
Jujur Zoya tidak pernah suka ketika sang suami mengatakan akan datang ke lokasi syuting untuk melihat proses syuting berlangsung, bukan apa-apa apa tetapi itu akan menghambat dirinya, menghambat para kru, sutradara, dan proses syuting yang seharusnya dapat terlaksana dengan cepat.
Pria itu akan banyak mengatur, sangat banyak protes terlebih ketika Zoya memiliki partner seorang aktor. Seperti hari ini misalnya ketika ia dengan seorang aktor yang sudah lebih dari seluluh tahun terjun di dunia hiburan memiliki project iklan bersama.
Seharusnya proses syuting sudah berakhir sejak satu jam menit yang lalu, namun karena kehadiran Ethan semuanya menjadi serba terhambat. Pria itu bersikeras mengatur posisi Zoya agar tidak memiliki kontak fisik apapun dengan partnernya. Konyol bukan, ketika konsep syuting mereka adalah pasangan yang sedang menikmati liburan di sebuah hunian mewah sambil menikmati camilan ringan.
"Aku udah bilang kalau aku lagi syuting kamu enggak perlu ke sini, kamu di perusahaan aja. Kamu bikin fokus tahu, nggak!" Zoya tentu saja menggerutu karena Ethan membuat pekerjaannya menjadi lebih sulit ketika pria itu ada di sana.
Naina mengipasi wanita itu, Selin nanya terdiam di kursinya. Tak mau angkat bicara jika Zoya bersinggungan dengan Ethan.
"Kamu tidak senang jika saya menemani kamu syuting?" tentu saja Ethan juga merasa tidak terima atas perilaku sang istri.
"Aku bukan nggak seneng, aku seneng asalkan kamu cuman ngeliatin doang nggak usah ngatur-ngatur apalagi sampe buat proses syuting berantakan." tegas Zoya, menggebu-gebu dan begitu kesal atas respon Ethan yang seolah tak bersalah atas tindakan tidak masuk akalnya dan justru malah balik marah. Beruntung mereka cukup jauh dengan jangkauan para staf.
"Saya enggak akan protes kalau kamu tidak pegangan tangan atau gandengan dengan aktor yaitu!"
"Ya Tuhan." Zoya berseru frustrasi, merasa lelah sendiri menghadapi sang suami.
"Dia partner aku, kita ada kontak fisik cuma gandengan sama pegangan tangan doang, lagian juga dilihat banyak orang. Kita enggak ngelakuin hal macam-macam Ethan." geram Zoya. Tampaknya darahnya naik ketika Ethan beraksi dengan tingkat cemburunya yang berlebihan.
Wanita manapun tidak akan nyaman jika diperlakukan seperti ini, terutama Zoya sangat ingin kebebasan. Kemudian ia justru dipertemukan dengan makhluk seperti Ethan.
Sekalipun ia sangat mencintai pria itu dan percaya jika pria itu juga sangat mencintai dirinya. Tapi sikap seperti ini terkadang membuat perasaan berantakan.
Seolah-olah Ethan tidak mempercayainya sama sekali, padahal Zoya tidak pernah memiliki niatan untuk menghianatinya bahkan hanya sekedar untuk bermain-main.
"Kamu tuh–" Zoya menahan kalimatnya, menatap pria itu yang hanya terdiam sendu membuatnya memutuskan benar-benar tak berkata apa-apa lagi, sehingga akhirnya ia hanya mampu mendesah pasrah, menyandarkan punggungnya ke belakang sandaran kursi.
Sementara dari kejauhan partner Zoya tampak kesal karena Ethan membuat mereka beberapa kali melakukan take ulang. "Syutingnya disambung besok aja." sahut salah satu kru film yang dengan sengaja menghampiri Zoya. Zoya hanya mengangguk, menoleh kepada suaminya kemudian bangkit dari duduknya.
"Kita langsung pulang aja ya, Mbak?" tanyanya kemudian kepada sang manager. Selin mengangguk begitu pula Naina yang juga ikut beranjak dari duduknya.
Ethan juga tak kalah cepat bangkit dan meraih pergelangan tangan Zoya yang hendak beranjak meninggalkannya. Raut wajah Ethan berubah menjadi kesal mode on.
Apa salahnya dia merasa cemburu? Merasa tidak rela jika istrinya disentuh oleh pria lain?
Memang suami mana yang akan rela istrinya berdekatan, bahkan bersentuhan dengan pria lain di hadapannya sendiri. Ethan bahkan kadang lupa siapa istrinya.
Seorang aktris terkenal yang memang mutlak harus melakukan hal itu karena tuntutan pekerjaan.
__ADS_1
"Pulang dengan saya." sahut Ethan bagai mengintruksi, Zoya tidak bisa melawan, ia melangkah mengikuti langkah kaki pria itu menuju mobil kemudian meninggalkan lokasi syuting dengan meninggalkan kepulan debu yang beterbangan.
Sepanjang perjalanan menuju pulang kedua orang itu hanya terdiam di dalam mobil. Zoya yang masih merasa kesal memilih untuk mengabaikan pria itu, sementara Etan yang merasa bersalah hanya terdiam pasrah. Hingga beberapa detik berselang, Etham menoleh pafa istrinya.
"Kamu marah?" tanyanya dengan polos.
"Enggak." Zoya menyahut singkat.
"Kamu marah?" Ethan yang tidak percaya atas perkataan istrinya kembali bertanya.
"Eggak." sahut Zoya lagi tanpa mau menoleh pada sang suami.
"Ya kalau kamu marah sama saya kamu bilang."
"Aku nggak marah, aku cuman kesel aja kamu tega banget ganggu pekerjaan aku."
