


"Ethan," Agyan memanggil putranya.


"Tidak Ayah, tidak pacaran. Kami hanya sering duduk satu meja saat kerja kelompok!" Ethan tau apa yang akan sang Ayah tanyakan.


Agyan mengulum senyum dengan mata yang menatap Freya. Freya hanya menggeleng kecil.


"Lagi pula, ini salah Ayah dan Bunda. Tidak seharusnya wajah tampanku selalu muncul di tv."


"Owwh, aku selalu diledek teman lelakiku karena banyak yang mengidolakanku!" sambungnya dengan kesal.


Agyan mengusap puncak kepala putranya. "Lain kali, kalau kamu tidak mau syuting, kamu bilang saja." ungkapnya lembut. Keluarga bahagia Agyan memang tak pernah lepas dari sorotan media. Ethan dan Arasy sering mencuri perhatian berbagai stasiun tv dan perusahaan untuk menjadi bintang iklan, atau bintang tamu dalam beberapa acara.


Agyan tidak pernah mengatur anaknya untuk berada dalam dunia entertaiment. Tapi sepertinya, Arasy sangat suka.


"Jika ada tawaran syuting, jangan menolak, Ethan. Aku senang memiliki banyak fans!" Arasy yang semula sudah memejamkan matanya kembali buka suara.


"Sudah, kalian cepat tidur!"


"Atau Bunda—"


"Jangan mengancam, Bun! Aku akan tidur sekarang."


Arasy dengan cepat memejamkan matanya. Begitu juga Ethan yang sejak tadi kelihatan mengantuk.


"Bun, apa sampai sekarang keberadaan Papi Andreas tidak dapat ditemukan?"


"Arasy, tidur Sayang!"


"Ayah tidak seru!"


Selepas kedua anaknya tidur. Agyan dengan Freya kembali ke kamar mereka, Agyan hanya berdiri di depan pintu balkon. Freya menghampirinya.


"Kamu kangen Papi Andreas sama Mami Grrycia, yah."


"Udah hampir enam tahun kita gak ketemu mereka."


Agyan menoleh, ia tersenyum pada Freya. "Aku suka kasian sama anak-anak. Mereka pasti pengen ketemu orangtua kamu."


Kali ini Agyan menggandeng istrinya. "Jalannya sudah begini, By."


Freya menghela nafas, ia dengan Agyan sama-sama menatap keluar jendela. Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Kehidupan memang tetap berjalan, rasanya baru kemarin, tapi nyatanya, sudah banyak yang berubah.


"Bunda ....,"


"Bunda ....,"


"Arasy, jangan berteriak!"


"Ethan, tolonglah, suruh Bunda datang kemari dan menyisir rambutku!"


Ethan hanya menghela nafas. Ia memasukan buku-bukunya ke dalam tas, mengabaikan perintah Arasy yang seenaknya menyuruhnya. Arasy menatapnya tidak suka.


Bersamaan dengan itu, pintu kamar terbuka. Freya yang sudah rapih muncul membantu Arasy.


"Bunda tadi bantuin Ayah, dulu." sahut Freya sambil menyisir rambut putrinya. Agyan muncul, ia hanya bersandar pada tiang pintu dengan tangan terlipat di dada.


"Ayah sudah besar, tidak perlu dibantu!"


"Hey, Bunda itu milik Ayah!"


"Bunda milik Arasy, cuma Arasy!" gadis itu tak mau kalah.


"Ayah sudah lebih dulu kenal sama Bunda!"


"Tapi Arasy ada diperut Bunda selama sembilan bulan, Ayah!"


Agyan berdecak, kemudian ia berkata pelan. "Ayah yang titip kamu di sana!"


"Kamu pikir cuma kamu yang ada di perut Bunda?" tanya Ethan. Arasy hanya mengangkat bahunya enggan.


"Ayah, bilang Mang Diman, jangan panaskan motor untuk mengantarkan Ethan. Dia berangkat dengan Arasy!"


"Baik Tuan Putri."


"Aku tidak bilang setuju!"


