Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Negatif


__ADS_3

Suasana lokasi syuting hari itu begitu panas ketika Zoya menyelesaikan syutingnya tepat pada pukul satu siang. Selin menghampirinya dengan membawakan semangkuk sereal dan juga minuman dingin segar, sementara Naina yang duduk di sampingnya tengah mengipasinya dengan sebuah buku.


Padahal Zoya memegang sebuah kipas angin portable, tapi nyatanya hal itu tidak mampu membuat gerah di tubuhnya hilang, panas begitu menyengat dan membuat tubuhnya berkeringat.


"Panas banget, ya." tanya Selin, kemudian duduk pada kursi kosong di samping Zoya. Zoya hanya menganggukan kepala, mengarahkan kipas angin portable tersebut ke wajahnya.


"Iya, nih. Panas banget Mbak." keluh Zoya.


"Habis ini kita langsung pulang?" tanyanya kemudian, ia sudah sangat ingin mandi dan mengistirahatkan diri.


Selin mengangguk. "Ada tawaran film bagus. Syutingnya di luar kota. Tapi masih lama kok, gimana?" beritahu Selin, Zoya yang sedang menyendokan sereal ke mulutnya diam, tampak mempertimbangkan.


Dan mungkin saja yang menjadi pertamanya pertamanya adalah. "Lawan mainnya siapa?"


Zoya cukup yakin, ketika bercerita pada Ethan nanti, pria itu pasti akan menanyakan hal tersebut, dan tidak mungkin juga Zoya langsung mengiyakan saja tawaran Selin sementara ia belum berbicara dengan sang suami.


Bagaimana jika lawan mainnya adalah orang yang nantinya akan membuat suaminya cemburu atau apapun itu?


Karena pada kenyataannya, sekalipun keduanya berkecimpung dalam dunia yang sama, faktanya pria tidak mau tahu, tidak mau mengerti dan tidak mau memahami pekerjaan Zoya.


Pada intinya, Ethan tidak bersikap profesional saat berhadapan dengan sang istri.


"Masih tahap seleksi, kalau untuk kamu produsernya nunjuk langsung. Dia percaya kalau kamu yang meranin tokoh utamanya." oceh Selin, Zoya yakin dengan hal itu.


"Emang suami kamu gak akan ngasih izin?" tanya Selin kemudian, Zoya menggeleng pelan.


"Aku nggak yakin, Mbak tahu sendiri, 'kan dia kayak gimana." sahut Zoya mengingat adat tabiat suaminya.


Zoya cukup sadar, terutama dalam beberapa bulan terakhir setelah ia mengalami insiden mengerikan di pesta pernikahan Randy dan Selin, Ethan begitu membebaskannya melampiaskan perasaan dengan mengambil beberapa syuting iklan dan ftv yang ia inginkan.


Tapi tetap harus saja, ia memiliki batasan. Zoya harus sabar jika suaminya adalah seorang pencemburu yang hebat.


"Oke, nanti kamu tinggal cerita sama suami kamu aja. Bilang sama dia ini proyek besar. Mbak sudah baca sekilas naskahnya dan mungkin memang akan sulit mendapat izin dari suami kamu."


"Mbak merasa karakter pemeran utamanya cocok sama kamu, apalagi kalau nanti pemeran utamanya Edrin Nicolas lagi."


Zoya mengakuinya sendiri, chemistry di antara dirinya dengan Edrin memang patut mendapat banyak acungan jempol. Peran yang ia dan Edrin bawa selalu membekas di hati para penonton bahkan membuat mereka berangan-angan agar Zoya dengan Edrin menjalin cinta di real life.


**


"Tidak."


Adalah satu kata yang mampu membuat Zoya mendesah di tempatnya begitu ia menunjukkan lembaran naskah yang tadi siang diberikan oleh Selin begitu mereka usai syuting.

__ADS_1


"Sekali saya bilang tidak maka tidak!"


Tetapi pria itu tampak sudah sangat yakin dengan keputusannya untuk tidak akan membiarkan sang istri mengambil film tersebut .


"Tapi ini keren banget, Than."


"Kamu izin sama saya, 'kan? Artinya kalau saya tidak kasih izin maka kamu tidak boleh memaksa." sahut Ethan, tampak sudah tidak bisa ditawar dengan cara apapun.


