Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
Tangisan palsu


__ADS_3

Devid.


Aku sampai dirumah sudah cukup larut malam. Begitu satpam membuka kan pagar agar aku bisa memasukan mobilku, kulihat dua bidadariku sedang duduk di teras. Ah, dua bidadari. Apakah boleh aku menyebutnya begitu. Sementara aku tau Airin tak pernah mencintai. Hatiku yang awalnya bahagia meliat mereka berdua, kembali terasaperih lagi jika mengingat kemesraan Airin dan Syahdan yang ada difoto foto itu.


Aku menghampiri keduanya, sambil tersenyum ku cium tangan wanita yang sudah melahirkanku itu. Syurga ku Bundaku. Airin pun meraih tanganku dan menciumnya. Sungguh, sebenarnya hatiku sangat tersentuh sekali dengan sikap pengabdiannya. Hampir satu tahun ini menjadi istriku, Airin selalu bersikap layaknya seorang istri yang sholeha. Tapi, siapa yang menduganya. Dibalik semua itu, dia menyimpan hubungan asmaranya dengan Syahdan. Wanita seperti apakah dia sebenarnya, aku jadi ragu kalau dulu dia di siksa suaminya jangan jangan karena ketauan selingkuh makanya suaminya menyiksanya Jangan jangan dia dibantu selingkuhannya untuk menghabisi nyawa suaminya. Apakah selingkuhannya itu memang Syahdan. Makanya dia dengan mudahnya bisa bebas dari penjara. Karena Syahdan yang jadi pengacara. Ya Tuhan, apakah aku bisa bernasib sama dengan mantan suaminya itu.


"Astaghfirullah.." Berfikir apa aku ini. Tidak mungkin Syahdan seperti itu. Aku sudah lama bersahabat dengan nya. Tidak mungki Syahdan tega berbuat keji seperti itu hanya karena wanita.


Aku iseng menggoda Bunda, karena biasanya Bunda tak pernah menunggu ku pulang dari Rumah Sakit. Karena Bunda sudah tau kebiasaanku. Aku kaget mendengar kata Bunda. Ternyata Airin yang sudah sejak tadi menunggu kepulanganku. Benarkah, benarkah dia rela duduk sendirian kedinginan diluar sini hanya demi menunggu aku pulang. Ah, Airin seandainya itu benar dan tulus. Alangkah bahagianya aku. Istriku mencemaskan aku yang tak kunjung pulang. Tapi,,, lagi lagi rasa indah itu harus kalah dengan kenyataan. Kenyataan bahwa Airin tak ada rasa untukku. Mungkin dia begitu hanya ingin dipuji Bunda. Agar Bunda melihat dan mengira kalau dia sangat sholeha, berbakti pada suami. Ah Bunda, andai saja Bunda tau siapa sebenarnya menantu yang sangat kau sayangi itu.


Aku masuk kedalam rumah sambil merangkul tangan Bunda. Airin sudah lebih dulu masuk, sambil membawakan tas dan jas dokterku seperi biasa kalau aku pulang. Kulihat dia langsung masuk ke dalam kamar. Aku mengantar Bunda sampai ke kamarnya. Kemudian pun lanjut masuk ke kamarku.


Airin tengah meletakkan tas kerjaku di tempatnya, kemudia mengambilkan segelas air minum dan memberikannya padaku. sekila ku perhatikan wajahnya. Matanya terlihat basah, apakah dia habis menangis. Apakah dia sedih karena aku tak menegurnya saat didepan tadi. Ah sudahlah, aku tak boleh terpengaruh lagi dengan sikap lembutnya. Smua sudah jelas, dia bukan wanita baik baik.

__ADS_1


"Air hangatnya sudah siap, mungkin mas mau mandi skarang." Ujar Airin padaku.


"Iya, terimakasih.." Jawabku seperlunya. Kemudian aku pun membersihkan tubuhku di kamar mandi Setelah cukup lama berendam di dalam bathtub dan bersih bersih, aku pun keluar. Kulihat Airin sudah berbaring tidur di ranjang. Syfa juga tidur bersama kami. Aku pun ikut merebahkan tubuhku diranjang yang sama. kupandangi mereka berdua. Syfa tidur dengan nyenyaknya. Syfa, gadis kecil itu juga sudah menguasai hatiku. Dengan tingkahnya yang lucu dan menggemaskan. Hatiku menjadi hangat saat dia memanggilku papa. padahal Airin sudah sering mengajarkan memanggil Ayah. Tapi karena dia belum bisa menyebut Ayah, maka dia pun memanggilku Papa.


