Bukan Cinta Biasa

Bukan Cinta Biasa
The Story of the Day ( I )


__ADS_3

Naina menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Mensyukuri nasib baiknya yang tidak sampai ternodai oleh Kevin berkat orang yang menolongnya, perantara dari Tuhan untuk membantunya. Tapi berbicara tentang penolong - nya semalam, siapa kaira - kira pria itu? Naina bertanya - tanya. Ia sempat mendengar Ethan menyebutkan namanya, namun saat itu dirinya terlalu tenggelam dalam kesedihan hingga tak mendengar jelas saat Ethan menyebut nama pria itu.


"Naina,"


Gadis itu menoleh pada pintu kamar yang diketuk dari luar, tak lama Zoya muncul dan tersenyum. Seketika senyum wanita itu membuat perasaannya menghangat.


"Gimana keadaan kamu?" tanyanya yang kemudian duduk di tepi tempat tidur.


"Baik, Mbak. Pak Ethan udah nolongin saya," Zoya tersenyum. "Kita sarapan bersama, yah." ajaknya kemudian. Naina mengangguk, berjalan keluar dengan Zoya menuju meja makan di mana Ethan sudah duduk di tempatnya.


"Kamu nggak perlu khawatir, yah. Sekarang kamu aman. Saya nggak akan biarin siapa pun nyakitin kamu." sahut Zoya begitu mendudukan Naina pada kursi yang bersebrangan dengannya dan Ethan.


Gadis itu tersenyum, sekilas matanya menatap Ethan. Kilasan kejadian yang dialaminya dengan pria itu semalam berputar di kepalanya. Bagaimana saat Ethan menggendongnya, bagaimana saat ia merasa damai dalam pelukan pria itu.


Cepat - cepat Naina menggelengkan kepala saat melihat pria itu mengusap puncak kepala Zoya dengan senyum manis dan sorot mata penuh cinta. Naina harus mengendalikan perasaan asing di hatinya untuk majikannya tersebut.


"Oh, yah, Naina–" sahut Ethan, menggapai ponsel dan menunjukannya pada Naina, di mana pada salah satu postingan instagram terdapat foto Kevin yang babak belur dengan banjiran komentar yang menggelikan. Mata Naina terfokus pada salah satu foto di mana ia yakin pria tersebut yang semalam menolongnya dari Kevin. Tersenyum manis di depan kamera.


"Saya juga menarik para aktris yang bekerja sama dengan perusahaan ayahnya. Dengan begitu, otomatis film yang sedang mereka produksi akan gagal."


Kali ini Naina menatap Ethan tidak percaya. Ethan bahkan melakukan hal seperti itu untuknya? "Pak, apa Pak Ethan tidak mengalami kerugian?"


"Sudah saya tangani, kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula, saya tidak ingin bekerja sama dengan mereka." ujarnya santai, Naina masih menatapnya dengan tatapan tak percaya. Zoya mengangguk meyakinkan gadis itu.


"Kalau kamu penasaran, wajah babak belur Krlevin itu juga lagi di bahas beberapa stasiun berita karena sudah menyebar luas dan membuat kehebohan." Zoya angkat bicara.


"Hmm, mungkin papanya belum bergerak mengurus media." beritahu Zoya.


"Bagaimana, kamu merasa hal ini cukup untuk kamu?" tanyanya, kemudian menyuapkan nasi ke mulutnya dan menatap Naina yang tampak bimbang.


"Seharusnya tidak harus sampai seperti ini. Tapi saya berterima kasih, saya beruntung memiliki majikan seperti Mbak Zoya dan Pak Ethan." sahut gadis itu dengan tatapan tulus. Zoya dan suaminya hanya tersenyum. Kemudian pria itu beralih pada sang istri.


"Oh, yah, Sayang. Sebentar lagi akan ada acara pengajian di rumah Nenek Shanty, untuk peringatan kematian Kakek Tomy. Nanti kita menginap di sana." sahut Ethan, semalam ia lupa memberitahukan hal tersebut pada sang istri.


"Nginep?" tanya Zoya, Ethan mengangguk.


"Nanti sekalian saya kasih tau keluarga besar kalau kamu sedang hamil." sudah tak terhitung berapa kali Ethan mengusap permukaan perut Zoya pagi ini.


"Mbak Zoya dan Pak Ethan akan menginap?" dua orang yang saling bertukar senyum itu mengalihkan perhatian pada Naina yang bertanya dengan nada cemas. Jika Zoya dan Ethan akan menginap, artinya dia akan sendirian di rumah.


"Kamu juga ikut, saya nggak mungkin biarin kamu di rumah sendiri." sahut Zoya, mengerti dengan apa yang gadis itu khawatirkan. Pernyataannya membuat Naina tenang. Ketiganya melanjutkan sarapan, dengan Ethan dan Zoya yang sesekali saling tertawa atau memberikan perhatian dalam bentuk sederhana.

__ADS_1


Pemandangan indah di hadapannya membuat Naina tersenyum tipis, setidaknya baginya senyum Zoya adalah yang paling penting.


**


"Gimana bisa kamu sampai babak belur begini dan –" tuan Raharasja tak bisa berkata apa - apa, putranya yang berada di brankar rumah sakit hanya memegangi bibirnya yang sakit sejak semalam, bahkan ia tak bisa tidur karena seluruh badannya terasa sakit.


Tapi selang beberapa puluh menit ia justru mendapat berita buruk saat akun media sosial - nya ramai oleh komentar netizen. Bahkan sampai keesokan paginya wajah hancurnya justru tersebar luas di jagat dunia maya bahkan banyak diperbincangkan di tv. Hal yang sangat memalukan terutama bagi sang papah yang sejak datang pagi tadi tidak berhenti mengomel padanya.


