
"Bagaimana kalau kamu mengandung anak Ethan saja."
"Secara biologi."
"Melalui interaksi sebagaimana dua orang dewasa."
Zoya menatap Naina dengan raut serius, berbeda dengan gadis itu yang tampak tidak percaya atas apa yang baru saja diutarakan oleh Zoya. Tentu saja Naina meragukannya, hal tersebut bukanlah perkara main-main.
"Mbak Zoya."
"Saya tidak bercanda Naina." Zoya bagai bisa membaca raut wajah Naina yang tampak mergaukannya.
Tidak mudah dipercaya memang. Bagaimana mungkin ada wanita yang membiarkan wanita lain mengandung anak suaminya. Tapi Zoya berbeda, posisi Zoya saat ini menyudutkannya untuk melakukan hal tersebut. Zoya tidak ingin dihantui rasa bersalah karena tidak dapat memberi pria itu keturunan.
Zoya tidak ingin bersama dengan Ethan dalam bayangan kehausan akan karunia seorang anak dalam rumah tangga mereka. Bohong jika Ethan tidak apa-apa. Faktanya lambat laun rumah tangga mereka akan hambar jika hanya ada keduanya dia dalam keluarga.
"Mbak Zoya–"
"Kamu bilang mau menolong saya, 'kan?"
"Kamu bilang kamu merasa bersalah dan akan melakukan apa saja demi saya, untuk menebus rasa bersalah kamu, begitu, 'kan Naina?"
"Saya hanya butuh bantuan Naina."
"Saya mengerti Mbak Zoya, tapi Mbak juga mohon harus mengerti. Saya tidak mungkin melakukan hubungan badan dengan Pak Ethan sedangkan tidak ada ikatan apapun di antara kami. Saya takut, Mbak."
"Ethan akan menikahi kamu."
Naina menggelengkan kepalanya. "Itu semakin nggak masuk akal, Mbak." sorot nata gadis itu kian tak percaya dengan pola pikir Zoya yang seolah menganggap hal tersebut adalah mudah.
"Tapi saya kira itu akan jadi satu-satunya cara untuk saya dan Ethan agar kami memiliki anak. Setidaknya anak itu akan jadi anak kandung Ethan meski nggak lahir dari rahim saya." panjang lebar Zoya. Ia ingin Naina benar-benar mengerti. Jika ia sungguh-sungguh atas permintaannya, ia tidak bercanda apalagi sampai mempermainkan gadis itu.
"Saya mohon Naina. Saya hanya bisa memercayai kamu. Saya yakin kamu bisa menjaga rahasia dan privasi saya sama Ethan."
"Saya yakin kamu bisa menolong saya.
"Saya nggak ada cara lain." nada bicara Zoya kian melemah. Ia nyaris putus asa membujuk gadis itu.
"Saya ingin memiliki anak."
***
Permintaan Zoya yang ingin agar Naina mengandung anak Ethan benar-benar membuat Naina tidak tenang. Jelas ia ingin menolak, selain karena ia menikah dengan suami orang lain sekalipun hanya sementara, selebihnya Naina menjaga perasaannya sendiri.
Bagaimana jika nanti ia benar-benar jatuh hati pada Ethan sedangkan dirinya harus membuat lebih dari batasan karena akan terikat perjanjian pernikahan? Kontrak pernikahan.
Naina menenggelamkan wajahnya pada bantal. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupan ia ke depan jika harus melakukan hal tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka akan dihadapkan pada persoalan hidup semacam ini.
"Bibi. Naina harus bagaimana?" batinnya berteriak.
***
__ADS_1
"Kamu bercanda, 'kan Sayang?" tepat sekali, itu adalah reaksi pertama Ethan saat Zoya mengutarakan maksud agar mereka membiarkan Naina mengandung anak Ethan.
Zoya hanya terdiam dengan tatapan lekat pada pria itu. Tatapan matanya sudah menjawab pertanyaan Ethan jika ia tidak main-main atas apa yang sudah ia katakan.
"Zoya." Ethan mengusap kasar wajahnya. Perasaannya campur aduk melihat keseriusan pada raut wajah istrinya.