Agyan urung melangkah. Ia menatap kedua anaknya bingung menentukan keputusan.


"Berpihaklah padaku, Ayah!"


"Aku tidak setuju!" Ethan bersikeras.


"Ethan dengar, ada hal penting yang harus kita rundingkan!"


"Astaga!" Agyan menggeleng melihat tingkah kedua anaknya. Freya hanya tersenyum, setelahnya ia dan Agyan berjalan duluan menuju meja makan. Sementara Arasy menghampiri sang kakak yang terlihat kesal.


"Aw, muka loe!"


Ethan mengerutkan keningnya. Padahal saat ada Freya dan Agyan, anak itu berkata dengan sangat sopan padanya.


"Ada apa?"


Arasy memasang wajah imutnya. "Aku ingin bertemu Papi Andreas," ungkapnya yang membuat Ethan kembali mengerutkan kening.


"Ayah saja tidak dapat menemukan keberadaan Papi Andreas."


"Kita bisa mencobanya."


"Bagaimana?"


"Hmmm." Arasy menaruh telunjuknya di bibir. Matanya menatap plafon kamar.


"Tidak perlu so cantik!"


"Aku memang cantik. Jangan menyela!"


Keduanya diam, sampai ketukan dipintu kamar membuat keduanya buru-buru keluar untuk melaksanakan sarapan.


"Bunda yang memlngantar sekolah?" tanya Arasy setelah menggigit roti dengan selai cokelat.


"Hmm."


"Oh, jangan. Kami diantar sopir saja!"

__ADS_1


Freya menoleh pada Agyan, pria itu hanya menggeleng heran. "Ada apa? Tumben." heran Freya. Gadis kecil itu hanya tersenyum dan mengedipkan matanya pada Ethan yang tak menggubris dengan apa yang ia lakukan


Sesuai dengan apa yang dikatakan, Arasy. Keduanya berangkat sekolah dengan diantarkan sopir. Sepanjang perjalanan, Ethan hanya diam dengan mata yang menatap kaca jendela. Ia terlihat bosan, Arasy menatapnya.


"Aku punya cara!"


Ia menarik lengan Ethan. Membuat pria tampan itu menoleh padanya.


"Cara apa?"


"Bertemu Papi Andreas!"


Bukannya mengatakan cara yang dimaksud olehnya pada Ethan. Arasy justru melipat tangannya di dada. Wajahnya mendadak terlihat kesal.


"Sebenarnya aku tidak suka Papi Andreas."


"Kenapa?"


"Dia sudah buat Ayah dan Bunda kerepotan!" bibirnya mengerucut. Ethan tersenyum melihatnya."Jangan mencampuri urusan orang dewasa. Mereka semua memang merepotkan!" ungkapnya yang membuat Arasy memukulnya.


"Jangan memukulku!"


"Aku ingin mempertemukan Ayah sama Papi Andreas."


"Caranya?"


"Kita telpon Papi Andreas." gadis itu tersenyum dengan bangganya. Ethan tersenyum meremehkan melihatnya.


"Memangnya kamu punya nomor Papi Andreas?"


"Memang harus punya nomornya?" Arasy bertanya dengan polos. Ethan menggeleng kecil. Memilih untuk mengakhiri obrolan tak masuk akal dengan sang adik.


Gadis kecil itu, terlihat putus asa. Ia diam dengan kepala yang terus bekerja untuk menemukan cara agar bisa mempertemukan dua orang yang dicintainya.


*


*


Banyak yang berubah selama enam tahun ini. Agyan semakin berjaya dalam perusahaan yang dijalankannya. Keluarganya adalah keluarga bahagia yang tidak pernah mendapat berita miring.


Namun sampai detik ini. Ia tidak dapat menemukan keberadaan kedua orangtuanya. Seperti tidak ingin ditemukan, Andreas dan Grrycia benar-benar tidak meninggalkan jejak.


Agyan melangkahkan kakinya memasuki ruangan. Aryo di belakangnya dengan setia mengikuti. Setelah Agyan duduk, ia menyerahkan sebuah iPad pada Agyan.


