Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Never Fall in Love


__ADS_3

"Sayang, saya pulang." Ethan berseru begitu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah. Melangkah menuju ruang utama dimana Zoya yang baru saja akan beranjak, mengurungkan niat ketika melihat suaminya menghampirinya lebih dulu sehingga ia tetap pada posisi nyamannya. Berbaring di atas sofa panjang sambil menonton televisi dengan toples kaca berisi makanan ringan di tangannya.


Ethan seketika mendaratkan kecupan di dahi wanita itu kemudian duduk pada sofa lain. Tangannya mulai melepas jas dan dasi yang dikenakannya. Zoya menoleh kepada suaminya tersebut, hanya sekilas kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada layar televisi.


Rambut pria itu tampak berantakan, sementara raut wajahnya begitu ceria. Zoya mengangkat bahwa acuh tak acuh, mencoba untuk tidak penasaran dan bertanya apa alasan pria itu tetap tersenyum.


Toh jika nanti ada sesuatu hal yang sekiranya memang kabar baik, wanita itu pasti akan diberitahu oleh Ethan.


"Sayang." panggil Ethan kemudian yang membuat saya menoleh, kali ini lebih lama dan menatap pria itu, mengerutkan kening dengan gestur bertanya.


"Saya punya sesuatu untuk kamu." sahutnya yang kemudian membuat Zoya merubah posisinya, wanita itu duduk sambil memangku bantal sofa dan menatap Ethan yang sudah mengambil sesuatu dari balik saku jas yang telah dilepas dari tubuhnya.


Zoya hanya terdiam saat pria itu mengeluarkan dua buah kotak persegi berwarna hitam dan merah, hanya dengan melihatnya Zoya sudah dapat menebak apa isi di dalamnya.


Saat Ethan membuka dua kotak persegi tersebut Zoya hanya terdiam menatap dua buah kalung dengan liontin rasi bintang dan krystal itu, selanjutnya ia tersenyum.


"Ini buat apa?" tanyanya pada sang suami.


"Buat kamu."


"Tapi perhiasan aku udah banyak, kamu selalu beliin aku satu set perhiasan lengkap." Zoya mengingat kolekasi perhiasannya yang kian banyak sejak dirinya menikah dengan Ethan terutama kalung.


"Iya tapi ini beda, Sayang."


"Kamu suka yang mana?" tanya Ethan kemudian, menolak untuk berbicara banyak seolah Zoya tak menginginkan hadiah darinya.


Zoya tampak mempertimbangkan, kemudian dengan cepat menunjuk kalung dengan liontin batu krystal. "Aku suka yang ini." sahutnya. Ethan mengangguk, meraih kotak persegi tersebut dan kemudian beranjak dari duduknya, mendekat pada wanita itu.


Zoya segera merubah posisi dan memunggungi Ethan saat pria itu hendak memakaikan kalung tersebut untuknya.


"Saya tahu ini nggak berarti apa-apa. Tapi saya benar-benar minta maaf atas kejadian semalam dan pagi tadi, Sayang." sahut Ethan yang membuat senyum Zoya perlahan luntur, tapi kemudian ia menganggukan kepalanya, tak masalah dengan hal itu.


"Ini memang tidak seberapa, tapi saya tulus Zoya."


"Tolong jangan pernah menangis lagi." sambungnya yang kemudian memakaikan kalung tersebut, begitu terpasang Ethan merapikan rambut wanita itu. Tapi tidak hanya sampai di situ, ketika ia melihat tengkuk mulus istrinya.


Dengan perlahan, Ethan mendaratkan kecupan di sana, awalnya singkat namun rupanya hal itu menjadi candu baginya.


Karena setelahnya Ethan mengecup tengkuk Zoya dengan durasi lama, sementara Zoya membiarkan saja suaminya. Hingga setelah beberapa detik berselang, ia membalikan tubuhnya dan memperlihatkan kalung pemberian Ethan yang baru saja melekat di lehernya.


"Cantik." puji Ethan sambil menyelipkan sebagian rambut Zoya ke belakang telinga.


"Maaf," sahut Ethan lagi dengan mata sendu. Zoya menggelengkan kepala. Minta maaf? Untuk apa pria itu meminta maaf padanya? Bukankah seharusnya Zoya yang meminta maaf.

__ADS_1


Lama keduanya bertatapan dalam satu garis lurus, sampai kemudian Zoya sadar dan memutus tatapan mereka. "Terus ini satu lagi? Kok belinya dua?" tanya Zoya, mengalihkan tatapannya pada kalung yang masih ada di tempatnya. Ethan ikut menatap objek tersebut, ia mengangguk. "Saya suka dua-duanya. Jadi saya membelinya."


