
Awan hitam menyelimuti langit sore Ibu Kota. Hawa dingin mulai menusuk tulang dan menerbangkan gorden abu di dalam kamar Zoya, karena jendela kaca yang sengaja Zoya buka. Wanita itu sedang berdiri menghadap jendela kaca dengan dua tangan yang tersilang di dada.
Menatap rintik air hujan yang perlahan turun membasahi bumi. Keputusan Zoya untuk tidak mandi semakin bulat, tubuhnya masih sangat segar dan sangat wangi. Yah, berkat parfum Ethan.
Sedangkan di tempat yang sama di luar sana, Ethan berjalan santai menuju kamar hotelnya dengan senyum yang terus mengembang. Mengingat tingkah laku Zoya membuat senyum Ethan terbit dengan mudah. Begitu tiba di depan pintu kamar hotelnya, Ethan menghela napas, kemudian membuka pintu dengan kunci kartu electrik.
Hal pertama yang Ethan lihat begitu masuk ke kamar hotelnya adalah seorang wanita yang memeluk tubuhnya sendiri menatap keluar jendela.
Rasanya sangat asing melihat orang lain berada di dalam kamarnya, namun meski demikian, pada kenyataannya sebagian hati Ethan tanpa alasan merasa senang melihat Zoya Hardiswara yang berada di sana.
Ethan membuka satu persatu kancing kemejanya dengan tatapan lekat pada Zoya yang tampak masih asik menatap hujan dan belum menyadari kehadiran Ethan di sana. Membuat senyum Ethan terukir. Ia melangkah perlahan ke arah kamar mandi, sebisa mungkin untuk tidak menimbulkan suara yang akan menarik perhatian Zoya.
Dan Zoya benar-benar hanya berdiri di sana tanpa beranjak, menatap hujan yang turun kian deras. Mungkin akan sangat menyenangkan, jika saat ini ia sedang bersama dengan Fahry, menonton film romantis sambil berpegangan tangan.
Selang sepuluh menit, bersamaan dengan Ethan yang keluar dari kamar mandi, Zoya membalikan tubuhnya, spontan wanita itu memehmgang dada dengan wajah yang tampak terkejut mendapati Ethan yang tba-tiba saja keluar kamar mandi dengan tubuh shirtless. Kali ini Zoya melihatnya secara langsung. Wanita itu menggelengkan kepala kuat-kuat, mengusir pikiran kotor yang tiba-tiba saja bersarang di kepalanya begitu mengingat foto Ethan yang Arasy kirimkan padanya.
Sedangkan ekpresi Ethan datar seperti biasanya. Ia melenggang begitu saja ke arah walk in closet untuk mencari pakaian. Zoya mengekor di belakangnya, melupakan keterkejutannya tadi.
"Kamu kapan pulang?" tanya Zoya dengan heran. "Barusan," sahut Ethan dengan singkat, ia melihat etalase koleksi jam tangannya, di mana beberapa jam tangan miliknya tampak berjajar tidak sesuai aturan. Ethan tersenyum tipis, ia tau siapa pelakunya.
Sementara Zoya meringis, membayangkan kejadian tadi siang di mana ia mencoba sebagian jam tangan Ethan dan iseng berfoto dengan mereka.
"Saya pulang pas kamu lagi asik liat hujan," sahut Ethan yang membuat Zoya mengangkat pandangan tepat melihat mata pria itu. "Aku gak denger pintu kebuka. Apa karena aku terlalu asik liatin hujan?" berbicara pada dirinya sendiri.
Ethan mengambil sebuah baju tebal dengan lengan panjang berwarna hitam, kemudian mengenakannya. Zoya masih berdiri di sana, menatap suaminya yang terlihat segar dengan rambut basah.
Pria yang di tatap hanya tersenyum, perlahan melangkah mendekat pada wanita itu yang sudah tidak bisa mengambil langkah mundur. Membuat Zoya memejamkan mata begitu jarak wajahnya dengan Ethan sangat dekat.
Ethan smirk melihat reaksi wanita itu, wajahnya tidak lurus pada wajah Zoya, melainkan ke arah leher wanita itu guna menghirup aroma tubuh Zoya.
"Kamu wangi. Sudah mandi?" tanya Ethan yang membuat Zoya membuka mata. Sekarang ia dapat bernapas lega saat Ethan mengambil jarak untuk mereka. Begitu mengingat pertanyaan Ethan tadi, Zoya mencium kaos yang ia kenakan.
