Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Pantai dan Waktu.


__ADS_3

Grrycia menoleh ketika pintu rumahnya terbuka. Agyan muncul dengan raut sendu, rambutnya berantakan, jasnya tersampir di lengan kiri sementara langkahnya terlihat lunglai melewati ia dan Andreas, berjalan ke arah tangga tanpa perduli dengan sekelilingnya.


Grrycia menghela nafas, menoleh pada Andreas yang masih menatap Agyan sampai putra sematawayang mereka itu menghilang dari pandangannya.


"Mas, aku nggak ngerti sama kamu. Harusnya kamu bisa kasih apa yang Agyan mau, dia cuma minta restunya dari kamu!" seloroh Grrycia yang sudah tau dengan apa yang terjadi diperusahaan tadi siang, perdebatan antara Agyan dengan Andreas diruangan Agyan.


"Jangan membahasnya Grrycia, Mas tidak ingin memikirkannya."


"Kamu egois, Mas."


"Kamu harus tau, ini adalah permintaan pertama Agyan sama kita. Sebelumnya, apa dia pernah minta sesuatu? Enggak, Mas."


"Agyan nggak pernah meminta apapun. Mobil, motor, apartement, uang semuanya kita yang kasih, bukan atas dasar permintaan Agyan."


"Dan kamu berani menolak permintaan pertamanya?"


"Grrycia!" tau-tau Andreas membentak. Grrycia terpaku, menatap Andreas yang tampak terkejut atas sikapnya barusan.


Grrycia tersenyum. "Aku kecewa sama kamu!" ia bangkit, beranjak meninggalkan Andreas yang mengusap wajahnya dengan gusar. "Maafkan, Mas, Grrycia."


*


*


"Freya nggak mau!" Freya bersikeras menentang sang Papi yang tiba-tiba saja menyediakan bodyguard untuknya. "Freya nggak mau diikutin bodyguard!"


"Frey, ini demi kebaikan kamu. Mulai hari ini, ke mana pun kamu pergi, kamu akan dikawal. Jangan pernah sekali-kali menemui Agyan!"


"PAPI!" Freya menatap Papinya dengan penuh amarah. Sudah cukup semalam ia mendengar kabar tak mengenakan jika Warry mengusir Agyan dan menolak lamarannya, meski Freya tau hal itulah yang akan terjadi.


"Papi tidak ingin dengar apapun, pergi keluar dengan bodyguard, atau diam saja di rumah dan jangan kemana-mana!"


Freya beranjak dari teras, kembali masuk ke kamarnya, melewati Anna yang baru saja akan menanyakan keadaannya.


"Mas,"


Warry hanya diam, Anna menyentuh lengannya. "Apa tidak terlalu keterlaluan memperlakukan Freya seperti ini?" tanyanya, Warry tetap tidak bergeming.


Anna menyerah, bagaimana pun, ini salahnya. Andai dulu dia tidak mengecewakan Warry karena Andreas, Freya tidak akan mendapat posisi seperti ini.


*


*


Agyan mendesah, pikirannya kalut, beruntung pekerjaannya tidak terbengkalai. Sudah satu minggu ia tidak bertemu dengan Freya karena tidak memiliki celah. Tiga hari yang lalu ia datang ke rumah Warry untuk lamaran ketiga kali, dan ia kembali mendapat penolakan. Juga tidak dapat bertemu dengan Freya yang saat itu memang tidak ada di rumah.


Lima bodyguard Freya terpercaya dan tidak akan memudahkannya untuk bisa bertemu dengan Freya saat gadis itu berjalan-jalan ke luar.


"Kak Gyan?"


Agyan mendongak saat seseorang memanggil namanya dan duduk di kursi di hadapannya. Ia sedang berada di restoran dekat perusahaan, dan tidak mengira Vanesh akan berada di sini juga, dia dengan Braga yang mengenakan pakaian rapih khas pegawai kantoran.


Setelah lulus dari perguruan tinggi, Braga memang bekerja di perusahaan Papi Freya dan menjadi karyawan tetap dalam salah satu divisi di sana.


"Kalian di sini,"


"Iya. Kak Gyan sendiri aja?"