Zoya mengerucutkan bibir, tapi kemudian meraih kalung dengan liontin rasi bintang tersebut serta mengamatinya dan rupanya Zoya baru sadar jika kalung tersebut begitu cantik. Namun sayang, ia sudah jatuh cinta pada kalung yang dikenakannya.


"Sama seperti kamu, saya juga bingung memilih di antara dua itu. Saya menyukai keduanya dan saya ingin memilikinya kamu pun boleh memilikinya Zoya."


"Semua jadi milik kamu." sahutnya bagai bisa membaca tatapan mata Zoya saat melihat kalung tersebut, Zoya menganggukan kepala membenarkan apa yang Ethan katakan.


"Terimakasih." sahutnya dengan nengukir senyum termanis yang pernah ada. Ethan mengangguk dengan raut gemas, mengusap salah satu sisi wajah istrinya dengan lembut.


"Rival jadi resign dari perusahaannya " sahut Ethan kemudian begitu mengingat pertemuannya dengan Rival hari ini saat pria itu mendatangi gedung agensi dan mengatakan pada Ethan jika pilihannya adalah pergi.


Zoya terdiam sesaat, entah apa yang dipikirkannya tetapi ia merasa menyesali keputusan Rival. Seharusnya pria itu bertahan saja, karena pergi hanya akan merusak semuanya saat ia dengan Naina sudah begitu dekat.


"Kalau berangkatnya?"


"Kapan dia berangkat?"


"Dia jadinya pergi kemana?" tanya Zoya beruntun. Ethan menggelengkan kepalanya, pertama ia tidak bertanya, kedua Rival tampak enggan memberitahunya seolah ia ingin merahasiakan tempatnya pergi. Entahlah apa alasannya mungkin dia hanya tidak ingin diganggu.


"Sayang banget, sih. Kenapa mesti pergi-pergi segala coba? Indonesia-kan luas dan banget." Zoya menggerutu bagai pada dirinya sendiri. Ethan lagi-lagi hanya mengangkat kedua bahunya acuh tak acuh. Toh semua keputusan ada di tangan pria itu.


Sementara pada jarak berapa meter dari Ethan dengan Zoya, Naina yang mendengar hal itu hanya mematung.


Pria itu ad atau tidak sama sekali tidak berpengaruh apapun dalam hidupnya.


Naina tidak menyukai siapapun kecuali hanya kagum kepada Ethan, kagum yang mungkin sudah pada titik yang berlebihan. Tapi ia tak merasakan getaran cinta sedikitpun, mungkin karena dirinya sendiri membuat batasan demi menghargai perasaan Zoya.


Kepada Rival, Nina tak memiliki perasaan apapun. Sungguh, sama sekalk tidak ada, terlebih mereka baru saja saling mengenal. Namun setelah ciuman itu, sekalipun perasaannya tetap sama–datar, dia merasa ada yang janggal dengan dirinya sendiri, seringkali bayangan Rival mengganggu pikirannya.


Entahlah, mungkin karena pria itu tidak meminta maaf padanya atas ciuman mereka dan membuat Naina terus menerus kepikiran.


**


Selin memberitahukan padanya jika esok Zoya akan melakukan syuting iklan untuk sebuah brand terkenal dari luar negri. Hari ini mereka masih libur, tidak ada acara apapun kecuali pukul empat sore nanti Zoya harus menghadiri sebuah acara variety show.


Dan hari ini ketika udara pagi terasa dingin waktu menunjukkan pukul sepuluh saat Naina baru saja turun dari taksi di supermarket.


Ini adalah tanggal di mana ia harus memperbarui semua kebutuhan dapur. Sebenarnya Zoya menawarinya untuk sekalian besok saja sepulang syuting. Namun Naina menolak karena ingin pekerjaannya segera selesai.


Langkah kaki wanita itu berjalan menuju tempat di mana semua bumbu dapur ada di sana, kemudian beralih pada sayur-sayuran hingga seterusnya sesuai catatan yang ia butuhkan.


Naina tidak banyak menghabiskan waktu di sana. Catatan belanja yang sudah ia bawa membuat tugasnya cepat selsai.

__ADS_1


Ia juga membeli beberapa sereal pesanan Zoya karena stok sereal wanita itu sudah habis. Zoya sering membawanya ke lokasi syuting dan membagikannya pada para kru dan rekan sesama aktris.


