
"Mas Rival beneran mau menginap di sini?" tanya Naina saat pria itu ikut turun dari mobil. Naina tidak percaya Rival benar-benar ikut pulang ke rumahnya, terutama mereka memang menaiki mobil Rival ketika turun dari bukit. Dengan mudahnya Rival menganggukan kepala, benar-benar membuat Naina menggeleng takjub dibuatnya.
Etan lantas menoleh seolah tidak rela jika pria itu benar-benar menginap. "Pulang saja. Besok pagi juga kami akan pulang." ia angkat bicara tanpa berpikir panjang.
"Kamu tega nyuruh aku pulang malam-malam begini?"
"Yang menyuruh kamu datang ke sini siapa memangnya?" pertanyaan Ethan membuat Rival kalah telak.
"Memang tidak ada. Tapi aku ingin jalan-jalan." Rival membela diri.
"Ya tapi tidak ada yang ngundang kamu datang kesini."
Rival menyahuti Ethan, memancing keributan. Terus berdebat, membuat Naina dan Zoya saling bertukar pandang menatap mereka dengan heran.
"Pulang sekarang!" Ethan bagai menuntut, Zoya menarik tangan pria itu dengan pelan. "Kamu kenapa, sih?" dia bertanya dengan nada rendah Ethan tak menyahut hanya memutar bola matanya jengah. Untuk apa juga Rival menginap di sana.
Bayangkan saja, di rumah Naina ini hanya ada dua kamar. Tidak mungkin kan nanti malam ia dengan Zoya tidur di kamar yang kemarin mereka pakai. Naina dengan Bibinya di kamar si Bibi kemudian Rival berada di ruang utama sendirian berhadapan dengan televisi.
Ethan tahu istrinya akan mengatur posisi di mana Nlnanti Etan akan menemani pria itu untuk tidur di luar. Bukankah sangat menjengkelkan jika hal tersebut benar-benar istrinya lakukan?
"Aku akan menginap." Rival tetap teguh pada pendiriannya.
"Pulang!" Ethan masih bersikeras.
"Sebenarnya rumah ini milik siapa, sih?" Rival mendesah kesal kepada Etan kemudian dua pria itu mengalihkan tatapannya kepada Naina, sang pemilik rumah yang tengah terpaku. menatap Ethan dengan Rival bergantian.
Tatapan dua orang itu benar-benar mengancam Naina dan ia tidak tahu harus berpihak kepada siapa.
Naina setuju kepada Ethan agar Rival pulang saja. Toh pria itu tidak diundang untuk datang ke sana. Bahkan merekapun bertanya-tanya dan heran mengapa pria itu tiba-tiba saja datang. Tapi di sisi lain, ia juga merasa kasihan kepada Rival jika pria itu harus pulang sendiri melewati perkebunan buah naga yang panjang dan menyeramkan malam-malam begini.
Ethan bagai memberinya tatapan agar tidak mengizinkan Rival untuk menginap sedangkan tatapan Rival amat memohon agar Naina mengizinkannya menginap semalam. Naina benar-benar dibuat bingung atas semuanya.
"Oke, oke. Gini aja. Ethan, kita nggak mungkin biarin Mas Rival pulang sendiri ke Jakarta malam-malam begini iyakan?"
"Jadi biarin dia menginap di sini. Besok kita pulang bersama ke Jakarta, okey."
"Iya, dengan satu syarat dia tidur di luar!" Ethan bagai berapi-api. "Di luar?" Rival mengerutkan kening.
"Di sana!" Ethan menunjuk sebuah dipan yang berada di teras rumah Naina.
Pria itu membulatkan mata. Zoya menepuk bahu suaminya. "Di ruang utama." ia meralat apa yang Ethan sampaikan. Membuat Rival bernapas lega. "Oke," pria itu tersenyum penuh kemenangan. Di manapun tempatnya, yang paling penting adalah ia bertahan di sana, asalkan bukan di luar. Tidak pulang ke Jakarta tanpa hasil apapun, setidaknya esok pagi mereka harus pulang bersama.
Dengan perasaan dongkol, Ethan masuk lebih dulu ke dalam rumah Naina, Zoya menyusul meninggalkan dua orang itu di sana. Rival dengan Naina menatap kepergian dua orang itu hingga mereka menghilang di balik pintu. Naina lantas mengalihkan tatapannya pada Rival.
"Rumah Bibi saya kecil." sahut Naina saat Rival tampak mengamati rumahnya. Rival hanya mengangkat bahu acuh, tak ingin tahu. Toh sudah melihatnya. Dan tidak ada masalah dengan hal itu.
"Di sini ada dua kamar. Satu kamar saya dan satu lagi kamar Bibi saya."
"Tapi kamar saya sedang ditempati Pak Ethan sama Mbak Zoya. Saya tidur dengan Bibi di kamar satu lagi." panjang lebar Naina, Rival mendengarkan hingga kemudian mengerutkan kening begitu Naina berhenti berbicara.
__ADS_1
"Saya benar-benar tidur di ruang utama?" tanya Rival dengan konyolnya.
