
Waktu masih pagi ketika Zoya tengah menonton televisi dengan tubuh yang ia rebahkan pada sofa panjang di ruang utama rumahnya. Ethan berada di ujung kakinya dan tengah berkutat dengan laptop dan beberapa berkas, menyelesaikan pekerjaan yang belum ia bereskan.
Bekerja dihari libur? Hidup Ethan memang seperti orang susah saja.
Acara gosip di televisi tengah menayangkan berita mengenai dirinya dengan Ethan yang sudah berbulan madu untuk kedua kalinya, hasil interview Zoya sebagai bintang tamu dalam acara gosip dua hari yang lalu. Zoya menatapnya malas saat beberapa fotonya dengan Ethan ditampilkan di layar televisi. Potret ia dengan Ethan ketika tiba di bandara. Karena tak ada satu pun foto keduanya saat tengah liburan bocor pada media.
"Mbak Zoya artis?" sebuah suara dari arah belakang membuat wanita itu menoleh, sedangkan Ethan tampak sibuk, sesekali mengecek ponsel dan menelpon skretarisnya bahkan untuk yang terakhir, pria itu menyuruh sekretarisnya datang ke rumah.
Hell. Zoya sama sekali tidak diperdulikan.
Fokus Zoya kembali pada Naina yanh menatap layar televisi tanpa berkedip. Zoya hanya mampu tersenyum melihat hal itu.
"Pantesan aja saya merasa akrab pas liat wajah Mbak Zoya. Rupanya sering hilir mudik di tv, sekali - kali pernah liat." decaknya, kali ini tatapannya mengarah pada Zoya saat layar televisi beralih pada berita dari aktris lain.
"Mbak yang pernah jadi lawan main Edrin Nicolas kalau gak salah. Iya, 'kan?" tanyanya. Mendengar nama Edrin Nicolas yang tampak tidak asing, Ethan ikut - ikutan menoleh, beberapa saat kemudian ia mengingat nama yang Naina tadi sebutkan.
"Orang - orang di kampung halaman saya malahan ngiranya kalian pacaran beneran."
"Masa?" tanya Zoya, lucu juga nelihat tampang Naina yang berbinar dan terlihat serius. Seperti sangat bahagia mengetahui fakta jika selama ini ia tinggal satu atap dengan seorang aktris bahkan sering makan satu meja dan mengobrol banyak dengan Zoya. Jika ia bercerita pada tetangganya di kampung halaman, barangkali mereka tidak akan percaya.
"Iya. Habisnya kalian cocok." ungkap Naina dengan serius. Lupa jika di sana ada Ethan yang mengalihkan tatapan pada Zoya yang tengah tersenyum setelah mendengar perkataan Naina.
"Zoya," panggilnya.
"Hmm?" wanita itu spontan menoleh pada sang suami.
"Ambilkan saya air minum!'
Zoya menyipktkan mata. "Itu air kamu masih utuh." tunjuknya pada gelas berukuran cukup besar di samping laptop suaminya. Ethan mengalihkan tatapannya pada gelas yang Zoya tunjuk. Ia mendehem.
"Saya ingin air yang baru." berucap tanpa mau menatap Zoya.
Zoya tersenyum, lantas tetap mengangguk dan beranjak dari posisinya. Menepuk bahu Naina yang tak mengerti dengan apa yang baru saja dilihatnya. Tatapan Zoya seolah memberi isyarat pada Naina agar tidak perlu heran atas sikap Ethan.
Gadis itu kemudian melanjutkan pekerjaannya menyapu lantai dengan perasaan yang diam - diam menyimpulkan jika Ethan sedang marah karena ia membicarakan seorang pria pada Zoya.
Naina menoleh perlahan, melihat Ethan yang kembali sibuk berkutat dengan laptop. Hingga tak lama Zoya datang dengan segelas air putih dan menyerahkannya pada Ethan. Pria itu tersenyum manis dan mengucapkan terima kasih.
"Oh, yah, Naina." Zoya menoleh pada Naina yang tengah menyapu di belakangnya.
