Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Marah dan kecewa


__ADS_3

Syahdan sampai dirumah, dibantingnya pintu dengan kasar. Amarahnya benar benar memuncak. Semua ini karena Maminya. Dia harus kehilangan Airin sekarang.


Rahma dan Luna yang tengah ngobrol sampai terkejut mendengar suara bantingan pintu. Mereka serentak bergegas keluar melihatnya.


"Apa apa an sih mas, pakai banting pintu. Emangnya pintu itu salah apa" Ujar Luna yang tau kalau Syahdan yang membanting pintu.


"DIAM KAMU." Syahdan membentak.


Bukan hanya Luna yang kaget dengan bentakan Syahdan. Rahma juga terkejut. Tapi dia sudah merasa kalau Syahdan marah karena dirinya. Karena dia mendatangi rumah Airin sore tadi.


"Ada apa denganmu Syahdan. Ngk usah main bentak bentak seperti itu." Kata Rahma pada anak laki lakinya itu.


"Puas Mami, puas Mami sekarang kan. Sungguh egois Mami. Mami sudah menghancurkan harapan Syahdan. Puas Mami sekarang kan." Syahdan meluapkan amarahnya. Dia sudah tak bisa lagi mentolerir ulah Maminya.


"Apa maksud kamu. apa ini semua karena janda itu" Kata Rahma.


"Airin Mami Namanya Airin. Janda atau bukan. Bisa nggak Mami hanya menyebut namanya Bukan statusnya" Kata Syahdan masih dengan nada kemarahan.


"Apa selama ini Syahdan pernah menyusahkan Mami. Apa selama ini Syahdan tidak mempedulikan Mami dan Luna. Apa Syahdan tidak menjalani Amanah Papi ? Sehingga tega Mami menghancurkan impian Syahdan." "Mami sendiri tau Syahdan tak pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun. Semua karena Syahdan ingin focus dulu menjalani amanah yang sudah Papi Wasiatkan dulu."


"Sekarang, untuk pertama kali Syahdan mencintai seorang wanita. Mami hancurkan harapan Syahdan hanya karena Airin seorang mantan napi dan seorang janda."

__ADS_1


"Dimana hati Mami. Mami juga seorang wanita. Mami juga seorang Ibu. Bagaimana kalau anak gadis Mami yang berada di posisi Airin. Apa Mami tidak merasakan sakit yang dirasakan Airin.... Haah ?


Syahdan benar benar meluahkan amarahnya. Dia sangat kecewa dan putus asa. Harapannya untuk menikahi Airin hancur. Semua karena ulah Maminya yang menghina Airin.


"Cukup, Mami melakukan semuanya untuk kamu. Mami ingin kamu mendapatkan pendamping hidup yang terbaik" Kata Rahma.


"Jadi Mami pikir Fiona Adalah yang terbaik. Mami fikir Fiona Wanita yang sempurna. Hahahaaha,,,, wanita itu benar benar sudah berhasil menipu Mami." Ujar Syahdan sambil tertawa kesal.


"Apa maksud kamu. Kamu tidak perlu menjelek jelekkan Fiona. Dia wanita yang berpendidikan dan terhomat." Kata Rahma kesal denga sikap anaknya.


Lalu Syahdan membuka ponselnya. Dia memutarkan sebuah rekaman suara yang memberikan Info tentang Fiona. Syahdan telah memerintahkan salah satu bawahannya yang bekerja di firma hukumnya untuk melacak Fiona. Mencari tau siapa sebenar nya Fiona. Semua karena dia tak sengaja melihat Fiona yang keluar dari cafe sambil bergandengan mesra dengan seorang Pria malam itu.


"Bagaimana Mami. Apakah Fiona lebih baik dari Airin ?" Ujar Syahdan dengan tatapan pilu. Kemudian Syahdan mengirimkan beberapa foto Fiona ke Rahma lewat WA.


