Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Perjodohan 1


__ADS_3

Sementara itu dirumah Airin, Dewi bersiap siap untuk kerja seperti biasanya. Hari ini dia ada jadwal menyetrika di rumah Ustadzah Hasna. Sekalian dia berniat untuk menerima perjodohan Airin dengan putra temannya Ustadzah Hasna. Dewi sudah benar benar yakin untuk hal ini. Dia yakin Anaknya Airin dan cucunya Syifa akan hidup dengan layak nantinya. Dan akan jauh dari hinaan orang tentunya.


"Ibu kerja dulu ya. Kue kue yang mau dititip titipkan apa sudah siap." Kata Dewi pada Airin. Airin baru saja keluar dari kamar mandi setelah memandikan Syfa.


"Sudah Bu, semuanya ada dimeja. Sudah Airin pisah pisahkan sesuai warung dan pesanannya." Jawab Airin.


"Ya sudah, Ibu berangkat." Ujar Dewi. Sebelum pergi dia masih menyempatkan untuk mencium cucunya Syfa.


"Nenek kerja dulu ya nduk, jangan rewel ya sama Bunda dirumah." Ujarnya pada bayi mungil itu. Syfa pun seperti mengerti. Dia bersuara khas bayi sambil tersenyum senyum ketawa. Dan berangkatlah Dewi kerumah Ustadzah Hasna.


Sesampainya dirumah Ustadzah Hasna, Dewi mengerjakan tugasnya seperti biasa. Selama bekerja Dewi focus dengan pekerjaannya. Dan dia sangat teliti dan telaten. Inilah yang membuat Ustadzah Hasna senang mempekerjakannya. Hasil setrikaan Dewi licin dan rapi.


Menjelang dzuhur kerjaannya selesai. Mencuci dan menyetrika, sesekali Dewi membantu masak. Kemudian Dewi menemui Ustadzah Hasna yang tengah menemani anaknya makan siang.


"Maaf ustadzah, saya boleh mebahas masalah yang kemaren itu ? soal lamaran untuk Airin." Kata Dewi.


"ooo,, tentu Dewi. Bu Anita juga beberapa hari yang lalu sudah menanyakannya. Apakah sudha ada jawabannya." Jawab Ustadzah Hasna.

__ADS_1


"Iya ustadzah, Kami bersedia menerima lamarannya. Tapi apakah keluarga Bu Anita sudah tau dengan keadaan kami. Kami bukan orang berada. Dan Ustadzah tau sendirikan masalalu Airin seperti apa. Saya tak ingin Airin terluka lagi ustadzah. Saya ingin anak saya bahagia." Ujar Dewi. Ustadzah Hasna tersenyum.


"Sudah Dewi, saya sudah cerita tentang Airin dan keluarga kalian. Anita tidak mempermasalahkan masa lalu Airin. Dan dia yakin, anaknya juga tidak akan menyakiti Airin dan Syfa. Lagi pula nantinya setelah menikah Airin akan tinggal bersama Anita juga. Anita itu wanita yang baik, lemah lembut. Selama saya mengenal dia dari sejak suaminya masih hidup saya sangat tau Akhlaknya. Dan saya sudah beberapa kali bertemu anaknya. Anaknya itu seorang Dokter yang sudah sangat dikenal. Dan dia juga Presdir Rumah Sakit, menggantikan posisi Ayahnya. Anaknya baik dan dia sangat menyayangi Anita Ibunya. Saya yakin, seorang Lelaki yang sayang dan peduli dengan Ibunya akan menyayangi istrinya juga kelak, InsyAllah" Kata Ustadzah Hasna. Sedkit membuat hati Dewi lega. Karena dia menilai kalau Ustadzah Hasna sendiri yang mengatakannya InsyaAllah dia percaya.


"Alhamdulillah,, kalau begitu perjodohan ini bisa dilanjutkan ustadzah. Tapi saya minta jangan lama lama. Saya ingin pernikahan dilakukan dalam waktu dekat ini. kalau perlu dalam bulan ini juga. Hari Lamaran ke hari pernikahan tak usah di jeda lama. Karena saya tidak ingin makin banyak omongan orang dan hinaan untuk Airin. Saya ingin anak dan cucu saya bisa merasakan bahagia juga ustadzah. " Ujar Dewi dan terisak. Dia sungguh tak dapat menerima perlakuan orang orang yang selalu menghina anaknya.


