Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Klepon Onde - Onde dan Putu Ayu


__ADS_3

Berita kehamilan Zoya dengan cepat menyebar dan menjadi buah bibir semua orang. Ia kebanjiran ucapan selamat, terutama dari para fans - nya, bahkan dua hari setelahnya ia mendapat banyak kiriman hadiah dari para fans. Meski banyak juga dari mereka yang mengungkapkan kekecewaan karena dengan hal itu Zoya akan vakum dari dunia entertaint hingga waktu yang tidak bisa ditentukan.


Zoya lebih memilih beristirahat dari segala kegiatannya dan menetap di rumah. Menjadi istri seutuhnya yang baik untuk sang suami dan melayani segala kebutuhan Ethan dengan sempurna. Selama dua bulan ia menjalani rutinitas tersebut sebagai istri Ethan sepenuhnya tanpa sedikit pun jadwal pemotretan atau sesuatu hal yang berkaitan dengan statusnya sebagai bintang hiburan.


Keadaan Bibi Naina di kampungnya sudah pulih, namun begitu Naina tak berniat membuat sang bibi bekerja di rumah Zoya dan Ethan, ia tak ingin jika bibirnya kelelahan. Cukup ia yang bekerja dan membiayai kebutuhan sang Bibi di kampung halaman.


"Nanti pulangnya mau dibawain apa?" tanya Ethan sambil menyisir rambut, Zoya yang baru masuk ke kamar setelah dari lantai bawah menoleh.


"Mmm, aku lagi pengen apa, yah?" wanita itu berpikir. Ethan berbalik badan, menatap istrinya dengan senyuman. Ia harus merasa kecewa saat Zoya jarang meminta apa pun padanya. Wanita itu tidak ngidam macam - macam sepertu wanita hamil pada umumnya yang bahkan terkadang menginginkan sesuatu hal yang sulit di dapat.


Pernah suatu ketika, Ethan protes pada sang istri karena Zoya tak pernah minta apa pun padanya meski sering kali pria itu menawarkan banyak hal yang sekiranya menjadi keinginan Zoya. Mulai dari makanan mahal, pakaian dari desainer ternama, sepatu merk terkenal, tas limited edition dan semacamnya. Bahkan mengajaknya berlibur ke luar negri. Tapi Zoya konsisten menggelengkan kepala, karena ia sungguh tak menginginkan apa pun. Terutama semua hal berbau kemewahan yang Ethan tawarkan.


"Kamu kenap, sih? Biasanya orang kalau hamil permintaannya banyak dan macam - macam. Kenapa kamu tidak?" tanya pria itu suatu hari saat Zoya tengah menikmati camilan di ruang baca.


Zoya mengernyit mendapati pertanyaan seperti itu dari sang suami. Ethan menatap sang istri dengan tatapan pasrah – atau lebih tepatnya kecewa.


"Kamu bukannya bersyukur aku nggak ngerepotin." cibir wanita itu, kembali menikmati camilan dengan tatapan lekat pada layar televisi.


"Sayang, kalau kamu nggak ngerepotin saya, saya harus direpotin sama siapa?"


"Maksud saya, kalau kamu pengen sesuatu bilang, saya yang akan carikan. Ke ujung dunia pun bakal saya cari." pria itu berucap dengan berapi - api.


Zoya tersenyum menatap sang suami. "Sigap banget yang pengen punya banyak anak." cibirnya, kali ini Ethan tersenyum lebar. Lantas menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita itu.


Setelah kejadian tersebut, rupanya Zoya merasa tidak enak pada sang suami karena tidak merepotkannya. Jadilah ia selalu memesan sesuatu ketika Ethan akan pulang dari gedung agensi.


Permintaan wanita itu tidak pernah macam - macam. Selalu makanan yang dipesannya, sehingga dalam waktu dua bulan badannya sudah begitu berisi. Tapi di mata Ethan, dia begitu seksi.


"Mm ...," Zoya masih berpikir, Ethan masih menunggu dengan setia. Wanita itu merasa sudah bosan dengan makanan kekinian yang sering suaminya bawakan, sehingga kemudian terlintas di kepalanya untuk memesan jajanan tradisional pada Ethan. Zoya tidak sengaja melihat sebuah vidio di ponselnya mengenai jajanan tradisional semalam, kemudian saat sekarang Ethan bertanya apa yang dia inginkan, maka Zoya tau jawabannya.


"Aku mau klepon, onde - onde, sama putu ayu."


Ethan mengernyit mendengar nama makanan yang dipesan sang istri. "Apaan, tuh? Belinya di mana?" tanyanya. Wanita itu mengangkat bahu acuh.