Agyan mengangguk dengan senyum khas dirinya. Braga hanya memperhatikan raut tidak bersemangat Agyan yang akhir-akhir ini tidak dapat pria tampan itu sembunyikan.


Sama halnya dengan Vanesh yang sudah mengetahui bagaimana hubungan Agyan dengan Freya yang tidak direstui oleh orangtua mereka. Ia memperhatikan raut sendu dari wajah tampan itu.

__ADS_1


"Sans, Gyan. Loe bakal ketemu Freya di acara nikahan Gavin sama Cherry minggu depan." Braga menenangkan, Agyan hanya mengangguk.


Tapi hatinya tidak yakin dapat bertemu dengan Freya. Ke manapun, gadis itu selalu saja dikawal. Bahkan Freya sering mengiriminya pesan jika bernafaspun sulit ia lakukan.


"Kalian makan aja, gue duluan." Agyan bangkit, meninggalkan keduanya sebelum mereka mengiyakan.


"Kasian, Kak Agyan." lirih Vanesh, menatap kepergian Agyan menuju pintu keluar. Braga hanya mengangguk, terpaku menatap Agyan. Vanesh memperhatikan, menyangga dagu dan menatap Braga di hadapannya.


"Aku juga kasian." sahutnya yang membuat tatapan Braga mengarah padanya.


"Kasian sampe sekarang belum dapet kepastian. Digantung terus kaya jemuran."


Kode garis keras!


"Sampe sekarang kamu belum sayang aku, yah, Kak?" tanyanya.


"Jadinya kapan kamu mau sayang aku. Aku udah lama nunggu, bertahun-tahun jaga perasaan aku buat kamu."


Braga hanya diam. Mendadak ia merasa canggung atas ungkapan jujur dari gadis di hadapannya ini. Sementara Vanesh tampak tidak masalah dengan hal itu, yang menjadi masalahnya adalah. Kenapa perasaan Braga tidak mampu ia taklukan?


"Sebenernya hati Kak Braga itu buat siapa, sih?" Vanesh menyuarakan isi hatinya.


Braga menghela nafas. "Aku juga nggak tau."


Vanesh hanya mampu mendesah. Perasaan Braga seperti batu baginya yang tetap tidak dapat ia luluhkan.


Selama satu minggu ini, Freya menghabiskan waktunya di luar. Tapi ia tidak dapat bertemu dengan Agyan. Bahkan komunikasi di antara mereka pun sudah sangat jarang terjadi.


"Kita ke mana non?" Freya mendongak pada sang sopir, sementara di samping sopir adalah bodyguard. Di belakang, sebuah sedan hitam mengikuti dengan empat bodyguard di dalamnya. Freya benar-benar terpenjara. Ia seperti Putri Mahkota yang benar-benar harus di jaga. Bahkan debu saja seolah tidak boleh menyentuhnya.


"Non?" sopir bertanya sekali lagi.


Sopir mengangguk, melajukan mobilnya ke arah pantai. Freya hanya mampu menatap kaca jendela mobil. Berharap, ia dapat bertemu Agyan meski hanya sebentar.


Seperti biasa, Freya akan menghabiskan waktu satu sampai dua jam untuk menatap gelombang air laut yang bergulung menjadi ombak, menampar pantai dan membasahi kakinya.


Hanya diam dengan perasaan hampa melihat segala yang ada di hadapannya. Tanpa ia sadar, jika pria dengan pakaian rapih tengah menatap ke arahnya dengan senyuman.


Sepertinya mereka memang berjodoh. Namun sayang, empat orang dengan pakaian rapih serba hitam yang memantau Freya dalam jarak jauh membuat Agyan urung menghampiri gadisnya. Hanya dengan melihat Freya dari jauh, Agyan merasa beban dihatinya sedikit ringan.


Meski ada perasaan sakit melihat raut sendu dari wajah cantik gadisnya itu. Agyan melihat sekelilingnya, ia melihat tukang balon, dengan langkah ringan, Agyan menghampiri tukang balon tersebut, membeli semua balon miliknya.


"Saya boleh minta bantuan Mas?" tanya Agyan pada tukang balon yang tampak sedikit lebih tua darinya setelah ia menyerahkan uang.


"Apa, yah, Mas?"


