Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Memulai Kehidupan


__ADS_3

Freya mengerjapkan matanya dengan perlahan, ketika kesadarnnya benar-benar sudah kembali, ia mengernyit heran.


"Kok beres-beres, Yang?" tanya Freya dengan heran saat Agyan tengah memasukan pakaian miliknya pada sebuah koper besar.


Agyan hanya tersenyum sambil melanjutkan kegiatannya. Ini adalah hari ketiga mereka menjadi pasangan suami istri. Setelah satu malam menginap di rumah Freya begitu pesta pernikahan usai, malam tadi mereka menginap di rumah Agyan.


Dan pagi ini, Agyan sudah siap dengan semuanya. Memulai sebuah kehidupan bersama dengan Freya.


"Kamu mandi. Kita sarapan, abis itu berangkat."


"Kemana?" heran Freya dengan bingung. Sungguh, ia tidak mengerti apapun saat ini. Agyan duduk di tepi tempat tidur dan menggenggam tangannya.


"Kamu inget apa yang aku omongin semalem?"


Freya terdiam, kepalanya sedang menerawang. Mengingat-ingat obrolannya dengan Agyan semalam.


Malam tadi, setelah mereka menikmati makan malam keduanya kembali ke kamar saat Andreas menyuruhnya untuk beristirahat. Freya duduk di depan meja rias, sementara Agyan berada di atas tempat tidur dengan punggung yang ia sandarkan pada kepala ranjang.


Frrya menyisir rambutnya, memakai bodylation pada tangan dan kakinya. Sementara Agyan hanya memperhatikan.


"By,"


Freya menoleh pada Agyan. Tapi suaminya itu hanya diam menatapnya. Membuat Freya penasaran dan segera menghampirinya setelah kegiatannya selesai. "Ada apa?" tanyanya di depan wajah Agyan yang terlihat bimbang.


"Seandainya aku udah nggak punya apa-apa, kamu masih mau sama aku?" tanyanya. Freya melempar pandangannya ke sembarang arah seolah berfikir.


"Gimana, yah. Kalo gak mau, aku udah terlanjur jadi istri kamu!" sahutnya bercanda. Agyan menghela nafas.


"Aku serius, Frey."


Freya menatap Agyan dalam-dalam, iya, suaminya itu terlihat serius dengan apa yang ditanyakannya tadi. Timbul perasaan heran di hati Freya, tapi pertanyaan Agyan tidak akan membuatnya membuang pria itu.


"Gyan, ada masalah?" Freya merasa curiga.


"Enggak ada,"


"Aku udah jadi istri kamu, jangan rahasiain apapun dari aku!"


Agyan menangkup wajah Freya, mencium bibirnya sekilas untuk menenamgkan gadis itu. Tapi tidak mempan, Freya terlanjur penasaran dengan arah pembicaraan Agyan.


"Cerita sama aku!" paksanya sambil menurunkan tangan Agyan dari wajahnya.


"Aku gak mau ngasih kamu beban."


"Aku gak mau kamu nanggung beban itu sendirian!"


"Ada aku, Agyan. Ada aku,"


"Istri kamu."


*


*


"Jadi, maksudnya?" tanya Freya setelah mengingat jika semalam Agyan tidak berkata apa-apa lagi dan justru malah menggodanya. Selanjutnya adalah, ....., kalian bisa menebaknya sendiri.


"Sayang. Aku udah nggak punya apa-apa lagi."


Freya terdiam mencerna kalimat Agyan. Selanjutnya, ia mengerti dan beranjak dari tempat tidur sambil merapihkan gaun tidurnya. Melewati Agyan dengan santai sambil mengikat rambutnya.


"Yaudah, aku mandi dan siap-siap!" Freya bagai tidak terkejut dengan apa yang ada di dalam kepalanya setelah ia mengerti apa maksud Agyan.


"Frey,"


Freya tak menggubris, gadis itu berlalu ke arah kamar mandi. Agyan mengejar, menghadang langkah Freya di depan pintu kamar mandi.


Freya mengerutkan keningnya. "Apa, Yang? Aku mau mandi, awas, ah!" usirnya dengan halus.


"Aku serius, Frey."


"Yang anggap bercanda siapa?"

__ADS_1


Agyan terlihat menghela nafas, Freya tersenyum dan meraih tangan kanan Agyan untuk ia genggam. "Aku nggak mau ngajak kamu hidup susah," sahut Agyan dengan raut sendu. "Kamu nggak akan biarin itu, 'kan, Gyan. Aku percaya, kamu bakal berusaha kasih kehidupan yang layak buat aku."


"Aku dukung kamu." sahut Freya yang membuat senyum Agyan terbit.