"Eh, iya. Aku udah mandi," dustanya, menutupi kenyataan jika sebenarnya tubuhnya belum menyentuh air sama sekali semenjak pulang dari kunjungan rumah baru mereka. Dan wangi yang berasal dari tubuhnya, adalah parfum pria itu.
"Kamu tunggu di luar, setelah ini nanti kita makan malam." sahut Ethan. Zoya mengangguk dan tersenyum, kemudian pergi dari sana meninggalkan Ethan yang terkekeh geli setelah kepergiannya.
**
"Enggak papa makan di resroran hotel?" tanya Zoya sebelum mereka keluar dari kamar. Wanita itu mengambil mantel panjang dan memakainya. Ethan mengangguk.
"Memangnya kenapa?" tanya Ethan.
__ADS_1
"Saya pikir aman. Tidak akan ada hal apapun yang mengganggu kamu." sambungnya dengan santai.
"Jangan bilang kamu tutup restoran biar cuma ada kita berdua?" tanya Zoya dengan percaya diri. Ia tau jika gedung hotel ini adalah milik kakek Ethan, papa dari Adzana Freya Maheswari.
Ethan menoleh, kemudiann tertawa. Sejenak tawa pria itu membuat Zoya mematung. "Saya sibuk dan tidak memiliki waktu untuk melakukannya." jawaban acuh Ethan yang tanpa filter berhasil membuat Zoya mengerucutkan bibir.
"Ayo!" Berjalan lebih dulu untuk keluar dari kamar hotel, Zoya menyusul di belakang setengah dongkol. Tapi beberapa detik selanjutnya ia dengan cepat mensejajarkan langkah dengan Ethan.
"Oh, yah. Aku udah bilang ke Mbak Selin buat dia tinggal sama kita, ke Adhel juga, Mbak Selin yang nyampein."
Aneh rasanya, Zoya mengatakannya dengan natural seolah mereka pasangan pengantin baru yang membutuhkan keramaian. Ethan tersenyum tipis. "Mereka mau?" tanya Ethan kemudian yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Zoya penuh semangat.
Membuat Ethan gemas dan mengusap puncak kepala Zoya. Zoya membulatkan mata karena merasa terkejut dengan perlakuan tiba-tiba Ethan. Pria itu membuat aliran darahnya terhenti seketika.
Sampai salah seorang staf wanita menghampiri Ethan dengan Zoya. Ia sempat tersenyum melihat keromantisan pasangan pengantin baru itu.
"Pak Ethan, meja yang Bapak pesan sudah saya siapkan." sahutnya. Ethan mengangguk, berjalan mengikuti staf wanita tadi yang akan mengantarkan Ethan dan Zoya ke mejanya.
Zoya duduk di sana berhadapan dengan Ethan. Tanpa menunggu lama beberapa pelayan menyajikan makanan bahkan sebelum Zoya dan Ethan memesan. Zoya dapat menebak jika Ethan memang sudah mempersiapkannya.
"Selin bilang ini makanan kesukaan kamu." sahut Ethan, membuat apa yang tadi ada di kepala Zoya menjadi sangat jelas. Wanita itu hanya mengangguk dan berterimakasih pada sang suami
Ethan mengangguk mendengarnya, kemudian melanjutkan makan sementara Zoya memperhatikannya. "Ethan," panggilnya kemudian dengan ekpresi wajah serius.
"Hmm?" alis Ethan terangkat, menatap wanita itu sesaat, kemudian ia tetap melanjutkan makan dengan indera pendengaran yang terpasang sempurna untuk mendengar apa yang Zoya akan katakan.
"Kamu nggak nyesel nikah sama aku?" pertanyaan yang Zoya lontarkan berhasil membuat Ethan mendongak, menatap wanita itu sebentar kemudian menggelengkan kepala. "Kenapa?" bertanya setelah beberapa saat. "Apa kamu menyesal menikah sama saya?"
"Enggak, bukan gitu!" Zoya menepis dengan cepat.
"Lantas?" Ethan tampak penasaran.
"Aku merasa, kamu pantes buat dapetin yang lebih baik lagi. Bukan yang kaya aku," sahut Zoya dengan sendu, melupakan satu hal jika pernikahan mereka terjadi karena keterpaksaan. Ethan tersenyum mendengar kalimat wanita itu. Ia menyangga dagu dengan jari-jemarinya yang saling bertautan, kemudian menatap Zoya lekat.
