Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BAB 24


__ADS_3

Setelah sepulangnya ia dari restoran, dan sudah selesai bertemu dengan Dion. Akhirnya Shinta memutuskan untuk pergi menuju ke perusahaan suaminya dengan mengendarai sebuah mobil mewah berwarna hitam.


Sesampainya di perusahaan, Shinta malah tak sengaja melihat suaminya yang hendak keluar, dan seperti ingin pergi. Bergegas dirinya menghampiri Andika dan bertanya kepada suaminya itu.


"Sayang kau mau kemana? Bolehkah aku ikut? Aku sangat merindukanmu!" ucapnya manja, dan langsung menggandeng mesra tangan Andika.


Namun suaminya itu malah terlihat cuek, dan seolah tidak peduli.


"Tidak jadi, hubungi para pemegang saham jika rapat hari ini di batalkan. Aku akan kembali ke kantor saja!" ucap Andika memberikan perintah kepada sekretarisnya.


"Baik pak!" balas Eva yang setelah itu langsung pergi, dan menjalankan tugas dari sang bos.


Kini pria itu sudah beralih memandang ke arah istrinya.


"Kau mau rapat? Kenapa di batalkan? Kalau begitu baiklah aku pergi saja! Maaf jika mengganggu pekerjaanmu. Karna ku pikir kau sedang istirahat sekarang!" ujar Shinta merasa bersalah.


"Aku memang sedang istirahat dan berniat ingin ke suatu tempat sekaligus bertemu dengan mereka."


"Lalu?" tanya wanita itu dengan polosnya


"Ikut aku sekarang!" Tanpa aba-aba Andika langsung saja membawa istrinya menuju ke lift untuk naik ke lantai atas tempat di mana ruangannya berada.


Sesampainya mereka berdua ke ruangan itu, Andika pun masih tetap saja memegang tangan Shinta.


Kini posisi keduanya sedang saling berhadap-hadapan, dengan pandangan mata saling menatap satu sama lain.


Andika mentap bola matanya begitu intens, membuat suatu kecemasan bagi Shinta. Wanita itu kini merasakan perasaan yang tidak enak!


"Kau mencintaiku bukan?" tanya Andika pelan.


"Hm!" jawabnya ragu sambil menganggukkan kepala.


Sehingga membuat Andika rasanya sangat tidak puas, dan langsung mencengkram kedua pipi Shinta sampai membuat wanita itu sendiri menjadi kesusahan untuk membuka mulutnya.

__ADS_1


"Katakan dengan yakin!" perintahnya.


"Aku mencintaimu!" jawab Shinta dengan suara tertahan karena Andika masih belum mau melepaskan tangannya yang saat ini sedang mencengkram pipi wanita itu.


Terpaksa akhirnya Andika melepaskan cengkraman itu dari kedua pipi istrinya, dan menatap dingin Shinta yang saat ini terlihat sedang menggosok-gosok kedua pipinya yang kini sudah berwarna merah akibat ulahnya barusan.


"Apakah sakit?" tanya Andika, dan Shinta langsung saja menganggukan kepalanya.


"Iya, kenapa kau melakukan ini kepadaku?" tanya Shinta memelas, karena benar-benar merasakan sakit pada kedua pipinya.


Andika berbalik badan, dan mencoba untuk menahan kemarahan yang begitu teramat besar di dalam dirinya.


"Katakan sekali lagi, dan jangan pernah mencoba untuk berbohong!" Setelah mengucapkan kalimat itu. Suaminya telah kembali menghadap ke arahnya, dengan melayangkan tatapan tajam sekaligus memegang tangan kirinya.


"Kau habis dari mana tadi?" tanya Andika.


"Tentu saja dari rumah, kenapa kau bertanya seperti itu?"


Gawat! Rasanya Shinta benar-benar merasa cemas sekarang! Apakah mungkin suaminya tau yang sebenarnya? Hingga membuat pria itu menjadi curiga seperti ini. Lagi pula tidak memungkinkan bagi Shinta untuk jujur dan mengatakan jika dirinya habis pergi ke restoran untuk menemui Dion.


"Tunggu dulu!" ucap Shinta mencegah langkah kaki suaminya yang hendak pergi.


"Apa maksudmu? Aku mencintaimu! Dan aku tidak berbohong." balasnya mencoba untuk meyakinkan Andika.


"Cukup! Cukup Shinta!!!" bentak pria itu yang sudah terlanjur marah, merasa muak dengan situasi ini. Karena istrinya terus berusaha membela diri, padahal Andika sudah mengetahui semuanya.