"Tidak seharusnya kamu berurusan sama Pak Ethan. Kamu tau? Dia narik semua aktris yang terlibat dalam film yang rumah produksi kita proses saat ini." ocehnya lagi, nyaris membuat kepala Kevin pecah rasanya saat sang papa menaikan volume suara.


"Tapi perusahaan si Ethan itu pasti ganti rugi, ' kan Pah?"


"Uang ganti ruginya tidak lebih banyak dari keuntungan film kalau saja proses syutingnya tidak diberhentikan, Kevin Raharasja!"


"Papa tinggal cari ganti aktris baru!" ujarnya dengan sangat mudah.


"Kamu pikir gampang nyari aktris profesional yang seperti para aktris AE RCH?"


"Profesional? Kalau profesional CEO - nya nggak mungkin memutus kontrak kerja sama gitu aja!"


"Itu karena ulah kamu!"


Kali ini Kevin diam. Ia tau ia salah. Tapi sungguh, ia sudah benar - benar dirugikan dan juga dipermalukan.


Raharasja menghela napas. Ia menggeleng melihat tingkah laku putra - nya yang kekanak - kanakan dan selalu membuatnya berlaku tidak adil karena tak punya pilihan selain menuruti keinginan putranya itu.


"Papa akan bereskan."


"Tapi ingat ini. Uang jajan kamu Papa tahan selama dua bulan." Kevin membulatkan matanya tak percaya.


"Tidak ada fasilitas apa pun. Apartement, mobil, kartu kredit, atau apa pun!"


"Tidak ada. Selama dua bulan!" final Raharasja tanpa bisa digugat.


"Paahh!"


**


"Bisa - bisanya kamu baru datang udah buat ulah!"


"Mau jadi apa, sih. kamu ini, Mas?" Vina sudah pusing sendiri menghadapi sulungnya yang sudah membuat anak orang babak belur. Rayn yang baru keluar dari kamar setelah menyelesaikan urusannya dengan Tuan Raharasja melalui sambungan telpon menatap putra sulungnya yang hanya duduk dengan punggung bersandar ke belakang, setia mendengar ocehan sang mama sejak lima belas menit yang lalu.

__ADS_1


"Mas Rival, tuh, nolongin orang, Sayang. Jangan dimarahin!" ucapnya pada sang istri. Vina menatap suaminya, dua orang itu tak jauh berbeda, wajar jika satu server.


"Masalahnya, Mas. Mas Rival keterlaluan, dia nggak harus posting foto cowok itu di media sosial, 'kan?!"


"Apa salahnya? Itu hukuman untuk Kevin, peringatan juga untuk para wanita supaya berhati - hati kalau ketemu dia, Papa dukung apa yang Mas Rival lakuin." belanya pada sang putra. Rival hanya diam, sesekali menganggukan kepala.


"Kalau gitu, nanti Rafa udah gedenya mau kaya Mas Rival aja." seorang pemuda dengan seragam SMA Ghalapagos keluar dari kamarnya. Siap berangkat sekolah. Kemudian menepuk bahu Rival bak kawan akrab.


"Awas aja, kamu mau Mama usir?" ancam Vina. Rafa justru tertawa ke arah Papanya yang mengedikan bahu.


"Setuju. Yang penting, 'kan niru yang baik - baiknya aja. Mas Rival, 'kan hebat." seorang anak gadis dengan seragam SD - nya mengacungkan jempol pada Rival. Rayn segera meraih tubuh anak itu dalam gendongannya. Anak kecil itu mendaratkan kecupan di pipi sang papah. Sedangkan Vina memijat pelipis. Kenapa semua orang di rumah ini tidak ada yang sejalan dengannya?


"Sayang, biar hari ini saya yang antar Davika sekolah." sahut Rayn pada sang istri. Vina mengangguk seraya bangkit dari duduknya. Pria itu kemudian beralih pada Rival.


"Mas, nanti pulang kerja kita bicara." sahutnya, Rival hanya mengangguk. Kemudian membiarkan sang papa berlalu dengan adik bungsungnya yang baru duduk di kelas dua sekolah dasar itu. Vina mengekor di belakang untuk mengantar sampai ke teras.


Sedangkan adik pertamanya masih di sana, duduk di sampingnya. Saat Rival menoleh ia menaik - naikan alis dan membuat Rival heran.


"Apa?" tanya Rival dengan dahi berkerut.


"Pinjem mobil dong Mas."


"Motor kamu?"


"Di bengkel modifikasi Om Morgan."


"Mau diapain lagi, sih?" tanyanya heran. Karena satu minggu yang lalu saat ia baru pulang dari swiss, adiknya itu baru saja kembali dari MorganFah Motoryclas setelah memodifikasi trail tingginya.


"Biasalah, anak muda. Cepetan, kesiangan, nih. Mau di pinjemin nggak?"


Rival merogoh saku celananya, kemudian menyerahkan kunci mobilnya pada sang adik. Rafa berlalu, berpapasan dengan Vina. Pemuda itu tampak menyalami dan mencium pipi sang mama kemudian berlalu pergi.


Vina kembali duduk di tempatnya tadi, lagi - lagi menatapnya. "Kamu maunya gimana?" tanyanya. "Apanya yang gimana, Ma?" pria itu balik bertanya.


"Kamu ini udah dewasa, Mas. Waktu main - main kamu udah selesai, udah saatnya kamu tuh –"


"Ma, aku belum pengen nikah!"


"Gara - gara mantan kamu yamg diambil Kevin itu?"


"Bukan. Aku cuma belum nemu yang pas, Mama tenang aja. Kalau nanti udah ada calonnya. Aku akan langsung kenalin ke Mama."

__ADS_1


TBC


__ADS_2