Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hubungan Luna Dan Andri


__ADS_3

"Jangan panggil mba mas Andri. Panggil Luna aja." Ujar Luna. Andri pun tersenyum.


Mereka pun jadi ngobrol panjang. Andri mengajak Luna mampir disebuah cafe. Luna merasa nyaman dengan Andri. Andri begitu pandai berkata kata. Memberinya semangat dan suport. Padahal mereka baru dua kali bertemu, tapi Luna sudah merasa nyaman dengan Andri.


Tak terasa waktu pun dengan cepat berlalu. Hari semakin sore, mereka pun berpisah. Luna dan Andri saling bertukar nomer ponsel. Selama dalam perjalanan pulang, Luna tersenyum senyum sendiri. Bayangan Andri membuat hatinya berbunga. Seperti orang yang jatuh cinta. "Ah masa secepat itu aku jatuh cinta. Tapi mas Andri orangnya emang baik banget ya. Bicaranya juga lembut.. Hehehehe"Luna pun tertawa tawa sendiri karena membayangkan Andri. Pria yang baru saja dikenalnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Hari pun berlalu, hubungan Airin dan Devid pun semakin ada kemajuan. Meskipun masih belum ada bersentuhan atas dasar cinta. Setidaknya mereka telah terbiasa dengan keberadaan masing masingnya.


Airin pun menjalani rutinitas sebagai seorang istri dengan baik. Mulai dari menyiapkan keperluan Devid sebelum berangkat kerja seperti pakaiannya, sarapannya. Semua Airin yang mengerjakan. Dia tak membolehkan para Asisten rumah tangga mengerjakannya kecuali kalau memang dia kerepotan saat Syfa sedang rewel. Sampai keperluan Devid saat berada di rumah. Airin pun sudah terbiasa dengan perannya sebagai seorang istri.


Devid pun tampak semakin cerah hari harinya. Dia sudah terbiasa dilayani oleh Airin selama sudah hampir setengah tahun pernikahan mereka. Devid merasa Airin tak kaku lagi. Sekarang dia semakin sering melihat senyum Airin. Dan jujur, ada getar getar halus menyelinap dalam hatinya setiap kali Airin tersenyum dan menatap lembut padanya. "Apakah aku telah jatuh cinta ?" Devid tersenyum senyum sendiri membayangkannya.


"Kamu kenapa senyum senyum sendiri..?" Tanya Anita yang melihat putranya itu tersenyum senyum sendiri saat sarapan. Sementara itu Airin baru saja kembali dari kamar. Setelah memandikan Syfa. Dan dia juga sempat melihat suaminya itu senyum senyum sendiri.


"Ah Bunda bikin kaget aja, nggak ada apa apa Bund," Jawab Devid sedikit terkejut karena pertanyaan Anita. Devid pun semakin grogi karena ternyata Airin juga telah ada disana. "Haduuuuhhhh,,, apa dia juga lihat tadi ya.." Devid jadi malu. Dia pun segera menghabiskan sarapannya. Dan segera bersiap berangkat ke Rumah Sakit.

__ADS_1


Devid pun pamit sambil mencium tangan Anita Takzim. Airin juga mencium tangannya. Hati Devid semakin tak karuan dibuatnya. Devid segera berangkat, tak lupa dia mencium pipi Syfa. "Ayah pergi dulu ya sayang. Syfa baik baik ya di rumah sama Bunda dan Oma." Ujarnya pada gadis kecil yang juga telah merebut hatinya itu. Syfa seakan faham perkataan Devid. Dia pun tampak kegirangan.


"Syfa doank yang dicium, Bundanya Syfa juga donk. Biasakan memanjakan istri itu. Biar Istri juga makin cinta." Sahut Anita tanpa memandang Devid dan Airin. Dia bicara sambil tetap menikmati sarapannya.


Devid dan Airin kaget mendengarnya. Wajah Airin merona, sementara Devid terdiam kaku.


"Laaaahhhh malah bengong. Katanya mau berangkat sekarang.?" Lagi lagi Anita bersuara karena melihat keduanya yang terdiam.


