
Agyan kembali ke Rumah Sakit tepat saat Andreas dengan Grrycia keluar dari sana. Wajah tampan pria itu tampak lelah, Freya hanya menggenggam tangan Agyan.
"Masalahnya udah beres?"
"Udah."
"Tadi Mami sama Papi ke sini."
"Sedari pagi mereka di sini, Yang."
"Mami Papi kamu!"
Agyan terdiam menatap Freya. Istrinya itu hanya menganggukan kepala. Lantas ia bercerita, jika Andreas mengalami kecelakaan dalam perjalanan menemui kliennya demi mengejar waktu untuk datang dalam acara pembukaan galeri seni milik Agyan.
"Papi minta maaf sama kamu,"
"Papi bilang, dia nyesel."
Agyan benar-benar hanya diam. "Gyan, kamu maafin Papi, 'kan?" tanyanya setelah tidak mendapat respond apapun dari Agyan.
Selanjutnya, Freya bercerita tentang bagaimana hangatnya melihat Andreas dan Warry yang berdamai dengan masa lalunya dan memilih benar-benar tulus merestu Freya dan Agyan.
"Aku harus ketemu Papi," Agyan bangkit, membuat tangannya yang digenggam oleh Freya terlepas begitu saja. Dengan cepat berlalu dari ruangan Freya.
Setengah berlari, Agyan menyusuri lorong Rumah Sakit mencari di mana letak ruang rawat Andreas sesuai yang ditunjukan oleh Freya.
Perasaan Agyan tidak karuan. Ia sudah berburuk sangka pada papinya sendiri. Mengira, jika Andreas memutus ikatan darah di antara mereka. Pada kenyataannya, Andreas berusaha keras untuk bisa datang bahkan sampai mengorbankan nyawanya.
Rasa sesal tiba-tiba saja menggerogoti perasaan Agyan ketika ia mengingat di mana hari itu Grrycia terus menghubunginya. Dan dengan egoisnya, Agyan mengabaikan panggilan dari Grrycia.
Saat itu, ia tengah di rundung rasa kecewa yang teramat sangat. Karena bukan banya sekali Andreas tidak memenuhi undangan darinya. Meski Agyan yakin, jika sang Papi pasti memiliki alasan yang selalu masuk akal.
Agyan menghentikan langkahnya tepat di brankar di ruang rawat Andreas. Ia kembali melanjutkan langkah dengan pelan saat tak melihat ada siapapun di sana. Hanya ada seorang suster yang sedang membereskan ruangan.
"Maaf, Sus. Pasien di ruangan ini, apa dia dipindahkan?"
"Oh, tidak."
"Pasien di ruangan ini meminta pulang cepat, Pak."
"Oh, Terimakasih, Sus."
Sang Suster mengangguk dan kembali melanjutkan pekerjaannya. Sementara Agyan mematung di sana, ia melanglah keluar dari ruangan.
Langkahnya kian cepat dan berubah setengah berlari ke arah parkiran. Barangkali Andreas dan Grrycia masih berada di sana. Namun nihil, Agyan tidak dapat menemukan apapun. Orangtuanya sudah berlalu dan Agyan tidak mungkin mengejarnya.
Langkah kakinya membawa ia kembali pada sang istri. Agyan membuka pintu dengan perlahan, mengukir senyum pada istrinya yang menggendong salah satu bayi mereka.
Agyan duduk dan menatap putrinya. "Mau kita kasih nama apa?" tanya Agyan dengan suara parau. Ia tidak ingin membuat kepikiran jika ia tidak menemukan Andreas tadi.
"Aku kira kamu udah siapin nama buat mereka." Freya sedikit kecewa. Agyan lagi-lagi hanya tersenyum. Ia menoleh pada bayi laki-laki yang tertidur di dalam boks.
"Zeinn Ethan Maheswarry." ungkapnya, lantas ia menoleh pada bayi dalam gendongan Freya.
"Zeinn Arasy Maheswarry."
"Itu nama yang udah aku siapin, kamu setuju?"
__ADS_1
Kali ini Freya tersenyum senang. Ia mengangguk dan mendaratkan ciuman pada bayinya. Pada Arasy.
"Sayang."
Freya yang tengah menciumi Arasy mengalihkan tatapannya pada Agyan.
"Ada apa?"
"Terimakasih, yah."
Freya tersenyum. "Kamu udah bilang itu."
"Aku sayang kamu."
"Kamu udah sering bilang yang itu."
Agyan terkekeh, ia tau jika sang istri sedang berusaha menghiburnya. Untuk sesaat, perasaan Agyan kembali lega. Ia bangkit, mencium Arasy dalam gendongan Freya, kemudian menengadah, mendekatkan wajahnya pada Freya.
Untuk malam ini dan seterusnya, Agyan hanya meminta satu hal pada Tuhan. Ia ingin agar kebahagiaan ini tak akan pernah sirna dalam hidupnya.
Satu minggu berlalu dengan begitu cepat. Freya yang sudah kembali ke rumah mulai disibukan dengan kegiatan mengurus kedua buah hatinya.
Segala kegiatan seorang ibu dilakukannya dengan baik atas bantuan Agyan dan Bi Ningrum. Ia tidak menyewa jasa pengasuh meski Agyan menawarkan.
Karena bagi Freya, menjadi seorang ibu yang sempurna adalah melihat tumbuh kembang sang anak setiap harinya dengan mata kepalanya sendiri.
"Diem, yah, Sayang. Bunda mandiin Kakak dulu."
Freya sedikit kerepotan saat Arasy yang sudah duluan mandi merengek. Bi Ningrum yang kadang membantunya memandikan si kembar sedang menyiapkan sarapan, sehingga Freya melakukannya sendiri hari ini.