"Hari ini, Pak Agyan ada pertemuan dengan CEO dari perusahaan Alfabet. Sponsor untuk film yang akan dibintangi Arasy dan Ethan bulan depan."


Agyan hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar pemuturan Aryo. "Oh, yah, Aryo. Bagaimana untuk persiapan pesta ulangtahun si kembar?" ia sedang tak ingin membahas pekerjaan.


"Tadi pagi saya mendapat telpon dari Bapak."


Agyan mengernyit. "Saya tidak menelpon kamu."


"Tapi suaranya Nona Arasy, dia meminta saya untuk membatalkan perencanaan pesta."


"Arasy?"


"Iya. Zeinn Arasy Maheswarry." Aryo memperjelas.


Agyan hanya mengangguk, sementara kepalanya terus menerka dengan apa yang sedang dilakukan putrinya.


*


*


Seorang pria paruh baya yang tampan tampak tersenyum tipis menyambut kedatangan seorang wanita dari pintu masuk bandara. Tubuhnya yang bersandar pada body mobil menjauh. Mendekat pada wanita yang melangkah padanya.


"Apa kabar?" Andreas bekata dengan kalem saat keduanya sudah berhadapan.


Tidak menjawab, Grrycia justru berhambur memeluk Andreas. Memeluk orang yang sudah dititinggalkannya selama dua tahun.


"Apa kabar?" Andreas bertanya sekali lagi.


"Aku kangen kamu, Mas."


"Maafin aku."


Enam tahun ini, banyak yang sudah Andreas dan Grrycia lalui. Berawal dari kepindahan mereka ke luar kota. Sampai kemudian Grrycia meminta Andreas untuk membiarkannya pergi jauh darinya.


Keinginan Andreas untuk meninggalkan Jakarta enam tahun lalu membuat Grrycia benar-benar harus menguatkan hatinya untuk meninggalkan Agyan, dan juga kedua cucunya.


Hari-harinya terbebani dengan rasa sesal karena tak dapat bertemu dengan kedua cucunya. Hingga ia menyalahkan Andreas dan membuat rumah tangga mereka berada dalam bahaya.


Tak ingin ada perceraian dalam rumah tangganya. Grrycia meminta untuk menenangkan diri dengan pergi ke luar negri, meninggalkan Andreas yang terpuruk atas keputusan yang sudah diambilnya.


Anggap saja itu hukuman baginya karena sudah memisahkan keduanya dari Agyan.


"Kamu semakin cantik."


Grrycia hanya tersenyum akan pujian suaminya. "Saya merindukan kamu, Grrycia."


Grrycia mengangguk, ia pun sangat merindukan Andreas. Nyatanya, dua tahun yang dilaluinya terasa hampa tanpa kehadiran orang yang dicintainya.


"Ada hal yang harus kita lakukan!" Andreas menggenggam tangan Grrycia. "Apa?"


Andreas tak menyahut, ia mengajak Grrycia masu ke dalam mobil. Kemudian mobil melaju menuju tempat yang sudah Andreas rencanakan untuk menjadi tujuan kepulangan mereka ke Jakarta.


*


*


"Ayah jauh-jauh dari kantor ke sini cuma mau menanyakan itu?" tanya Arasy dengan raut tidak suka. Agyan menatapnya dengan tatapan tak mengerti. Sementara Etham hanya diam.


"Ayah hanya heran."


"Kita bisa membicarakannya di rumah, Ayah."


"Dari mana kamu tau passward hp, Ayah?"


Arasy menoleh pada Ethan, Ethan menatap sang Ayah yang menatapnya dengan sorot tanya. "Hanya tidak sengaja sering melihat Ayah." jawabnya jujur.


Agyan mendesah, baiklah, kedua anaknya memang sangat cerdas. "Jadi, apa alasan kamu tidak ingin merayakan ulang tahun?" Agyan kembali pada pembahasan awal.


"Siapa bilang tidak ingin merayakan ulang tahun? Aku hanya mengubah lokasinya."