"Aku beruntung dapet istri kaya kamu." Agyan meraih kepala gadis itu untuk ia bawa ke dadanya, Freya tersenyum dengan tangan yang berada di pinggang Agyan.


"Tapi aku boros," sahut Freya, mendongak dan mempertemukan tatapannya dengan Agyan.


"Kamu mau belajar hemat?"


"Aku bakal berusaha!"


"Pinter!"


*


*


Setelah selesai sarapan bersama, Freya dan Agyan bersiap untuk berangkat dari rumah Andreas, menuruni anak tangga dengan membawa koper milik Freya, sementara koper miliknya dibawakan oleh tukang kebun di rumah ini.


Grrycia yang berdiri di lantai dasar hanya menatap putranya, ketidakrelaan melepas Agyan mulai menyeruak perasaannya jika saja ia tidak mengingat kesepakatan antara putra dengan suaminya.


Andreas hanya berdiri di sampingnya dengan tenang. Sedangkan Shanty segera menghampiri Agyan dan Freya setelah mereka muruni anak tangga.


Setelah Tomy meninggal, Shanty memang sering menginap di rumah Grrycia, atau kadang di rumah Rayn. Ia hanya akan ke Surabaya jika Jordan dan Wulan menjemputnya. Rumahnya di biarkan kosong dan hanya sesekali di bereskan. Shanty tidak ingin terus mengingat Tomy jika tetap tinggal di sana, dan kedua putranya mengerti dengan hal itu.


"Gyan, kamu beneran mau pindah?" tanyanya pada Agyan dengan nada tidak rela. Agyan hanya tersenyum dan mengusap lengan keriput sang Oma.


"Agyan masih di Jakarta, Oma."


"Kamu sama Freya nggak ada niat buat tinggal di rumah, Oma aja?" Shanty berusaha membujuk. Agyan melihat Andreas sekilas, sang Papi yang selalu bersikap biasa saja.


"Agyan bakal sering nelpon, Oma."


"Kamu tinggal di rumah Oma, aja, yah."


"Oma, Agyan sudah menjadi kepala keluarga sekarang. Agyan harus mandiri," sahut Agyan, mencoba memberi pengertian pada Shanty jika keputusannya sudah tepat dan tidak dapat diganggu gugat.


"Agyan udah rencanain ini semuanya, Oma."


Shanty hanya diam, pasrah dengan keputusan yang memang sudah direncanakan Agyan.


Agyan dan Freya berpamitan. Dengan berat hati, Grrycia harus melepaskan anak dan menantunya pergi.


"Freya, ikut Mami sebentar." ajak Grrycia sebelum Agyan dan Freya berlalu. Gadis itu hanya menatap Agyan meminta persetujuan. Agyan mengangguk dan Freya mengikuti Grrycia untuk masuk ke kamarnya.


"Mami ada sesuatu buat kamu." sahutnya setelah berada di dalam kamar. Grrycia berjalan mendekat pada sebuah nakas dan mengambil sesuatu dari sana. Sebuah kotak berwarna putih.


Grrycia kembali ke hadapan Freya dan membukanya. "Ini—" Freya menatap sebuah kalung dengan berlian berbentuk kristal sebagai liontinnya.


"Ini hadiah dari Papi Agyan saat ulangtahun pernikahan kami yang ke sepuluh tahun. Ini kalung kesayangan Mami."


"Sekarang, kalung ini buat kamu."


Ungkap Grrycia dengan tulus, Freya menatapnya tak percaya. Ia bukan hanya takjub dengan keindahan dan harga fantastis dari kalung tersebut. Hanya saja, Freya merasa jauh lebih takjub dengan kebaikan dan ketulusan hati ibu


mertuanya.


"Tapi ini kesayangan, Mami." Freya merasa ragu menerimanya.


"Tapi kesayangan Mami yang asli itu, Agyan. Dan sekarang kamu yang milikin kesayangan Mami, kamu juga berhak dapat kalung ini."


"Anggap, ini hadiah buat menantu kesayangan Mami."


Freya tidak tau apa yang harus ia katakan pada Grrycia. Ia tidak memiliki kata-kata yang tepat untuk ia ungkapkan. Yang ia lakukan justru memeluk mertuanya itu, mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya.


"Makasih, Mami Grrycia. Agyan beruntung punya ibu sebaik Mami Grrycia, dan Freya beruntung udah jadi menantunya."


Grrycia tersenyum dan mengurai pelukannya. Ia mengeluarkan sesuatu yang lain dari kotak yang sama. Sebuah gelang hitam yang terbuat dari benang.


