
Pada keesokan harinya, Naina cukup ketar-ketir ketika ia bangun terlambat dari biasanya, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tapi belum tersedia apapun di meja makan untuk sarapan kedua majikannya.
Dengan langkah buru-buru ia berlalu ke dapur, segera mencari bahan makanan, tetapi ketika ia hendak meraih gelas, seseorang yang tiba-tiba saja menepuk bahunya, membuat gelas yang sudah berhasil gadis itu raih terpelesat dari tangannya. Gelas tersebut jatuh sehingga menciptakan bunyi pecahan yang begitu nyaring di ruang dapur.
"Astaga Naina. Maaf."
"Saya ngagetin kamu ya?" tanya Zoya sedikit panik. Jujur ia pun sedikit terkejut melihat reaksi Naina yang bahkan sampai menjatuhkan gelas. Zoya tadinya hanya ingin menegur gadis itu, tidak tahu jika hal yang dibuatnya membuat Naina sangat terkejut.
Sedangkan gadis itu menaruh tangan di dadanya, ia benar-benar terkejut mendapati Zoya yang tiba-tiba saja menepuk bahunya.
Ethan yang baru saja menuruni anak tangga ke lantai dasar segera berlalu ke dapur begitu ia mendengar bunyi pecahan dari arab dapur. Ia melihat Naina dengan Zoya di sana yang saling berhadapan.
"Ada apa Sayang?" tanyanya kepada sang istri.
"Ini, aku tadi nepuk bahu Naina. Dia kaget, makannya jatuhin gelas." sahut Zoya.
"Maaf sekali lagi ya, Naina. Maaf, saya enggak tahu kalau kamu bakalan kaget banget." sahut Zoya lagi, ia merasa tidak enak.
"Enggak papa kok, Mbak. Saya nggak apa-apa cuman sedikit kaget aja." gadis itu tersenyum tenang.
"Aduh maaf, saya juga bangun terlambat. Ini belum nyiapin sarapan sama sekali." sahut gadis itu yang juga merasa tidak enak. Mungkin Zoya ke dapur karena ingin sarapan, tetapi ia belum masak apapun.
"Enggak apa-apa. Lagian kita nggak ada jadwal syuting, Ethan juga libur hari ini. Gimana kalau kita masak bareng-bareng aja." usul Zoya.
"Enggak usah Mbak. Biar saya aja." sahut Naina, tidak enak karena Zoya sering sekali membantunya ketika libur. Naina tahu wanita itu melakukannya karena senang, tapi tetap saja Naina merasa tidak enak.
"Enggak papa saya mau masak, okey santai aja." Zoya tak bisa dilarang.
"Tapi kaki kamu nggak kena pecahan beling kan?"
"Enggak kenapa-napa kan?" Zoya memastikan keadaan Naina karena belum sempat menanyakannya tadi. Naina menggelengkan kepalanya, melihat pecahan gelas yang berserakan di lantai.
"Biar saya aja." Ethan buka suara saat Naina hendak berjongkok untuk membereskan pecahan gelas tersebut. Naina mengalihkan tatapan pada Zoya seolah meminta pendapat wanita itu. Zoya mengangguk, meyakinkan Naina agar Ethan saja yang membereskan pecahan gelas tersebut.
"Kamu langsung masak aja sama saya, ya." ajak Zoya, Naina mengganggu, kembali melanjutkan aktivitasnya untuk menyiapkan bahan masakan, sama halnya juga dengan Zoya yang mengambil daging di lemari pendingin. Sedangkan Ethan membereskan pecahan gelas yang berceceran di lantai dapur. Jangan sampai terinjak oleh Zoya maupun Naina.
"Kamu mau dimasakin apa?" tanya Zoya kepada pria itu yang sedang membereskan pecahan gelas, membuat Ethan mengangkat pandangannya lantas tersenyum. "Masak apa aja, terserah kamu. Saya suka sama masakan kamu."
"Meskipun nggak enak?" ledek wanita itu, karena sampai detik ini pun ia belum benar-benar jago memasak seperti Naina, hanya kadang-kadang saja bumbu dalam masakannya terasa pas. Seringnya adalah asin, atau kemanisan.
__ADS_1
"Tidak masalah. Masakan kamu enak menurut saya." Ethan menyahut santai, dia memang seperti itu, selalu menghargai istrinya. Apapun rasa masakan yang Zoya buat, ia tetap memakan dan menghabiskannya tanpa protes sedikitpun.