"Pestanya akan diadakan di rumah dengan tertutup. Hanya orang tertentu yang akan merayakan."


Agyan mengangguk. Ia memang tidak pernah bisa menebak apa yang putra dan putrinya inginkan.


"Yasudaah, Ayah kembali ke perusahaan. Kalian belajar yang benar."


Ethan dan Arasy mengangguk patuh. Agyan berlalu dari sana, bersamaan dengan kedatangan seorang gadis seumuran Arasy dan Ethan yang menghampiri keduanya.


"Ada yang mencari kalian."


"Siapa?"


Gadis kecil itu menunjuk arah belakang Ethan dan Arasy, membuat keduanya menoleh pada sesuatu di belakang mereka.


*


*


"Bagaimana, cantik, 'kan?" Arasy sibuk mencoba dua gaunnya untuk pesta pada Ethan yang menatapnya dengan enggan.


"Acaranya akan dimulai dua jam lagi. Kamu tidak perlu bersiap dari sekarang." Ethan mengambil dua gaun tersebut dari tangan Arasy, ia menyimpannya, kembali menghampiri Arasy dan berjongkok di sana.


Arasy mencebikan bibirnya dengan imut, ia melepas sepatunya saat tangan Ethan menyentuh sepatu tersebut untuk melepasnya.


"Kakimu akan bengkak jika memakai sepatu ini dari sekarang."


Arasy hanya mengangguk, semenyebalkan apapun seorang Zeinn Ethan, dia tetaplah kakak terbaik untuknya.


"Kamu penasaran atau tidak. Apa Papi Andreas dan Mami Grrycia akan datang?" Arasy mengikuti langkah Ethan menuju rak sepatu miliknya.


"Mereka akan datang. Satu minggu yang lalu mereka sudah setuju dan kemarin Papi Andreas sudah datang memberi hadiah." Ethan menenangkan.


Hari ini, adalah hari yang Arasy tunggu-tunggu. Di mana ini adalah ulang tahunnya yang ke-6. Hanya Ethan yang setiap tahun selalu enggan merayakan ulang tahunnya sendiri.


Karena baginya, ulang tahun Arasy adalah ulang tahun Arasy. Bukan ulang tahunnya, karena setiap ulang tahun, Arasy yang mengatur semuanya.


Lokasi diadakannya acara adalah halaman belakang rumah yang luas. Yang sudah didekor dengan sedemikian indah meski hanya sedikit orang yang akan hadir.


Kedua pemilik acara tampak berbahagia. Terutama Arasy tentunya. Senyum dari bibir mungilnya terus terpancar sejak tadi.


"Sayang, apa kabar?"


Arasy dan Ethan hanya saling menatap saat dua orang asing menyapanya. Ia menggenggam tangan Ethan kuat-kuat.


"Tidak perlu takut,"


Grrycia tersenyum. Rasanya seperti mimpi melihat kedua cucunya sudah tumbuh dewasa.


Arasy menatap Andreas lekat-lekat. Ada yang melintas di kepalanya. Ia melipat tangannya di dada setelah yakin dengan apa yang tadi ada di kepalanya.

__ADS_1


"Oh, jadi ini orang yang sudah buat Ayah dan Bunda repot." ungkapnya. Sejenak Ethan tidak mengerti, namun detik selanjutnya, ia sadar siapa dua orang yang berada di depannya.


Sedangkan Grrycia dan Andreas saling menatap dengan heran atas apa yang baru saja keduanya dengar. Apa kedua cucunya tau jika ia sudah membuat kesulitan yang teramat sangat bagi Agyan dan Freya?


Mudah bagi Andreas untuk dapat mengetahui apapun kondisi Ethan dengan Arasy melalui berbagai media. Namun sepertinya, akan sulit meredakan kebencian keduanya padanya.


"Arasy benci Papi Andreas," ungkapnya dengan gamblang.


"Sayang," Grrycia menyentuh pundak Arasy. "Arasy jugak gak suka Mami Grryc."


Grrycia mematung.


