
Prov Ibu Airin
Sudah dua minggu berlalu, dari tawaran Ustadzah Hasna yang berniat menjodohkan Airin dengan anak temannya. Tapi Dewi masih belum bicara apapun kepada anaknya Airin. Dia tak tau haru mulai darimana. Dia tak ingin kembali memaksa Airin menikah. Dulu Airin terpaksa menikah karna Suamiku berhutang banyak pada Andri. Kami tak tau kenapa dia bisa terlilit hutang sampai puluhan juta. Dan akhirnya Airin yang harus jadi korban, Andri akan menikahi Airin kalau hutang hutang suamiku dianggap lunas.
Pernikahannya tidaklah membuat Airin bahagia. Andri selalu menyiksanya lahir batin. Sampai kejadian naas itu terjadi. Airin di cap sebagai seorang pembunuh karena telah membunuh Andri. Mungkin saat itu Airin sudah tak sanggup lagi dengan siksaan yang diterimanya. Dan sekarang aku ingi dia menikah lagi, bagaimana kalau nanti Airin akan menderita lagi. Sekarang bukan hanya Airin tapi sudah ada Syfa. Jangan sampai nanti cucuku juga ikut menderita.
"Ya tuhan apa yang harus kulakukan. Apakah perjodohan ini bisa membahagiakan anakku." rintihku dalam hati.
Prov Airin.
Sejak Ibu ikut pengajian dirumah Ustadzah Hasna itu terlihat Ibu lebih banyak diam. Kadang aku sedang bicara Ibu tak medengarkanku, Ibu malah melamun. Apakah terjadi sesuatu di pengajian itu. Apakah ada yang menghina ku lagi. Ibu pasti ngk akan tinggal diam. Apakah Ibu sampai bertengkar dengan orang gara gara aku Ya Tuhan, kapan aku bisa membahagiakan Ibu dan Ayah. Kenapa aku selalu menyusahkan keduanya.
Hari ini aku nggak bikin jualan, Ibu menyuruhku untuk menjaga Syfa aja. Tak usah bikin jualan. Sekali kali istirahat kata Ibu.
Ibu juga hari ini ngk ada jadwal mencuci atau menyetrika. Jadi kami pun menghabiskan waktu bersama di rumah. Sedang asyik asyiknya bermain bersama syfa, ada yang mengetuk pintu. Aku pun bergegas melihat siapa yang datang.
Alangkah terkejutnya aku, melihat siapa yang datang. Lelaki yang beberapa bulan ini aku rindukan. Dia berdiri sambil tersenyum didepan pintu. Kulihat dia lebih kurus dari terakhir kali kami bertemu.
"Assalamu'alaikum. " Ujarnya mngucapka salam.
"Wa, wa'alaikumsalam." jawabku terbata.
__ADS_1
"Apa kabar Ai." Tanya mas Syahdan, aku masih saja terpaku memegang gagang pintu. Sesaat aku baru tersadar.
" Eh maaf mas, silahkan masuk." Kata ku. Mempersilahkannya masuk.
Mas Syahdan masuk dan duduk di sofa. Aku ke belakang memberi tau Ayah dan Ibu, kemudian membuatkan kopi. Dan kamipun ngobrol bersama. Mas Syahdan meggendong Syfa, mengajaknya bercanda. Kami sangat terharu melihatnya. Syfa seperti sangat senang bermain dengan mas Syahdan. Sementara mas Syahdan terlihat sangat menyayanginya.
Mas Syahdan mengajak kami jalan jalan. Aku dan Ibu pun berpandangan. Ku pandang Ayah seraya meminta izin.
"Pergilah, sudah lama juga kamu tak keluar rumah sejak melahirkan Syfa. Tapi ajak Ibu ya. Agar tak terjadi Fitnah." Kata Ayah.
Akhirnya kamipun pergi. Aku, Syfa dan Ibu. Ayah tak mau ikut karena tak ingin menyusahkan dengan kondisi kakinya. Padahal mas Syahdan ngk keberatan. Tapi Ayah tetap menolak.
Mas Syahdan mengajak kami makan diluar. Kemudian mengajak kam berbelanja ke Mall. Aku sudah berusaha menolaknya. Tapi mas Syahdan tetap mengarahkan Mobil ke arah Mall. Dan dengan terpaksa kamipun ikut. Meski sebenarnya aku tak ingin lagi memberatkannya.