Begitu usai membeteskan pecahan gelas Ethan lantas melangkah menghampiri sang istri dan berdiri di belakang Zoya yang tengah memotong timun.
"Saya boleh bantu?" tanya pria itu, tepat di telinga Zoya. Wanita itu menoleh, lantas menganggukkan kepala, ia hendak menyerahkan pisau kepada Ethan namun Ethan justru lebih dulu menahan tubuh Zoya agar tidak bergerak, kemudian meraih tangan Zoya dan membantu wanita itu memotong timun dengan menuntun tangan Zoya.
Zoya sempat memaku, tapi kemudian senyumnya terukir dengan ribuan kupu-kupu yang tengah beterbangan di dadanya, dia melanjutkan pekerjaannya dibantu dengan Ethan dan ..., ya semua justru berjalan lebih lambat dari seharusnya.
Naina yang sedang memanaskan air untuk sayur menoleh kepada dua orang itu dimana Etan berdiri dibelakang Zoya sementara tangannya menuntun tangan Zoya memotong timun. Pemandangan yang romantis, tapi setelahnya Naina menggeleng pelan. Sepertinya kehadiran dua orang itu di dapur bukan untuk membantunya segera menyelesaikan pekerjaannya menyiapkan sarapan.
Ethan dengan Zoya tidak berpengaruh sama sekali.
"Aku mandi sebentar, ya," pamit Zoya kepada sang suami ketika semua masakan sudah hampir beres, akan lebih menyenangkan jika ia menikmati sarapan setelah badannya segar. Ethan menganggukkan kepala.
"Naina, saya mandi sebentar ya, kamu tidak papa ditinggal?" Naina yang sedang menggoreng daging menggelengkan kepala dengan senyuman, Zoya melambaikan tangan lalu berlalu menapaki anak tangga meninggalkan dapur. Ethan memerhatikannya sampai punggung wanita itu menghilang. Ethan tersenyum, ia senang setiap kali memerhatikan setiap gerakan kecil yang wanita itu buat.
Mengingat kondisi Zoya yang sangat memprihatinkan beberapa hari kemarin, rasanya sebuah keajaiban melihat wanita itu kembali seperti semula saat ini. Ethan benar-benar kembali mendapatkan dunianya.
"Aw." Ethan spontan mengalihkan tatapannya kepada Naina. Gadis itu meniupi jemarinya.
"Ada apa?" tanya Ethan, beberapa langkah mendekat pada gadis itu. Sementara Naina meniup jari tangannya yang melepuh, jari mungilnya tidak sengaja menyentuh ujung wajan yang panas.
"Apa kamu tidak berhati-hati?" protes Ethan, tapi Naina hanya diam. Pasalnya, gadis itu sering mengalami hal-hal seperti ini saat di dapur, Ethan dengan cepat meraih tangan gadis itu tanpa aba-aba, tetapi dengan cepat pula Naina kembali menarik tangannya.
Tanpa basa-basi, ia menyodorkan salep tersebut kepada Naina, jika memang Naina tak ingin Ethan membantunya maka Ethan tidak akan memaksa.
Pria itu menata meja makan, membiarkan Naina mengobati lukanya sendiri. Naina mendesah tak mengerti, ia hanya membatasi diri. Ia tak ingin salah paham pada dirinya sendiri, atau pada perasaannya sendiri.
***
Pada hari itu mereka sarapan di jam sembilan pagi. Kemudian menonton televisi, sepertinya hari ini ketiganya tidak akan keluar rumah. Sedangkan Ethan berada di ruang tamu dan bergelut dengan laptopnya. Entahlah apa yang sedang pria itu kerjakan.
"Semangkuk sereal untuk Mbak Zoya." sahut Naina yang muncul dari arah dapur, Zoya tersenyum menyambutnya. "Terimakasih, Naina." ucapnya seraya menerima semangkuk sereal itu. Naina kembali duduk di samping Zoya, menonton televisi yang sedang menayangkan acara Fashion Week Paris.
Sementara Zoya menikmati serealnya dengan mata menatap Naina lekat-lekat. Zoya menaruh harapan besar untuk wanita itu. Aneh memang, ketika Zoya membiarkan gadis lain untuk mengandung anak suaminya, namun begitu hal tersebut mereka lakukan untuk masa depan rumah tangga yang mereka jalani.
