
"Mas Ethan pikir uang bulanan yang kamu kasih ke aku setiap bulan itu cukup buat aku? Enggak Mas!"
"Enggak melulu soal uang, kamu lupa kasih nafkah batin buat aku!"
"Di malam kamu ninggalin aku di hotel, aku ketemu sama orang yang bisa kasih aku cinta bahkan tanpa aku meminta. Kamu pikir salah siapa?"
"Kalau seandinya malam itu kamu nganterin aku pulang dulu, bukan ninggalin aku gitu aja, semua ini nggak akan pernah terjadi!"
***
Naina tahu apa yang ia dengan Rival lakukan adalah salah. Tapi malam itu, tak ada beban apapun yang Naina dan Rival pikul. Yang keduanya, tahu, mereka memiliki perasaan yang sama dan Rival melampiaskannya usai Naina berkata banyak mengenai Ethan.
Rival iba pada gadis yang dicintainya. Wanita itu membutuhkan cinta tetapi Ethan tidak dapat memberikannya. Rival dapat membaca sorot mata gadis itu jika ia cukup menderita. Membuat Rival kian kasihan padanya.
"Mas Rival." Naina berusaha menyadarkan pria itu saat keduanya sama-sama hilang kendali.
"Naina, apapun yang akan terjadi nanti. Aku akan selalu ada buat kamu."
Malam itu, di salah satu kamar hotel milik keluarga Zeinn. Nainan mendapatkan apa yang tak bisa ia dapatkan dari Ethan. Malam itu, ia melangkah menuju jalan yang dirasa benar olehnya untuk ia tempuh menuju tempat yang ia pun tak tahu akan kemana membawanya.
***
"Ethan, ada apa bertamu malam-malam?"
"Kebetulan Mas Rival belum pulang dari kantor. Dia bilang lagi banyak kerjaan. Mau Tante telponkan?"
Langkah kaki Ethan kian cepat menuju ruangan Rival begitu ia sampai di perusahaan milik keluarga Zeinn dimana beberapa bulan ini Rival bergabung di sana. Suasana kantor sangat sepi mengingat jika waktu memang sudah larut malam. Tampaknya para karyawan yang tengah lembur juga sudah pulang ke rumah masing-masing.
Dari kejauhan, Ethan melihat Rival yang berjalan ke arahnya dengan pakaian yang sudah cukup berantakan. Raut wajah pria itu juga tampak lelah.
Ethan kian mempercepat langkahnya. Emosinya tersulut melihat raut wajah pria itu. Saat Rival baru saja ajan melontarkan pertanyaan padanya karena heran melihat kedatangannya ke perusahaan di jam yang tidak seharusnya. Tubuh pria itu sudah terpental ke belakang begitu mendapat bogem mentah dari Ethan tanpa aba-aba.
Bahkan sebelum Rival bangkit, Ethan sudah lebih dulu menarik kerah kemejanya dan mengahajarnya habis-habisan. Rival tak melawan karena Ethan sama sekali tidak memberinya kesempatan.
Emosi yang menguasai diri Ethan tak bisa pria itu kendalikan. Dengan sekuat tenaga yang ia punya ia menghajar Rival dan melampiaskan amarahnya seperti orang kesetanan. Bagaimana mungkin Rival yang sudah mengetahui status Naina bahkan berani meniduri dan menghamili gadis itu.
BUGH!
"Ini karena kamu sudah lancang terus menerus menghubungi istriku!"
BUGH!
"Dan ini untuk kesalahan besar yang sudah kamu lakukan!"
Ethan dibutakan oleh amarahnya, ia tanpa sadar sudah membuat wajah Rival penuh dengan darah. Ia berhenti ketika melihat pria itu benar-benar kepayahan, tangan Ethan juga tampak berdarah.
Ethan bangkit dari tubuh Rival dengan napas terengah-engah. Sementara Rival hanya terlentang dan berusaha terjaga meski kepalanya mendadak pusing. Ia menatap Ethan yang berkacak pinggang dengan napas berantakan, bahkan pakaian pria itu juga berantakan tapi tidak separah dirinya.
__ADS_1
Dengan perlahan, baru Rival akan bangkit dari posisi memalukannya, Ethan sudah lebih dulu melemparkan sesuatu tepat ke dadanya
Rival melihat benda tersebut yang berakhir dengan jatuh ke lantai, ia memungutnya dan melihat hasil positif pada benda tersebut. Tetapi ia tak mengerti sehingga menatap Ethan, meminta pria itu menjelaskan. Rival dapat menerkanya, tetapi tampak samar.
"Itu milik Naina." sahut Ethan dengan mata berkaca-kaca. Ia menatap Rival penuh kebencian, setelahnya mengalihkan perhatian ke arah lain dan berusaha menghalau air matanya.
Sementara Rival menatap testpack di tangannya dengan salah satu sudut bibir yang tertarik ke atas. Ia bangkit perlahan dan berdiri dengan susah payah, sementara Ethan memilih untuk melangkah pergi.
"Jadi pada akhirnya Naina hamil anakku. Bukan anak kamu, Ethan?"
Apa yang pria itu katakan berhasil menghentikan langkah Ethan.
"Berarti kamu boleh menceraikan Naina dan menyerahkan dia sama aku."
"Brengsek!" Ethan mengepalkan tangannya dan berbalik pada Rival. Pria itu berusaha dengan keras agar tak lagi mendaratkan kepalan tangannya di wajah Rival melihat kondisi saudara sepupunya itu yang sudah berantakan.