Begitu usai mendapat semua bahan-bahan yang dibutuhkan untuk satu bulan ke depan, dengan susah payah Naina membawa barang belanjaanya tersebut ditengah cuaca mendung. Awan yang menghitam seolah siap menumpahkan air yang ditampungnya. Gerimis perlahan turun dan membuat Naina panik, namun begitu ia keluar dari supermarket seseorang tiba-tiba saja mengambil barang belanjaannya.


Naina baru akan berteriak saat ternyata orang yang mengambil barang belanjaannya adalah orang yang ia kenal.


"Biar saya bawakan, ini terlalu berat." sahut Rival sementara Naina kicep di tempatnya. Ia hanya bisa menganggukan kepala saat Rival berjalan menuju bagasi mobil dan menyimpan barang belanjaannya di sana.


Naina hanya menatap pria itu kemudian ia sadar jika Rival sudah kembali berada di hadapannya. "Biar saya antarkan pulang. Gerimis, sebentar lagi juga hujan." sahut pria itu kemudian.


Apa Naina dapat menolak? Tentu saja tidak, terlebih sekarang belanjaanya sudah berada dalam mobil pria itu.


Naina akhirnya mau saja diantar pulang oleh Rival bersamaan dengan hujan yang perlahan mulai turun, membentuk sebuah titik-titik kecil pada kaca mobil.


Naiba duduk di samping pria itu yang mengemudikan mobil. Keduanya hanya terdiam selama perjalanan, bahkan hal itu bertahan hingga beberapa belas menit lamanya. Rival yang sudah mulai tidak nyaman hanya tetap fokus pada kemudinya. Sedangkan Naina tampak canggung.


Ia ingin bertanya mengenai apa yang kemarin sore tidak sengaja didengarnya dari Ethan mengenai keputusan Rival yang akan resign dari perusahaan tempatnya bekerja dan akan pergi ke luar negri mengikuti jejak Arasy.


"Kamu lapar atau tidak?" tanya Rival yang membuat wanita itu spontan menoleh padanya. Jika Rival akan mengajaknya untuk makan, maka Naina akan menolak, namun ternyata ia tidak akan bisa melakukan hal tersebut karena dengan ancang-ancang Rival sudah bersiap untuk memarkirkan mobil di area parkir sebuah restoran.


"Kita makan dulu, yah, saya laper." sahut pria itu kemudian setelah mobil terparkir rapi. Ia melepas seatbelt yang dikenakannya. Sedangkan Naina hanya terdiam, bukan saja karena ia merasa tidak lapar, tapi pakaian yang dikenakannya rasanya tidak pantas untuk dibawa masuk ke dalam restoran mahal. Terlebih lagi melihat stelan Rival yang begitu rapi, santai dan elegan. Jauh berbeda dengannya yang hanya mengenakan kaos pendek dan rok berwarna putih.


Rival mengerutkan kening saat Naina memerhatikan penampilannya sendiri. "Saya tunggu di mobil aja, Mas." sahut gadis itu setelah melalui pertimbangan yang matang.


"Enggak pengap?" Rival bertanya dengan kening berkerut, Naina menggeleng perlahan.


"Kamu cantik, tidak perlu minder." sahut Rival yang membuat wanita itu mengangkat pandangan, menatap Rival dengan tatapan tak terbaca. Sedangkan Rival memutus kontak mata dan segera turun dari mobil.


Naina mendesah. Entah kenapa hati kecilnya merasa kecewa, ia berharap Rival akan membujuknya untuk turun. Namun ternyata pria itu meninggalkannya begitu saja menembus hujan.


Beberapa detik berikutnya, gadis itu tersentak saat pintu di sampingnya tiba-tiba saja terbuka. "Turun!" intruksi Rival sambil menggerakkan kepalanya yang ditutupi jaket kulit berwarna hitam, bagai terhipnotis Naina turun dengan perlahan.


Dengan segera Rival menarik kepala Naina agar ikut dengannya berteduh di bawah jaket kulitnya. "Saya sudah bilang kamu cantik, jadi kamu tidak perlu minder. Pakaian yang kamu pakai bagus."


"Ayo.' ajaknya tanpa sungkan. Entah sadar atau tidak, tapi pria itu menggandeng bahu Naina.


Gadis itu memejamkan matanya. Kenapa perasaannya tidak enak? Kenapa sikap Rival membuatnya tidak karuan?


Membuat Naina benar-benar semakin mengingat tajam apa yang terjadi antara mereka di kampung halamannya tempo hari benar-benar menghantui pikiran seorang Naina yang tidak pernah jatuh cinta.


TBC


Jangan lupa follow ig-ku eva_yuliaaan_04

__ADS_1


Jangan lupa baca SORRY TUAN PRESDIR di lapak sebelah.


__ADS_2