Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Rumah Baru


__ADS_3

Tidak buruk. Begitu sekiranya anggapan Freya begitu mereka sampai di rumah yang akan mereka tempati. Rumah yang akan menjadi saksi berbagai cerita di dalam rumah tangga keduanya.


Rumah dengan cat berwarna abu dan silver yang mendominasi tersebut adalah sebuah rumah minimalis satu lantai, dengan pelataran rumah yang lumayan untuk Freya pandang setiap pagi dengan Agyan. Freya akan menanam beberapa bunga dan jenis tanaman di sana nantinya.


Di sampingnya juga terdapat sebuah garasi yang cukup dengan ukuran satu mobil. Teras rumah dengan sebuah kayu panjang dan meja kecil yang sama-sama terbuat dari kayu.


Rumah yang cukup untuk mereka berdua.


"Ayo," ajak Agyan yang sudah mengeluarkan koper dari bagasi taksi. Freya mengangguk dan berjalan mengikuti Agyan yang membuka pintu pagar dari besi dan dicat berwarna senada dengan cat rumah.


"Rumahnya bagus, Gyan." sahut Freya, mengamati pelataran rumah tersebut. Agyan mengeluarkan kunci dan membuka pintu. Freya adalah yang lebih dulu masuk. Melihat isi rumahnya yang sudah diisi perabotan lengkap.


"Kamu yang beli?" tanya Freya sambil berjalan mundur. Agyan mengangguk, berjalan ke arah kamarnya dengan Freya nanti.


Rumah tersebut memiliki dua kamar tidur, dua kamar mandi yang salah satunya menyatu dengan kamar yang akan Agyan dan Freya tempati. Satu ruang tamu, ruang tengah di mana ada tv dan ruang meja makan yang menyatu dengan dapur.


Freya tidak tau, jika Agyan sudah mempersiapkannya saat Warry merestui hubungan mereka. Bahkan Agyan menjual mobilnya untuk rumah ini.


Sementara tabungan yang beberapa bulan ia simpan dipakainya untuk biaya pernikahan. Belum lagi ia hanya baru beberapa kali menerima gaji dari Andreas selama bekerja di perusahaan, ia tidak memiliki banyak simpanan.


"Biar aku aja yang beresin?" Freya mengikuti Agyan ke dalam kamar, menarik kopernya dan membukanya, siap membereskan pakaian ia dan Agyan. Agyan hanya memperhatikan istrinya itu yang telaten membereskan pakaian mereka pada almari besar di kamar tersebut.


"Apa ngeliatin?" protes Freya sambil terus melanjutkan pekerjaannya.


"Ibu hamil kok makin cantik?" tanya Agyan dengan senyum menggoda gadis itu. "Lagi muji, apa ada maunya, Gyan?"


Agyan memicingkan matanya dengan bibir yang melengkung membentuk senyuman. "Ada maunya!" sahutnya saat Freya menatapnya sebentar.


"Mau apa?"


"Mau—"


"—Kamu,"


"Ini, 'kan aku punya kamu." sahut Freya. Agyan tak menyahut, ia hanya memperhatikan Freya sambil sesekali membantunya sampai kegiatan membereskan pakaian mereka selesai.


"Cape nggak?" tanya Agyan. Keduanya merebahkan diri di atas tempat tidur dengan Freya yang merebahkan kepalanya di lengan Agyan. Freya menoleh, menatap Agyan dan kemudian mengusap rambut pria tampan itu.


"Cape, sedikit."


"Makan di luar, yu."


"Katanya harus hemat."


"Cuma hari ini aja, aku gak mau kamu cape kalo harus masak. Kan ini baru selesai beresin baju."


"Aku nggak cape,"


"Tapi aku pengen makan di luar." Freya berdecih mendengar kalimat suaminya. "Itu bukan takut aku cape, kamunya aja yang pengen makan di luar."


"Iya." Agyan menyahut tanpa merasa berdosa.


"Yaudah, aku mandi dulu. Nanti kita makan di luar,"


Freya beranjak, Agyan hanya mengangguk dan menatap kepergian gadis itu ke arah kamar mandi, hanya diam sampai kemudian ponselnya yang berada di saku celana berdering. Nama Morgan terpampang di layar ponsel yang menyala. Agyan segera menggeser ikon hijau dan meletakan benda tersebut di telinga kanannya..


Ini adalah jam-jam Morgan menelponnya untuk meambahas hal tidak penting. Rasanya Agyan sudah hafal.


"Gimana, Gyan?" tanya Morgan di ujung sana. Agyan memposisikan dirinya untuk duduk sebelum menjawab pertanyaan Morgan.


"Apanya yang gimana? Maen nyamber aja,"


"Rumah tangga enak, yah? Enak dong, bangun pagi ada istri, cantik, seksi—"


"Nelpon gue cuma mau nanya gitu doang?" sambar Agyan yang merasa jika apa yang Morgan tanyakan tidaklah penting, sesuai dugaannya.


"Yee, gue serius."