Akankah kebersamaan ini berakhir, setelah sesaat aku merasa hidupku terasa sempurna. Memiliki istri dan anak. Akankah semua ini hanya mimpi belaka. Rasa lelah pun membuat mataku terpejam dan tertidur.


Seperi biasa Airrn bangun lebih awal, akupun ikut terbangun karena medengarkan lantunan bacaan Alqur'annya. Suara yang sekarang ini selalu menjadi penyemangatku. bacaan Alqur'annya menenangkan hati dan jiwaku. Aku masih berbaring sambil mendengarkan bacaannya. Syfa masih tertidur dengan pulasnya. Seakan suara Airin menjadi nyanyian tidurnya. Tak lama suara Adzan pun mulai terdengar dari arah Mesjid. Aku bangun dari ranjang ingin mengambil wudhu untuk menunaikan sholat subuh.


"Mas..." Panggil Airin. Aku pun menoleh padanya. Dengan masih memakai mukenahnya Airin dengan wajah menunduk mendekat menghampiriku. Sungguh, dia terlihat sangat cantik. Wajahnya bercahaya menenangkan hati.


"Minta maaf ?, minta maaf apa ?" Aku balik bertanya padanya. Jangan bilang dia ingin membahas semuanya di subuh buta ini. Apa tidak ada waktu lain. Meski kesal aku mencoba untuk bersikap wajar.


"Aku minyta maaf kalau aku ada berbuat kesalahan. Aku minta maaf kalau ada perkataan dan kelakuanku yang membuat mas kesal." Ujar Airin. Kulihat matanya berkaca kaca.

__ADS_1


"Meskipun aku,,, aku tak tau apa kesalahanku. Sehingga mas mendiamkanku bahkan,, bersikap dingin padaku. Aku minta maaf jika memang aku ada salah. Dan tolong beri tau apa kesalahanku. Mungkin aku masih bisa memperbaikinya." Lanjutnya terbata bata menahan airmatanya. Kulihat kini airmata itu telah membasahi pipinya. Tapi tunggu, kenapa matanya bengkak. Seperti orang yang sudah menangis terlalu lama. Apakah Airin menangis lama ?. Bukankah dia lebih dulu tidur daripada aku.


Tidak, aku tidak mau terpengaruh. Mungkin ini hanya trik nya saja, agar aku tak membongkar kebohongannya. Airmata palsu.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan, kamu tidak salah apa apa." Ujarku kemudian kembali melangkah ke kamar mandi.


"Mas.." Tiba tiba Airin mendekatiku. Dia merengkuh tanganku.


"Maafkan aku mas. Allah tidak akan meRidhoi hidupku jika mas suamiku tidak meridhoiku. Aku tidak ingin Allah melakhnatku mas. Jika suamiku marah kepadaku." Airin tiba tiba bersimpuh di kaki.


Aku terenyuh melihatnya, airmatanya pun membasahi tanganku. Tangisannya tak tersirat kepura puraan.. Seakan akan dia benar benar terluka. Ya Tuhan, sadarkah kau Airin. Aku lah yang sangat terluka dengan semua kebohonganmu. Tapi kenapa justru tangisanmu yang menyayat hati. Apakah ini semua trik mu lagi. Aku masih mencoba bertaha dengan sikapku.


Tiba tiba saja Syfa terbangun dan menangis. Mungkin dia terkejut dengan suara tangis Airin. Airin masih saja bersimpuh memegangi tanganku. Tidak mungkin juga kami selamanya dengan posisi seperti ini.

__ADS_1


"Sudahlah, kamu jangan bersikap seperti ini. Lihatlah Syfa jadi terbangun. Uruslah dia dulu. Mas mau sholat subuh. Sebentar lagi waktu nya habis." Ujarku sambil melepaskan pegangan tangannya.


"Maasss...." Airin masih berusaha memanggilku. Ku kuatkan hati untuk tidak memandangnya lagi. Bisa bisa aku benaran luluh jadinya. Lama ku terdiam di kamar mandi. Sungguh, sebenarnya hatikupun sakit. Aku uga tak tega melihat nya menangis mengiba seperti itu. Walau bagaimanapun cinta ini telah hadir didalam hatiku. Tapi dia tega menyakiti hatiku. Apakah aku harus menceraikannya. Tapi bagaimana dengan Bunda.


__ADS_2