"Sudah aku kirim bukti lainnya ke Wa Mami. Jadi Mami bisa lihat sendiri perilaku calon mantu idaman Mami."Ujar Syahdan. Kemudian melangkah ke kamarnya. Meninggalkan Rahma yang terpaku diam. Dia shock, tak percaya dengan yang barusan di dengarnya. Kemudian Rahma bergegas membuka ponselnya. Alangkah kagetnya dia melihat beberapa foto Fiona dengan lelaki yang berbeda beda. Rahma jadi lemas. Hampir saja dai terjatuh ke lantai. Kalau saja Luna tak segera merangkulnya..


"Mami..." Luna dengan cepat merangkul Maminya yang akan tumbang kelantai. Luna memapahnya dan mendudukannya di sofa. Luna pun melihat foto foto yang dikirim Syahdan tadi ke ponsel Maminya. Dan Luna pun tak kalah terkejutnya. Dia juga marah mendengarkan rekaman tadi.


Rahma menangis terisak. Tak percaya dengan yang terjadi. Fiona anak sahabatnya, yang selal di puji pujinya. Seorang wanita berpendidikan dan terhormat ternyata hanya seorang,,,,, Rahma sangat kecewa sekali.


"Ini pasti ngk benar, ini pasti fitnah. ngk mungkin Fiona seperti itu." Isak Rahma. Dia berharap semua ini mimpi.

__ADS_1


"Mami sudahlah, semua pasti benar. Apa Mami lupa kalau Mas Syahdan itu seorang Lawyer, dia pasti mudah mencari informasi itu." Ujar Fiona. Dia kesal karena Maminya masih saja membela Dokter mur*han itu.


Sementara itu Syahdan di kamarnya masih dengan kemarahannya. Dia membanting apa saja yang ada di kamar. Kamar yang awalnya rapi, sudah berubah seperti kapal pecah. Vas bunga pecah berderai. Laptop kerjanya yang dimeja terlempar ke arah dinding dan hancur. Belum pernah Syahdan semarah ini.


Suara benda benda yang hancur itu sampai terdengar keluar. Luna mengerti hancurnya perasaan kakak lelakinya itu. Karena Luna juga tau kalau selama ini Syahdan tak pernah punya hubungan khusus dengan teman teman wanitanya. Semua waktu mas Syahdan sudah penuh dengan urusan kerjaan dan menjaga dirinya dan Mami. Luna pun ikut menangis, dia ikut merasakan hancur nya perasaan Syahdan.


Rahma juga mendengar suara bantingan dari kamar Syahdan. Tangisnya makin terisak. Dia tak menyangka kalau niatnya yang ingin anaknya bahagia malah sebaliknya, menghancurkan harapan anaknya.


Dia merasa sangat bodoh sekalii Kenapa bisa dibohongi temannya Mala. Yang selalu memuji muji anaknya Fiona. Sehingga Rahma terpengaruh menyukai Fiona dan berniat ingin menjodohkan Fiona dengan Syahdan. Ternyata Fiona tak lebih dari seorang wanita mur*han..


Rahma bangun dari duduknya, kemudian melangkah pergi. Dia akan mendatangi Fiona. Wanita j*lang itu.


"Mami mau kemana, jangan bikin masalah lagi mi. Mami ngk kasian dengan mas Syahdan. Udah dong mi." Cegah Fiona. Meskipun dia tak tau Maminya akan kemana. Tapi dia tak ingin masalah ini semakin rumit.


"Mami mau menemui Fiona. Mami akan membuat perhitungan dengannya. Karena telah membodohi Mami."Ujar Rahma.


"Mami mau bikin keributan. Ini sudah malam, besok aja. Besok Luna temani Mami menemui Dokter j*lang itu. Tapi jangan sekarang, lebih baik Mami istirahat." Kata Luna sambil mengajal Maminya ke kamar.


"Tapi Mami nggak tega liat Mas mu Lun,,, ini semua salah Mami. " Rahma masih terisak mengingat kemarahan anak Laki lakinya.


"Sudahlah, biarkan dulu mas Syahdan sendirian. Biarkan dia tenang dulu mi, kita jangan ganggu dulu. Sampai emosinya reda." Ujar Luna. Lalu Luna mengantar Maminya ke kamar. Rahma pun rebahan di ranjang, mencoba untuk istirahat. Kemudian Luna pun menuju kamarnya...

__ADS_1


__ADS_2