"Sendiri?"
"Memang Mas Rival ingin tidur dengan Pak Ethan, atau dengan Bibi saya?" tanya Naina sedikit kesal pada pria itu.
Rival hanya terdiam pasrah. "Di sini mengambil air masih dengan cara manual, harus menimba air dari sumur. Mas Rival bisa?" dengan segera Rival menganggukan kepalanya, kemudian setelahnya Naina mempersilakan masuk. Rival melangkahkan kaki dengan bibir hang bergumam pelan.
"Menimba air langsung dari sumur? Bagaimana caranya?"
**
"Bisa atau tidak?" Ethan bertanya dengan sewot saat Rival tampak mengamati tali timba, kelihatan masih bingung memikirkan caranya.
"Sebentar lagi, aku sedang mengamatinya." sahutnya dengan mata yang terus mengamati tali timba. Rival sedang berpikir bagaimana caranya memposisikan tangan, memegang tali timba dan mendapatkan air. Seumur hidup dia belum pernah melakukannya.
Ethan berdecak, awalnya ia sudah sangat senang ketika Rival berkata di hadapan Naina dan juga bibinya jika ia yang akan mengambilkan air dari sumur. Namun sepertinya Ethan harus berpasrah diri, membiarkan dirinya sendiri nanti yang akan mengambil air karena faktanya pria itu tidak bisa mengambil air.
"Bisa dia?" tanya Zoya, Ethan menggeleng ragu. Tidak yakin dengan saudaranya tersebut.
"Kalau gitu kamu aja yang ambil air, biar cepet. Aku pengen cepat mandi, Sayang, yaah." Ethan sempat terdiam, demi apa pun tangannya masih terasa sakit karena sudah beberapa kali mengambil air di sumur dalam jumlah yang banyak.
Tapi demi Zoya ia, menghela napas dan mengangguk. Tidak bisa mengatakan tidak terutama wanita itu merayu dengan memanggilnya sayang.
"Sini, biar aku saja." kata Ethan, hendak menggeser posisi Rival. Namun kedatangan Naina yang akan melihat hasil kerja Rival membuat pria itu tetap berada di tempatnya.
"Jadi ngambil airnya?" tanya Ethan begitu Naina berlalu. "Coba kasih contoh dulu!" Rival memerintah. Tidak banyak bicara dan tidak ingin berdebat, Ethan melakukannya. Melakukan apa yang sejak kemarin ia kerjakan di tempat tersebut, yaitu menimba air yang benar-benar membuat otot tangannya terasa nyeri.
Rival tampak mengamati cara Ethan menimba air, menganggukan kepalanya mengerti. Sedangkan Zoya memerhatikan dua Ethan dengan Rival. Ternyata seperti itu pemandangannya jika dua orang angkuh dan acuh tak acuh dipersatukan. Mereka konyol luar biasa sekaligus menggemaskan.
Setelah drama mengambil air dari sumur, selanjutnya makan malam berlangsung di ruang utama beralaskan sebuah karpet. Hari ini Bibi memasak sendiri, mengingat jika Naina yang biasanya membantunya datang malam dan tidak sempat untuk membantu kecuali hanya menyajikan makanan yang telah bibi untuk mereka dari dapur ke ruang utama.
Rival makan dengan lahap, ia lapar? Tentu saja, ia hanya sarapan dan tidak sempat makan siang. Adalah hal yang wajar jika dirinya saat ini makan dengan begitu lahapnya. Terlebih. mereka menghabiskan waktu setengah hari di pantai.
"Enak ya masakan Bibi?" tanya Bibi yang memerhatikan pria itu, Rival yang semula fokus pada makanannya mengangguk disusul dengan senyuman. Benar, masakan Bibi Naina memang enak. Sangat cocok di lidahnya.
"Nak Rival ini sudah menikah?"
"Uhuk," kenapa pertanyaannya random sekali? Rival yang sedang lahap mengunyah makanannya tersedak begitu mendengar pertanyaan tersebut.
Dengan gerakan cepat Naina menyodorkan segelas air putih pada pria itu. Bahkan Rival harus memaku untuk beberapa saat demi menyadari, jika Naina layaknya seperti istri yang sedang melayani suaminya. Rival jadi ingin menertawakan dirinya sendiri. Padahal Naina hanya melakukan hal sederhana yang tidak ada apa-apanya. Lantas kenapa ia begitu berlebihan.
"Mas Rival." Naina menyadarkan saat pria itu tak kunjung meraih gelas yang ia sodorkan, justru hanya terpaku menatap Naina. Ethan dengan Zoya diam-diam mencuri pandang, kemudian saling mengukir senyum tipis dan membiarkan dua orang itu.
"Pelan-pelan makannya, biar tidak tersedak." sahut Bibi, Rival hanya mengangguk-anggukan kepala. Padahal pertanyaan si Bibi-lah yang membuat Rival tersedak.
"Jadi bagaimana jawabannya?"