Devid pun tersadar, tanpa menunggu lama. Dia pun mencium kening Airin kemudian segera pergi meninggalkan mereka. Meskipun hanya sekilas, cukup membuat Airin panas dingin kaku. Dadanya semakin berdebar. tapi seakan ada desiran halus yang lembut menyentuh hatinya.


"Dicium suami malah kaku begitu. Udah kayak kepiting rebus aja wajahnya. Sana antar suami nya sampai depan." Tegur Anita. Airin yang terkaget langsung saja mengejar langkah Devid keluar menuruti perkataan Ibu mertuanya itu sambil masih dengan Syfa di gendongannya.


Airin menunggu kepergian Devid didepan teras. Devid yang sudah didalam mobil pun tersenyum padanya. Syfa melambai lambaikan tangannya sambil bersuara."da da,, da,, da.." Dia seakan mengerti kalau Devid pergi.


Setelah Devid pergi, Airin kembali masuk ke dalam rumah. Dia pun sarapan bersama Ibu mertuanya sambil sesekali menyuapi Syfa yang juga sarapan. Sesekali mereka ngobrol dan tertawa bersama.


Sementara itu di tempat lain, tampak seorang Pria tengah memarahi bawahannya. Dia adalah Syahdan, Syahdan pratama. Yang dulu terkenal sebagai seorang lawyer yang tegas, dingin dan tanpa ampun pada lawan dalam setiap kasus kasus yang ditanganinya. Beberapa waktu yang lalu, Pengacara Syahdan tampak sedikit ada perubahan. Lebih ramah dan tetap menjalin hubungan baik dengan pihak lawannya. Tap itu hanya beberapa waktu yang lalu. Sekarang dia kembali ke sifat lama nya. keras, kaku dan dingin seperti salju.

__ADS_1


Yaa, Syahdan kembali ke sifat awalnya sebelum mengenal Airin. Lebih banyak diam, dan tidak pernah merasa kasian kepada siapapun yang dihadapinya di Persidangan. Begitu juga kepada orang orang yang bekerja bersamanya di Firma Hukumnya. Syahdan akan memarahi siapa saja yang dianggapnya tidak sesuai dengan pemikirannya.


"Haaiiiii mas Syahdan kakak ku yang tampan.." Tiba tiba Luna muncul di ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Padahal dia masih kesal dengan bawahannya tadi.


"Kamu ini bikin orang kaget saja." Ujar Syahdan. Luna pun hanya tertawa melihat raut wajah saudara lelakinya itu. Luna sudah yakin, kalau Syahdan pasti tengah kesal.


"Pagi pagi udah marah marah maaasss... Pamali, nanti cepat tua." Ledek Luna. Tak lama seorang pria pun muncul.


"Selamat pagi.." Sapa nya.


"Sini mas, nggak usah formal formal begitu. Mas Syahdan ini bawaannya memang galak dan sangar... Maklum Lawyer.. hihihi.." Ujar Luna pada pria itu. Yang ternyata adalah Andri.


Ya, sejak pertemuan mereka yang kedua kalinya itu. Hubungan Luna dan Andri semakin dekat, bahkan Andri pun sudah menyatakan rasa cinta kepada Luna beberapa hari yang lalu. Tanpa menunggu waktu lama, Luna pun menerima Andri sebagai kekasihnya. Karena kenyamanan yang diberikan Andri seakan menghipnotisnya.


"Siapa.. ?" Tanya Syahdan dengan pandangan tajam ke arah Andri. Syahdan merasa curiga, apakah ini teman Luna atau kekasih baru Luna. Apalagi jika melihat pembawaan Andri, yang terlihat bukan se umur Luna. Andri seperti berumur sama dengannya.


"Saya Andri," Jawab Andri sambil mengulurkan tangannya ingin bersalaman dengan Syahdan. Syahdan tak menyambut uluran tangan Andri, tapi malah semakin menilisik.

__ADS_1


"Saya Syahdan." Ucap Luna sambil mengambil tangan Kakaknya untuk bersalaman dengan Andri.


"Apa apa an sih kamu.." Rungut Syahdan melihat tingkah Adik semata wayangnya itu. Luna hanya tersenyum. Kemudian mengajak Andri untuk dudu di sofa tamu yang telah tersedia di ruangan kerja Syahdan. Syahdan pun mengikuti mereka.


__ADS_2