Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Cincin


__ADS_3

"Udah, Ga. Berenti!" sahut Freya, mereka berada di jalanan yang lumayan sepi. Braga menepi menuruti perkataan Freya meski ia tidak tau maksud dari gadis itu memintanya untuk berhenti di sini.


"Kenapa berenti?" Agyan yang buka suara lebih dulu daripada Braga.


Freya tak menyahut, ia hanya diam. Sementara Braga memilih turun dari mobil meninggalkan keduanya. Ia berjalan ke arah jembatan yang tak jauh dari tempatnya memarkir mobil. Menatap air yang mengalir di bawahnya, kemudian menoleh ke arah mobilnya. Tanpa sadar, jika kepalanya terus menebak apa yang sedang dilakukan Agyan dan Freya di dalam sana.


Mungkinkah melanjutkan yang tadi? Atauβ€” Tidak perlu memikirkannya. Braga berusaha memegang prinsip tersebut. Ia mengeluarkan ponselnya, melihat jendela obrolannya dengan Vanesh dalam aplikasi chatnya.


Bibirnya menyunggingkan senyum. Tiga tahun sudah dari semenjak ia memberi kesempatan pada Vanesh untuk perasaannya. Tapi sampai detik ini, Braga tidak tau hatinya untuk siapa.


Masihkah untuk gadis yang saat ini sedang meleburkan kerinduan dengan orang terkasihnya. Atau hatinya memang bukan untuk siapa-siapa.


Braga mendial nomor seseorang, kemudian menempelkan benda tersebut pada telinganya. Tidak butuh waktu lama, dering kedua telponnya sudah mendapat jawaban.


"Hey, Kak." terdengar suara Vanesh yang khas di ujung sana.


"Kamu udah sampe rumah?" tanya Braga dengan kalem, matanya fokus menatap air.


"Udah. Baru aja nyampe dan masuk kamar."


"Kak Braga juga udah di rumah?"


Braga menoleh pada mobilnya. Cukup lama. "Iya, udah. Ini lagi di kamar," dustanya dengan tenang.


"Kok bisa sama, jangan-jangan kita jodoh!" Vanesh menyahut sambil tertawa-tawa di ujung sana. Braga hanya terkekeh kecil mendengar tawa gadis itu.


"Kok bisa?"


"Bisa dong. Nih, kamu juga nafas, aku nafas. Kita jodoh lagi, 'kan?"


Kali ini Braga tertawa, ia juga mendengar tawa Vanesh yang khas di ujung sana. "Berarti aku juga jodoh sama Mbak Nenti,"


"Mbak Nenti siapa?"


"Pemilik kantin kampus!"


"Ih, kok jodoh sama dia. Kenapa?"


"Kan dia nafas juga!" canda Braga


"Ih, Kak Braga!"


Vanesh menggerutu, sementara Braga menertawakannya. Matanya sesekali tetap menoleh ke arah mobil tanpa tau apa yang sedang terjadi di sana.


"Papi ngancem aku, Yang. Aku gak bisa ngapa-ngapain!" ucap Agyan dengan nada geregetan saat sudah selesai menceritakan semuanya pada Freya dan gadis itu menolak untuk mengerti.


"Seenggaknya kamu ngabarin aku biar aku nggak cemas."


"Papi nggak izinin!"


Freya diam. Jujur ia sedih mendengarnya. mengetahui bagaimana tidak sukanya Andreas padanya. Mengingat bagaimana perkataan Andreas saat di pemakaman tadi.


Freya tidak tau dosa besar apa yang sudah dilakukan Anna sampai membuat Andreas sebegitu enggan menjalin kekerabatan dengan keluarganya.


Freya memahami perasaan Warry yang terluka karena Anna pernah mencampakannya hanya karena Andreas. Tapi sungguh, Freya tidak mengerti kenapa mereka sebegitu kerasnya menentang hubungan ia dan Agyan.


"Aku nggak ngerti lagi sama pola pikir orangtua kita. Aku capek!" pasrah Freya yang membuat Agyan spontan menggeleng.


"Tinggal satu tahun lagi, Yang."


"Kamu yakin setelah satu tahun orangtua kita bakal kasih restu?"


Agyan diam. Ia tidak yakin, tetapi juga tidak ingin terlalu pesimis mengahadapi apa yang ada di depannya nanti.


Ia menggapai tangan Freya. "Aku janji, apapun yang terjadi, kita bakalan nikah, Frey."


"Tapi gimana perasaan orangtua kita?"


"Sejauh ini kita udah ngalah, Yang."


Freya diam, Agyan hanya mengusap punggung tangan Freya sampai ia menyadari satu hal.


"Cincin kamu mana?"


Freya menatap jari tangannya. Mati, sudah tiga hari ini ia melepas cincin tunangannya dengan Agyan dan lupa di mana menyimpannya.


"Frey!" raut wajah Agyan dalam sekejap terlihat kesal. Matanya seolah ingin menerkam Freya hidup-hidup.


"Kamu berani lepas cincin dari aku?!"


