Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Pemotretan Untuk Poster Film


__ADS_3

Ethan lupa jam berapa dia tertidur semalam setelah benar-benar menyelesaiakan pekerjaannya begitu Naina tertidur lebih dulu setelah ia berbicara dengan Zoya melalui sambungan telepon. Saat ia bangun, matahari sudah bersinar begitu terang dengan suara ramai orang-orang yang sudah kembali pada aktivitasnya masing-masing.


"Shh, gimana, sih?" suara tersebutlah yang membuat Ethan benar-benar terbangun, sisa nyawanya sudah terkumpul penuh, ia segera bangkit dari posisi berbaringnya dan mencari sumber suara. Ia menemukan Naina dengan handuk tersampir di bahunya dan tengah susah payah hendak meraih sesuatu di atas lemari.


Ethan tak segera menegur, ia hanya menatap gadis itu. Satu sudut bibir Ethan terangkat melihat Naina yang tampak kesusahan dengan kaki berjingjit. Selang beberapa detik, gadis itu mendesah dan berkacak pinggang dengan kepala menengadah.


"Apa yang kamu lakukan?" tanyanya kemudian, Naina tampak terkejut mendengar suara Ethan yang tiba-tiba. Ia mengusap dadanya dan menoleh pada Ethan yang sudah dalam posisi duduk, tak lama pria itu turun dari atas tempat tidur sambil mengucek matanya.


"Hmm?" Ethan menaikan alis saat sudah berada di hadapan gadis itu dan Naina tak mengatakan apapun atas pertanyaannya tadi.


"Euu, saya mau ambil sesuatu di dalam koper." Naina menyahut ragu, Ethan lagi-lagi menautkan alisnya. Menatap koper Naina di atas lemari kemudian melangkah satu langkah dan dengan mudah meraih koper tersebut, tapi tak kunjung ia tarik, justru pria itu menatap Naina. "Apa yang mau kamu ambil?" tanya Ethan, "biar saya ambilkan." dengan cepat Naina menggelengkan kepalanya.


"Bi–biar saya aja. Turunin aja kopernya!" gadis itu tampak panik dan justru membuat Ethan penasaran. Ethan menurutinya dan membawa koper tersebut turun, tapi Naina tampak kian panik saat Ethan tak kunjung menyerahkan koper miliknya.


"Pak Ethan–" cegahnya saat Ethan justru hendak membuka koper. Dengan gerakan cepat, Naina merebut koper miliknya dari tangan Ethan, pria yang tidak mengira akan mendapat serangan tiba-tiba itu spontan menghindar dan justru mendapat hal nahas saat kepalanya terbentur pada pintu lemari.


Seketika Ethan memegangi kepalanya, Naina membulatkan mata dan segera menghampiri Ethan, ikut memegangi dan mengusap kepala sang suami.


"Pak Ethan, Pak Ethan, maaf. Maaf, saya nggak sengaja." ucapnya seraya mengusap kepala Ethan berulang kali, menupinya tanpa henti sampai kemudian, gadis itu menjeda aktivitasnya begitu mata Ethan mengarah padanya. Perlahan membuat Naina menurunkan tangannya dari kepala Ethan.


"Sakit?" tanya Naina kemudian, mencairkan suasana. Ethan mengangguk, ikut menurunkan tangannya. Naina sempat menganga saat melihat luka kecil pada pelipis sang suami dengan darah segar di sana.


"Astaga, sakit banget, yah?" Naina mengusap pelipis Ethan. Ethan hanya mengangguk. Naina sama sekali tak mengira jika tindakan yang dilakukannya membuat Ethan celaka.


"Kita ke poliklinik aja?" Ethan menggelengkan kepala. "Cuma luka kecil, tidak masalah, lagipula tidak sakit." sahut pria itu yang membuat Naina berdecak. "Tadi las ditanya sakit malah ngangguk." gerutunya yang membuat Ethan tersenyum kecil.


Naina bangkit menuju kamar mandi, tak lama ia kembali keluar dengan sebuah kotak P3K dan melihat Ethan yang sudah duduk di tepi tempat tidur. Naina segera duduk di samping pria itu. "Biar saya obati lukanya." sahut Naina. Sedikit ragu, baik Ethan maupun Naina saling berhadapan.


