Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Nightmare


__ADS_3

"Kalau Ethan nggak datang dalam waktu lima menit, udah aku mau pulang aja. Udah cape juga ngerjain dia." sahut Zoya pada Edrin begitu pria itu selesai menerima ucapan selamat ulang tahun dari para tamunya. Edrin tersenyum pada wanita itu.


"Sans dikitlah, Zoy."


Zoya melihat arloji di pergelangan tangannya, ia menggelengkan kepala. "Sekali pun kamu bilang tempat ini aman. Fans - fans kamu pasti sebentar lagi dateng ke sini, bakal ada salah paham besar - besaran kalau mereka tau aku di sini."


"And with you." menunjuk Edrin dengan jari telunjuknya.


"Aku nggak mau ada rumor aneh - aneh, cape berurusan terus sama media." jengah wanita itu, rasanya sangat memuakan mengingat akhir - akhir ini ia sering tertimpa masalah dan berurusan dengan media.


"Rumor aneh - aneh gimana, Ethan sebentar lagi datang –"


Zoya mengernyit, terutama saat Edrin menggandeng bahunya dan seorang pria datang menghadap Edrin. "Di luar ada Pak Ethan, Mas Edrin!" beritahunya.


"Suruh masuk!" titah Edrin dengan mudahnya. Sedangkan Zoya sudah tegang di tempatnya. Ia merasa tidak yakin dengan hadiah untuk Edrin yang sedang ia lakukan ini.


"calm baby!" hngkap Edrin tanpa beban, menggandengnya sedikit menjauh begitu pintu itu terbuka, dan bonusnya bukan hanya Ethan yang masuk ke sana, tapi juga para fans Edrin yang membludak seperti pasukan lalat yang menyerbu sampah, tak terkendali. Parahnya juga ada beberapa wartawan.


"Nightmare." lirih Zoya dengan pasrah. Berbeda dengan Edrin yang tampak bahagia melihat tatapan mengkilat Ethan padanya saat melihat tangannya melingkar di bahu Zoya.


"Mbak Zoya khusus merayakan ulang tahun Mas Edrin?" salah seorang wartawan bertanya dan membuat lamunan Zoya buyar seketika. Tapi sebelumnya tatapan Zoya sempat terpaku pada tangan Ethan ..., dengan Naina.


"Maybe yes. Maybe no." justru jawaban ambigu yang pria itu berikan. Sedangkan para fans Edrin sudah bersorak untuk dua orang itu, senang melihat mereka bersama.


Ethan tampak menahan amarahnya, tanpa sadar ia menggenggam tangan Naina dengan begitu keras seolah menumpahkan amarahnya. Membuat gadis itu menggigit bibirnya kuat - kuat tanpa protes, setidaknya jika Ethan menjadikannya pelampiasan, Naina berharap pria itu tak akan membuat kekacauan.


"Apa benar beberapa hari ini kalian sering menghabiskan waktu bersama?" tanya salah seorang wartawan lagi.


Akhir - akhir ini? Selama Zoya mengabaikannya? Wanita itu jatuh hati pada Edrin? Kepala Ethan mulai berkecamuk.


"Harapan seperti apa yang akan Mbak Zoya ungkapkan untuk Mas Edrin?"


"Kado mewah apa yang Mbak Zoya berikan untuk Mas Edrin?"


Untuk kali ini Edrin mengangguk, bersiap menjawab pertanyaan. "Pastinya, hadiahnya istimewa. Dan tidak akan bisa dilupakan!" sahutnya, dramatis dengan mata yang mengarah pada Ethan. Membuat pria itu tak tahan lagi untuk tidak segera mendekat.


Ia melepas tangan Naina yang sejak tadi digenggamnya. Gadis itu meringis melihat tanda merah yang melingkari pergelangan tangan.


Ethan menarik Zoya, sontak membuat para wartawan di sana terkejut karena baru menyadari kehadiran Ethan. "Bagaimana rasanya, kalah dari seseorang?" sahut Edrin dengan suara pelan saat Ethan berhadapan dengannya. Ethan hanya diam. Kemarahannya sudah memuncak.


"Terimakasih, sudah meminjamkan Zoya." Zoya mengernyit. Meminjamkan? Apa artinya ia juga ditipu oleh pria itu. Zoya menatap Edrin meminta jawaban, namun pria itu justru mengedipakan matanya. "Thanks girl."