"Ini jimat, buat jagain kamu sama anak yang lagi kamu kandung. Mami dikasih ini sama Mama Dea waktu Mami hamil Agyan." sahutnya sambil memasangkan gelang tersebut di tangan kanan Freya.

__ADS_1


"Kamu hati-hati, yah."


"Jaga diri baik-baik."


Freya mengangguk dan mengucapkan terimakasih. Sekali lagi memeluk Grrycia.


Mertua, yang akan selalu menjadi mertua kesayangannya.


*


*


"Kok naik taksi, mobil kamu?" tanya Freya saat mereka sudah keluar dari gerbang rumah orangtua Agyan dan menunggu taksi.


"Sayang, mobil aku dijual. Aku—" Agyan menjeda kalimatnya.


Freya menatap Agyan, menunggu kalimat yang akan suaminya itu lontarkan.


"Uang mobil itu aku pake buat beli rumah yang nanti akan kita tempati,"


"Sisanya—" Agyan merogoh saku celananya, mengambil sebuah amplop cokelat di sana dan menaruhnya pada telapak tangan Freya yang ia tarik.


"Buat kebutuhan rumah tangga kita sebelum aku dapet kerjaan." sahutnya. Freya melihat isi dalam amplop itu. Tidak begitu banyak, tapi seperti apa yang sudah Agyan katakan. Jumlah itu cukup untuk satu bulan ke depan semabri Agyan mencari pekerjaan.


"Nggak papa, 'kan?" tanya Agyan ragu-ragu. Ayolah, Agyan tau bagaimana kehidupan glamor seorang Freya. Dan kehidupan yang akan gadis itu jalani dengannya, jelas tidak akan mudah.


"Nggak papa,"


"Kita ke rumah kamu dulu, pamitan sama orangtua kamu."


"Iya."


Freya melambaikan tangannya ketika taksi itu menepi menghampiri ia dan Agyan. Keduanya masuk ke dalam taksi yang sudah Agyan pesan.


"Gelang baru?" tanya Agyan saat mobil sudah melaju. Rupanya, sejak tadi ia memang sudah salah fokus pada gelang yang melingkar di pergelangan tangan istrinya.


"Iya, dari Mami Grryc. Katanya buat jaga-jaga,"


Agyan beroh ria sambil tersenyum. Taksi yang mereka tumpangi membawa keduanya menuju rumah Maheswarry.


"Apa tempat tinggal yang kamu beli layak untuk kalian?" tanya Warry saat Agyan berpamit akan tinggal di rumah yang sudah ia beli.


"Saya yakin layak."


Warry terlihat menghela nafas, sementara Anna tampak tidak rela jika putrinya harus menjalani ini dengan Agyan.


Agyan sadar, jika Freya sudah menjadi miliknya, haknya membawa gadis itu kemana saja. Tapi, Agyan perlu menghormati orangtua Freya sehingga ia datang untuk meminta izin pada mereka. Juga akan terkesan tidak sopan jika ia tidak berpamitan.


"Saya harap kamu bisa menjaga Freya, dan memberinya kehidupan yang layak." sahut Warry. "Akan saya lakukan sebisa saya," Agyan meyakinkan. Warry mengangguk samar menanggapi ucapannya.


"Freya pamit, Mami, Papi." Freya menyalami dan memeluk kedua orangtuanya. Anna dan Warry mengangguk. Melepas putri mereka satu-satunya untuk pergi.


Keduanya berlalu dari rumah Warry. Anna hanya menatap mereka dari teras, ia terlihat cemas.


"Harusnya kita nggak biarin mereka hidup susah, Mas."


"Kita bisa kasih mereka rumah mewah, kendaraan, dan kasih Agyan pekerjaan dengan jabatan tinggi di perusahaan." sahutnya pada Warry.


"Itu artinya Agyan tidak menepati janjinya untuk hidup mandiri dan berdiri di atas kakinya sendiri."


"Tapi aku nggak mau kalo Freya harus hidup susah."


"Itu sudah menjadi konskuensi yang harus Freya terima."


Agyan dan Freya kembali menaiki taksi menuju rumah yang akan mereka tempati. Freya menyandarkan kepalanya pada bahu Agyan, Agyan mengusap lengan Freya.


Agyan tau ini tidak akan mudah, tapi ia yakin bisa melewati semuanya dengan Freya. Ia akan bekerja keras untuk istri, dan calon anak mereka.


Apa yang sudah dilakukannya dengan Freya memanglah sebuah kesalahan. Untuk itu, Agyan ingin menebusnya dengan menikahi Freya, membahagiakannya, dan membesarkan anak itu dengan penuh kasih sayang nantinya.


TBC

__ADS_1


Fighting, Agyan❤


__ADS_2