"Alhamdulillah, baiklah.. akan saya sampaikan kepada Anita. Nanti saya langsung kabari kamu ya. Sembari menentukan tanggalnya." Kata Ustadzah Hasna.


"Tapi kalau Bu Anita dan anaknya mau bertemu Airin dulu ngk pa2 Ustadzah. Silahkan datang kerumah kami." Kata Dewi.


"Iya, nanti saya sampaikan ya." Jawab Ustadzah Hasna.


Sementara itu, setelah Dewi pulang. Ustadzah Hasna pun lansung mengabari Anita bundanya Dokter Devid. Anita sangat senang sekali. Dia yakin Wanita yang bernama Airin itu akan menjadi istri dan menantu yang terbaik. Dari cerita Ustadzah Hasna tentang keluarga Airin pun, Anita yakin Airin bukanlah wanita yang nakal.


Anita pun menyetujui untuk mensegerakan pernikahan ini. Dia akan segera memberi tau Devid. Bagaimanapun caranya Devid harus mau menikah dengan wanita pilihannya kali ini. Airin.


Anita pun memiliki ide yang cemerlang. Dia sangat hafal sifat Devid. Meskipun sedikit keras kepala tapi anaknya itu tidak akan tega kalau Bundanya ini jatuh sakit. Anita menyuruh salah satu Artnya untuk menelpon Devid dan mengabarkan kalau Anita sakit dan tidak mau makan seharian.

__ADS_1


Devid menerima telfon itu, telfon dari Art rumahnya yang disuruh Bundanya. Benar sekali, Devid menjadi cemas dan khawatir. Dia segera membereskan pekerjaannya untuk segera pulang. Syukur saja semua pasiennya sudah habis. Jadi dia bisa segera pulang.


Devid pun sampai dirumahnya, dan lansung menemui Aniata dikamar Anita lagi tiduran di ranjangnya.Pura pura lemas sakit. Sesuai rencananya.


"Bunda kenapa. Kenapa kata bibik Bunda ngk makan dari pagi." Sahut Devid langsung. Yang melihat Bundanya lesu.


"Bunda ngk seelera makan. Bunda sudah bosan makan sendirian terus dirumah ini. Kamu selalu sibuk nggak ada lagi waktu untuk Bunda." Ujar Anita merajuk.


Devid merasa sangat bersalah. Memang benar, akhir akhir ini dia sangat sibuk. Sebagian besar waktu nya habisa di Rumah sakit. Kadang saat dia pulang, Bunda nya sudah tidur.


"Maafkan Devid ya, Bunda kan tau Devid begini karena sibuk dengan Rumah Sakit. Bunda mau Devid melepaskan Rumah Sakit peninggalan Ayah ?" Kata Devid sedikit mencari alasan.


"Ya sudahlah. Uruslah Rumah Sakit itu. Memang amu hanya menyayani Ayahmu. Kamu tidak menyayangi Bunda" Kata Anita.


"Bundaaaa,,, jangan ngomong begitu. Bunda segala nya buat Devid. Bunda lah satu satunya sekraag Orang tua Devid. Mana mungkin Devid tidak menyayangi Bunda." Jawab Devid sedih.


"Benarkan yang Bunda katakan. Kalau kamu sayang sama Bunda, kmau pasti memikirkan perasaan Bunda.. Mengabulkan ke inginan Bunda. Tapi apa, Bunda minta kamu untuk menikah lagi saja kamu nggak mau kan." Kata Anita.Kali ini dengan sedikit airmata. Tapi ini bukan airmata palsu. Tapi dia benar benar ingin Devid menuruti keinginannya. Dia ingin Devid menikah lagi.

__ADS_1


Devid menarik nafas panjang. Ternyata benar dugaannya. Bunda begini karena ingin memintanya menikah kembali. Tapi bagaimana mungkin Devid bisa menikah sementara hatinya belum siap lagi. Tapi Devid juga paham, kesepian ini membuat Bundanya menjadi banyak fikiran. Mungkin jika dia memiliki seorang istri akan bisa menemani Bunda nya dirumah.


Haruskah Devid mengalahkan egonya sekarang ini. Haruskah dia menikah lagi. Tapi bagaimana bisa dalam waktu dekat, Dia saja tidak ada menjalin hubungan special dengan wanita manapun.


__ADS_2