"Bastard!" decak pelan Zoya pada pria itu setelah Ethan menariknya keluar dari kerumunan. Nyawanya berada dalam bahaya sekarang.

__ADS_1


**


"Aku cuma dikerjain Edrin, Sayang. Dia bilang –" kalimat Zoya terputus saat Ethan memaksanya untuk masuk ke dalam mobil, Naina juga sudah ada di dalam mobil, duduk di kursi semula.


Begitu Ethan masuk mobil ia segera melanjutkan kalimatnya. "Dia bilang mau nge - tes kamu aja. Ya, karena aku penasaran –"


"Kamu mau - mau aja?" protes Ethan seraya memasangkan seatbelt di tubuh wanita itu. Lagi marah masih aja perhatian, beuuh.


"Ya, maaf."


"Lagian aku juga kesel sama sifat pencemburunya kamu yang terlalu over banget itu."


"Jadi sekarang gimana?" tanya Ethan tiba - tiba, membuat wanita itu mengernyit di tempatnya guna mengerti maksud pertanyaan Ethan.


"Puas udah ngeliat reaksi saya? Puas udah cuekin saya selama tiga hari ini?"


"Ethan, aku tuh –"


Naina membulatkan mata saat di hadapannya terjadi adegan yang membuatnya tak bisa berbuat apa - apa. Sepertinya Ethan lupa, jika di sana tidak hanya ada mereka berdua. Ia memalingkan wajah, mau berpura - pura tidak melihat tapi hal itu jelas - jelas terjadi di depan mata.


Sedangkan Zoya memukul dada pria itu berkali - kali. Ethan tak perduli, ia menahan kedua tangan Zoya, tak perduli bahkan sekali pun keduanya kehabisan napas karena hal itu.


**


Formasi duduk berubah, Naina pindah ke bangku depan dengan Randy yang menyetir. Sedangkan dua orang itu berada di bangku belakang. Sama - sama tak bicara dan saling memalingkan wajah.


"Kacau, nih." decak Randy yang melihat dua orang itu melalui rear vission mirror. Terutama, Ethan sudah memberitahukannya untuk berhenti di hotel terdekat, ya karena jarak ke rumah Ethan dengan Zoya memang cukup jauh.


"Bukan ke rumah?" tanya Naina begitu mobil sudah berhenti, tapi buka di rumah. Melainkan sebuab hotel bintang lima.


Randy hanya mengedikan bahu dan menolehkan kepala pada dua orang di belakangnya di mana Ethan sudah lebih dulu turun dari mobil. Zoya mendesah pasrah, tau apa yang akan terjadi dengannya. Ia tak protes, mengikuti langkah kaki Ethan memasuki hotel di mana seseorang di pintu masuk menyambut kedatangan pria itu dengan sopan dan hangat. Zoya ingat, jika ini adalah salah satu hotel milik keluarga Maheswari.


"Kamu mau pulang aja ke rumah?" tanya Randy pada Naina yang tampak ragu untuk masuk ke dalam.


"Kalau iya biar aku anterin. Aku tau kamu akan nggak nyaman kalau ada di sini," terangnya. Naina mengangguk yakin. Ia merasa tempat tersebut tak cocok dengannya, dan lagi ia merasa takut. Rasanya terlalu banyak hal buruk terjadi di tempat yang disebut hotel.


"Kalau gitu aku anterin pulang," tawar Randy, membukakan pintu mobil, Naina mengangguk dan kembali masuk. Begitu duduk, ia merasa ada sesuatu yang aneh. Terutama saat Randy juga duduk di sampingnya di balik stir dan mendekat padanya.


"JANGAN!" cegahnya yang membuat Randy terpekik kaget. Heran apa yang gadis itu lakukan. Padahal ia tidak akan bertindak macam - macam.


"Kenapa? Aku cuma mau pasang seatbelt," sahut Randy dengan ekspresi awkward - nya.


"Oh." Naina tersadar, ia tampak bingung dan kikuk, tersenyum tidak enak pada pria itu. Entah mengapa apa yang terjadi antara Ethan dengan Zoya tadi terus berputar di kepalanya. Randy yang mengerti tersenyum setelah memasangkan seatbelt untuk gadis itu.