"Saya bukan ganggu, saya cuma lakuian apa yang harus saya lakuin." sela Ethan dengan cepat.
"Saya suami kamu–"
"Semua orang tahu itu." Zoya menyela tak kalah cepat. "Semua orang tahu kalau kamu suami aku. Kamu gak perlu bilang lagi."
Kapan-kapan ia harus bertanya kepada Freya cara terbaik apa yang harus dilakukan ketika melihat istrinya harus berdekatan dengan pria lain karena tuntutan pekerjaan.
Sedangkan untuk menyuruh Zoya keluar dari dunia hiburan tersebut, rasanya sangat tidak mungkin. Zoya bisa saja menuruti perkataannya andai Ethan menyuruhnya untuk hengkang.
Namun semua itu pasti akan membuat wanita itu bersedih, karena bagaimanapun dunia entertainment itu adalah industri yang sudah membesarkan namanya.
Zoya pasti sulit meninggalkannya. Ya, itulah mengapa Ethan tetap membiarkan wanita itu menjadi aktris bahkan setelah bersama dengannya.
**
Waktu menunjukkan pukul dua siang ketika Zoya menghampiri Ethan yang tengah mengotak-atik laptopnya dan menikmati suasana balkon menjelang sore, wanita itu membawa sebuah jus rasa mangga dengan kemasan cup yang baru saja dibelinya ketika Naina pergi ke warung depan.
Ia duduk di samping pria itu yang tengah sibuk berkutat dengan laptopnya. Sejak satu jam yang lalu Ethan memang bertahan di sana usai membersihkan diri sejak mereka pulang dari lokasi syuting dan mengalami beberapa perdebatan.
Ethan hanya menoleh padanya saat menyadari kehadiran sang istri, menggenggam tangan Zoya sekilas, mengecup punggung tangannya lantas kembali berkutat dengan pekerjaannya. Zoya hanya memperhatikan sambil terus menikmati minumannya, rasanya begitu segar ketika rasa dingin dan manis itu membasahi kerongkongannya.
Sekalipun cuaca tidak terlalu panas, tetapi di jam-jam seperti itu minuman yang sedang Zoya nikmati memang cocok dikonsumsi, wanita itu hanya pasrah ketika Ethan mengambil alih cup minuman Zoya dan menikmatinya kemudian mengembalikannya kepada Zoya.
__ADS_1
Wanita itu meraih tissue lantas mengelap ujung sedotan di mana jejak bibir Ethan berada, tentu saja hal itu membuat Ethan yang memerhatikannya tidak terima.
Ethan mendengus kesal kemudian kembali meraih cup minuman itu dan menyedotnya lagi. Lantas mengembalikannya ke hadapan Zoya dan menyuruh wanita itu untuk meminumnya kembali tanpa harus menghapus jejak bibir Ethan di ujung sedotan itu.
Namun tanpa Ethan sangka jika wanita itu justru meletakkan cup minuman di atas meja dengan raut santai, membuat Ethan kesal sehingga yang dilakukan selanjutnya adalah mengambil kembali minumannya, menyedotnya dan menahannya di mulut, selanjutnya dengan cepat meraih tengkuk Zoya.
Mengalirkan minuman itu ke mulut Zoya dengan cara yang luar biasa. Hal yang tidak Zoya duga sebelumnya.
Zoya memejamkan mata tak percaya ketika minuman itu sudah masuk ke kerongkongan. Sementara Ethan memundurkan wajah, mengelap bibirnya dengan punggung tangan, begitu santai, tingkah yang sangat menyebalkan di mata Zoya.
"Cuma gara-gara minuman kamu hampir bunuh aku tau nggak." gerutu Zoya yang merasa tidak terima karena ia hampir saja tersedak.
"Karena kamu yang buat saya untuk ngelakuin hal itu!" untuk kali ini Ethan benar-benar tidak ingin disalahkan.
"Kenapa kamu harus lap sedotan bekas bibir saya?" tanya Ethan tidak terima.
"Ya karena aku nggak mau. Jorok,"
Ethan smirk. Jadi maksud wanita itu, jika secara langsung tanpa melalui perantara apapun tidak menjadi masalah?
"Kalau kamu ngelakuin hal kayak gitu lagi balasannya akan lebih dari yang tadi." ancam Ethan. Zoya tidak mau tau, ia hanya berdecak, melipat tangan di dada dan menatap pria itu dengan tatapan nyalang menyala
Sementara yang ditatap hanya menatap balik dengan pandangan setenang air danau. Bahkan tampak memabukan dengan tatapan nakalnya.
Zoya mendesah pasrah saat pria itu terus menatapnya tanpa berkedip, sepertinya Zoya sudah salah memilih pasangan hidup.
Sekalipun Ethan mencintainya dengan sangat sempurna, tapi terkadang tingkah pria itu yang di luar dugaannya membuat Zoya berpikir jika Tuhan sudah salah karena mengirim Etan untuknya.
"Lain kali jangan lakukan hal seperti itu lagi, saya tidak suka." sahut pria Ethan lagi. Sedangkan Zoya hanya menyahut dengan gumaman kecil. Lantas menyangga dagunya.
"Aku nggak ngerti, dari sekian banyak laki-laki di dunia ini, kenapa Tuhan ngirim kamu buat aku?" entahlah wanita itu bertanya pada siapa. Ethan yang sudah kembali berkutat dengan laptopnya tersenyum.
"Karena Tuhan sudah mengharuskan kamu agar bersama dengan saya."
TBC
Jangan lupa tinggalkan komentar.
Jangan lupa cek Sorry Tuan Presdir❤❤❤
__ADS_1