"Agyan, aku mau ketemu. Sebentar aja," Freya membatin.


bibirnya membentuk sebuah senyum, terkekeh kecil dan kembali menatap laut dengan mata yang berair, sampai seseorang tiba-tiba saja menyodorkan sebuah tali padanya.


Freya menatap tali tersebut, di mana di atasnya terdapat banyak balon dengan berbagai warna. Merah, kuning, biru, putih, tapi tidak ada warna hijau, karena sudah meletus.


"Buat saya?" tanya Freya pada pria di hadapannya. Pria dengan hoodie tersebut mengangguk.


Dengan perlahan Freya menerimanya. Terdapat sebuah note di sana, ia membuka dan membaca note tersebut.


Don't be sad, Baby.


Semuanya akan baik-baik saja.


Freya menutup mulutnya, terutama saat pria di hadapannya membuka hoodie yaang dikenakannya. Memperlihatkan wajah tampan yang selama satu minggu ini ia rindukan.

__ADS_1


"Agyan!"


Agyan menaruh telunjuknya di bibir. Freya menoleh pada para bodyguardnya. Ia mengangguk mengerti, jangan sampai mereka curiga. "Aku kira kamu tukang balon!" Agyan tersenyum. "Buat kamu jadi apa aja aku bisa." ia tersenyum dengan manisnya.


"Aku kangen, Gyan."


"Aku juga!"


"Kamu kenapa ada di sini?"


"Mungkin karena ada kamu."


Freya tersenyum. "Aku kangen!" ungkap Freya lagi. Agyan hanya mampu mengangguk meski ia tau maksud kalimat gadis itu.


"Gyan,"


"Hmmm."


"Peluk!"


Agyan menghela nafas, melangkah mendekat pada gadis itu dan mencium keningnya. Kemudian membawa Freya dalam dekapannya.


Sedangkan empat bodyguard Freya yang mengawasinya mulai kalang kabut begitu melihat wajah Agyan dan menyamakannya dengan foto yang dibekalkan Tuan besar mereka.


"Kita bisa dipecat kalau sampai Bos tau!" ucap salah satu dari mereka.


"Kamu mau apa?" tanya Agyan, mengabaikan empat bodyguard Freya yang mulai berjalan ke arah mereka dengan hati-hati.


"Aku mau waktu berenti buat sekarang. Aku mau sama kamu, Gyan. Kaya gini,"


"Andai bisa. Aku bakal kabulin kemauan kamu. Aku bisa ada buat kamu, tapi sayangnya aku nggak bisa berentiin waktu."


"Bawa aku pergi, Gyan. Hari ini aja, aku mohon!" Freya meremas jaket yang Agyan kenakan, berharap Agyan mau mengabulkan keinginannya. Agyan terdiam untuk beberapa saat.


"Kalau itu bisa aku lakuin!"


Agyan melepas pelukannya. Menarik tangan Freya untuk berlari menembus kerumunan, bersamaan dengan Freya yang melepas balon dari Agyan. Menerbangkannya ke udara, Freya hanya tersenyum melepasnya. Bodyguard Freya semakin kalang kabut melihat nonanya dibawa kabur, mereka berlari mengejar.


"Mas, jaket saya!"


Agyan berdecak, ia melupakan satu hal, jika ia meminjam jaket pada tukang balon. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan beberapa lembar uang dan menyerahkannya.


"Makasih, Mas—" ucapnya terpotong saat Agyan sudah berlari kian jauh, tapi matanya berbinar melihat uang ditangannya. "Lumayan, belinya di pasar malem cuma delapan puluh rebu. Dapetnya empat ratus rebu!"


*


*


"Kalian semua memang tidak becus bekerja!" maki Warry saat bodyguardnya pulang tanpa Freya. Sialnya. Freya pergi bersama dengan Agyan.


"Maafkan kami, Tuan!"


"Cari di mana keberadaan putri saya!"


"Baik, Tuan!"


Warry mendesah, tangannya mengepal, kalimat Agyan saat datang melamar Freya terus terngiang dalam ingatannya.


"Tidak papa jika saya ditolak, saya akan datang lagi nanti. Mungkin lusa, minggu depan, atau bulan depan dengan berita mengejutkan."


TBC

__ADS_1


__ADS_2