__ADS_1


"Kamu baru ngeliat penampakan, yah?" tanya Randy, ia mulai melajukann mobil neninggalkan pelataran hotel. Naina sempat heran dengan pertanyaan Randy, namun begitu melihat senyun arti pria itu tampaknya ia mengerti. Rupanya bukan hanya umia saja yang pernah melihat hal yang terjadi antara Ethan dengan Zoya. Randy juga pasti sudah sering, begitu juga Selin.


"Harus terbiasa. Kuatin hatinya," sahut Randy, Naina hanya tersenyum. Tatapan matanya jatuh pada tangannya yang beberapa waktu lalu bergenggaman dengan Ethan, begitu juga tanda merah pada pergelangan tangannya karena pria itu.


Nain sudah sepatutnya sadar, siapa Ethan dan siapa pemilik hati pria itu.


**


Usai mandi yang berlangsung dengan saling terdiam. Zoya hanya duduk di tepi tempat tidur setelah petugas hotel mengantarkan sebuah paper bag berisi gaun tidur untuknya. Sedangkan Ethan pergi keluar, entahlah kemana.


Sepertinya Zoya menyesal sudah memberikan hadiah terbaik untuak Edrin beberapa hari ini. Imbasnya, ia mendapat hukuman dari suaminya. Sudah satu jam Ethan sama sekali tidak bicara dengannya.


Pintu terbuka, menampilkan Ethan dengan piama berwarna hitam. Pria itu berjalan ke arahnya, lantas duduk berhadapan dengan wanita itu, setelah menghela napas, pria itu bertanya. "Puas?"


"Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kamu puas setelah cuekin saya selama tiga hari, kamu puas sudah melihat reaksi saya saat kamu digandeng oleh Edrin?"


"Kamu puas setelah hampir –"


"Sorry." Zoya segera meraih tangan Ethan, mengecup punggung tangan pria itu berkali - kali dengan raut wajah yang begitu tulus. Entah kenapa, hal sederhana seperti itu saja rasanya membuat perasaan Ethan luluh dengan mudah. Apa pun yang Zoya lakukan membuatnya sangat mudah memaafkan wanita itu.


Ethan mendesah. "Kamu tau, Zoya. Kamu udah buat saya pusing selama beberapa hari ini. Kamu cuekin saya di saat saya punya begitu banyak pekerjaan."


"Kamu tau," Ethan mendesah sebelum melanjutkan ceritanya.


"Saya hampir gila ngebayangin seandainya kamu bener - bener jatuh cinta sama pria itu." ungkapnya balas menggenggam tangan wanita yang dicintainya tersebut. Menatap tangan mulus itu berlama - lama sampai Zoya melepasnya. Kemudian wanita itu menatap lekat sang suami. Zoya benar - benar menyesal sudah melakukan hal yang membuat suaminya bersedih.


Ia mengecup kening Ethan dengan posisinya yang bertumpu pada lutut, setelahnya meraih kepala Ethan untuk ia dekap di dadanya.


"Maaf," ungkapnya, mengusap kepala pria itu berulang - ulang. "Maafin aku," sahutnya lagi yang kembali duduk dan menatap wajah pria itu lekat - lekat. Ethan hanya diam, tapi hatinya sudah memaafkan. Terutama ketika wanita itu bersikap manis padanya. Sangat jarang sekali Zoya melakukannya lebih dulu. Apa pun itu.


**


Naina hanya tersenyum ketika keesokan harinya ia menyambut kepulangan Ethan dengan Zoya yang tampak riang gembira. Seperti biasa, Ethan dengan mesra dan posesif menggandeng pinggang Zoya. Sesekali saling tertawa atau Zoya yang mengerucutkan bibirnya dengan manja, entah apa yang tengah keduanya bahas sehingga membuat ekspresi Zoya berubah - ubah.


Seolah tak pernah ada masalah yang terjadi di antara mereka, seolah kemarin bukanlah apa apa untuk keduanya.


Mudah bagi mereka untuk kembali bersama. Lagi - lagi, Naina hanya bisa tersenyum melihat keharmonisan dan keromantisan antara Ethan dengan Zoya.


Faktanya rasa cinta di antara keduanya begitu besar. Sulit dipisahkan.


TBC


Yakin mau bikin Zoya cemburu ke Naina? Beuuh, jangan sampe. Bahaya!

__ADS_1


__ADS_2