Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
BAB 16


__ADS_3

"Aku pamit pergi!" kata Shinta yang setelah itu memutuskan untuk segera meninggalkan meja makan.


Melihat akan hal itu, Andika tentu tidak terima dan berniat ingin mengejar istrinya.


Namun sentuhan tangan Nur, mampu membuat niatnya menjadi urung seketika.


"Biarkan saja dia, lebih baik kau lanjutkan saja makanmu itu."


Mau tak mau akhirnya Andika pun menuruti kemauan dari sang nenek.


Sementara Rosi, melihat wanita itu pergi. Dia pun akhirnya memutuskan untuk pamit juga.


"Kau mau kemana?" tanya Nur merasa heran.


"Em, mau mencari udara nek sebentar! Disini terlalu panas." jawabnya mencari alasan.


"Baiklah, jangan terlalu lama dan cepatlah kembali! Karena akan ada hal penting yang harus kita bahas." pesan Nur, dan Rosi pun langsung mengangguk.


Rosi keluar dan mencoba untuk mencari-cari keberadaan Shinta, hingga akhirnya pandangan wanita itu tertuju ke arah taman yang berada di samping.


"Nah itu dia!" gumamnya, dan langsung berjalan ke sana.


"Sedang apa anda disini nona?" tanya Rosi sehingga membuat Shinta langsung menoleh sesaat.


"Bukan urusanmu, jadi lebih baik pergilah dari hadapanku sekarang juga."


"Tidak akan, karena aku tidak mau!" balas Rosi.


Shinta tidak menjawab dan memilih untuk diam saja. Berbicara dengan wanita itu tidak akan ada gunanya, pikirnya!


"Kenapa anda tidak masuk, sebentar lagi nenek akan membahas soal rencana pernikahan ku dan juga suamimu itu. Jadi persiapkanlah dirimu! Jangan sampai pada saat hari H nya kau malah jatuh pingsan karena syok." ucap Rosi dengan tertawa sangat puas.


"Oh ya?" tanya Shinta.


"Ya,"


"Rosi yang manis, dengarkan aku baik-baik! Berusaha lah sebisa mu untuk mendapatkan Andika. Tapi satu hal yang perlu kau ketahui, bahwa selama aku masih hidup dan masih menginjak kan kaki di tanah. Maka aku tidak akan membiarkan suamiku menikah lagi dengan wanita lain."

__ADS_1


"Dasar wanita tidak tahu malu, apa kau tidak punya harga diri sedikit pun. Sampai bisa menghalalkan segala cara, demi mendapatkan Andika. Bahkan kau sudah merebutnya dari ku." bentak Rosi penuh amarah.


Sementara Shinta hanya bisa tersenyum manis kepada wanita itu. "Kau tau aku sudah bersusah payah untuk mendapatkannya sampai aku merelakan harga diriku sendiri. Jadi, akan ku perjuangkan Andika sampai di titik terakhir. Karena sayang sekali jika seandainya perjuangan yang ku lakukan hanya berakhir sia-sia saja."


Puas sudah rasanya Shinta membuat wanita itu menjadi emosi hingga sekarang. Dan memutuskan untuk segera pergi.


Namun sayangnya ia malah tak sengaja bertemu dengan suaminya.


"Ada apa?" tanyanya seolah tidak terjadi apapun.


"Apa yang sedang kalian bahas?" tanya Andika.


"Tidak ada!" balas Shinta sambil tersenyum.


Sementara Rosi, setelah melihat wanita itu pergi. Langsung saja ia berjalan menghampiri tunangannya tersebut.


"Ku harap kau tidak tuli Andika, sudah jelas-jelas aku melihat mu bersembunyi di balik pohon itu. Jadi mana mungkin kau tidak mendengar pembicaraan kami. Kau sudah berjanji padaku, dan aku tidak ingin jika sampai kau ingkar janji, dan membatalkan pernikahan kita." ucap Rosi benar-benar memohon kepada pria itu.


"Aku tidak ingkar janji, kau lihat sendiri bagaimana aku memperjuangkan untuk tetap menikahimu. Tapi kau juga melihat bagaimana Shinta yang terus berambisi menggagalkannya. Jadi kau cukup paham bukan?"