Bagaimanapun, Zoya tetap tahu suaminya yang tidak akan mudah goyah. Sepertinya rasa cemburu yang Ethan miliki dan perasaan cintanya pada Zoya, jika dibandingkan, maka rasa cemburunya jauh lebih mendominasi.


Ethan adalah orang yang sangat tidak suka istrinya berdekatan dengan pria lain. Padahal dunia yang Zoya geluti mengharuskannya untuk seperti itu.


"Than ..," Zoya merengek. Tapi Ethan tetap tidak mau tahu. Pria itu justru segera membaringkan tubuhnya begitu selesai mengenakan piyama.


Zoya hanya menatap suaminya dengan tatapan sendu, sebenarnya proses syutingnya memang masih lama, akan dilaksanakan sekitar dua atau tiga bulan lagi, masih banyak waktu untuk Zoya membujuk suaminya. Tapi Sekali lagi, Zoya tidak yakin akan berhasil meruntuhkan ego cemburu sang suami.


Kecuali meminta sesuatu hal yang tidak ada hubungannya dengan pria lain, maka akan mudah tapi kali ini tidak. Sepertinya Zoya harus menyerah sebelum mencobanya dua kali, karena sekali-pun ia sudah sangat risih akan tatapan datar Ethan.


Zoya memutuskan untuk turun ke lantai bawah ketika Ethan benar-benar meninggalkannya tidur duluan. Ia menemukan Naina yang sedang menghangatkan makanan, kebetulan saat Ethan dengan saya makan malam tadi, Naina menolak untuk makan bersama seperti biasanya karena memiliki pekerjaan lain.


"Mbak Zoya, belum tidur?" basa-basinya saat melihat wanita itu. Zoya menggelengkan kepala kemudiab duduk dengan lunglai.


"Mau ikut makan, Mbak?" tanyanya lagi, lantas duduk pada salah satu kursi ketika sudah selesai memanaskan makanan. Lagi, Zoya menggelengkan kepala, Naina menatapnya penuh heran. "Pak Ethan nggak ngasih izin Mbak Zoya buat ambil filmnya?" tanya Naina bagai sudah tahu hanya dengan melihat raut wajah murung sang majikan wanitanya itu. Zoya menganggukan kepalanya.


"Ethan nggak pernah suruh saya keluar dari industri hiburan. Tapi tetap saja batasan-batasan yang udah dia buat terlalu berlebihan." Zoya akhirnya menggerutu, beruntung di sana ada Naina yang sudah hapal sebagian sifat Ethan. Terutama sisi cemburu dan posesif pria itu yang begitu berlebihan.


Naina tersenyum mendengar gerutuan Zoya.


"Pak Ethan begitu karena dia sayang sama Mbak Zoya."


"Saking sayangnya, dia nggak mau Mbak Zoya disentuh sama orang lain."


"Saya tahu, tapi 'kan saya merasa tertekan."


"Iya, saya mengerti. Tapi Pak Ethan sangat menjaga Mbak Zoya, terlebih lagi dia sendiri nggak pernah kontak sama wanita lain."


"Jadi mungkin dia merasa Mbak pun harus melakukan hal yang sama." Naina mencoba memberi pengertian sesuai dengan sudut pandangnya.


"Hmm, pada intinya Mbak Zoya sangat dijaga oleh Pak Ethan, sangat diistimewakan." Naina menenangkan, diam-diam Zoya membenarkan hal itu.


Ethan sangat menyayanginya, tapi ..., Zoya mendesah mengingat kembali kenangannya dengan Fahri, pria yang tidak pernah menuntut banyak hal padanya, bahkan menerapkan aturan-aturan apapun untuknya, api kemudian saya sadar jika Fahri begitu karena memang milik orang lain dia memiliki sebuah keluarga dan hanya sekedar pacar hanya pacar.


**

__ADS_1


Pada keesokan harinya Ethan terbangun dan ia mendapati istrinya yang tidur di tepi ranjang, padahal biasanya tak pernah Ethan bangun sekalipun tanpa Zoya di dekatnya, dekat bahkan dalam dekapannya. Namun kali ini tampaknya wanita itu marah karena kejadian semalam.