Zoya takut, jika rumah tangganya dengan Ethan akan hambar jika hanya ada mereka berdua dalam ikatan pernikahan, tidak ada anak yang menguatkan rumah tangga mereka.
***
__ADS_1
Hari itu, cuaca tampak mendung ketika Zoya baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah Kantor Urusan Agama. Ia mendapati kabar jika akad nikah akan segera dilaksanakan. Itulah kenapa Zoya buru-buru. Begitu usai syuting, ia segera meluncur ke lokasi acara.
Wanita itu lebih dulu menghela napas, mengukir senyum dan menenangkan dirinya sebelum kemudian membiarkan kakinya memijak anak tangga pada beranda Kantor Urusan Agama.
Orang yang pertama dilihatnya adalah Selin yang mengukir senyum padanya dengan sorot mata penuh kesedihan, sedangkan Zoya tersenyum lebar dan berjalan mendekat pada salah satu kursi kosong tepat di bekakng mempelai pengantin, ia duduk di sana.
Tidak banyak orang yang hadir di tempat tersebut, hanya ada sekitar sepuluh orang termasuk orang yang menjadi wali nikah Naina dan saksi.
Zoya manatap punggung suaminya lekat-lekat ketika pria itu mulai menjabat tangan penghulu. Ada ketidakrelaan di relung hatinya yang terdalam ketika penghulu mengucapkan ijab kobul. Lantas disusul oleh suaminya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Ananda Naina Mehrunisa binti Safar Raharjo dengan mas kawin tersebut. Tunai." pria itu mengucapkan hanya dalam satu tarikan napas
"Bagaimana para saksi, sah?"
"Sah." serempak beberapa saksi dan orang yang hadir berucap sah, begitu juga dengan Zoya. Ia mengangkat tangan guna berdoa, mengaminkan doa-doa yang terpanjat dari sang penghulu. Semoga ia dengan suaminya dapat terus bahagia.
Ethan yang baru saja menyelesaikan ijab kobul dan berdoa sempat menoleh ke belakang, mencari di mana keberadaan orang terkasihnya. Sampai kemudian ia menangkap sosok wanita cantik tepat di belakangnya. Tersenyum padanya dengan sorot penuh cinta.
Keduanya tenggelam dalam tatapan itu ketika mata keduanya bertatapan dalam satu garis lurus, saling mengunci sampai Ethan merasakan seseorang yang menyentuh tangannya. Rupanya Naina yang melakukan hal tersebut untuk kemudian mencium punggung tangannya
Ragu, tetapi Ethan harus melakukannya. Untuk pertama kali, ia menyentuh wanita lain, tepat di hadapan Zoya.
Sementara Zoya menghalau air matanya ketika Ethan mendaratkan kecupan di dahi Naina. Di dalam hidupnya, ketika Zoya menyadari kebesaran cinta Ethan padanya, ia tak pernah membayangkan sedikitpun, jika kelak ia harus berbagi pria itu dengan orang lain.
Ia tidak pernah membayangkan sedikitpun jika pada akhirnya ia akan membagi cinta Ethan dengan perempuan lain.
Dengan Naina.
TBC
Aduh kok authornya senang banget ya bikin ceritanya kaya gini. Sedih sedih ngilu gitu.
Loh kok ceritanya jadi kayak gini? Lah emang harus gimana Sayang? Namanya cerita, 'kan alurnya pasti berkembang. Enggak akan gitu-gitu aja
Malas bacanya, pasti nanti pas Naina hamil manja manja gitu sama Ethan, ngidam lah, ini lah, itu lah. Hello ...., tahu dari mana ya? Yang mau bikin Naina kaya gitu siapa coba?
Nggak seru ah ada orang ketiga, pelakor pelakor-an. Udah tau bakalan kayak gimana. Tahunya? Gimana coba?
Udah, deh, nggak usah ada cerita Ethan nikah sama Naina segala! **Dari awal kan aku udah kasih tahu kalau scene kayak gini bakalan ada. Eggak bisa main aku ubah,caku rombak aja gitu loh kalau udah disusun outlinenya.
__ADS_1
Cuman, untuk alur cerita dan endingnya nggak akan selalu sama, sama apa yang ada dipikiran kalian. Gitu loh, pada intinya alur cerita akan terus mengalir dan kalian akan nyesel kalo gak baca sampai ending Sumpah aku berani jamin loh**.
Okeey babyy❤❤❤❤