"Dari awal seharusnya aku tidak menaruh harapan untukmu! Kau wanita murahan yang tidak tau diri. Dirimu mengatakan, 'Tidak cukupkah aku dengan satu wanita?' Tapi nyatanya bukan aku, tapi melainkan kau!" Tunjuknya ke arah wajah wanita itu.


"Kau yang tidak cukup dengan satu pria! Setelah berselingkuh dengan polisi itu, kau malah berselingkuh dengan pria lain setelah itu. Apa kau tau siapa Dion?" tanya Andika berusaha berbicara pelan.


Namun melihat istrinya yang hanya diam saja, dan menangis di hadapannya. Semangkin membuat kemarahan pria itu menjadi-jadi, dan tidak bida terkontrol lagi.


"Dia musuh ku!" marah Andika akibat merasa geram, dengan mengguncang-guncangkan kedua pundak Shinta.

__ADS_1


Tangis wanita itu kini pun langsung pecah dan semangkin menjadi-jadi. Dengan sekuat tenaga Shinta mencoba untuk menyingkirkan kedua tangan Andika yang sedang memegang pundaknya. Karena cengkraman dari pria itu benar-benar menyakitkan untuk nya.


"Karena alasan apa kau berselingkuh dengannya? Apa kau ingin balas dendam kepadaku?" Andika terus-terusan memojokan Shinta dengan menggunakan pertanyaan-pertanyaan yang tidak masuk akal.


Bahkan dengan berulang kali pria itu terus membentak istrinya, dan memaksa agar Shinta mau membuka mulut dan berbicara kepadanya.


"Aku tidak berselingkuh, sudah cukup dan jangan pernah menghina ku lagi. Aku bukan wanita murahan seperti yang kau sebutkan tadi." jawabnya dengan terisak.


Hatinya sangat sakit, ketika suaminya itu berulang kali menuduhnya bahkan menghinanya.


Lantas Andika hanya bisa melayangkan sebuah senyuman miris, dan meremehkan jawaban dari istrinya itu.


"Wanita yang menjual harga dirinya dan memaksa agar di nikahi, hanya demi sebuah kekuasaan dan uang?" kata pria itu, seketika membuat Shinta langsung menggeleng.


"Aku melakukannya karena memiliki tujuan Andika!" balasnya.


"Dan sekarang kau sudah mendapatkan tujuan itu bukan? Kau sudah berhasil menjebak ku agar bisa masuk ke dalam perangkap mu itu. Kau wanita murahan yang tidak tau diri." Lagi-lagi hinaan yang sama kembali keluar dari dalam mulut pria itu, membuat Shinta tidak bisa hanya diam saja. Untuk kali ini ia harus membalasnya!


Dengan tatapan mata yang tajam, wanita itu sudah bersiap untuk melayangkan tangannya ke arah pipi Andika. Namun ternyata suaminya itu mengetahui hal tersebut, sehingga dengan cepat langsung menahan tangannya.


Tangan Shinta kini tertahan, dan Andika terus berusaha menyiksanya dengan cara menggengam pergelangan tangannya dengan sangat kuat.


"Berani-beraninya kau bersikap kurang ajar!" ucap Andika dengan penuh penekanan.


"Aku melakukan ini semua karena kau lah yang memulai nya duluan!" bentak Shinta. Nafas nya langsung memburu, dan jantungnya sudah tidak karuan sekarang.


Akibat sudah terlanjur sangat geram sekaligus emosi. Andika yang sudah kehilangan akal sehatnya langsung saja mendorong tubuh istrinya hingga membuat wanita malang itu tersungkur ke lantai, sehingga membuat perutnya terbentur dengan sangat keras.


Andika langsung pergi meninggalkan nya begitu saja, tanpa tau bagaimana kondisinya saat ini.


Rasa sakit yang begitu dahsyat langsung menyebar ke seluruh tubuhnya. Andika benar-benar sudah gila karena melupakan kondisi istrinya yang sedang mengandung anak pertamanya.


Dan kini dengan sekuat tenaga Shinta mengepalkan tangannya sembari terus mengejan. Karena merasakan sebuah dorongan yang begitu hebat sekaligus rasa sakit yang telah bercampur menjadi satu.

__ADS_1


"Akhhhhhhhh!" jeritnya kesakitan sesaat merasakan ada sesuatu benda padat yang seperti baru saja keluar melalui alat kela*minnya.


Dengan tangis yang begitu histeris, Shinta mencoba untuk mengambil sesuatu dari balik rok yang sedang ia pakai saat ini.


__ADS_2