"Iya Mbak."
"Nanti jam sepuluh pagi kita pergi keluar, yah."
"Keluar?"
"Hmm. Saya mau ajak kamu ke suatu tempat." ungkap Zoya. Naina hanya diam mematung, namun begitu ia tetap mengangguk mengiyakan ajakan Zoya. Ia melihat wanita itu mematikan televisi, kemudian sibuk merecoki suaminya yang rehat dari pekerjaannya, menyandarkan punggung kebelakang dengan tangan terlentang, sedang Zoya bersandar di dadanya sambil bermain ponsel.
Pemandangan segar yang memanjakan, menyilaukan sekaligus menodai matanya.
Membuatnya diam - diam melakukan penilaian terhadap Ethan melalui sudut pandangnya sendiri selama bekerja di rumah Ethan dengan Zoya. Naina yakin, wanita mana pun pasti menginginkan suami seperti Ethan.
Gadis itu menggelengkan kepala. Menepis pikiran aneh di kapala, ia buru - buru menyelesaikan pekerjaannya dan berlalu meninggalkan dua orang itu.
__ADS_1
"Kalian mau kemana?" tanya Ethan mengingat ajakan Zoya pada Naina tadi. Tangannya mengelus rambut pirang Zoya. Wanita itu mendongak dan menatap Ethan, membuat jarak wajah antara mereka terpangkas nyaris sempurna, sedangkan tangan Ethan yang semula mengelus rambut Zoya tertahan di udara.
"Aku udah bilang rahasia." sahut Zoya. Semalam ia sudah bercerita pada suaminya jika akan mengajak Naina pergi keluar.
Satu sudut bibir Ethan terangkat mendengar jawaban istrinya, tangannya yang semula tertahan di udara perlahan mengusap sisi wajah Zoya.
"Kamu mau tidak saya izinkan pergi keluar?"
"Kamu mau aku ngambek?" tantang Zoya.
"Ngambek - ngambek aja!"
"Beneran?"
"Hmm."
"Yaudah." pasrahnya.
Zoya menjauhkan diri namun tangan Ethan dengan cepat menahan pinggang wanita itu. Ayolah, ia tidak ingin wanita itu benar - benar marah padanya.
"Kamu marah beneran?" tanya Ethan dengan alis bertaut. Zoya tersenyum. "Enggak ada alasan buat aku marah sama kamu."
"Good girl."
Zoya hanya mencebikan bibir saat tangan Ethan mengusap puncak kepalanya. Bahkan mengacak rambut Zoya, wanita itu hanya pasrah. Sampai kemudian deheman seseorang menyadarkan keduanya dan membuat Ethan dengan Zoya kompak menoleh ke belakang.
Randy berdiri di sana dengan alis terangkat, sejak melangkah memasuki rumah samar - samar ia sudah mendengar obrolan dua orang pemilik rumah dan tau dengan apa yang akan dilihatnya. Pemandangan indah yang sudah tak asing baginya.
Perlahan Zoya menjauhkan tubuhnya dari sang suami. Sedangkan Randy sudah duduk pada single sofa bahkan sebelum dipersilakan. Zoya pamit ke belakang, menepuk tangan Ethan dengan tersenyum kemudian berlalu meninggalkan dua orang itu.
"Iya Mbak?"
"Kamu antar minum ke depan."
"Mm, Randy coffee atau jus, yah?" Zoya bergumam bagai pada dirinya sendiri. Naina hanya mengernyit melihatnya.
"Coba, deh, kamu tanya ke dia. Dia ada di depan sama Ethan. Abis itu, kamu langsung siap - siap, nanti Mbak Selin jemput kita."
"Euu, oh, iya Mbak."
Zoya tersenyum, lantas berlalu sedangkan Naina terdiam di tempatnya. Begitu ia mengingat pesan Zoya barusan, kakinya segera melangkah menuju ruang utama. Terlihat jika Ethan sedang mengobrol dengan seseorang.
