Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Hanya Hari Ini


__ADS_3

"Buruan, deh." Vanesh menggerutu saat mereka akan memasuki toko mainan bayi. Braga hanya berdiri di samping mobil tanpa menghiraukan Vanesh. Pria itu menolak untuk ikut masuk.


"Kak Braga."


"Vanesh, kamu aja yang masuk. Aku tunggu di mobil."


"Kak."


"Kita belom punya anak!" kekeuh Braga, sedangkan beberapa ibu-ibu yang berlalu lalang melewatinya dengan Vanesh sesekali saling berbisik dengan suaminya dan memperhatikannya. Membuat Braga semakin risih mendapat tatapan seperti itu.


"Itu kayaknya nikahnya karena perjodohan, deh. Makannya pada nggak saling cinta."


"Nggak saling cinta kok malah bikin anak."


"Aneh. Cokwok jaman sekarang cuma mau enaknya doang."


Braga mendesah saat beberapa bisikan keras ibu-ibu hamil atau sedang menggendong bayi terdengar di indera pendengarannya yang tajam. Rupanya mereka sudah salah paham.


"Van, rata-rata dari mereka, tuh, pasangan suami istri!" protesnya setelah Vanesh berhenti menarik ujung kemejanya. Vanesh melipat tangannya di dada, menatap Braga dengan tatapan tajamnya.


"Ya terus kenapa, kita kan mau beli mainan buat Rival. Apa salahnya? Stop deh repot sama anggapan orang lain." panjang lebar Vanesh dengan kesal.


Braga tak menyahut, Vanesh hanya memperhatikannya. "Lagian aku heran sama kamu. Nih, yah, semenjak kejadian waktu itu, kamu jadi sering ngalihin pembicaraan tau, nggak."


Dahi Braga berkerut dan menatap balik Vanesh. Tak lama, ia mendehem dan menyahut. "Yaudah, ayo kita masuk." ajaknya seraya menggandeng Vanesh, gadis itu dengan cepat menepis tangan Braga.


"Tuh, 'kan ngalihin pembicaraan. Kamu udah feeling, 'kan?"


"Apa, sih, Van!"


"Kamu, tuh, belum kasih aku kepastian!" ucapnya dengan tegas. "Kepastian apa lagi, sih, Van?"


"Dasar! Cowok macem apa!" Menghentakan kaki, kemudian berlalu memasuki toko mainan bayi sendiri. Terserah jika Braga tidak akan ikut, ia juga tidak akan memaksa. Lagi.


"Van!" Braga memanggil gadis itu beberapa kali, tapi Vanesh tak perduli. Membuat Braga hanya tersenyum, melipat tangannya di dada dan bersandar pada body mobil sambil menatap punggung Vanesh yang menghilang di balik pintu kaca toko.


Sepanjang perjalanan ke rumah Rayn dan Vina untuk mengunjungi Rival, Vanesh hanya mendiamkan Braga dan berbicara seperlunya saja, seperti menyuruh Braga agar tidak terlalu mengebut.


"Ya, gak gini juga dong, Kak!"


"Kamu bisa serius nggak, sih," gadis itu terus menggerutu, Braga melajukam mobilnya dengan begitu pelan, bahkan becak di samping mobil jauh lebih cepat daripada mobil Braga.


"Tadi katanya nyuruh pelan."


"Bukan berarti kaya siput!"


"Nyetir mobil aja nggak bisa!" gerutunya.


"Kaya kamu bisa aja," Braga menyahut. Sampai detik ini pun, Vanesh memang enggan belajar mengemudi. Ia tidak tertarik melajukan mobil di jalanan dengan tangannya sendiri.


"Cih," yang pasti, Vanesh masih sangat kesal pada Braga. Sekian lama dekat dengannya, tidak ada ikatan apapun di antara mereka. Dan semua gadis pasti akan merasa kesal, begitupun dirinya.


"Kenapa, sih?" Braga akan berpura-pura tidak peka. Gadis itu tak menyahut. Braga menepikan mobilnya dan membuka seatbeltnya. Sedangkan Vanesh masih sama seperti tadi.