Alis Agyan bertaut, raut kesal, marah, kecewa dan sedih bercampur menjadi satu dalam pancaran matanya.


"Aku simpen!"

__ADS_1


"Gak usah bohong!" Agyan menghempas tangan gadis itu yang semula berada dalam genggamannnya, memposisikan duduknya menjauhi gadis itu dan membuat Freya panik seketika.


"Aku bakal cari!" ujar Freya, menggapai tangan Agyan. Agyan tidak bergeming.


"Aku janji cincinnya bakal ketemu, yah."


Agyan tetap tidak bereaksi, membuat Freya kian merasa bersalah. Sementara kepalanya berusaha mengingat-ingat di mana ia menyimpan cincin tersebut.


Saat itu, perasaan Freya tengah kecewa pada Agyan sehingga ia melepas cincin dari pria tampan itu. Pikirannya dipenuhi dugaan-dugaan buruk tentang Agyan yang barangkali sudah memiliki penggantinya, sehingga Freya pun memilih untuk menyerah saja.


"Kamu gak tepatin janji!"


"Maafin aku!" pada akhirnya, Freya yang mengemis meminta maaf karena cincin tunangan mereka yang dihilangkannya.


Begitu sampai di rumah, Freya segera menggeledah kamarnya. Ia ingat, jika ia meletakan cincinnya di atas tempat tidur. Kemudian, ia tidak pernah lagi memperdulikannya.


"Cincinnya di mana coba."


"Jangan bikin Agyan marah sama aku, dong." ia berbicara sendiri sambil mengacak tempat tidur untuk mencari benda kecil kesayangannya.


Menyerah, karena semua tempat sudah dikunjunginya. Freya berjalan menuruni anak tangga memanggil-manggil Bi Rusti barangkali ia melihat saat merapihkan tempat tidurnya.


"Bi,"


"Bibi."


"Frey ada apa, sih?" Anna muncul dari arah dapur dan menghampirinya.


"Bi Rusti di mana?"


"Ke pasar."


"Sore-sore gini?"


Anna mengangguk, menatap Freya yang justru malah melamun. "Ada apa, sih. Tumben nanyain Bi Rusti?"


Freya diam. Sepertinya Anna tidak peelu mengetahui apa yang sedang di carinya. Biar dia bertanya pada Bi Rusti setelah asisten rumah tangga keluarganya itu pulang dari pasar.


"Bukan apa-apa, Mi. Freya ke kamar!" pamitnya. Anna hanya mengangguk tanpa merasa curiga. Membiarkan Freya berlalu menapaki anak tangga.


*


*


"Jadi selama ini, kenapa loe ngilang?" tanya Braga. Kini keduanya sedang berada di kafe dekat kampus Braga. Setelah mengantarkan Freya pulang, Agyan justru mengajaknya untuk berjalan-jalan dan Braga tidak menolak.


Hanya satu kata, dan Braga mengerti apa maksudnya. Ia menganggukan kepala, menatap Agyan yang tampak melamun di tempat duduknya.


"Jadi hubungan loe sama Freya ke depannya gimana?"


Agyan menatap Braga, satu sudut bibirnya terangkat, diikuti kekehan kecil.


"Gue balik lagi ke Amrik satu tahun, pulang dan nikah sama Freya!" ia menyahut dengan enteng.


Lagi-lagi Braga hanya mengangguk-anggukan kepalanya. "Om Andre sama Om Warry?"


Kali ini Agyan diam. Saat ini ia tidak memiliki cara apapun untuk meluluhkan hati dua orang itu. Terlebih, Andreas sudah mengatakan padanya jika ketika lulus nanti, Agyan akan mengambil bagian mengurus perusahaan.


"Gue masih mikirin,"


"Mikirin doang mah apaan, Gyan." Braga terkekeh, Agyan hanya tersenyum."Selama gue di Amrik, loe deket sama Freya?"


Braga mengangguk, memusatkan tatapannya pada Agyan yang juga tengah menatapnya penuh selidik. "Gue percaya sama loe," ungkap Agyan yang membuat Braga menautkan alisnya.


Agyan lagi-lagi hanya tersenyum, ia menumpukan tangannya di atas meja. Wajahnya sedikit condong pada Braga yang masih menatapnya penuh tanya. "Loe gak mungkin suka sama Freya, 'kan?" tanya Agyan dengan nada santai.


Braga diam. Iya, dia terlanjur mencintai Freya meski tetap tidak melakukan apapun untuk membuat Freya mau kepadanya. Bagaimana pun, Braga tau bagaimana perasaan Agyan dengan Freya, dan ia tidak ingin menjadi perusak di antara mereka.


"Enggak. Gue gak suka Freya," Braga menyahut setelah cukup lama hanya diam.


Agyan mengangguk seraya mengangkat kedua bahunya berlaga tak perduli. Ia tidak ingin memaksa karena sudah tau kenyataannya.


*


*


Agyan membanting tubuhnya ke atas sofa di ruang utama rumahnya. Keadaan rumah masih sepi meski waktu sudah mulai malam, barangkali Andreas dan Grrycia menginap di rumah omanya. Agyan akan menyusul, menghibur dan menguatkan sang oma sebelum ia kembali ke Amrik dua hari lagi.


