
Sementara Agyan menenangkan Freya. Andreas mengambil alih ponsel Agyan. "Hallo,"
"Kirimkan uang dalam jumlah besar, tukar uang itu dengan anak kecil ini."
"Berapa, seratus juta, satu milyar?" tanya Andreas tanpa tanggung.
"Sepuluh Milyar!"
Beberapa orang di sana tampak terkejut mendengar permintaan orang dengan suara serak tersebut. Andreas menatap Agyan dengan Warry. Tak butuh waktu lama, ketiganya kompak mengangguk.
"Baik. Kapan uang itu harus di kirim?"
"Besok pagi, tepat pukul tujuh!"
Telpon segera berakhir. Andreas mengumpat pelan saat ia balik menelpon dan justru nomor tersebut tidak aktif.
"Papi akan siapkan uangnya!" ungkap Andress dan Warry nyaris bersamaan. Keduanya hanya saling pandang, dan bersikap biasa saja. Agyan hanya mengangguk.
Tak lama, seorang dokter datang dan segera memeriksa keadaan Freya.
"Enggak papa, kalian balik aja. Udah malem," sahut Agyan pada Braga dan Morgan.
"Kalo gitu kita balik. Besok pagi kita bakal ikut loe jemput Arasy." ungkap Morgan, Braga mengangguk mengiyakan. Agyan juga hanya tersenyum dan mengangguk.
Braga dan Morgan pamit pulang. Sementara Rayn akan menginap di rumah Agyan. Begitu juga Andreas, Grrycia, Warry dan Anna.
Freya hanya kelelahan. Tubuhnya belum cukup istirahat setelah kemarin mengalami sakit. Ia juga mengalami syok karena Arasy diculik.
Ethan sudah tidur di kamarnya ditemani oleh Anna. Sedangkan Freya sudah berada di kamarnya. Ia hanya bersandar pada kepala ranjang. Ia melamun, memikirkan bagaimana keadaan Arasy di sana.
Ia tidak yakin jika putrinya di sekap dalam tempat yang nyaman. Air matanya jatuh, andai bisa, maka ia ingin bertukar posisi dengan Arasy.
Agyan yang baru saja keluar dari kamar mandi menatap istrinya. Ia menghela nafas dan menghampiri Freya.
"Sudah malam, tidurlah."
Freya menoleh, ia menyandarkan kepalanya pada dada Agyan dan semakin tak bisa menahan tangisannya. Agyan hanya mengusap punggung wanita itu.
__ADS_1
"Arasy baik-baik aja. Kamu tenang, yah."
"Aku gak bisa tenang sebelum Arasy sama kita, Gyan. Kamu dengerkan, tadi di minta tolong, berarti dia gak baik-baik aja, 'kan Gyan."
"Dia dalam bahaya."
"Gimana kalau para penculik itu nyakitin Arasy?"
"Sayang, kamu tenang. Aku gak akan biarin mereka nyakitin putri kita. Kamu tenang, oke. Arasy akan baik-baik aja."
Agyan mencium kening Freya, menenangkan istrinya meski sejujurnya hal tersebut tidak dapat membuat Freya tenang.
Arasy terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling dan ternyata masih berada dalam tempat di mimpinya. Sungguh, Arasy tidak sanggup menerima jika ini adalah nyata.
"Bunda, Arasy takut."
Arasy tak henti menangis setelah sebelumnya semalam pun ia menangis sampai tertidur. Ia kembali mengingat bagaimana semalam para penculik itu menelpon Agyan, mendengar suara ayah dan bundanya, ia semakin merindukan mereka.
Para penculik itu sangat keterlaluan meminta uang dalam jumlah yang besar. Mereka tidak mengizinkan Agyan melapor pada polisi. Bahkan melempar ponsel pada perapian sebelum memberitahukan lokasi di mana Arasy berada.
Sekarang, Arasy hanya sendiri di ruang gelap yang menyeramkan itu. Ia merasa takut, ia lapar dan ingin segera pergi dari sana.
Susah payah Arasy menggeser tubuhnya mendekat pada perapian. Hawa panas dari si jago merah segera menyeruak padanya bahkan dalam jarak yang cukup jauh. Rasanya, ini pertama kali ia berada dalam posisi yang sulit, sangat sulit.