Bagaimana tidak, sebagai scene yang Ethan baca dari naskah yang Zoya berikan padanya sudah menjelaskan bagaimana nanti proses syuting akan dijalani Zoya yang berperan sebagai seorang istri.


Tentang suami dan istri? Ethan sangat tidak suka, terutama saat membayangkan bagaimana nanti Zoya bersama dengan pria lain. Saling bersentuhan bahkan tidur di atas ranjang yang sama. Tidak akan Ethan biarkan.


Ethan beranjak dari tempat tidur setelah membenarkan letak selimut sang istri. hari ini wanita itu tidak memiliki jadwal syuting sehingga Ethan akan membiarkannya untuk bangun lebih siang dari biasanya.


Tapi, begitu Ethan keluar dari kamar mandi ia mendapati tempat tidur yang sudah kosong dan rapi. Membuat Ethan segera turun ke lantai bawah mencari di mana keberadaan istrinya saat tak menemukannya di dalam kamar.


Ia mendapati Naina yang sedang menyapu lantai ruang utama, Ethan memindai setiap sudut rumah, berharap dapat segera menemukan istrinya. Zoya tidak mungkin kabur meninggalkannya bukan?


"Pak Ethan sedang mencari apa?" Naina tidak bisa untuk tidak bertanya saat Ethan hanya mengedarkan pandangannya ke segala penjuru.


"Kamu lihat di mana istri saya?"


Naina menggelengkan kepalanya dengan pikiran menerawang, seingatnya sejak pagi tadi ia sama sekali belum melihat dua orang itu turun dari lantai atas.


"Saya tidak lihat Mbak Zoya, dia belum turun dari lantai atas." beritahu Naina yang sejurus kemudian membuat Ethan segera beranjak, kembali menapaki anak tangga dengan langkah cepat. Kembali ke kamarnya.


Begitu masuk, ia baru menyadari jika pintu balkon terbuka, sekarang ia melangkah pelan menuju balkon dan menemukan Zoya di sana, wanita itu tengah memeluk tubuhnya sendiri sambil menikmati udara pagi.


"Sayang." tegurnya yang membuat Zoya menoleh sekilas padanya, tidak berekspresi apapun kemudian segera mengalihkan pandangannya kembali ke depan. Ethan terus melanjutkan langkah kemudian berdiri di belakang wanita itu dan memeluknya dari belakang, menyandarkan kepalanya pada pundak Zoya. Sementara wanita itu tetap diam di tempatnya.


"Kamu masih marah sama saya?" tanya Ethan.


"Kamu marah karena saya tidak kasih izin untuk ambil filmnya?"


"Atau kamu marah karena saya tinggal tidur duluan?" Zoya menggelengkan kepala.


"Terus kenapa?" Zoya hanya diam, sementara Ethan menggesek-gesekkan kepalanya ke bahu wanita itu sampai kemudian Zoya menunjukkan sesuatu kepadanya. Sebuah alat tes kehamilan yang tampak menunjukkan satu garis. Negatif.


Rupanya hal itu yang membuat sang istri menghilang pagi-pagi dan merenung di balkon kamar.


Zoya memang bangun lebih pagi dari Ethan, kemudian ia sadar jika bulan ini ia belum didatangi tamu bulanan, sehingga dengan buru-buru ia mengambil testpack dari dalam laci. Namun begitu melihat hasilnya, Zoya gu jadi murung sendiri. Padahal ia sudah sangat pasrah dengan apapun hasilnya.


Namun tetap saja, saat benda itu tidak sesuai dengan apa yang ia inginkan, rasa kecewa tentu tidak bisa ditahan.


"Belum saatnya, Sayang. Kamu yang sabar, yah." sahut Ethan menenangkan.


Zoya tahu suaminya tidak pernah menuntut mengenai anak padanya, tapi tetap saja, di luar daripada itu Zoya juga sangat tahu jika sebenarnya pria itu sangat ingin memiliki anak.


Pun Zoya juga sangat ingin mereka segera memiliki anggota baru di keluarga kecil mereka. Setidaknya, dengan hal itu maka lengkap sudah kebahagiaan Zoya. Hidupnya akan menjadi jauh lebih sempurna.

__ADS_1


TBC


__ADS_2