"Kamu bilang, dong!" percayalah, Vanesh adalah satu-satunya gadis yang bisa membuat Braga banyak berbicara.


"Aku bosen tau nggak, sih, mikirin ini sendirian." gadis itu akhirnya buka suara.

__ADS_1


"Temen-temen aku di kampus sering nanyain status hubungan aku sama kamu!" kesalnya tanpa mau menatap Braga di sampingnya yang terus memperhatikan.


"Ngapain harus perduli sama omongan orang, sih?"


"Kak, buat kamu emang nggak penting, tapi buat aku status itu penting biar aku yakin kalo kamu, tuh, cuma milik aku!"


"Setelah kejadian kamu ngungkapin perasaan ke aku pas nikahan Kak Gyan sama Kak Freya, kamu gak pernah bilang apa-apa lagi bahkan sampe hari ini!"


"Jadi?" Braga masih berpura-pura tidak peka. Atau memang dia tidak tau apa-apa mengenai perasaan para wanita.


"Kamu masih tanya?"


"Heran, kenapa, sih, ya, aku bisa suka sama robot kaya kamu!"


Gadis itu kembali melipat tangannya di dada dengan raut yang begitu kesal. Braga hanya tersenyum, kemudian menarik bahu kiri Vanesh, mengarahkan gadis itu untuk menghadap padanya.


"Apa yang selama ini kita jalanin udah cukup jadi status buat aku."


"Aku nggak perlu tanya kamu mau atau nggak pacaran sama aku. Karena jawabannya, kamu bakalan mau, 'kan?"


"Tapi kamu harus tetep tanya aku. Siapa tau, aku—Aku berubah pikiran dan nggak mau nerima kamu, 'kan?" gadis itu mengelak. Mempertahankan reputasinya yang sebenarnya sudah jatuh sejak lama di hadapan Braga.


"Enggak mungkin!"


"Tapi kita kaya bukan orang pacaran, Kak Braga."


Braga menghela nafas, menatap netra cantik itu yang kini bergerak gelisah karena tatapannya. Vanesh tampak risih saat Braga terus menatapnya.


"Kalau kamu ngerasa hubungan kita nggak ada apa-apanya. Apa aku harus ngelakuin hal kaya gini ....?"


Ia hanya meremas ujung kemeja Braga yang ia genggam. Membalas ciuman Braga dengan kaku karena ini yang pertama untuknya, dan mungkin juga untuk Braga. Vanesh menikmatinya, hanya sesaat karena Braga menghakhirinya dengan seringai nakal.


"Nafsu banget," ledeknya yang membuat wajah Vanesh memerah. Gadis itu hanya diam, ia malu. Sangat.


Braga mengusap puncak kepala Vanesh. Mencairkan rasa canggung gadis itu. "Mulai sekarang, kita pacaran." ungkapnya yang hanya mampu membuat mata Vanesh mengarah padanya tanpa bisa berkata-kata.


Sisa perjalanan ke rumah Rayn, keduanya hanya terdiam. Vanesh terus dengan bibir yang membentuk senyuman, dan Braga yang juga melakukan hal yang sama dengan sesekali menoleh padanya.


Braga tidak tau, jika ternyata Agyan juga akan datang ke rumah Rayn saat ia sedang mengobrol dengan pemilik rumah, sementara Vanesh berada di dalam dengan Vina dan Rival.


Hal itu memang tidak mengganggu Braga meski bertemu dengan Freya, karena ia sudah sadar hatinya untuk siapa. Hanya saja, setelah kejadian kemarin dengan Agyan, ia masih merasa sedikit kesal, apalagi saat Agyan mengambil tempat duduknya dan bertanya dengan tidak ramah padanya.


"Bang, gue masuk dulu." Agyan beranjak dari posisinya. Rayn hanya mengangguk mempersilahkan.


"Ga, gue masuk, ya." ia menepuk bahu Braga dan berlalu ke dalam rumah Rayn.


*


*


Freya dengan Grrycia hanya saling terdiam bimbang. Sampai Rival yang merengek memutus tatapan keduanya. Freya menggendong bayi berumur satu tahun lebih itu dengan hati-hati.