"Kamu mau nyalahin aku? Atau Naina?" jika tadi Ethan bebas menghajar maka sekarang giliran Rival yang bebas berbicara.
"Kamu nggak seharusnya nyalahin kami berdua. Karena yang salah adalah kamu sendiri Ethan!" Rival berteriak, suaranya menggema di lantai sepuluh perusahaan.
"Aku tahu akhir dari perjanjian yang mengikat Naina dalam pernikahahnya dengan kamu."
"Aku akan sabar menunggu sampai kamu selesai dengan Naina. Tapi apa yang kamu lakukan, kamu bahkan gak memedulikan Naina sama sekali!"
"Kamu lupa, alasan awal kalian menikah adalah untuk mendapatkan anak?"
"Tapi kamu kelewatan, Ethan!" panjang lebar Rival. Pria itu cukup mengenal Ethan, pria kaku, dingin dan acuh tak acuh. Tapi setidaknya, Ethan adalah orang yang meminta tolong pada Naina. Sudah sepantasnya Ethan berlaku baik pada gadis itu.
"Kamu bahkan sama sekali belum menyentuhnya."
"Bulan madu kalian sama sekali tidak membuahkan hasil?" Rival tersenyum meremehkan kali ini, ia meringis saat merasakan perih di ujung bibirnya, ia menyeka darah dari sana dengan ibu jarinya.
Sementara Ethan masih terdiam menahan amarahnya agar tak kembali mengendalikan dirinya sendiri.
Sampai saat dirasakan jika ia sedikit lebih tenang, Ethan lantas berbicara. "Seharusnya kamu tahu aku sangat mencintai Zoya, Rival."
"I know. Itulah yang ngebuat kamu sulit berhubungan dengan Naina."
"Tapi sekarang kamu sudah berhasil menghancurkannya Rival." krystal bening yang sudah berhasil Ethan usir kembali menggenang di pelupuk matanya.
"Kamu tahu? Aku sangat berusaha keras untuk bisa mengendalikan perasaanku pada Zoya saat aku bersama dengan Naina."
"Kamu tahu? Aku berusaha bersikap baik kepada Naina setiap saat agar bisa memenuhi keinginan Zoya untuk memiliki anak darinya."
"Aku selalu berusaha Rival. Butuh waktu yang lama bahkan untuk bisa tidur bersisian dengan Naina."
"Kamu tahu? Sejak awal, pernikahan itu terjadi atas kesepakatan. Naina bahkan sukarela menikah denganku untuk membalas budi pada Zoya yang sudah menyelamatkan nyawanya."
__ADS_1
"Semua yang aku lakukan, semuanya demi Zoya. Tetapi kamu menghancurkannya Rival. Kamu menghancurkannya. Kamu memupus harapanku dan Zoya untuk memiliki anak."
"Kamu memupus harapan kami satu-satunya."
Ethan tak kuasa menahan air matanya, terlebih saat bayangan wajah Zoya yang penuh senyuman ketika memperlihatkan hasil testpack padanya terlintas di kepala Ethan.
Wajah penuh senyum Zoya setiap berbicara pada Naina. Istrinya itu sangat berharap pada Naina.
Rival yang mendengar hal tersebut hanya terdiam menatap Ethan yang saat ini tampak lemah di hadapannya. Segumpal rasa bersalah tiba-tiba saja menelusup sanubarinya.
Ethan menyeka air matanya dengan kasar. Ia menghela napas dan mengalihkan tatapannya dari Rival.
"Untuk sementara waktu, aku minta tolong rahasiakan hal ini dari siapapun. Terutama dari Zoya." Ethan tidak akan sampai hati jika melihat kekacauan Zoya saat nanti andai wanita itu tahu bahwa ayah dari bayi yang tengah Naina kandung adalah orang lain, bukan Ethan.
Ethan bahkan tak bisa membayangkannya jika sebuah senyuman harus sirna di wajah istrinya. Terlebih, wanita itu sedang sangat bersemangat syuting untuk filmnya. Ethan tak bisa membiarkan wanita itu hancur karena masalah ini.
"Aku mohon." ucapnya tulus, kali ini menatap Rival dan segera berlalu dari hadapan pria itu.
****
"Kamu habis dari mana?" tanya Zoya dengan nada khawatir begitu suaminya pulang. Ia menilik keadaan Ethan yang berantakan, bahkan ada noda darah di jari-jari tangan pria itu.
"Tangan kamu kenapa?"
"Sakit?"
"Enggak papa, Sayang. Saya baik-baik saja." Ethan meraih wanita itu dalam dekapannya.
"Tapi ini."
"Cuma luka kecil."
"Ethan–"
"Boleh saya minta kamu diam sebentar?" pinta Ethan yang membuat geraka tangan Zoya yang ingin melepaskan pelukan terhenti. Wanita itu diam dan balas memeluk suaminya.
"Maafkan saya, Zoya."
"Hmm, maaf buat?"
"Maafkan saya." ucap pelan Ethan seraya menciumi puncak kepala sang istri.
"Jangan minta maaf, kamu udah kasih aku calon anak kita. Aku seneng, aku seneng banget." sahut Zoya dengan senyum mengembangnya yang justru menerbitkan senyum pilu di bibir Ethan.
"Iya, maaf karena itu. Maaf karena terlambat memberikannya untuk kamu."
TBC
__ADS_1
Di mata Ethan, satu-satunya wanita hanyalah Zoya. Satu-satunya cinta adalah Zoya. Cuma Zoya.
Betapa beruntungnya Zoya❤