
AIRIN
Kini aku merasa menjadi wanita paling bahagia didunia. Aku memiliki segalanya kini. Suami yang mencintaiku, putri kecil yang cantik dan menggemaskan. Juga Ibu mertua yang sangat menyayangiku.
Dulu, jangankan punya keinginan untuk menikah lagi. Bermimpi pun aku tak berani. Kelamnya pernikahan masalalu ku membuatku trauma akan namanya pernikahan. Tetapi karena ingin berbakti kepada Ibu waktu itu, aku bersedia menikah dengan mas Devid. Seorang Dokter yang tampan dan sangat baik. Ah, tampan. Dulu menurutku hanya mas Syahdan yang paling tampan Yan mampu menggetarkan hatiku. Tetapi kini Mas Devid lah yang menguasai setiap relung hatiku.
Karena pertengkaran mas Devid dan Syahdan waktu itu, akhirnya hubunganku dengan mas Devid semakin baik. Bahkan kami telah melewati malam panjang bersama. Aku tak menyangka, senikmat itu melakukannya dengan suami tanpa ada rasa paksaan dan siksaan fisik. Mas Devid sangat memanjakanku. Meski pada awal awalnya aku seeat merasa deg deg an panas dingin. Tapi akhirya aku terhanyut karna belaian dan sentuhan mas Devid. Mas Devid melakukannya pelan pelan bahkan berhati hati. Dia seakan takut aku akan merasa sakit atau takut. Kami bercinta sampai subuh. Bahkan saat aku mau mandi wajib karna akan sholat subuh. Mas Devid masih saja mengjarku ke kamar mandi dan kami pun melakukannya lagi.
Setelah sholat subuh, kami pun tertidur sebantar. Mungkin karena terlalu ngantuk kami tidur sampai jam sepuluh pagi. Itu pun karena Syfa datang dan gedor gedor pintu kamar. Sambil manggil manggil dan terdengar sudah menangis. Aku terkejut dan segera membuka kan pintu. Syukur sebelum tidur tadi aku masih sempat merapikan ranjang yang berantakan karena ulah kami semalam.
"Tumben, bangunnya siang. Udah pada sholat subuh ngk sih tadi.." Ujar Bunda.. Sambil melirik ke arah mas Devid yang masih terlelap.
"Sudah Bund,," Jawabku tersenyum malu sambil mengambil Syfa dari gendongan Bunda. Sumpah, aku benar benar malu dengan Bunda. Karena ini pertama kalinya aku tidur sampai siang begini. Ini baru pertama kali aku dan mas Devid ML, bagaimana kalau kami jadi keseringan.
"Devid ngk ke rumah sakit Ai.." Tanya Bunda lagi.
" Nanti Bund, kata mas Devid tadi. Agak siangan kerumah sakitnya." Jawabku.
Kemudian Bunda pun pamit keluar dari kamar kami. Setelah menutup pintu, aku membawa Syfa ke ranjang. Memberinya ASI. Sekarang aku ngk malu malu lagi menyusui Syfa didepan Mas Devid. Karena sejak semalam dia sudah melihat dan menyentuhku seuutuhnya. Aku tersenyum senyum sendiri membayangkan percintaan kami tadi malam.
__ADS_1
Mas Devid bangun Sebelum masuk waktu zuhur. Itu pun karena kubangunkan. Benar benar terlihat pulas tidurnya. Sebenarnya nggak tega juga membangunkan mas Devid, tapi dia sudah bilang mau ke rumah sakit siang ini. Makanya aku bangunkan.
Setelah mandi dan sholat zuhur bersama, mas Devid pun bersiap siap untuk kerumah sakit Aku membantunya berpakaian, mengancingkan kemejanya. Mas Devid senyum senyum memandangku.
"Apaan sih, senyum senyum begitu." Ujarku malu.
"Makin lama kamu makin menggemaskan. Mas jadi malas pergi, pengen dikamar saja berduan sama kamu. " Ujar Mas Devid. Sambil mendekat dan berbisik ditelingaku. Hembusan nafasnya membuatku merinding, apalagi mas devid kemudian mencium leherku. Membuatku semaki kepanasan.
