Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Masalah Baru 1


__ADS_3

DEVID


Saat ku keluar dari kamar mandi, kulihat Airin tengah berbaring diranjang. Mungkin dia menidurkan Syfa kembali. Kulihat ia pun tertidur. Sepertinya Airin tak tidur semalaman. Matanya sembab, hidungnya merah. Terlihat disekitar matanya lingkaran hitam. Sangat kontras terlihat karena kulitnya yang putih. Dia seperti kelelahan. Aku tak mengubrisnya lagi. Barlah dia istirahat. Sampai ketika akan berangkat ke rumah sakit, dia belum juga bangun. Saat pamit pada Bunda, aku bilang kalau Airin kurang enak badan. Jadi dia masih istirahat dikamar. Bunda bertanya, apakah aku sudah memeriksanya. Terpaksa aku berbohong, ku jawab sudah. Dan sekarang Airin lagi istirahat.


Pagi ini aku ada jadwal untuk mengunjungi pasien pasien ku yang tengah rawat inap di rumah sakit. Makanya aku berangkat lebih cepat dari biasanya. Aku tiba dirumah sakit dengan cepat, karena memang belum jam macet. Jadi tidak terlalu lama di perjalanan.


Baru saja sampai diruanganku, Anton datang menemuiku. Dari raut wajahnya terlihat dia iingin menyampaikan berita penting. Aku cukup terkejut dengan beritanya. Ternyata perdebatanku di ruang operasi kemaren sudah tersebar di seluruh kalangan rumah sakit. Aku benr benar salut, untuk hal hal negatif seperti ini sungguh sangat cepat penyebaran. Seperti wabah virus covid 19 saja.


Syukurnya Anton sudah menemukan sumbernya. Ternyata seorang perawat senior yang kemaren ikut membantu jalannya operasi. Mungkin dia sudah nggk betah bekerja dirumah sakit ini, makanya dia berbuat demikian. Tanpa ku suruh lagi, Anton sudah memerintahkan bagian yang berwewenang untuk memecat perawat itu. Atas perintahku.


Mungkin aku terkesan kejam, tapi aku tidak bisa mentolerir hal hal seperti itu ada di lingkungan rumah sakit. Dan akan menjadi pelajaran juga untuk yang lainnya, agar bisa lebih menjaga lisan mereka.


Alhamdulillah masalah itu sudah selesai. Aku pun berkeliling di ruang perawatan pasien. Untuk mengecek keadaan mereka. Apakah sudah lebih baik dari kemaren dan apakah sudah bisa pulang, dan nantinya dilanjutkan dengan rawat jalan saja.

__ADS_1


Tak terasa haripun beranjak siang. Aku baru saja selesai sholat dzuhur dan aka makan siang. Hari ini aku makan siang diruangan saja. Entah kenapa, dengan adanya masalah ku dengan Airin membuatku malas untuk kemana mana. Kalau saja tak ingat dengan tanggung jawab profesiku. Malas rasanya aku menjalani hari hari ini. Baru akan menyantap makan siang yang sudah tersedia di meja, aku mendengar suara ribut ribut diluar. Sepertinya ada yang memaksa masuk kedalam ruanganku.


"Mana Dokter si*lan itu, pemb*nuh, jangan sembunyi kau ya. Baj*ngan." Tiba tiba ada seseorang yang berhasil masuk dengan membanting pintu. Anak Bapak Firdaus. Kenapa dia marah marah dan mengamuk diruanganku. Beberapa security berusaha untuk menghadangnya. Ada juga yang berdiri didepanku untuk melindungiku dari amukan anak Bapak Firdaus.


"Maaf, ada apa ya. Kenapa Bapak marah dan mengamuk seperti ini." Tanya ku tak mengerti.


"Jangan berlagak tak tau apa apa kau Dokter kur*ang aj*r. Apa yang sudah kau lakukan pada Papa ku. Dasar Pemb*nuh. Sudah ku katakan kemaren padamu ya. Aku akan menuntut mu jika terjadi apa apa dengan papaku." Amarah nya tak terkendalikan. Syukur saja para security cepat bertindak. Kalau tidak mungkin saja anak tertua Bapak Firdaus itu sudah melayangkan pukulannya ke wajahku. Aku cukup shock dibuatnya.