"Enggak tau, tapi pulang harus dapet, yah." Zoya tidak mau tau.


"Sayang–"


Ethan bingung, terlebih ia pertama kali mendengar nama makanan yang tadi sang istri sebutkan.


"Oh, iya. Aku mau nemenin Mbak Selin fitting baju pengantin. Janji pulangnya nggak akan sore - sore." sahutnya, tak mau tau dengan apa yang akan suaminya katakan mengenai makanan yang ia pesan.


"Kamu yakin aman?"


"Aku cuma ke butik, abis itu udah."


"Kapan? Jam berapa?"


"Gimana nanti Mbak Selin jemput aja." Zoya menyahut seperlunya, kemudian menggandeng Ethan untuk turun ke lantai bawah dan melaksanakan sarapan sebelum pria itu berangkat ke perusahaan.

__ADS_1


"Tidak usah banyak gerak dan ingat hati - hati. Jangan pakai sepatu tinggi - tinggi." pesan Ethan saat keduanya sudah duduk di kursi meja makan.


"Iya, di luar kepala aku udah hapal. Kamu nggak perlu khawatir." Zoya tau apa yang harus ia lakukan. Dan Ethan selalu tak lupa untuk mengingatkan.


"Janji nggak akan kenapa - napa?"


"Hmmm."


Naina yang melihat hal itu hanya tersenyum. Ia tau bagaimana bentuk perhatian seorang Zeinn Ethan pada istrinya. Namun saat Zoya hamil, perhatian pria itu meningkat beberapa puluh persen dari sebelumnya. Ethan sangat menjaga Zoya, bahkan tak membiarkan istrinya itu kelelahan sedikit pun. Pria itu benar - benar belajar baik dari pengalamannya. Ia tak ingin kisah pahit itu berulang dan menyakitinya dengan Zoya. Terutama sampai kehilangan calon anak mereka.


**


Seperti biasa, Randy datang menjemput Ethan berangkat ke perusahaan. Pria itu sudah bertekad, ia akan tetap bekerja dengan Ethan meski akan menikah dengan Selin. Pernikahannya dengan wanita itu akan digelar satu minggu dari sekarang. Ethan sudah menawarinya libur sejak awal saat ia mengurus proses persiapan pernikahan.


Namun jiwa pekerja kerasnya memaksa ia mengurus dua hal itu dalam waktu bersamaan. Sehingga ia masih bisa mengurus persiapan pernikahannya meski tetap bekerja.


Semudah itu mereka memutuskan untuk menikah setelah perencanaan yang matang begitu menjalin kedekatan selama dua bulan. Pun usia keduanya sudah sangat ideal untuk menikah sehingga Randy tak ingin menunda - nunda lagi.


"Kamu tau kue klepon, onde - onde sama putu ayu? Biasanya di mana yang jual?" tanya pria itu begitu masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya ia berkutat dengan ponselnya, mencari info mengenai tiga kue yang Zoya inginkan.


"Istri yang minta?" pria itu sudah dapat menebak. Tak jarang ia mengantar Ethan untuk membeli makanan tertentu yang Zoya pesan.


"Iya."


"Mmm." Randy terdiam sebentar. Lantas menoleh pada Ethan. "Ngidam?" tanyanya lagi. Randy patut merasa kagum pada Zoya, di mana biasanya wanita itu sangat merepotkan Ethan. Randy mengira begitu hamil wanita itu akan sangat menyulitkan, faktanya Zoya benar - benar patut diacungi jempol.


"Di pasar - pasar tradisional, sih, biasanya."


"Biasanya ada yang mangkal juga, sih, di pinggir jalan. Tapi sekarang udah jarang."


"Oh, atau ...., aku tau tempatnya. Ada ibu - ibu yang mangkal di deket tempat tinggal orang tuaku. Dia jualan jajanan trasisional versi lengkap, mau ke sana sekarang nggak?"


"Kalau sore nggak bisa?"


"Bisa. Tapi kue - kue yang Zoya mau udah abis."


"Yaudah, kita ke tempatnya sekarang." suruh Ethan setelah melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Perlu diketahui jika tempat tinggal orang tua Randy berada cukup jauh dari gedung agensi mau pun dari kediaman Ethan dan Randy sendiri. Perlu waktu lebih dari satu jam untuk menempuhnya.


"Demi istri." begitu batin Ethan.


**


"Fitting baju pengantinnya nggak jadi?" tanya Zoya pada Selin yang datang ke rumahnya dan mengatakan jika fitting gaun pengantin di undur dua hari kemudian.


"Nggak kepepet, tuh?"