"Jadi maksud kamu, kamu nggak pantes buat saya?"
"Mm," Zoya menganggukan kepala.
"Saya yang berhak memberi penilaian apakah kamu pantas atau tidak bagi saya." Pria itu tersenyum lembut, membuat pipi Zoya merona mendengarnya. Perasaan wanita itu tak karuan.
"Jadi maksud kamu, aku pantes buat kamu?"
__ADS_1
Ethan diam sebentar, kemudian menyahut. "Enggak juga, sih."
Zoya menatap pria itu kesal. Memang tidak akan ada baiknya berbicara dengan seorang Zeinn Ethan. Sementara Ethan tersenyum melihat wanita itu yang terlihat merajuk, melanjutkan makannya dengan kesal.
"Zoya," panggil Ethan, membuat Zoya terpaksa harus menatapnya dan menahan garpu yang ia tusuk-tusukan pada makanan. "Jangan menilai rendah diri kamu sendiri." ungkap Ethan kemudian, membuat Zoya memusatkan tatapannya.
"Orang lain boleh merendahkan kamu. Menghina kamu dan memberi penilaian buruk pada kamu. Tapi jangan sampai, kamu menjatuhkan dirimu sendiri."
"Mengerti?" Zoya tersenyum, kemudian mengangguk membenarkan apa yang Ethan katakan. Tidak menyangka, jika suaminya adalah orang yang penuh kejutan.
Seorang staf yang sebelumnya menunjuk meja yang Ethan pesan menghampiri meja mereka. Menganggukan kepalanya dengan sopan kemudian menaruh sebuah paper bag di atas meja, tepat di hadapan Ethan. Setelahnya dia berlalu begitu Ethan mengucapkan terimakasih.
Tatapan Zoya berpusat pada paper bag yang sekarang berada di hadapan Ethan. Ia merasa familiar pada paper bag tersebut.
"Oh, yah, saya punya hadiah buat kamu." sahut Ethan. Menyerahkan paper bag tersebut pada Zoya yang diterima oleh wanita itu setengah ragu. Ia mengeluarkan isi paper bag. Seketika wajahnya tampak terkejut, tidak melesat dari dugaan jika paper bag tersebut berisi parfum yang siang tadi akan ia simpan tanpa sepengetahuan Ethan.
Dan sekarang, parfum yang ia inginkan jatuh ke tangannya melalui Ethan. Tapi tunggu! Dari mana pria itu tau jika Zoya menginginkannya? Setidaknya hal itu yang Zoya pikirkan. Atau mungkin sebeuah kebetulan?
"Oh, yah, dan saya mau memberitahu kamu satu hal."
Zoya menatap pria itu panasaran. "Ada kamera pengawas di kamar hotel."
Seketika Zoya membulatkan matanya, kemudian meringis dan memejamkan mata. Bagaimana ia bisa begitu bodoh dan ceroboh di dalam kamar hotel pria itu?
Dan hal yang lebih parah lagi sudah terlanjur ia lakukan. Berganti pakaian di sofa tanpa perduli keadaan sekitar. Memangnya dari mana Zoya tau jika Ethan memasang kamera pengawas di dalam kamar hotelnya?
Zoya tak henti mengutuki dirinya sendiri di dalam hati. Berharap Ethan belum memeriksa cctv hari ini.
"Tapi kamu belum cek cctv, 'kan?" memaksakan diri bertanya dengan ragu.
"Kebetulan sudah." Ethan menyahut santai tanpa beban.
"Apah?" Zoya berteriak, mengabaikan beberapa orang yang mengalihkan atensi padanya. Ia merasa semua sudah berakhir baginya, ia malu pada Ethan. Bagaimana dirinya sudah bersikap lancang dan memalukan di kamar hotel pria itu?
Sedangkan wajah Ethan santai seperti biasanya. "Kamu liat semuanya?" sekali lagi mengajukan pertanyaan bodoh. Berharap-harap cemas akan jawaban Ethan.
"Hmm," dan dengan sangat menyebalkannya Etgmhan menyahut dengan gumaman. Sekaligus mengiyakan pertanyaan yang Zoya ajukan.
Zoya menelungkupkan wajahnya di atas meja. Ia tidak berani menampilkan wajahnya pada Ethan. Ia sangat malu pada pria itu. Sedangkan Ethan tersenyum melihat tingkah Zoya di hadapannya.
TBC
__ADS_1