Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Sebuah Pencapaian


__ADS_3

Ketika keadaan berubah normal, tentu saja hal itu membuat semua orang yang terlibat dan terdampak kasus tersebut merasa tenang. Terutama Ethan, meski ketenangannya tak kunjung rampung karena yang tersayangnya masih menghilang.


Tanggal penayangan film sudah diumumkan. Semua atensi teralih pada film tersebut. Satu minggu sebelum penayangan, ketika lebih dari dua juta tiket yang dijual secara online sudah habis terjual, Zoya masih tak kunjung menampakan batang hidungnya di atas harapan para fans yang bermimpi menonton bersama dengan wanita itu.


"Mereka pasti akan lebih antusias lagi kalau Zoya ada di sini." sahut salah satu staf usai mereka mengadakan monthly meeting perusahaan. Beberapa orang masih berada di ruang rapat, di antaranya adalah Randy, Rachel, begitu juga dengan Ethan dan Selin, juga ada Alexa di sana.


"Zoya masih belum bisa dilacak?" Rachel bertanya.


Randy menoleh pada Ethan karena pertanyaan tersebut pasti ditujukan pada pria itu. Namun Ethan hanya diam dengan jari jemari yang saling bertautan di atas meja sedangkan pandangannya tertunduk ke bawah.


"Belum Bu." Randy memutuskan untuk menjawab karena Ethan tak kunjung buka suara, bahkan mungkin Ethan tak mendengar saat Rachel bertanya.


"Terakhir kali saat dilacak dengan GPS jejak ponselnya ditemukan di Bandara. Sepertinya Zoya pergi luar negri."


"Apa atmnya tidak bisa dilacak?"


"Sepertinya ia membawa uang cash cukup banyak. Atm-nya seperti tidak dipakai."


"Di Bandara, kemana sebenarnya tujuan Zoya?" Rachel bertanya-tanya. Sementara Ethan yang semula tertunduk menengadahkan pandangannya dengan tubuh tegak. Tiba-tiba saja terlintas sesuatu di kepalanya yang membuatnya dengan cepat bangkit dari duduknya lantas berjalan menuju pintu keluar dan berlalu pergi, mengabaikan teriakan Rachel yang menanyakan kemana tujuan pria itu akan pergi.


"Ethan, kamu mau kemana?" yang Rachel dapatkan hanyalah hentakan kaki pria itu yang kian menjauh. Randy segera bangkit daribl duduknya. "Ikuti atasan kamu!" intruksi Rachel yang langsung mendapat anggukan kepala dari Randy lantas pria itu menyusul langkah Ethan.


Ethan segera masuk ke mobil tepat di belakang kemudi. Randy juga segera masuk ke dalam mobil, ia bahkan belum menutup pintu mobil saat Ethan sudah mulai melajukan mobil. Randy memegang dadanya begitu berhasil menutup pintu, Ethan seringkali melakukan hal berbahaya setiap pria itu dalam keadaan panik dan buru-buru.


"Than, kamu mau bunuh aku?!" gerutu Randy, Ethan menoleh sesaat. "Kita harus buru-buru ke Bandara."


"Bandara. Ngapain?"


Ethan tak menyahut, hanya saja bibir pria itu berucap pelan. "Lombardia."


"Lambordia."


"Italia."


"Pokoknya, begitu syuting film selesai. Aku pengen ke sana nanti."


"Iya, Zoya. Nanti kita kesana."


Seharusnya, Ethan mengingatnya sejak awal kemana Zoya pergi, seharusnya ia tahu. Jika Zoya sangat ingin mengunjungi salah satu kota di Italia. Seharusnya Ethan mengingatnya sejak wanita itu menghilang. Tapi karena panik, ia bahkan tak mengingat jika pernah menanyakan tempat yang sangat ingin wanita itu kunjungi begitu syuting film usai.


"Tunggu, tunggu. Kamu mau langsung ke luar negeri, Than?" tanya Randy begitu otaknya konek.