"Maaasss, udah ah... Malu sama Bunda. Udah bangun kesiangan. Malah pengen di kamar terus." Ujarku mendorongnya pelan. Kalau aku nggak menghindar sudah bisa dipastikan kami akan naik ranjang lagi.
Mas Devid tertawa, tapi kemudian dia masih saja menciumku. Aku sampai sampai tak bisa bernafas dibuatnya. Ku lepaskan pelukannya dan segera menjauh. Sebelum terlambat, aku duluan keluar kamar. Masih ku dengar tawa mas Devid.
"Kalau sering sering kesiangan begini. Bisa bisa Syfa akan punya adik segera ini." Bunda datang dan langsung ikut bergabung dengan kami makan. Syfa lagi tidur siang ditemani pengasuhnya.
"uhuk..uhuk...." Mas Devid menjadi terbatuk batuk mendengarkan ucapan Bunda. Tiba tiba saja wajahnya berubah , raut wajahnya tak seceria tadi. Sepertinya kata kata Bunda tadi menyakitinya. Aku bingung melihat wajah mas Devid yang tetiba saja menjadi sendu
"Mas nggak pa pa.." aku segera memberikannya segelas air mineral. Sambi mengelus elus punggungnya.
"Nggak, mas nggak pa pa.." Jawab mas Devid tersenyum, tapi senyumnya seperti terpaksa.
__ADS_1
"Bunda bicara apa sih.." Kata mas Devid meliri ke arah Bunda.
"Laahh, emang salah ya Bunda ngomong begitu. Wajarkan kalau Syfa punya adik. Kan kalian suami istri." Jawab Bunda. Aku merasa aneh dengan obrolan ibu dan anak ini Seperti ada sesuatu yang tersirat. Tapi aku tak mengerti.
Mas Devid tidak melanjutkan makannya, dia pun pamit berangkat kerumah sakit. Wajahnya masih datar, dan tak banyak bersuara. Aku pun tak ingin berfikir negatif, ku cium lembut tangannya saat mas Devid akan masuk ke dalam mobil. Kemudian tiba tiba ku tarik tangannya sehingga membuat tubuh kami saling menempel, lalu ku berbisik di telinganya.
"I love you..." Bisikku dan sekilas mencium pipinya. Mas Devid tampak kaget dengan ulahku. Dan dia pun tersenyum. Senyum yang sangat ku suka. Akhirnya aku berhasil mengembalikan wajah tampannya agar tak kusut lagi.
"I love you to honey..." Balas mas Devid juga mencium pipiku, tapi sekilas dia juga mencium bibirku dengan cepatnya. Kemudian mas Devidpun berangkat ke rumah sakit. Aku tersenyum melepaskan kepergiannya. Dan kembali masuk ke dalam rumah. Beraktifitas seperti biasa
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Sementara itu di sebua rumah, nampak seorang pria tengah mengamuk marah marah. Dia membanting semua barang yang berada disekitarnya. Keadaannya sekelilingnya benar benar sudah hancur berantakan.
"Br*ngsek, si*lan,,, kur*ng aj*r.." Andri terus saja memaki maki. Meluapkan amarahnya.
"Dasar pengacara lemah, bucin.. Apa sih yang dia lihat dari wanita si*lan itu. Sampai sampai dia dengan mudahnya mengalah. Bodoooohhhh..." Andri menghantam meja yang ada didekatnya.
"Karena kebodohanmu gagal sudah rencanaku. Aaaaahhhhhh... Pengacara sial*n, liat saja nanti. Aku akan buat loe menyesal nanti.." Dia terus memaki maki dan menghancurkan apa pun yang ada diruangan itu.
__ADS_1
"Ya ampun Andriiiii..... Apa apaan ini... Kenapa bisa jadi hancur seperti ini. Kamu sudah gila ya... " Tiba tiba pintu terbuka. Dan seorang wanita paruh baya masuk dan lansung terkejut melihat keadaan ruangan itu. Semua hancur dan berantakn