Naina tampak ragu karena takut mengganggu. Tapi bagaimanapun ia harus menyajikan minuman untuk tamu majikannya karena hal itu sudah menjadi tugasnya.
Dan rumitnya ia harus bertanya lebih dulu apa yang tamunya mau.
"Permisi," Naina menginterupsi. Membuat dua pria itu kompak menoleh padanya. Ethan segera memalingkan wajah namun ia mengernyit heran mendapati ekspresi Randy menatap Naina tanpa berkedip.
"Maaf mengganggu. Bapak ingin minun apa?" tanyanya dengan raut ramah. "Coffee? Teh? Jus, atau ..,"
"Kamu."
"Eh?"
__ADS_1
Ethan mengembuskan napas pelan, melempar bolpoin ke arah pria itu. Membuat kesadaran Randy kembali. Lantas pria itu tersadar akan apa yang Naina tanyakan padanya tadi.
"Kamu tanya apa?" ia memilih bertanya sebagai basa - basi belaka.
"Bapak ingin minum apa?"
"Jus aja. Pakai es, saya mendadak gerah setelah lihat kamu." sahutnya diakhiri candaan. Naina hanya tersenyum tipis, lantas permisi ke belakang untuk memenuhi permintaan Randy barusan.
Randy menatap gadis itu sampai menghilang dari pandangannya. Ethan hanya memijat pelipis melihat tingkah skretarisnya.
"Kamu mau aku usir?" tanya Ethan saat pria di hadapannya tersenyum sendirian, mengabaikan alasan kedatangannya untuk membantu menyelesaikan pekerjaan Ethan.
"Ya janganlah, Than." pintanya, Ethan tak memedulikan, ia hanya kembali memfokuskan tatapan pada layar laptop. Sedangkan Randy tampak menjadikannya sasaran.
"Itu yang namanya Naina?" mulai melancarkan aksinya.
"Hmm." Ethan menyahut dengan gumaman dan tampak tidak terlalu perduli. Randy mengangguk - anggukan kepala. Membenarkan isi kepalanya jika Naina begitu jelita dari cerita yang sering ia dengar dari Ethan.
"Zoya lagi belajar masak sama temen barunya."
"Mereka kelihatan akrab."
"Yang pertama Zoya cari pas bangun tidur bukan aku. Tapi Naina entah dia mau nanyain menu sarapan atau hal remeh - temeh lainnya"
"Tapi aku senang karena Zoya sedang berusaha buat kami cepat punya anak."
"Naina yang bikinin ramuan tradisional penyubur kandungan buat Zoya."
Naina, Naina dan Naina. Akhir - akhir ini ia merasa Ethan sangat sering menyebutkan nama tersebyt karena Zoya yang menempel pada Naina.
Rupanya gadis itu begitu cantik, tampak polos dan juga anggun.
"Than,"
"Hmm."
"Woy!"
Ethan berdecak, menatap Randy dengan tatapan flat karena pria itu tampak menjengkelkan.
"Apa nggak bahaya ada cewek cantik tinggal di rumah ini, ada di antara kamu sama Zoya?"
"Bahaya? Di rumah ini gak ada binatang buas!" kesal Ethan. Meski faktanya ia mengerti apa maksud kawan sekaligus skretarisnya itu.
"Naina harus pindah ke rumahku, nih. Biar tiap bangun tidur atau pulang kerja langsung cuci mata." decak Randy dengan gilanya.
"Kamu pikir dia pajangan? Jaga pandangan!"
"Tatapan matamu sudah melecehkannya. Jangan membuatnya risih!" ujar Ethan namun yang diberitahu tampak tidak perduli. Justru menyandarkan punggung ke belakang dengan tatapan menerawamg, bibirnya bergumam pelsn.
"Oh, Naina."
TBC
__ADS_1
Wkwk Randy langsung faling in love gitu? Masa iya, cinta pada pandangan pertama? Hmm. Memang ada?
Ohh, btw. Ngebosenin, yah? Mayan, sih. Cuma biasanya kalau belum masuk konflik ya emang gitu. Hehe, tungguin aja sampai boom, yah. Annyeong💖