Ethan lagi-lagi tak menyahut, ia justru membuka laci mobil dan melihat paspornya berada di sana, sepertinya Ethan lupa menyimpannya setelah liburan dengan Naina tempo lalu.


"Pasporku, Than?" Randy kebingungan, tetapi Ethan tak merespond dan terus mengemudikan mobil. Membuat Randy berinisiatif menelpon istrinya untuk mengantarkan paspornya ke Bandara. Sepertinya akan berbahaya jika membiarkan Ethan pergi ke luar negeri sendiri.


Terlebih jika seandainya pria itu tidak menemukan Zoya, Randy tidak bisa membiarkan pria itu gila di sana sendirian.


***


Sementara itu, di balkon sebuah kamar hotel berbintang negara matador, seorang wanita tengah duduk dengan laptop menyala di hadapannya. Sebuah tayangan montase seorang aktris yang menyita atensi semua pihak tengah ia saksikan.

__ADS_1


Dia adalah Zoya, wanita itu tengah menikmati suasana malam dengan secangkir hot chocolate yang menenangkan. Sekalipun tak dapat seutuhnya membuat wanita itu tenang.


"Hola señorita," Zoya menoleh kesumber suara dimana seorang pelayan hotel membawakannya menu makan malam.


"Este es el menú de cena que pediste." (Ini menu makan malam yang anda pesan)


Zoya hanya menganggukan kepalanya dengan kedua sudut bibir yang tertarik ke atas, menciptakan senyum tipis. "Gracias." sahutnya singkat yang mendapat anggukan ramah dari pelayan hotel yang kemudian pamit pergi dari hadapannya.


Zoya menatap menu makanannya, ia hanya tersenyum samar. Sudah sepuluh hari dirinya berada di Spanyol, dan ia seringkali menghabiskan malam di balkon kamar hotelnya.


Zoya melihat lagi layar laptopnya, dari montase perjalanan kariernya yang dibuat akun misterius beralih pada postingan instagram Somi yang tengah menjadi pusat perhatian setelah wanita itu membuat sebuah pengakuan.


Zoya menyandarkan punggungnya kebelakang, melihat akun resmi rumah produksi yang sudah merilis penayangan filmnya. Selama sepuluh hari berada di Spanyol, Zoya tak pernah lepas memantau perkembangan perilisan filmnya di Indonesia berikut juga buntut dari permasalahan yamg sudah diklarifikasinya.


Zoya tahu semua sudah mereda, tapi ia belum cukup siap untuk menampakan dirinya, atau bertemu dengan siapapun orang yang dikenalinya. Wanita itu lantas menutup laptop, meraih ponsel dan menatap foto Ethan yang ia dapatkan dari sosial medianya begitu ia membuat akun palsu dengan ponsel barunya.


Zoya berpikir, jika barangkali saat ini Ethan tengah merindukannya. Sebelumnya, Zoya menghabiskan waktu selama tiga hari di Lombardia. Namun ia buru-buru beralih dari sana ke negara lain lantaran takut Ethan akan menemukannya.


Zoya tahu jika Ethan akan mengingat tempat yang ingin dikunjunginya, dan Zoya belum siap dengan hal itu. Ia butuh waktu cukup lama untuk membiarkan Ethan tanpa kehadirannya. Seharusnya Ethan merasa bebas karena tak akan ada lagi wanita pemaksa dan egois seperti dirinya.


Zoya belum siap bertemu dengan pria itu.


***


Empat hari setelah penerbangan dadakan menuju lombordia, Ethan pulang dengan perasaan hampa. Ia pulang dengan tangan kosong setelah tidak berhasil menemukan keberadaan Zoya.


Hampir seluruh hotel disana didatanginya namun ia sama sekali tidak menemukan sedikitpun jejak istrinya. Padahal Ethan tahu jika wanita itu cukup teledor. Tapi kali ini, Zoya benar-benar menghapus jejaknya dengan sangat baik agar Ethan tidak dapat menemukannya. Dan wanita itu berhasil.