Agyan yang baru saja keluar dari kamar mandi tersenyum melihat istrinya yang sedang kerepotan.
"Dia kaya kamu." komentar Freya yang sedang membuka pakaian Ethan.
"Bagus dong,"
"Kata Mami Grrycia, pas bayi kamu juga rewel. Sering gangguin Mami sama Papi."
Agyan berdecak. "Jangan dong, Arasy gak boleh gangguin kita."
Freya berdecak pelan, kemudian berlalu untuk memandikan Ethan. Agyan hanya tersenyum, ia mengakui kepiawaian Freya mengurus anak mereka. Gadis itu cekatan, dalam kesibukannya mengurus si kembar yang terkadang rewel, ia masih sempat mengurus segala keperluan Agyan. Sepeeti menyiapkan pakaian Agyan misalnya.
"Kalau Arasy-nya tidur, kamu cepet ganti baju. Aku udah siapin, nanti kamu kesiangan." sahut Freya di sela-sela ia yang sedang mengurus Ethan, bayi tampan itu tampak mengantuk.
"Iya Sayang."
Pada akhirnya, Agyan tidak jadi cuti. Karena ia harus menjalankan perusahaan dan menstabilkannya. Beruntung, saat ini perusahaan yang Agyan rubah menjadi AE RCH Pictures (Arasy Etahan Rachel Pictures) sudah mulai normal dan berjalan seperti semula.
Oleh sebab itu, malamnya Agyan sering sekali bergadang menamani Freya jika si kembar bangun malam. Karena pada siang hari, Agyan tidak banyak menghabiskan waktunya dengan si kembar, ia harus bekerja, dan ia tidak banyak membantu Freya dalam mengurus anak mereka.
Agyan kembali setelah memakai pakaiannya. Freya yang sudah selesai merapihkan Ethan menghampiri Agyan. Membantu sang suami merapihkan pakaiannya.
"Aku mau nemuin Papi," ungkap Agyan, tangannya terangkat untuk menyelipkan rambut Freya ke belakang telinga. Ia juga menyeka keringat di dahi Freya.
"Kamu pasti cape."
Freya tersenyum. "Dateng ke perusahaannya apa ke rumah?" ia kembali pada topik pertama Agyan.
__ADS_1
"Rumah."
"Jam segini kayaknya Papi belum berangkat ke kantor."
"Jadi kamu nggak sarapan di rumah?"
"Aku sarapan di kantor aja."
Freya mengambil jas, memasangkannya pada Agyan. Ia bangga pada suaminya yang sekarang berada di posisinya saat ini. Agyan masih akan menjalani syuting dan membintangi beberapa film. Bulan depan, Agyan akan terlibat dengan sebuah film yang diproduksi perusahaan lain dan bekerja sama dengan AE RCH. Agyan didapuk sebagai pemeran utama karena karakternya dinilai cocok.
"Kamu hati-hati."
"Kamu juga jaga diri baik-baik di rumah."
Freya mengangguk, Agyan mengecup kening Freya. Kemudian ia melangkah dan menciumi anak mereka satu persatu.
"Aku berangkat."
Freya mengangguk, melambaikan tangan pada Agyan yang berjalan menuju pintu keluar.
*
*
Agyan cukup merasa heran saat gerbang rumah Andreas terkunci. Tidak ada satpam, atau siapapun di sana yang dapat ia tanyai.
Atau mungkin, Andreas dan Grrycia pergi ke Surabaya untuk menjemput Shanty? Entahlah. Agyan merogoh ponsel dan menghubungi seseorang.
"Bang, Papi ada di perusahaan?" Agyan langsung menyambar Rayn dengan pertanyaan.
Namun, saudara sepupunya itu justru menyuruh Agyan untuk datang ke perusahaan. Agyan menurut dan segera menyuruh Aryo untuk melajukan mobil menuju Zeinn Group.
"Pindah? Kapan?"
Agyan benar-benar terkejut setelah Rayn menyampaikan padanya jika Andeas dengan Grrycia sudah pindah sekitar tiga hari yang lalu.
Rayn mengangguk atas pertanyaan Agyan tadi.
"Kurang tau, Om Andre ngobrolnya sama Papa."
"Acara Sertijab juga sudah dilaksanakan tepat sebelum Om Andre pindah. Sekarang, Papah yang kembali memimpin perusahaan."
"Om Andre berpesan, kalau loe mau masuk ke perusahaan, ada posisi yang tepat buat loe!"
Agyan menggeleng kecil, menolak langsung tawaran Rayn. Hati dan kepalanya sedang dipenuhi banyak pertanyaan saat ini. Ke mana Andreas dengan Grrycia pergi? Apa akan lama? Selamanya mereka tidak akan kembali berjumpa?
Sampai malam menjelang, Agyan masih dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang ia sendiri tidak tau apa jawabannya.
"Sayang," Freya yang sudah menidurkan Ethan dan Arasy duduk menghampiri Agyan yang berada di tepi tempat tidur.
"Udah ketemu sama Papi?"
Agyan menggeleng pelan. Freya hanya mampu mengusap punggung Agyan agar suaminya itu merasa tenang.
"Aku gak tau kapan bisa ketemu lagi sama mereka."
Freya diam, perlahan Agyan memeluknya. Mencari kenyamanan pada Freya. Ia tidak pernah menyangka, jika saat ia mengunjungi Andreas untuk datang dalam acara pembukaan galeri seni miliknya, itu adalah pertemuan terakhirnya mereka.
__ADS_1
Berat memang, namun kehidupan tetap harus berjalan. Agyan tetap harus bertahan, demi keluarga kecilnya. Ia berharap, kelak akan kembali dipertemukan dengan Andreas. Dan mempertemukannya dengan si kembar.
TBC