Beberapa tenaga medis lain pun berdatangan ke ruanganku. Segera ku perintahkan security untuk membawa nya keluar dari ruanganku. Sebagian pun ikut keluar. Dokter Kevin masih ada dan mendekat padaku.


"Apa sebenarnya yang terjadi, kenapa Pak Irawan sangat marah seperti itu. " Tanyaku kemudian. Kupandangi Dokter Kevin, dan juga beberapa orang Dokter yang masih berada diruanganku itu. Semuanya tampa diam dan menunduk. Seakan bingung untuk menyampaikannya.


"Katakan.." Ucapku dengan sedikit keras. Semuanya pun saling berpandangan.

__ADS_1


"Maaf Dok, barusan tadi Bapak Firdaus dinyatakan telah meninggal." Jawab Dokter Kevin. Berita itu smakin membuatku terkejut. Bagaimana mungkin, kami telah berhasil mengoperasnya kemaren.


"Apa..." Rasanya aku benar benar tak percaya. Tiba tiba Anton masuk ke ruanganku. Kami saling berpandangan, Anton menganggukkan kepalanya. Seraya membenarkan berita yang disampaikan Dokter Kevin. Sontak aku merasa lemas tak berdaya. Dan terdiam duduk di kursiku. Pantas saja Pak Irawan begitu marah padaku.


"Keluarlah kalian.." Ujarku pada semuanya. Mereka pun satu persatu pergi meninggalkan ruanganku. Hanya Anton yang masih berdiri menunggu ku.


Menurut Laporan Anton, tidak ada satupun yang mengetahui pasti saat Bapak Firdaus meninggal. Ketika itu Istrinya tengah menjaganya sendirian. Semua anak anaknya pulang. Karena ada juga yang harus bekerja. Kemudian istri Pak Firdaus pergi keluar mau menebus obat untuk Bapak Firdaus. Saat kembali ke kamar dia tidak curiga apapun. Dikiranya suaminya masih tertidur. Baru saat seorang perawat masuk untuk men cek keadaan Bapak Firdaus. Ternyata tubuh Bapak Firdaus sudah dingin dan kaku. Barulah semuanya tau kalau bapak Firdaus sudah meninggal. Dan istrinya langsung histeris, dan mengabari anak anaknya. Dan mereka pun menyalahkan Dokter Devid, Karena Dokter Devidlah yang menjadi penanggung jawab utama nya. Apalagi pihak keluar pun sudah mengetahui kejadian perdebatan yang berlaku di ruang Operasi kemaren malam. Yang mana Dokter Devid tidak konsentrasi dan tampak melamun. Jadi mereka semakin berasumsi ini semua karena kelalaian Dokter Devid.


Ku tarik nafasku dalam dalam, kepala ku benar benar tak sanggup mempercayainya. Cobaan apalagi ini, aku merasa ada yang aneh disini. Mungkin benar aku sedikit kehilangan konsentrasi saat tadi malam di ruang operasi. Tapi sampai akhir, aku isa jamin kalau operasinya berjalan lancar. Tapi kenapa bisa tidak satupun yang mengetahui jam kematian Bapak Firdaus.


Tiba tiba seorang perawat masuk ke ruanganku. Dengan tergesa gesa dia mengatakan kalau di depan Rumah Sakit telah banyak orang datang mendemo. Yang mencaci Dokter Devid. Anton langsung menelfon orang suruhannya. Dan tak lama Anton menerima Video apa yang sedang terjadi didepan. Dia langsung memperlihatlan padaku. Ada orang orang yang berkumpul di depan sambil berteriak teriak. Mencaci dan menghinaku. Mereka meamg tidak terlalu banyak, mungkin ada sekitar 50 orang. Darimana mereka ini secepat itu mengetahui nya. Kenapa mereka harus berteriak teriak di depan seperti itu.


Ponselku pun berdering. Ku lihat dilayarnya ada panggilan dari salah seorang pemegang saham Rumah Sakit. Langsung ku terima pangilan itu. Ada apa lagi ini.

__ADS_1


"Hallo Dokter Devid, apa yang sudah anda lakukan. Sebagai seorang president Direktur, Tindakan anda sudah mencoreng nama besar Rumah sakit." Suara dari seberang sana semakin membuat darahku mendidih. Aku tak ingin kehilangan akal sehatku. Langsung kumatikan saja panggilan telfon nya.


__ADS_2