Lagi-lagi Rosi harus dengan susah payah mencoba untuk menelan ludahnya sendiri.


Shinta yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan Nur, kini akhirnya melihat kedatangan suaminya. Namun sebuah senyuman yang baru saja ia tampilkan harus menghilang secara mendadak ketika melihat kedatangan Rosi yang berada tepat di belakang pria itu.


Terlihat Rosi yang hendak duduk di samping suaminya, dengan cepat-cepat ia pun langsung mengambil alih posisi tersebut.


"Kenapa melihatku seperti itu? Kau tidak senang, itu urusanmu. Karena aku tidak akan peduli," kata Shinta yang langsung memeluk erat tangan suaminya dengan sangat manja.


Membuat Rosi seketika langsung di buat melotot.


"Kau!" tunjuk wanita itu.


"Kau duduklah bersama nenek!" perintah Andika.


Mau tak mau, wanita itu pun hanya bisa menurutinya, dan duduk di samping Nur.


"Jangan cemberut seperti itu, jika kau tidak suka duduk di sampingku. Baiklah kita batalkan saja rencana pernikahan ini." ancam Nur karena begitu tidak suka dengan ekspresi yang di tunjukan oleh Rosi kepadanya.

__ADS_1


"Ah, tidak-tidak! Maafkan aku nek, sebenarnya_"


"Ah sudahlah aku tidak mau mendengar omong kosongmu." potong Nur, yang mampu membuat Shinta harus menahan tawanya ketika melihat ekspresi dari wajah Rosi.


Setelah selesai membahas tentang hal yang sama sekali tidak ada kaitan dengan dirinya. Akhirnya semuanya telah usai, dan Shinta yang sudah telanjur mengantuk pun meminta kepada Andika agar mereka tidak perlu berlama-lama lagi berada disini.


Dan mereka berdua pun akhirnya memutuskan untuk segera pulang.


"Shinta ku dengar dari Andika bahwa kau masuk rumah sakit karena penyakit maag mu yang kambuh. Jangan menyusahkan orang lain, dan makanlah secara teratur. Kau membuat cucuku Andika harus berjaga semalaman karena ulahmu itu." Nur memarahinya sekaligus tanpa sadar juga memberinya nasehat.


"Hm, baiklah nek! Aku tidak akan menyusahkan nya lagi setelah ini." balas Shinta yang langsung menyalim tangan Nur, dan bergantian pula dengan Andika setelah itu.


Di dalam mobil...


"Apa benar yang di katakan oleh nenek? Kau menjagaku semalaman?" tanya Shinta penasaran karena memang ia tidak tahu tentang pasal itu.


"Hm," jawab Andika singkat dan memilih untuk pokus mengemudi.


"Kau bilang sangat mengantuk, tapi bahkan matamu masih terbuka saja sejak tadi." tegur Andika, lalu membuat Shinta langsung tertawa.


"Haha, iya!"


"Tidurlah, ini sudah sangat malam." Sekilas Andika melihat ke arah jam tangannya, dan benar saja karena kini waktu sudah menunjukan pukul 00.00


Shinta pun mencoba untuk memejamkan matanya, hingga berakhir ketiduran di dalam mobil.


...----------------...


Beberapa hari kemudian...


"Senior!" ucap Adipati, berbicara kepada Herman.


"Ada apa? Oh ya kenapa kau sudah lama tidak masuk kerja. Apa kau sedang sakit?" tanya pria itu, karena melihat ada banyak bekas luka lebam pada wajah anak muda ini.


"Iya, aku memang sedang sakit Senior! Dan ini semua adalah perbuatan dari Shinta. Putri Senior memang sangat hebat dalam menghabisi seseorang. Itu sangat keren!" balas Adipati, dan Herman hanya bisa membalasnya dengan tertawa.


"Aku memang mengajarinya ilmu bela diri, jadi jangan heran. Lagi pula kenapa kau mencari gara-gara dengannya? Karena Shinta tidak akan menyerang jika tidak merasa terancam. Pasti ada sesuatu yang terjadi." tebak pria tua itu.

__ADS_1


Dan Adipati hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hehe, sebenarnya!"


__ADS_2