"Kalian tau, selama ini Ayah selalu bersedih karena tidak dapat bertemu kalian. Arasy sering melihat Ayah menangis menatap foto Papi dan Mami."


"Seharusnya, kalau Papi sudah memberi restu pada Ayah dan Bunda, Papi tidak usah pergi."


"Harusnya Mami juga menahan Papi untuk pergi. Kalian tidak punya perasaan!" gadis itu terisak, tangannya sibuk menyeka air mata. Ethan tidak bisa menghentikannya. Sementara Andreas dan Grrycia tampak bingung.


"Maafkan Papi," Andreas membawa gadis kecil itu kedalam pelukannya. Tangis Arasy mulai reda, sementara Grrycia tengah berbasi-basi dengan Ethan yang cukup berpikiran terbuka atas kondisi saat ini.


"Kalian pasti membenci kami." Grrycia menggenggam tangan Ethan. Pria kecil itu menggeleng. "Kami tidak benci. Kami hanya kasihan pada Ayah dan Bunda. Kami yakin, kalian pasti memiliki alasan."


"Orang dewasa tidak mungkin seenaknya mengambil keputusan."


Andreas tersenyum mendengar penuturan Ethan. Arasy mengangguk meski masih terlihat kesal.


"Bagaimana cara kami untuk meminta maaf?" tanya Andreas dengan lembut. Berharap mereka dapat hidup dengan baik dengan saling berdampingan.


Arasy tersenyum. "Datanglah ke acara ulang tahun kami minggu depan."


"Arasy." panggilan tersebut membuat Arasy sadar dan membuyarkan lamunan.


"Kak Rival,"


"Sudah datang?"


Pria kecil yang dua tahun lebih dewasa dari Arasy itu mengangguk.


"Oma Shanty ikut, 'kan? Om Jordan, Tante Wulan, Mama Papa kamu ikut, 'kan?" Arasy bertanya dengan tidak sabaran.


"Ikut!" Rival menyahut singkat dengan bola mata yang diputar. Saudara sepupu jauhnya ini memanglah cerewet. Pantas saja Ethan sering kesal.


"Wah, Gyan. Anak loe cakep bener." komentar Morgan ia menggandeng istrinya yang tengah berbadan dua.


"Liat emak sama bapaknya, lah." sahutan Agyan mendapat sorakan heboh dari kawan-kawannya.


"Gak kebayang, tuh, kalo udah gede!"


"Jangan dibayangin!"


Mereka tertawa. Rasanya, seperti mimpi kembali dipertemukan dalam keadaan yang sangat berbeda. Morgan sudah menikah dengan kekasihnya, setelah melahirkan mereka akan pindah ke Bandung.


Cherry dengan Gavin sendiri, mereka sudah pindah ke luar negri setelah putra pertama mereka lahir. Semua bisnis Gavin dikelola oleh orang kepercayaannya.


Braga dengan Vanesh hadir dengan putri pertama mereka yang cantik. Sementara Brandon dan Gisna, keduanya tidak dapat hadir karena baru saja dipindah tugaskan ke luar kota.


Empat tahun berumah tangga, keduanya masih sepakat untuk segera memiliki anak. Entahlah, atau mungkin mereka hanya akan hidup berdua.


Para tamu undangan yang hanya terdiri dari teman-teman Agyan dan Freya sudah memadati lokasi. Dea dan Wijaya juga sudah tampak hadir di sana. Agyan berpamitan pada teman-temannya, ia menggandeng Freya dan melangkah untuk menghampiri Opa dan Omanya.


"Agyan, Freya."


Freya memeluk kedua Oma Agyan. Ia juga menyalami Wijaya yang masih saja terlihat tampan di usia senjanya.


"Kalian belum mememukan jejak orangtua kamu, Gyan?" tanya Shanty, wajahnya tampak cemas mengingat putra bungsunya yang tak kembali lagi setelah pamit pergi enam tahun yang lalu. Mereka bahkan tidak dapat dihubungi.