Agyan diam sebentar, barangkali Morgan butuh referensi untuk membicarakannya dengan pacarnya mengenai dunia pernikahan. Atau apalah, Agyan tidak mengerti.

__ADS_1


"Gimana?" Morgan kembali bertanya.


"Mmm, enak. Seneng terus setiap waktu—" sahut Agyan, bersamaan dengan pintu kamar mandi yang terbuka. Freya keluar dengan baju mandi berwarna biru, rambutnya di sanggul acak dengan wajah yang terlihat masih sedikit basah karena tetesan air dari poninya.


Gadis itu hanya menautkan alis melihat Agyan yang menatapnya, kemudian berjalan ke arah lemari pakaian.


"Setiap waktu?" Agyan disadarkan oleh suara Morgan dari balik telpon.


"Iya. Pokoknya nikah aja kalo udah siap. Loe bakal ngerasain sendiri nanti." sahutnya, kemudian menutup telpon begitu saja dan berjalan menghampiri Freya yang sedang menyisir rambutnya. Freya yang merasa diperhatikan balik menatapnya dengan dahi mengkerut.


"Telpon dari siapa?" tanyanya setelah cukup lama melakulan eye contact dengan Agyan.


"Morgan."


"Ngapain?"


"Dia tanya, nikah enak apa enggak?"


Freya menganggukan kepalanya, kemudian bertanya. "Terus kamu jawab apa?"


Agyan mengangkat bahu acuh, Freya hanya memutar bola matanya dan bangkit setelah selesai menyisir rambut.


"Kamu nggak mandi?"


"Enggak. Udah ganteng,"


Freya menoleh. Mendadak ia bingung dengan sikap narsis Agyan yang tiba-tiba saja ada tanpa seizinnya setelah mereka menikah. Atau memang semua pria yang baru saja menikah selalu merasa jika dirinya tampan karena sudah laku terjual?


"Yaudah, ganti baju aja, biar aku yang ambilin."


Freya membuka almari dan mencari baju Agyan, setelah menikah dengan Agyan, bahkan baru sehari, Freya yang mengurus Agyan, termasuk memilihkan pakaian yang akan Agyan kenakan.


Ia mengambil sebuah kaos berwarna biru tua dengan blazer berwarna putih.


"Jangan pake ini, gerah!"


Agyan menyingkirkan blazer panjang tersebut setelah melepas kaos yang dikenakannya, kemudian mengambil kaos yang tadi dipilihkan oleh Freya.


"Gerah, By!"


"Tapi ini cocok!" Freya bersikeras.


Agyan mendesah, memakai kaos dan mengambil blazer di tangan Freya. Sepertinya percuma saja dirinya membantah dan mengatakan ketidaknyamanannya.


"Puas?!" sindir Agyan setelah selesai mengenakan blazernya. Freya hanya mengangguk dengan wajah tak berdosa, kemudian mengambil sisir dan merapihkan rambut Agyan. Sementara pria itu hanya menekuk wajah karena harus menuruti keinginan sang istri.


"Gak ikhlas?" tanya Freya saat Agyan hanya diam. "Gitu aja nggak ikhlas!"


"Ikhlas, Frey, ikhlas!"


Freya menyimpan sisir dan melenggang melewati Agyan, mengambil tas selempang miliknya dan berlalu lebih dulu meninggalkan suaminya itu.


"Ngambek?" Agyan bertanya pada dirinya sendiri, ia mendesah, kemudian melangkah menyusul Freya.


*


*


Siang sangat terik, sinar dari sang surya membakar kulit siapa saja yang berada di bawahnya. Freya dan Agyan tengah menunggu taksi, dengan sesekali melihat ke kanan dan ke kiri.


Sampai tak lama, sebuah angkot berdiri di hadapan mereka. Freya menoleh pada Agyan saat supir angkot menawarkan mereka untuk naik.


"Enggak papa naik angkot?" tanya Agyan yang merasa ragu pada pilihan Freya. "Iya, nggak papa. Daripada kelamaan nunggu," Freya menyahut santai, seolah hal itu bukan masalah baginya meski Freya akui, jika ini kali pertama untuknya naik angkot, mungkin juga pertama kalinya untuk Agyan


"Yakin nggak papa, nanti kamu gerah, desek-desekan juga. Nanti kamu mual," Agyan mencoba menghentikan keyakinan Freya untuk pergi naik angkot.


"Enggak papa, 'kan ada kamu."


Agyan pasrah dan mengalah, ia segera masuk saat beberapa penumpang memprotes sopir angkot. Freya terlihat bingung saat keduanya sudah berada di dalam angkot, Agyan mengajaknya untuk duduk di bangku belakang, karena hanya tempat itu yang kosong, dekat dengan seorang ibu-ibu bertubuh gempal dengan segala macam barang belanjaan di hadapannya.

__ADS_1


Freya duduk dengan tidak nyaman, begitu juga dengan Agyan. Beberapa kali Agyan mengangkat leher kaosnya untuk menutupi hidung. Bau keringat orang-orang di dalam angkot bercampur dengan bau aneh yang berasal dari barang belanjaan ibu bertubuh gempal membuatnya sangat mual.