Naina sempat berdehem sebelum kemudian mengulurkan tangannya dan merapikan rambut berantakan Ethan sedikit demi sedikit sebelum mengobati luka kecil di pelipis pria itu.


"Aw," pria itu meringis begitu rambut yang menempel pada lukanya tertarik oleh Naina, gerakan tangan Naina sempat tertahan, ia kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya dengan decakkan pelan.


"Sakit dikit aja rewel!"

__ADS_1


Ethan terkekeh kecil. "Yang kecil justru lebih sakit." pria itu menyahut dan membuat Naina berdecih. Usai membersihkan darah pada luka Ethan, Naina menempelkan plester pada luka pria itu. Setelahnya, keduanya hanya saling terdiam dengan jarak yang baru dua orang itu sadari jika mereka begitu dekat.


Dalam jarak tersebut, saat hanya mata keduanya yang berbicara. Ethan mengingat lagi pesan yang istri tercintanya sampaikan semalam, bahkan berulang kali jika ia harus bersikap baik kepada gadis di hadapannya, kepada Naina, istri keduanya.


Tangan Ethan terulur meraih salah satu sisi wajah Naina. Membuat gadis itu seketika mematung di tempatnya saat Ethan mengusapkan tangan lembutnya dan bahkan merapikan anak rambut Naina.


Dalam keadaan seperti itu, Naina hanya terfokus menatap wajah tampan suaminya dengan hati yang berdebar. Ia hanya berharap jika saat ini Ethan tidak mendengar sedikitpun debaran di dadanya yang begitu menggebu, Ethan membuat debaran di hatinya kian menggila saat tangan pria itu beralih meraih tangkuknya dan mendekatkan wajah mereka. Naina benar-benar kehilangan kendali untuk mengontrol diri pada detik berikutnya.


***


PRAANG!!


Suara nyaring pecahan sebuah gelas di atas lantai membuat semua atensi teralih pada Zoya, beberapa orang di sekitar wanita itu segera menghampiri Zoya guna memastikan jika keadaan wanita itu baik-baik saja.


Selin yang sedang mengobrol dengan seorang fhotograper juga segera berjalan dengan cepat menghampiri Zoya. Wanita itu tampak menggelengkan kepala dan mengatakan pada para staf jika ia tidak apa-apa.


"Kenapa, Zoy?" tanya Selin, ia segera meraih tangan wanita itu dan mengajaknya untuk duduk agar Zoya lebih tenang. Salah satu staf membawakan segelas air putih untuk Zoya. Selin menyerahkan gelas berisi air putih tersebut pada aktris cantiknya, wanita itu menenggaknya sedikit.


"Enggak Mbak, tanganku licin. Cuma kepeleset aja." sahut Zoya, menenangkan Selin yang tampak begitu khawatir padanya.


"Kamu beneran nggak apa-apa?" Selin bertanya sekali lagi untuk memastikan. Zoya menganggukan kepala guna meyakinkan Selin jika ia benar-benar baik-baik saja, Zoya benar-benar merasakan jika tangannya licin karena keringat sehingga membuat gelas yang diraihnya terjatuh.


"Aku baik-baik aja, Mabk. Serius." sekali lagi Zoya meyakinkan saat dilihatnya jika Selin tampak masih khawarir padanya.


"Habis ini kita langsung ke lokasi pemotretan buat poster film baru kamu. Edrin sama manajernya udah ada di sana. Kamu beneran baik-baik aja, 'kan?" panjang lebar Selin yang sudah mendapat pesan dari salah satu kru. Beruntung, agenda Zoya yang sudah Selin atur berjalan sesuai dengan harapannya.


Zoya mengangguk sebagai jawaban, tak lama setelahnya keduanya meninggalkan lokasi setelah berpamitan pada pemilik brand make up yang datang secara langsung untuk melihat proses pemotretan.


Hanya butuh waktu kurang dari setengah jam untuk Zoya dan Selin tiba di lokasi selanjutnya. Kedatangan Zoya segera disambut seorang stylist yang sudah menunggunya di studio make up untuk segera merombak penampilan Zoya.