Agyan mengulas senyum tipis. Freya mengusap punggungnya. "Biar Papi sendiri yang memutuskan kapan ia mau kembali." ungkap Agyan yang membuat semuanya hanya terdiam.


"Pak Agyan, apa acaranya dimulai sekarang?" tanya Aryo. sebelumnya ia sudah meminta maaf karena mengganggu obrolan. Agyan mengangguk, Aryo berlalu dan menyuruh pembawa acara untuk segera memulainya.


Acara segera dibuka oleh pembawa acara. Tak banyak susunan acara. Hanya tiup lilin, potong kue dan acara kebersamaan.


Ketika acara tiup lilin, pembawa acara menyuruh keduanya untuk mengungkapkan harapan dalam hati masing-masing. Dengan semangat, Arasy memejamkan matanya.


Ethan sudah duluan mengakhirinya. Arasy menatap kedua orangtuanya bergantian.


"Ayah dan Bunda tau, apa harapan Arasy tadi?"


Agyan dan Freya kompak menggeleng. "Arasy akan kasih tau setelah tiup lilin!"


Ungkapan polos gadis kecil itu hanya ditertawakan orang-orang yang menghadiri acara. Mereka mulai menyanyikan lagi selamat ulang tahun dengan diakhiri peniupan lilin dari Ethan dan Arasy.


"Arasy sama Ethan punya kado untuk Ayah dan Bunda." ungkapnya.


"Yang berulangtahun kamu, Sayang." Freya mengingatkan. Arasy hanya tersenyum membuat Freya menatap Agyan tidak mengerti.


Arasy mengedipkan matanya pada Aryo. Aryo mengangguk, tak lama seluruh lampu padam. Membuat semua orang heran, sampai cahaya dari sebuah pemutaran dokumentar rekam jejak perjalanan cinta antara Agyan dan Freya mengalihkan perhatian semuanya.


Agyan menggenggam tangan Freya. Freya tanpa sadar meneteskan air mata. Rasanya seperti ajaib melihat semua itu di hadapannya. Bagimana dulu ia dan Agyan berpacaran seperti anak remaja pada umumnya.


Bagaimana mereka menikah setelah banyak mendapat kesulitan. Ia mengawali kariernya dalam dunia akting sampai kehadiran Ethan dan Arasy mengubah segalanya.


Semua yang hadir tampak terharu sekaligus takjub. Bagaimana seorang anak kecil menyusun kejutan seindah ini?


Tapi mereka semua salah, karena hal itu belum seberapa. Kejutan yang sesungguhnya jelas terpampang di depan mata saat lampu menyala.


Agyan menatap tak percaya dua orang yang berdiri di hadapan mereka. Enam tahun tidak bertemu, ia tentu masih mengingat dengan jelas bagaimana wajah kedua orangtuanya.


Tanpa bisa ia kendalikan, matanya berkaca-kaca. Genggaman tangannya yang kuat pada Freya bagai tidak bertenaga. Sementara di sampingnya, Freya sudah meneteskan air mata.


Kawan-kawan Freya berikut Shanty, Dea dan Wijaya sama terkejutnya melihat dua orang yang selama enam tahun ini menghilang bak ditelan bumi.


Ethan yang melihat air mata di pipi sang adik dengan cepat menghapusnya. Membuat Arasy tersadar dan buka suara.


"Harapan Arasy dan Ethan saat akan meniup lilin tadi sama." ungkapnya. Ethan mengangguk membenarkan.


"Kami ingin Ayah dan Bunda tidak bersedih karena merindukan Papi Andreas dan Mami Grrycia."


"Karena sekarang, mereka ada di sini."


"Bersama kita."


Agyan dan Freya menatap putra putri mereka dengan takjub. Mereka benar-benar memiliki dua anak ajaib yang sudah memberikan begitu banyak keajaiban.


"Ayah, ayo peluk!"


Agyan setengah tertawa. Andreas dan Grrycia juga tampak tersenyum dengan mata memerah, sedangkan genangan air di mata Grrycia siap meluncur kapan saja.