"Hmm, kenapa?" Rival justru balik bertanya dengan raut ambigu. Ia kira Bibi sudah melupakan pertanyaannya tadi. Sebenarnya hal itu sangat mudah dijawab, bahkan hanya dengan mengeluarkan satu kata. Namun lidah Rival seolah kelu untuk digerakan.
__ADS_1
"Belum Bi, dia masih melajang." Ethan yang menyahut. Ikut gemas sendiri karena Rival lama sekali.
"Oh, masih sendiri." sahut si Bibi sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Rival juga mengangguk dengan senyum canggung.
"Sama, Nain juga masih sendiri." kali ini si Bibi bersuara dengan raut cengar-cengir, tentu saja membuat Naina merasa terganggu sehingga ia menepuk paha Bibi yang duduk di sampingnya.
"Bibi."
Gadis itu tersipu, namun hanya ditanggapi senyuman oleh empat orang di sana dengan salah satu dari mereka–Rival menatap gadis itu dengan tatapan lembut.
**
Sepertinya ketika nanti mereka tiba di Jakarta Ethan benar-benar harus memberi pelajaran pada Rival yang sulit disuruh pulang, imbasnya ya benar-benar tidur di luar sementara Zoya tidur di kamar sendirian. Harapan Ethan untuk menghabiskan malam terakhir di kampung halaman Naina dengan tidur di atas ranjang kecil bersama dengan Zoya nyatanya harus sirna begitu saja.
Namun begitu Ethan hanya pasrah, memang apa yang bisa ia lakukan? Lagipun, Zoya benar. Kasihan juga jika Rival tidur sendirian sementara mereka berempat berada di dalam sebuah kamar.
Waktu menunjukkan sebelas lebih lima puluh lima menit saat Rival memeriksa ponselnya dengan mata mengantuk. Rival merasa kerongkongannya begitu kering, dia lantas terjaga, melihat sekelilingnya yang terasa asing begitu bangun dari tidurnya.
Mengucek matanya dan kemudian bangkit setelah menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya, selimut yang semalam sebelum tidur diberikan oleh Naina kepadanya.
Langkah kaki Rival membawanya ke dapur untuk membasahi kerongkongan yang kering setidaknya dengan segelas air. Tapi langkah kakinya memelan begitu melihat seorang gadis di sana, gadis yang sedang melegut segelas air putih yang kemudian menoleh begitu mendapati langkah kakinya.
"Mas Rival." tidak bisa dipungkiri jika raut wajah gadis itu begitu terkejut saat melihatnya.
"Saya haus, ingin minum." sahut Rival. Naina menganggukan kepala, lantas menuangkan air putih pada gelas baru dan menyerahkannya kepada Rival. Rival menerimanya, sebelumnya ia berterimakasih kemudian menandaskan segelas air putih tersebut. Ia benar-benar haus.
Sementara setelahnya, di antara mereka hanyalah hening. Naina tak kunjung beranjak dari tempatnya hanya berdiri memaku, sedangkan Rival enggan beranjak.
"Kamu belum tidur?" tanya Rival dengan nada canggung. "Saya sudah tidur, tapi terbangun. Saya merasa haus." jawab Naina dengan suara pelan.
Rival melangkahkan kakinya mendekati pada gadis itu, menyimpan gelasnya di atas meja dekat Naina, Naina masih membatu. Membuat jarak di antara mereka menjadi begitu dekat.
"Saya mau tanya sesuatu," sahut Rival. Naina yang menatap lurus ke depan entah kemana arah tujuannya itu lantas mengalihkan tatapannya pada Rival.
"Bertanya apa?" tanyanya. "Kamu sudah memiliki calon?" Rival tidak tahu alasan mengapa ia bertanya mengenai hal tersebut, ia tak memiliki bahan obrolan dengan gadis itu.
Naina menggeleng pelan, lantas menundukkan pandangan dan membuat Rival menatapnya dalam-dalam. Hingga kemudian tangan Rival menyentuh dagu gadis itu dan mengangkatnya, membuat mata keduanya bertemu dalam satu garis lurus.
Naina hanya mengerjapkan mata, secara mendadak ia berubah seperti patung yang bahkan tidak bisa berkutik sedikitpun.
Sementara Rival tidak tahu apa yang dilakukannya, atau apa yang mendasari dirinya untuk melakukan hal tersebut, atau siapa yang menghasutnya untuk kemudian mendekatkan wajahnya pada gadis itu sehingga selanjutnya ia merasakan sebuah benda lembut menabrak bibirnya.
Hanya sekilas dan Naina masih mematung di tempatnya, mengerjap gugup entah apa yang dirasakannya.
"Naina, sepertinya sekarang saya tahu alasan mengapa saya datang kemari." sahut Rival, menatap gadis itu dalam-dalam sehingga saat tidak ada respon atau penlokan apapun dari gadis itu, Rival kembali melakukan hal yang sebelumnya ia lakukan.
Suasana dapur saat itu menjadi berbeda ketika pertama kali, Naina merasakan sensasi yang kemarin-kemarin hanya ia lihat dilakukan oleh Ethan dengan Zoya.
TBC
__ADS_1