"Gimana Than?" pertanyaan pertama yang seringkali Freya lemparkan padanya saat Ethan pulang ke rumah sang bunda atau saat keduanya berbicara melalui sambungan telepon.


"Bunda," suara pria itu terdengar parau. Wajahnya kusam, Freya tidak tahu sudah berapa lama putranya tidak tidur nyenyak atau bahkan mungkin tidak tidur.


"Ada apa, Sayang?" Freya menangkup kedua sisi wajah putranya dan menatap mata Ethan yang dikelilingi lingkar hitam.


"Apa Ethan harus menyerah menemukan Zoya?"


***


Kesedihan para penonton My Beloved Wife karena akhir yang menyedihkan dari kisah Rain dan Angkasa kian larut ketika Zoya tidak ada di antara mereka untuk menyaksikan film itu bersama saat semua orang berharap wanita itu akan kembali dan berdamai dengan semuanya.


Antusiasme para penonton terus mengalir bahkan dihari kelima penayangan film. Ketika para pemain My Beloved Wife mengunjungi salah satu kota besar untuk berjumpa dengan para fans dan menonton bersama, suasana haru sudah terasa bahkan saat film baru saja dimulai.


Ethan yang hadir di sana sebagai perwakilan dari Zoya hanya mampu bertemu dengan istrinya melalui layar besar di hadapannya yang bahkan tidak bisa ia sentuh.


Ethan sangat merindukan Zoya. Bahkan air matanya seringkali menetes setiap kali membayangkan jika bisa saja Zoya tidak akan kembali ke pelukannya.


Hampir semua orang yang berada di gedung bioskop tampil dengan mata berkaca-kaca sekalipun bibir mereka dihiasi senyum tipis guna mengapresiasi kerja keras Zoya dalam kontribusinya mensukseskan film tersebut.


Mereka membayangkan lagi lika-liku bagaimana proses pembuatan film berlangsung sejak beberapa bulan yang lalu.


Edrin menggenggam tangan Alexa ketika mengingatnya. Bagaimana satu persatu masalah menghambat langkah mereka dalam berjuang ketika memulai syuting.

__ADS_1


Dimulai dari kasus prostitusi yang melibatkan salah satu pemain. Kematian salah satu staf yang menyisakan luka mendalam, kebocoran adegan dan bahkan kasus yang baru kemarin menimpa Zoya Hardiswara. Dari sekian banyak cobaan, mereka mampu melewatinya dan menyelesaikan film dengan baik.


Usai acara menonton selesai, sesi foto bersama dilakukan. Banyak hadiah yang diterima para pemain dari fansnya. Jerih payah yang sudah mereka lakukan membuahkan hasil yang memuasknan. Mereka berhasil mensukseskan film dan menarik lebih dari lima juta penonton dalam sepekan.


"Lihat sini, berikan tanggapan kalian pada My Beloved Wife!" salah seorang fans melakukan siaran langsung dengan ponselnya.


"My Beloved Wife kereeeen parraaah!"


"Angkasa, Rain! tanggung jawab, air mata guaa mahaaal!"


"My Beloved Wife keren, nggak ada obat!"


"Akting Zoya memukau banget, sampe nggak bisa berkata-kata pokoknya. Wajib diapresiasi!"


"Hay, Zoya, kamu dimana? Semoga selalu dalam lindungan Tuhan dan dalam keadaan sehat. Kami bangga padamu. Cepat pulang, kami semua merindukan kamu." ungkapan salah satu fans itu berhasil membuat yang lain bungkam dan kembali banjir air mata.


"Zoya, kami bangga!"


Kebahagiaan itu terasa sempurna, hanya saja, sedikit kurang mengingat tidak ada bintang utama mereka di sana.


Tidak ada Zoya Hardiswara dengan mereka, bahkan hingga berbulan-bulan kemudian. Wanita itu menghilang seolah tak akan lagi menampakan dirinya. Zoya meredupkan diri dari dunia entertainment namun namanya terus bersinar.