"Ayah, Bunda. Arasy harus pulang,"
Arasy melihat sekeliling, suasana masih gelap. Ia tidak dapat melihat arloji di pergelangan tangannya karena tangannya berada di belakang tubuh.
Dengan perlahan dan hati-hati. Arasy berbalik, ia menyodorkan tangannya pada sebuah bara api. Kali ini, air matanya jatuh bukan karena takut, tapi panas di tangannya yang mulai terasa. Tapi beberapa saat kemudian, wajah cantik yang lusuh itu tampak semringah saat ikatan tali di tangannya terputus, tepat saat ia akan berbalik, sebuah bara api mengenai punggung tangan kirinya.
"Aww,"
"Sakit. Bunda, sakit," ia merintih.
Arasy meniup punggung tangannya. Ia menyeka air mata, sepertinya tidak ada waktu untuk menangis. Ia segera membuka ikatan tali di kaki dan tubuhnya. Ia melihat arloji. "Pukul lima pagi,"
Ia segera bangkit, tubuhnya terhuyung. Untung saja dapat ia tahan sehingga tidak terjatuh.
__ADS_1
Arasy mulai mencari jalan keluar. Ia harus pergi sebelum para penculik itu datang. Sesekali ia meniup punggung tangannya yang terasa panas.
"Aku harus keluar. Aku harus keluar!"
Arasy melihat sebuah jendela kayu dekat pintu keluar yang terkunci. Ia melangkah dan membuka jendela tersebut. "Tidak dikunci?" lirihnya saat jendela dapat dengan mudah ia buka. Sepertinya para penculik itu terlalu meremehkannya.
Arasy keluar, ia tersenyum setelah berhasil lolos dengan mudah. Seharusnya ia melalukan hal ini sejak semalam. Bukan malah menangis.
Senyum di wajah Arasy memudar. Ia bingung kemana harus melanglahkan kakinya. Sementara jalanan masihlah gelap dan ia berada pada sebuah hutan.
Sepertinya penderitaannya tidak akan berakhir dengan mudah. Arasy terdiam untuk beberapa saat. Bagaimana pun caranya, ia tetap harus pergi dari tempat ini.
Mata Arasy mengarah pada mobil si penculik. Para penculik itu tidur di dalam mobil. Mobil itu terparkir tepat pada sebuah jalan. Arasy tersenyum, ia merasa sedang syuting film action saat ini.
Ia mulai melangkah dengan mengendap pada sebuah jalanan. Ia melewati mobil si penculik dengan hati-hati. Kemudian berlari setelah cukup jauh. Kemana saja, asal ia dapat lolos dari para penculik menjijikan itu.
Agyan dengan Freya, juga yang lain memarkirkan mobil pada sebuah tanah lapang di mana si penculik mengirimkan pesan untuk bertemu di sana.
"Bagaimana? Di sini tempatnya?" tanya Andreas. Agyan mengangguk.
"Di sini tempatnya, mungkin sebentar lagi mereka datang."
Agyan melihat sekeliling. Tempat yang sekarang mereka tempati dekat dengan sebuah pemakaman umum. Tapi Agyan tidak dapat menebak di mana Arasy di sekap.
"Bos, gawat bos. Bocah itu kabur," si penculik dengan kepala plontos setengah berlari menghampiri bosnya yang berada di dalam mobil dengan membawa tali yang dipakai mengikat Arasy.
"Sialan!"
Ketiganya terdiam, dua dari mereka menyusuri gedung, barangkali Arasy tidak jauh. Tapi nihil, bocah itu tidak dapat ditemukan.
Ponsel dari bos penculik berdering. Ia mengangkat jari telunjuknya agar anak buahnya diam dan tidak membicarakan jika tawanan mereka kabur.
"Kami sudah sediakan uangnya di lokasi," terdengar suara Agyan di ujung sana.
"Oke,"
Panggilan terputus. Si kepala plontos tampak heran dan bingung. "Bagaimana ini Bos?"
__ADS_1
Si Bos terdiam, ia pun bingung harus bagaimana sementara tawanan mereka tidak ada. Membuat lembaran uang yang sudah ada di depan matanya sirna seketika.