Akupun dibawa melihat gamis syar'i dan disuruh mencobanya. Mas Syahdan memilihkan beberapa model dan warna. Aku bilang satu aja. Mas Syahdan malah membawa banyak gamis untuk kucoba. Dan Syfa pun dibelikan semua pelengkapan. Baju, gamis bayi, sampai pampers dan mainan. Saat dikasir aku sangat kaget, mas Syahdan membayar puluhan juta untuk belanjaan kami.
"Mas, jangan semuanya. Ini kebanyakan mas. Ini semua berlebihan. " Ujarku. Berharap agar beberapa ada yang dibatalkan. Tapi mas Syahdan keukeh membelikan semuanya. Terlihat raut wajahnya sangat bahagia.
Barang belanjaan kami sangat banyak. Ada yang bisa kami bawa ada juga yang nanti dikirimkan kerumah. Aku dan Ibu hanya bisa saling berpandangan. Mas Syahdan yang tak mau lepas dari Syfa hanya asyik mengajak bayi itu bercanda. Dia selalu menggendong Syfa. Dan kami pun pulang.
Sampai dirumah Ayahpun kaget melihat bawaan belanja kami. Ibu hanya bilang ulah mas Syahdan. Mungkin satu Mall itu akan dia beli kalau ngk segera diajak pulang. Mas Syahdan hanya tertawa mendengar perkataan Ibu.
__ADS_1
Setelah ngobrol ngobrl dan bermain dengan Syfa sebentar, mas Syahdan pun pamit pulang. Sebelum pergi dia menciumi Syfa berkali kali, sampai bayi itu tertawa tawa karena merasa geli.
"Mas pulang ya. Nanti mas kesini lagi." Ujar Mas Syahdan pamit.Terlihat raut wajahnya yang berat untuk pergi.
"Iya mas, Terima kasih untuk hari ini. Terima kasih untuk untuk semuanya." Jawabku. Lamaaa mas Syahdan menatapku, sehingga membuatku jadi malu dan salah tingkah.
"Jangan menatapku seperti itu mas" Ujarku menunduk.
"hehehehe.... Kamu semakin cantik Ai, Mas sangat merindukanmu.." Ujar Syahdan sambil tertawa kecil.
Aku bingung dengan sikapnya, tatapannya dan semua perhatiannya. Juga kata kata rindunya barusan. Wanita manapun bila diposisiku pasti akan merasa kalau Ada getar cinta dalam pandangannya dan kata katanya.
Apakah mas Syahdan mencintaiku tapi bukankah dia akan menikah dengan wanita lain. Tidak mungkin, mas Syahdan pria yang baik. Dia pasti sangat mencintai calon istrinya. Seperti yang pernah dikatakannya. Kalau dia tidak ada perasaan apa pun padaku. Mungkin dia merindukanku karena kami sudah lama tak bertemu. Aku tidak ingin merasa salah paham lagi.
Sepulang mas Syahdan, aku memandikan Syfa karena haripun menjelang sore. Sehabis mandi dan memakaikan nya baju. Kami membongkar semua belanjaan yang tadi dibelikan mas Syahdan.. "masyaAllah nak, begitu baiknya om Syahdan pada kita. Lihatlah semua yang dibelikannya untukmu bukanlah barang barang murah. Kalau Bunda mana mampu membelikanmu barang barang semahal ini nak." ujarku.
Syfa seakan mengerti ucapanku, dia seperti menyukai mainan mainan baru nya. Dia tertawa tawa senang berceloteh dengan riangnya Seakan dia bercerita aku punya mainan baru, bagus bagus. MasyaAllah. Tengah kami asyik main berdua di kamar, Ibu datang masuk ke kamarku.
" Ai, ada tamu" ujar Ibu.
"Siapa Bu, " Tanyaku bingung. Siapa yang datang mencariku Aku tak punya teman dekat juga. Dan nggak mungkin juga mas Syahdan kan. Baru dua jam yang lalu dia pulang, apa mungkin balik lagi.
__ADS_1
" Mami nya Syahdan dengan seorang wanita muda." Jawab Ibu dengan wajah tegang. Dan Aku pun terkejut mendengarnya.