"Jangan macam macam Zoya!"
"Hanya sementara Ethan!"
"Tapi saya tidak bisa!"
"Kamu bilang kamu bakal ngelakuin apa aja buat aku."
"Tapi tidak harus menikah sama wanita lain, Zoya." demi apapun Ethan benar-benar merasa geram pada istrinya yang tiba-tiba terpikirkan hal sialan yang bahkan tidak bisa Ethan bayangkan.
Bagaimana mungkin ia akan hidup dengan wanita selain Zoya? Sekalipun Zoya mengatakannya hanya sementara, namun ia benar-benar tidak bisa melakukannya. Ia memang akan melakukan apapun untuk istrinya, tapi bukan menikah lagi. Bukan bersama dengan wanita lain.
"Kita pakai kontrak pernikahan Ethan, hitam di atas putih, hanya satu tahun."
"Setelah nanti bayianya lahir maka kamu bisa ceraikan Naina." Zoya berkata dengan mudahnya. Tapi demi apapun, sejujurnya Zoya juga merasa sesak di dadanya. Sebagai seorang wanita, ia merasa begitu tega seolah memanfaatkan Naina kemudian membuang gadis itu begitu saja.
Rasanya ia terlalu egois. Namun hal itu terpaksa dilakukan Zoya. Sangat terpaksa karena hanya itu jalan satu-satunya untuk ia dengan Ethan.
"Jangan membahas hal ini Zoya." Ethan menyerah, nada bicaraanya tampak lelah dan lemah. Ia tidak ingin meladeni jalan keluar yang Zoya buat yang diarasanya tidak masuk akal. Sampai kapanpun Ethan tidak akan melakukannya.
"Ethan," Zoya juga berucap lemah. Apa salahnya, hanya satu tahun bukan? Seharusanya hal itu menjadi mudah bagi Ethan. Toh mereka akan tetap tinggal satu rumah meski Zoya sadar, semuanya, keadaannya tidak akan sama seperti semula.
Ethan tak mendengarkan, memilih untuk mendudukan diri di belakang Zoya yang duduk di tepi tempat tidur. Ethan tahu ia mematahkan harapan Zoya, namun wanita itu akan jauh lebih patah ketika nanti ia melihat wanita lain yang mengandung anak Ethan. Ethan bisa pastikan itu, dan Ethan tidak siap melihat Zoya harus terluka karena hal tersebut.
"Kamu pikir aku nggak tersiksa ngeliat kamu? Aku tahu kamu pengen punya anak Ethan."
"Siapa bilang?" Ethan menyela dengan cepat.
"AKU TAHU!"
"Aku tahu kamu sebenernya pengen punya anak!"
"Tapi cuma dengan kamu, Zoya!"
"Kenyataannya aku nggak bisa!" Zoya menyela dengan nada cepat dan tinggi. Sesaat hening kembali terjadi, Ethan yang tidak ingin dikuasai emosi memilih berdiam diri, sementara Zoya hanya terisak. Pada akhirnya ia selalu kalah oleh air matanya sendiri. Hatinya terlalu rapuh.
Ethan menatap wanita itu dalam-dalam, ia mengusap punggung Zoya namun Zoya dengan cepat menepisnya dan menghindar dari Ethan. Ethan memijat pelipisnya, kemudian beranjak dan kian mendekat pada Zoya, mendekap tubuh wanita itu, kali ini Zoya tidak berontak. Pasrah dalam dekapan Ethan.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan keadaan saya Zoya. Saya baik-baik saja, cukup saya yang mengkhawatirkan kamu, kamu tidak perlu."
"Jangan pula memikirkan kebahagiaan saya, selama kamu bahagia, maka saya juga bahagia. Keabahagaiaan kamu adalah kebahagiaan saya."
"Kebahagiaan aku adalah ngeliat kamu punya anak, Ethan."
Ethan terdiam. "Sekalipun anak itu nggak lahir dari rahim aku. Setidaknya dia anak kandung kamu." sambungnya yang kemudian melingkarkan tangannya di pinggang Ethan kian erat. Ethan tak menyahut, ia hanya diam. Berat rasanya.