Untung saja Rival tidak rewel, karena setelah Freya menggendongnya, ia terdiam dan sibuk dengan mainan yang dipegangnya. Freya berbalik pada Grrycia setelah Rival tenang, ia tersenyum. "Mami apa kabar?" tanyanya. Grrycia hanya mengangguk dan tersenyum. Perasaannya tidak dapat ia deskripsikan saat ini.


"Kamu ke sini sama Agyan?"


Freya mengangguk. "Kalian apa kabar?" tanyanya ragu-ragu.

__ADS_1


"Kami hidup dengan baik, Mami nggak perlu khawatir." itu bukan suara Freya, itu suara Agyan yang muncul tiba-tiba dan menggandeng Freya. Freya hanya menoleh pada suaminya.


Sedangkan Grrycia melangkahkan kakinya mendekat pada putranya. Grrycia bahagia bertemu dengan Agyan, putranya, dan juga menantunya.


"Mami apa kabar?" tanya Agyan seraya memeluk wanita cantik itu. Grrycia hanya mengangguk-anggukan kepalanya tanpa mengeluarkan suara.


Vanesh yang baru saja keluar dari kamar Rival tampak hanya berdiri di ambang pintu melihat pemandangan mengharukan di hadapannya.


Tapi bagi Agyan. Tidak ada yang perlu dicemaskan, atau disayangkan. Ia tidak memiliki batasan apapun. Hubungan ia dengan sang mami juga berjalan dengan baik. Grrycia sering mengiriminya pesan sesekali.


Bagi Agyan, semuanya baik-baik saja. Entah itu hari ini, besok atau sampai di masa depan.


*


*


Freya berjalan pelan menghampiri Agyan yang berada di teras, ia memeluk suaminya dari belakang. Menyandarkan kepalanya dengan manja pada punggung suaminya yang tengah melamun.


Langit di atas sana bertabur bintang, angin malam berembus menembus pori-pori kulit. Freya tidak tau alasan mengapa Agyan malah lebih memilih berdiri di teras dengan piama tipisnya.


"Belum tidur?" tanya Agyan melepas tangan Freya yang melingkar di perutnya, kemudian menariknya untuk berdiri di samping Agyan dan menggandengnya. Ia juga merasakan hawa yang begitu dingin.


"Aku nyariin kamu."


"Nggak bisa tidur?"


Freya mengangguk. Tidak tau pasti sejak kapan, yang ia ingat, sekarang ia memiliki Agyan. Dan akan merasa tidak nyaman tidur tanpa suaminya.


"Kamu mikirin sesuatu?" tanya Freya. Jujur ia merasa khawatir setelah mereka pulang dari rumah Rayn dan bertemu Grrycia. Ia khawatir jika Agyan sedih dan memendamnya sendirian.


Agyan menggeleng dengan senyum tulus di bibirnya. "Aku cuma takut nggak bisa bahagiain kamu."


"Kamu udah buat aku bahagia, Gyan."


"Tapi nanti?"


Freya terdiam dan mengangguk samar. Baginya, Agyan terlalu jauh berpikir, padahal mereka masih di sini, dengan kebahagiaan yang masih sempurna.


Freya menggenggam tangan Agyan, menatap suaminya dengan tatapan hangat dan menyejukan. "Kamu nggak perlu pikirin apa yang bakal terjadi nanti, Gyan."


"Semuanya udah ada jalannya, kita cuma harus melangkah. Cukup pikirin tentang hari ini,"


"Kamu tau, 'kan. Selama kita sama-sama, aku yakin semuanya bakal baik-baik aja."


Agyan terdiam cukup lama, kalimat terakhir Freya adalah miliknya yang selalu ia katakan saat menenangkan sang istri, dan ternyata Freya melakukan hal yang sama untuknya.


Kemudian Agyan mengangguk dan memeluk Freya. "Iya, kamu bener. Semuanya bakal baik-baik aja."


"Jangan pernah tinggalin aku, yah."


"Enggak akan, Gyan."


Agyan menatap jauh ke depan, sementara tangannya mendekap Freya kian erat. Tidak perlu memikirkan nanti, karena semua sudah memiliki jalannya sendiri.


Cukup pikirkan hari ini. Hanya hari ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2