Agyan melepas tangan Freya yang digenggamnya, dengan langkah pasti, ia memeluk kedua orangtuanya. Memeluk Andreas dan Grrycia yang selalu ia rindukan. Yang selalu membuat ia penasaran bagaimana kabarnya.


"Maafkan Agyan, Pi, Mi. Maafkan Agyan karena tidak bisa menjadi anak yang baik untuk kalian." ia tak kuasa menahan air matanya. Waktu enam tahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Agyan berpisah untuk pertamakali dari orangtuanya tanpa sedikitpun kabar.


Anna yang melihat hal itu juga tampak terharu, ia menyeka air mata dan Warry menggandengnya.


Andreas mengurai pelukannya. "Papi yang harus minta maaf Agyan. Papi yang bersalah, Papi yang terlalu egois. Papi yang terlalu malu untuk bertemu kamu setelah menimbulkan permasalahan."


"Papi yang bersalah di sini." Andreas tampak sangat menyesal. Agyan menggeleng. Grrycia mengelus kedua sisi wajah putranya.


"Mami sangat merindukan kamu, Gyan." Grrycia kembali memeluk Agyan. Freya tersenyum melihatnya. Tak ada yang tak berurai air mata di sana. Menyaksikan bagaimana pertemuan antara anak dan orangtua setelah enam tahun berpisah.


Freya menggandeng kedua anaknya mendekat pada Agyan, Andreas dan Grrycia. Ethan dengan Arasy memeluk Oma dan Opanya dengan segera.


Pelukan sayang, pelukan kerinduan. Karena yang paling penting, adalah kebersamaan. Penyesalan takkan berarti apa-apa tanpa usaha untuk memperbaiki kesalahan.


Warry dengan Anna juga mendekat pada kedua cucunya dalam dekapan Andreas dan Grrycia. Sama-sama memeluk Ethan dan Arasy, begitu juga Shanty yang menghampiri Andreas. Menghampiri putranya yang sudah tega meninggalkannya.


"Sekali lagi kamu pergi ninggalin Mama. Mama gak mau maafin kamu." sahut Shanty sambil memukul dada putranya. Andreas hanya tersenyum menanggapinya.


Semua yang hadir juga tampak hanya tersenyum. Terharu bercampur bahagia menjadi satu dalam moment ini.


Setelah hampir enam tahun berumah tangga, Freya dan Agyan benar-benar baru merasakan kebahagiaan yang teramat sangat. Di mana keluarganya, benar-benar lengkap dan bahagia.


Agyan mendekat pada Freya, keduanya saling menatap dengan lekat. Mengabaikan seruan heboh semua orang yang berbahagia untuknya.


"Sayang. Aku mungkin udah sering bilang ini." ungkap Agyan sembari menyelipkan rambut Freya ke belakang telinga. Arasy yang sudah dibekali kamera oleh Aryo dengan cekatan segera mengambil potret mesra Ayah Bundanya.


"Terimakasih. Terimakasih untuk semuanya. Sekarang, kebahagiaan kita benar-benar sudah sempurna."


Freya mengangguk dengan mata yang basah. Agyan mendekat, ia memiringkan wajahnya. Grrycia mengambil kamera yang ditenteng Arasy, sedangkan Anna menutup mata gadis kecil itu agar tak melihat apa yang sedang terjadi.


"Orang dewasa memang selalu meresahkan!"


Aryo menggeleng melihat kelakuan anak sulung majikannya yang menggerutu tetapi tidak menutup matanya. Aryo segera menghalangi mata Ethan.


Sedangkan Agyan dan Freya.


Sepertinya mereka lupa, jika dunia bukan hanya milik mereka berdua.


~THE END~


Bagian tersulit saat memulai sebuah cerita, adalah mengakhirinya. ~EvaYuliaaan~


Sampai jumpa di Maybe Mine cerita baruku yang gak kalah seru.

__ADS_1


Jangan lupa follow aku. Follow juga akun IG-ku evayulianti47.


Terimakasih atas dukungan kalian selama penggarapan naskah Bukan Cinta Biasa. Aku sayang kalian❤❤❤❤


__ADS_2