__ADS_1
**
Waktu menunjukan pukul sebelas malam ketika Ethan berjalan menapaki anak tangga dan melangkah menuju kamar Naina. Pria itu sempat menghela napas di depan pintu kamar gadis itu sebelum kemudian mengetuk pintu.
Ia tahu dirinya akan mengganggu, namun Ethan ingin menyelesaikannya malam ini juga. Sekalipun sulit, ia akan coba, setidaknya Naina dapat ia dengan Zoya percaya.
Pada ketukan ketiga, Naina membuka pintu. Mata gadis itu tampak sayu. "Apa saya mengganggu jam tidur kamu?" tanya Ethan ketika pintu kamar gadis itu terbuka lebar.
Naina menggelengkan kepala, bahkan ia belum tidur barang sedetikpun. Permintaan Zoya beberapa waktu lalu membuat kantuk di matanya menghilang.
"Saya belum tidur Pak."
Ethan diam menatap gadis itu, barangkali Nainapun sama seperti dirinya. Tidak bisa tidur.
"Bisa kita bicara?"
Naina mengerjap di tempatnya. Sekalipun ia selalu melihat Ethan dalam mode serius, namun nyatanya kali ini pria itu tampak serius daripada biasanya. Gusar tiba-tiba saja menyerang perasaan Naina.
Tapi beberapa detik selanjutnya, ia sudah duduk pada salah satu kursi meja makan guna memenuhi ajakan Ethan untuk berbicara. Jarum jam terus berputar, menciptakan suara denting yang terasa begitu nyaring dalam keadaan hening. Ethan masih terdiam, Naina menunggu pria itu buka suara hingga ia mendengar Ethan berbicara.
"Zoya sudah bilang ke kamu?" tanyanya. Naina mengerutkan kening, belum dapat mencerna maksud pertanyaan Ethan yang terasa ambigu.
"Mengenai Zoya yang ingin saya menikah dengan kamu." Ethan menjelaskan lebih spesifik saat dirasanya Naina tak mengerti maksud pertanyaannya. Ethan menatap gadis itu dan melihatnya dengan baik saat Naina menganggukan kepala.
Ethan terkekeh pelan. Karena demi Tuhan rasanya ia masih belum bisa percaya dengan permintaan istri tercintanya.
"Saya masih tidak mengerti dengan keinginan Zoya." sahut pria itu kemudian. Naina hanya diam, sepertinya Ethan tidak membutuhkan tanggapan.
"Bagaimana keputusan kamu?" tanya Ethan. Pertanyaan yang pria itu lontarkan justru membuat Naina bingung. Apa artinya Ethan juga sudah tahu Zoya sudah berbicara dengannya dan Zoya tidak main-main dengan permintaannya.
Naina hanya memaku, belum dapat mengeluarkan sepatah takapun.
"Jika saya tidak mencintai Zoya maka saya tidak akan setuju. Solusi ini terlalu gila." sahut Ethan yang dengan cepat membuat Naina mengerti jika Ethan menyetujui ide gila ini meski mungkin atas keterpaksaan.
Naina terkesiap saat pandangan Ethan beralih padanya. Pria itu masih menunggu jawabannya.
"Bagaimana?"
"Apa Pak Ethan setuju dengan ide Mbak Zoya?"
"Saya tidak memiliki pilihan lain. Karena jika saya tidak setuju, bisa saja Zoya lebih memilih cerai dari saya." terang Ethan sebagaimana spekulasinya andai ia bersikeras menolak.
***
"Saya sudah bicara dengan Naina." sahut Ethan keesokan paginya begitu Zoya membuka mata. Wanita itu mematung, ia masih mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke matanya. Sedangkan di hadapannya Ethan tampak sudah rapi dan segar.
"Saya setuju mengikuti ide gila kamu. Saya sudah membuat kontrak pernikahannya dan ingat, Zoya!" Ethan menatap wanita itu lekat-lekat.
"Ini hanya berlaku selama satu tahun." sambungnya.
"Satu hal lagi yang paling penting. Saya melakukan ini untuk kamu. Demi kamu!"
__ADS_1
TBC
Ohh, Ethaaan.