"Mual?" tanya Freya pada Agyan yang menggenggam tangannya dengan kuat. Agyan menggeleng, Freya ragu-ragu menatapnya.


"Kalau nggak kuat kita turun aja!" Freya merasa khawatir dengan suaminya padahal tadi Agyan yang mengkhawarirkannya.


"Pengantin baru, yah, neng?" ibu bertubuh gempal tiba-tiba bertanya.


"Iya, Bu."


"Panggil saya, Tante." sahutnya. Dahi Freya berkerut, tapi pada akhirnya ia hanya bisa mengangguk.


"Suaminya ganteng, umur berapa?"


Freya tersenyum kecut, apalagi saat ibu-ibu yang lain mulai memperhatikan Agyan. Sedangkan Agyan tampak tidak perduli dan membuang tatapannya ke arah lain.


"Dua puluh empat tahun, B—Tan," hampir saja ia salah sebut.


"Oh, nikah muda, yah?" ibu gempal itu kepo. Freya mengangguk, bersamaan dengan sopir angkot yang menginjak rem dengan mendadak dan membuat para penumpang terkejut. Agyan menahan bahu Freya yang hampir terjerembab ke depan.


"Sayang, nggak papa?" spontan Agyan memegang perut Freya. Freya menggeleng.


"Hati-hati dong, Bang."


"Nyawa orang, nih!" beberapa bapak-bapak yang duduk di kursi depan memprotes. Sementara sopir angkot hanya meminta maaf karena ada seorang nenek-nenek yang lewat.


Tak lama berselang, para penumpang berkasak-kusuk dan menutup hidung mereka saat tiba-tiba saja bau tidak sedap menyergap hidung mereka. Tak terkecuali juga Agyan dan Freya yang menutup hidungnya.


"Wah, siape nih, yang kentut?" tanya salah satu penumpang bapak-bapak dengan kumis tebalnya.


"Bukan gua,"


"Kagak gua mah, nyium baunya aja. Bau ******,"


Tidak ada yang mau mengakui dari siapa bau itu berasal, sampai si ibu-ibu bertubuh gempal tampak tersenyum-senyum sendiri, membuat tatapan semua orang di dalam angkot mengarah padanya.


Ibu bertubuh gempal itu tersenyum sambil merapihkan rambutnya. "Kelepasan," sahutnya dengan senyum malu-malu dan mendapat sorakan dari para penumpang lain.


"Abisnya tadi Abang angkotnya ngerem mendadak " alasannya. "Kan jadinya—Kelepas—An."


Agyan mati-matian menahan rasa mualnya. Beberapa detik kemudian, ia menyerah dan menyuruh sopir untuk berhenti. Keluar dari angkot sambil menutup mulut dan memegangi perutnya.


*


*


Freya meletakan segelas teh hangat untuk Agyan di meja kayu yang berada di ruang tv, Agyan sedang merebahkan tubuhnya. Ia sudah mandi, keramas dan mengganti seluruh pakaiannya, bahkan juga menyuruh Freya untuk berganti pakaian. Bukan apa-apa, tapi baju yang ia kenakan tadi sudah berbaur dengan bau keringat dan polusi.


"Masih mual?" tanya Freya. Setelah keluar dari angkot tadi, Agyan benar-benar menumpahkan seluruh isi perutnya, sampai saat ini tubuhnya masih lemas.


"Agak mendingan,"


"Yaudah, duduk dulu. Tehnya di minum, habis itu nanti kita makan." sahut Freya dengan penuh perhatian. Keadaan Agyan tidak memungkinkan untuk mereka makan di luar. Sehingga Freya memilih untuk mengajak Agyan pulang dan memasak saja di rumah.


Agyan menurut, ia duduk dan menyesap teh buatan Freya. Ia menatap istrinya yang hanya berdiri sambil memperhatikannya. Bahkan Freya yang tengah hamil muda tidak kenapa-napa duduk di dalam angkot, berdesak-desakan dan mendapat bau yang mengesankan. Tapi Agyan, ah rasanya dia tidak ingin lagi mengulanginya sekalipun dengan Freya. Ia kapok.


"Kamu, tuh, payah. Aku sama dia aja kuat." sahut Freya sambil beranjak, Agyan mengikuti dan duduk di meja makan kecil itu.


"Ya gimana, aku nggak kuat."


Freya hanya mencebikan bibirnya. "Mungkin dia kembar tiga, makannya kuat, tambah lagi jadi empat sama bundanya." Agyan mengarang cerita.


"Nggak usah ngaco, deh, kembar tiga dari mana. Kamu pikir nggak berat bawanya,"


Agyan hanya tertawa, menggapai tangan Freya dan mengecupnya beberapa kali sampai meninggalkan basah di sana.


"AGYAN!"


TBC

__ADS_1


Ini ngeditnya sambil bobo guys:"(


__ADS_2