"Sudah lama Mbak?" Selin berbasa-basi pada manajer Edrin yang tengah memerhatikan seorang hairstylist menata rambut Edrin. Melalui pantulan cermin, pria itu mengukir senyum sopan menyambut kedatangan Selin.


"Tidak masalah, hari ini jadwal Zoya padat dari biasanya?" jawaban manajer Edrin membuat Selin menyimpulkan jika barangkali Edrin dan manajernya tersebut memang sudah lama tiba. Tapi tampaknya mereka sangat maklum atas jadwal Zoya yang memang lebih padat hari ini.

__ADS_1


"Hmm, memang waktunya sedikit berdekatan, jadi Zoya lumayan kewalahan." Selin menjawab dengan kekehan yang disambut tawa oleh manajer Edrin.


Tak lama, Zoya keluar dari ruang ganti dengan pakaian yang sudah diperuntukan untuknya. Seorang hairstylist wanita dan perias dengan segera mendandani Zoya.


"Kamu cukup tegang." Edrin di sampingnya bersuara, Zoya hanya mendesah. Bagaimana mungkin ia tidak tegang, hari ini dirinya akan melakukan pemotretan dengan pria itu tanpa sepengetahuan Ethan.


"Biasa aja." Zoya menyahut singkat, Edrin justru terkekeh kecil bagai meremehkannya.


Ketegangan itu terus terjadi bahkan saat pemotretan berlangsung, bahkan keduanya sempat beberapa kali beristirahat karena Zoya tidak fokus dan hasil foto keluar tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Wanita itu tidak dapat mengontrol perasaannya.


"Zoy, kamu baik-baik aja, 'kan?" Selin mengingat kejadian beberapa saat lalu dan takut jika Zoya berbobong mengenai kondisinya.


Wanita yang sedang menenggak air putih itu menganggukan kepala. Edrin yang juga tengah menempelkan bibir akua ke bibirnya hanya menatap Zoya seolah sedang membaca raut wajah wanita itu.


"Zoya, Edrin. Sudah siap?" seorang kru bertanya, dua bintang itu segera mengangguk dan kembali pada posisi. Sebelumnya, Selin sempat merapikan anak rambut Zoya. Ia tersenyum menyemangati wanita itu Sebelum akhirnya Zoya kembali melanjutkan pemotretan dengan Edrin.


"Zoya, sedikit geser coba!" sang fhotograper mengarahkan Zoya karena wanita itu terlihat menjaga jarak dari Edrin.


"Sedikit lebih intim! Sesuai sama konsep posternya nanti." sambungnya seraya menggerkan tangan guna mengarahkan.


Zoya sempat mendehem guna mengusir kegugupannya. "Kamu nggak perlu gugup Zoya, ini bukan kali pertama kamu jadi model dan ngejalanin pemotretan." Edrin berbicara pelan.


"Cukup dengarkan pengarahan photograper." sambungnya dengan berbisik seraya merangkul pinggangnya.


"Nah, bagus seperti itu!" photograper tampak bersemangat.


"Kamu enak ngomong kaya gitu karena gak perlu jaga perasaan siapapun." Zoya menyahuti, Edrin hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya, telunjuknya dengan piawai mengarahkan dagu Zoya agar menghadap padanya sehingga keduanya bisa saling bertatapan.


"Siapa perduli. Di sini, kamu sedang bekerja. Dan kamu dituntut untuk profesional." sahut Edrin, telak karena tak dapat membuat Zoya buka suara. Keduanya melanjutkan pose, Sutradara begitu juga sang produser film yang ada di sana untuk menyaksikan berlangsungnya acara pemotretan tampak terlihat puas atas chemistry yang berhasil dibangun oleh Edrin dengan Zoya.


"Tetap fokus, di sini kamu hanya boleh natap aku!" interupsi Edrin, Zoya berdecih, tapi saat sang photofraper menyuruhnya untuk mengalungkan tangan di leher Edrin, hal itu tetap Zoya lakukan sekalipun dadanya berdebat hebat.


TBC

__ADS_1


__ADS_2