Para fans dibuat bangga olehnya ketika wanita itu meraih dua penghargaan sekaligus sebagai pemeran utama wanita terfafovrit dan juga pemeran utama wanita terbaik. Tidak cukup dengan hal itu bahkan My Beloved Wife juga dinobatkan sebagai film terbaik dengan banyak penonton.


Edrin juga mendapat penghargaan sebagai pemeran utama pria terbaik, dan Alexa sebagai pemeran pendatang baru terfavorit. Namun sayang, wanita itu tidak bisa mengambil trophy penghargaannya secara langsung karena ia sudah berada di Amerika sana sesuai intruksi hukuman Rachel atas kesalahan yang sudah dibuatnya, sang momny akhirnya mewakili wanita itu untuk berpidato di atas panggung megah.


Ketika My Beloved Wife memenangkan penghargaan, Arfat, Irpan dan juga beberapa perwakilan pemain menaiki panggung dan menerima penghargaan dengan penuh bangga dan haru yang berbaur menjadi satu.


"Piala penghargaan ini untuk Zoya Hardiswara!" Arfat berseru disusul tepuk tangan meriah seluruh audiens.


Nama Zoya adalah yang paling Irpan dan Arfat banggakan saat ia menyampaikan pidato singkat atas trophy yang berhasil mereka bawa pulang. Kontribusi Zoya sangatlah besar dalam mensukseskan film My Beloved Wife.


Ketika nama Zoya dipanggil untuk naik ke atas panggung sebagai pemenang nominasi pemeran utama wanita terbaik, Selin meminta Ethan untuk naik ke atas panggung. Sementara penghargaan pertama untuk pemeran utama wanita terfavorit diwakilkan oleh Selin sebelumnya.


Sampai detik ini, Ethan masih tidak suka tampil di hadapan media. Tetapi demi mewakili istrinya, ia bersedia naik ke atas panggung megah dengan trophy yang sudah menunggunya.


Ini memang bukan trophy pertama Zoya, bahkan ia sudah berkali-kali memenangkan nominasi tersebut, namun kali ini, pencapaian yang diraihnya terasa berbeda. Terlebih lagi, wanita itu tidak berada di sana untuk menerima penghargaan secara langsung.


Ethan hanya tersenyum dan mengucapkan terimakasih ketika menerima trophy tersebut dari sang pembaca nominasi. Ia menghela napas sebelum kemudian berdiri tepat di podium menghadap sebuah microfon.


"Selamat malam, semua. Saya mewakili istri saya disini untuk menerima penghargaan karena istri saya tidak bisa datang." Ethan diam sesaat, pandangannya tertunduk, raut pilu tersirat di wajahnya sekalipun ia mengukir senyum manis di bibirnya.


Hampir satu tahun ia tak pernah menyerah mencari keberadaan sang istri, namun selama itu pula pencariannya tak membuahkan hasil apapun.


"Andai Zoya di sini, dia pasti sangat berterimakasih kepada semua pihak yang berada di belakangnya dan mendukungnya selama ini. Terimakasih terutama pada agensinya, manajernya dan terlebih pada dirinya sendiri."


"Zoya pasti sangat berterimakasih pada dirinya sendiri. Dan saya sangat bangga kepada dia, saya–" Ethan menghentikan pidatonya saat matanya menangkap sosok dalam kegelapam tepat di tribun paling belakang yang meninggalkan tempat acara.


Ethan dengan cepat menuruni podium dan berlalu dari panggung, membuat semua orang keheranan. "Pak Ethan, mau kemana?" Randy bertanya setengah berteriak, tetapi Ethan tampak tidak perduli dan terus berlari menuju pintu keluar.


Hanya satu hal yang terlintas dikepala Ethan setelah melihat sosok di belakang tribun. Ia yakin jika apa yang dilihatnya adalah Zoya.

__ADS_1


"Zoya, itu pasti Zoya."


TBC


__ADS_2