"Yaudahlah, nggak masalah. Lagian nggak buru - buru juga." komentar Selin dengan mudah. Wanita itu tampak santai meski sebentar lagi akan menikah.


"Lagian Randy juga masih sibuk sama Pak Ethan." sambungnya. Zoya mengangguk - anggukan kepala. Padahal ia pernah mendengar Ethan menyuruh Randy mengambil libur selama mengurus proses pernikahan. Tapi pria itu menolak.

__ADS_1


"Randy belum ngambil tawaran libur dari Ethan, yah?" Zoya akhirnya bertanya.


"Dia bilang baru dua hari lagi. Lagian Mbak juga bantu ngurus proses persiapan, dia juga dibantu sama kakaknya, jadi nggak sibuk sendiri." terang wanita itu. Zoya memperhatikan Selin, membuat wanita yang ditatapnya merasa was - was dan heran.


"Kenapa?"


"Mbak Selin nggak deg - degan mau nikah? Gugup, senang, atau apa kek. Tunjukin ekspresi gituh. Mau menghadapi masa paling sakral dalam hidup." oceh Zoya, panjang lebar.


"Hmm, seneng." justru Selin menyahut seperlunya.


"Gitu ekspresi senengnya?"


"Iya. Emng harus gimana?"


"Harus banget deg - degan, yah, kaya pas kamu mau nikah sama Pak Ethan, gituh?" sindir wanita itu yang membuat Zoya seketika mengerucutkan bibir.


"Ya deg deg - an lah orang gak tau apa - apa, kenal juga nggak terlalu akrab masa tiba - tiba aja ngejalanin proses pernikahan."


"Kan ajaib." sahutnya yang membuat Selin tertawa, sampai kemudian, suara ketukan pintu membuat Zoya beranjak dari duduk, namun Naina lebih dulu muncul dari arah dapur dan berseru. "Biar saya aja yang buka pintu, Mbak."


Alhasil, Zoya kembali duduk dan mengobrol dengan Selin. Sampai sebuah suara yang dikenalinya tiba - tiba menyapa indera pendengarannya. Ia segera bangkit dari duduk. sekilas matanya menangkap Naina yang berjakan ke arah dapur dengan membawa dua kotak kardus berukuran kecil yang ia tidak tau apa isinya. Selin ikut duduk dan tersenyum sopan pada Grrycia, menyambut kedatangan perempuan itu.


"Zoya, apa kabar?"


"Baik, Mami. Mami tumben ke sini." sahutnya. Karena biasanya Grrycia sesekali hanya menelpon dan menanyakan keadaannya.


"Mami ke sini mau nginep? ke sininya di anter sopir atau Papi Andre?" tanyanya lagi, beruntun, Grrycia menggelengkan kepala setelah Zoya membawanya duduk pada sofa.


"Mami ke sini cuman mau ngeliat kamu, hmm nggak nginep. Nanti Papi Andre protes," ucapnya yang diakhiri cekikikan.


"Mami ke sini diantar sopir, biasa Papi Andreas di kantor." terangnya kemudian.


Zoya mengangguk - anggukan kepala, tak lama Naina datang ke ruang tamu dengan piring berisi sesuatu di atasnya. Seketika mata Zoya berbinar melihat hal itu. Merasa pernah melihat, bahkan sekarang ia sangat menginginkan untuk segera memakannya.


"Ini klepon Mi?" tanyanya. Grrycia mengangguk heran. "Iya. Kenapa? Kamu nggak suka?"


"Zoya lagi pengen Mami," ujarnya yang kemudian mengambil satu kue klepon dan mencicipinya. Wajahnya terlihat begitu berbinar, senang.


"Kebetulan banget kalau gitu. Tadi pagi - pagi Nasya, temen Mami datang ke rumah dan bawa kue klepon banyak banget. Dia emang suka bikin kue,"


"Ini katanya lagi nyoba bikin kue tradisional."


"Jadinya Mami bawa ke sini karena di rumah nggak ada yang makan. Syukur kalau kamu suka," sahutnya mengusap kepala Zoya. Wanita itu tersenyum senang, ia patut merasa bersyukur karena dikelilingi oleh orang - orang yang baik.


Grrycia yang bahkan tidak terlalu akrab dengannya begitu perhatian, terutama sejak ia hamil. Terutama Freya yang dua atau tiga hari sekali mendatanginya untuk melihat kondisinya dengan membawa sesuatu yang sekiranya disukai ibu hamil.


Zoya di kelilingi oleh orang - orang baik dari keluarga Ethan.


Sekali lagi ia harus berterimakasih pada sang suami. Ethan membawanya di tengah - tengah keluarga yang begitu sempurna.

__ADS_1


TBC


__ADS_2