Tapi sebelumnya, ada yang harus ia lakukan terlebih dahulu. "Bi," Agyan melangkah dengan cepat menghampiri Bi Jumi yang baru saja akan ke luar.


"Eh, Aden, ada apa, Den?"


"Bibi mau ke mana?"

__ADS_1


"Ke warung depan." Agyan mengangguk, kemudian tersenyum. "Saya boleh minjem hape Bibi, nggak?"


"Buat apa, yah. Den?"


"Pinjem aja, mau dipinjemin nggak? Ntar pulsanya saya ganti."


"Aden, mah!" wanita yang sudah tua itu menepuk pelan lengan Agyan dengan raut tersipu. Kemudian menyerahkan ponselnya dan permisi untuk ke warung depan. Sedangkan Agyan berlalu ke arah kamarnya, ia menanggalkan kemeja pada sandaran kursi. Menyisakan t-shirt putihnya dan duduk di atas tempat tidur setelah menyambungkan telpon pada orang terkasihnya.


"Gimana?" tanyanya tanpa basa-basi.


"Ini siapa?"


"Aku!"


"Aku siapa?!"


Agyan berdecak, ia membaringkan tubuhnya. Satu lengan ia letakan di atas kening. "Cincinnya ketemu?" tanyanya yang pasti akan membuat Freya langsung mengetahui siapa dirinya.


Freya menatap cincin yang sekarang sudah kembali berada di jari manisnya, ia tersenyum dan mengecupnya.


Untunglah, Bi Rusti menemukan dan menyimpannya saat merapihkan tempat tidur Freya.


"Udah!"


"Dua hari lagi aku berangkat ke Amrik."


"Kamu nelpon cuma buat ngasih tau hal ini?" kesal Freya yang enggan ditinggalkan. "Daripada nggak ngabarin sama sekali, nanti kamu ngamuk-ngamuk."


"Ini juga aku pinjem handphone Bi Jumi."


Freya hanya diam, sampai Agyan kembali berbicara. "Yang, aku ke rumah kamu, yah."


"Hah, ngapain?"


"Yah,"


Freya menggigit ujung kukunya. Warry memang belum tiba dari kantor. Tapi di rumah ada Anna. Freya merasa ragu.


"Yang, yah."


"Kamu yakin?"


"Iya."


"Yaudah!"


Panggilan terputus, Freya keluar dari kamar, mencari Bi Rusti untuk meminta bantuan. Sementara Agyan segera mandi dan berganti pakaian. Ia akan ke rumah Freya terlebih dahulu sebelum ke rumah Santy untuk menginap.


*


*


Freya ke sana ke mari dengan cemas di dalam kamarnya. Sampai tak lama, pintu kamarnya di ketuk dari luar, ia buru-buru membuka pintu.


Menarik Agyan untuk segera masuk ke dalam kamarnya. "Mami nggak ada, Bi?"


"Nyonya di kamarnya, non."


"Oh, oke, makasih yah, Bi."


Bi Rusti mengangkat kedua jempolnya. Lantas permisi meninggalkan kamar nonanya. Freya buru-buru menutup pintu dan berbalik menatap Agyan yang berdiri dengan kalemnya.


Pria tampan itu mengenakan t shirt hitam, dengan celana hitam dan blazer garis-garis berwarna biru tua. "Ngapain, sih, mesti ke sini?" gerutunya pada sang pacar. Bukan apa-apa, hanya saja Freya merasa cemas jika Agyan sampai ketahuan.


"Kangen!"


"Nggak usah ngarang, deh, Gyan."


"Pulang, gih." usirnya dengan halus, raut wajahnya menyiratkan keengganan.


"Oke, aku pulang!" pasrah Agyan, ia berjalan ke arah pintu. Freya hanya menatapnya bahkan sampai tangan Agyan menyentuh handle pintu.


"Gyan,"


Gadis itu bangkit. Berjalan ke arah Agyan dan memeluknya, merelakan Agyan untuk satu tahun lagi pergi meninggalkannya. Agyan tersenyum membalas pelukan Freya.


"Denger ini Frey, satu tahun lagi, kita akan menikah, apapun yang terjadi." kembali Agyan menegaskan apa yang sudah pernah ia katakan sebelumnya agar Freya yakin dengan hubungan mereka kedepannya.


"Kamu yakin?"


"Kita harus yakin." tegasnya.


Freya mendongak menatap mata Agyan, ia mengangguk. Satu tahun lagi mereka harus mengalah pada jarak, setelahnya, keduanya berharap dapat bersama. Selamanya.

__ADS_1


TBC


Pokok permasalahan disini adalah restu dari orangtua mereka. Kalau Andreas sama Warry nurunin tingkat egonya dan ngasih restu, nah, gimana dong kalo problemnya maen beres gitu aja. Masa mau ada problem orang ketiga, nggak asik dong πŸ˜…πŸ˜‚πŸ€£


__ADS_2